[Day 2] Ada Mata-Mata di Sentosa Islands

Tuesday, October 30th, 2012

previous : http://arishms.com/2012/10/day-2-halal/

Day 2| 22 Oktober 2012 | Singapura

Setelah makan siang di Vivo City kita lanjut perjalanan ke Pulau Sentosa. Koyak SGD 35 untuk masuk ke pulau ini dengan menggunakan Sentosa Expres. Pulau hiburan ini menawarkan berbagai keindahan tersendiri di dalamnya : universal studio, wahana permainan serta pantai. Ada yang bayar dan ada yang gratis, jadi disarankan bawa duit lebih jika masuk pulau ini, kali-kali aja mupeng sana-sana sini. Coklat yang dijual disini termasuk coklat yang enak.

Singapura cukup bersyukur memiliki pantai seperti ini, jangan bandingkan dengan Kuta Bali atau Tanjung Aan Lombok. Nah, di Siloso Beach, kita mengalami pengalaman yang unik dan mendebarkan. Lagi asyik-asyiknya ngobrol sambil menikmati pantai, sepertinya ada orang yang mencurigakan di belakang kita, padahal @alventurous sedang bercerita banyak hal. Karna risih kita memutuskan untuk jalan sambil menyisir pantai ke arah timur. Sambil jalan kita udah mikir aneh-aneh dengan orang india yang membuntuti kita, apa mau nyolong? pengen fhoto sama kita?

Persis kita udah sampai di sisi timur Pantai Siloso, pura-pura ga tahu aja. Eh cupreet, doi juga udah ada di sekitaran kita. Ga mungkin paparazzi lah, emang kita siapa coba? meskipun sama Angelina Jolie masih keturunan Nabi Adams tapi so what?!… Tercetus mau ngelaporin ke beach guards saat itu.

” Ya udah ver kita ke sisi barat aja lagi, semoga aja ga diikutin ” Kata  @arishms

Kita jalan lagi ke sisi barat, seolah-olah tidak terjadi apa-apa sambil ngeliat ke belakang apa masih dibuntutin apa ngga. Sedikit banyak takut dijambret, isi tas selempang hampir SGD 1000 buat beli iphone 5 yang notabene SOLD OUT di seantero pulau!!!. Ternyata kita ga diikutin lagi, senangnya 🙂

Sayang ya ver, Kita ga bisa menikmati cewek-cewek kayak foto diatas T.T

Note :

Luas wilayah Sentosa makin hari makin bertambah karena Singapura mereklamasikan wilayahnya dengan mengimpor pasir dari teritorial Kepulauan Riau, Indonesia. – begitu kata wikipedia –

lanjutan : http://arishms.com/2012/10/day-2-ulang-tahun-ala-negeri-singa/

@arishms |  @alventurous

 

Penampilan Unit Kebudayaan Aceh ITB di Festival Internasional

Saturday, September 3rd, 2011

Akhir Juli kemarin, Unit Kebudayaan Aceh (UKA) ITB berkesempatan menjadi penampil Tari Saman “Ratoh Duek” di Singapura, tepatnya di “Singapore Heritage Festival”, sebuah acara yang diselenggarakan setiap tahun oleh National Heritage Board (Kementerian Budaya Singapura). Rangkaian acara yang tahun ini bertemakan Rite of Passage ini dilaksanakan pada tanggal 25-31 Juli 2011, dengan penampilan UKA ITB pada hari terakhir yakni pada tanggal 31 Juli.  Selain menjadi penampil Saman di acara tersebut, Tim UKA ITB juga diberikan kesempatan melakukan rekaman tari dan nyanyian di Pavane Recording Studio Singapore, studio rekaman dengan fasilitas yang sangat oke dan digarap oleh profesional.

Tim UKA ITB yang berangkat ke Singapura terdiri dari 10 mahasiswa. Kesepuluh mahasiswa tersebut adalah Abdulazis R. Sayintiko FT08 (Syeh dan pemainRapai), Muhajir Yusuf GL07 (pemain Rapai), Sundari Mega STI09 (penari), Devi Nandita Bestari EL09 (penari), Shabrina Paramita GL09 (penari) , Nila Gita Cahyani EL09 (penari), Citra Diani Putri EL09 (penari), Nursita Setiawati EP09 (penari), Nanda Akmalia BI10 (penari) dan Zahratul Kamila TM10 (penari).

Sesaat setelah rekaman di Pavane Recording Studio Singapore

Tim tersebut berada di Singapur selama 3 hari (30 Juli – 1 Agustus). Selama waktu tersebut, selain melaksanakan penampilan, mereka juga sempat meng-explore beberapa tempat seperti China Town, Bugis Square, Orchard Road, Esplenade, Parkway Parade, Little India, dan Pulau Sentosa dengan Universal Studio-nya.

Penampilan Tari Saman “Ratoh Duek” UKA ITB sendiri dilaksanakan di Parkway Parade pada hari Minggu malam sekitar pukul 18.30 waktu Singapura. Awalnya sempat ribet di mikrofon untuk Syeh (penyanyi), namun Alhamdulillah dari gerakan awal hingga akhir tidak menemui kendala dan kesalahan yang fatal. Dan penonton suka! Responnya cukup bagus. Bahkan setelah penampilan usai di belakang panggung ada yang menghampiri dan antusias ngobroltentang UKA, Aceh, dan Indonesia. Koko, salah satu penampil mengatakan:

“Saat kami tampil, rasanya yang menonton semakin ramai. Ada sesi mengundang penonton naik ke atas panggung yang diakhiri dengan tepuk tangan meriah yang spontan. Kami sendiri cukup puas dengan penampilan tim kami. Ada penonton juga yang datang ke saya dan memuji penampilan kami.“

Sesi Mengundang Penonton Ikut Saman

Semoga semakin banyak teman-teman unit ITB yang berkesempatan ke luar negeri. Mari kita terus mendukung seni dan budaya Indonesia agar diakui di seluruh dunia! (Sumber: Unit Kebudayaan Aceh ITB)

link : http://km.itb.ac.id/site/?p=6331

About Me

Here I'll share my knowledge, discovery and experience related to my hobby and work. Most articles on this site are related to my travelling experiences More

Want to subscribe?

 Subscribe in a reader Or, subscribe via email:
Enter your email address:  
Memorizing Like an Elephant