Marzuki Alay

Wednesday, May 9th, 2012

“Kalau Pak Marzuki yang ngomong, ya bisa kita maafkan dan mengerti, karena kualitas Marzuki hanya segitu-gitu aja, orang yang tidak terlalu pintar kita maafkan,” ujar Guru Besar Ilmu Politik Universitas Indonesia, Iberamsjah, usai diskusi di Rumah Perubahan 2.0, Komplek Duta Merlin, Jakarta, Selasa (8/5)

Demo BBM? Ga Harus Kali!!!!

Saturday, March 31st, 2012

Setiap zaman, setiap individu punya ciri khas dan cara masing masing, ga harus sama juga dengan ang 66 atau 98 loh. Belum tentu apa yang mereka sampaikan bener juga, secara niat pasti bener tapi jika kita tinjau outputnya, sok aja liat sendiri orde baru dan reformasi.

Kalo pendapat pribadi gw ( ga usah bawa bawa kampuslah sob, miris lo entar ga masuk ITB <—kesebut juga hihihi)

1. Demo BBM? Kontra Kenaikan? Kontennya apa dlu sob, cape-cape demo di jalan, pana hujan debuan, eh tapi ga tau esensi demonya apa. Nolak kenaikan kah? revolusikah?dibayarkah? Kasihan deh!

2. Zaman udah beda kali bro, kalo cuma ngandalin fisik tapi ga pake otak, mending lo hidup di hutan aja!

3. ITB, UI, UGM ga turun di jalan? emang harus gitu ya? hidup di zaman kapan nyet, Obama mending jadi president aja pake social network, masih banyak cara kan? atau emang udah ga mampu mikir?

4. Dll, Silahkan tambah sendiri ;p

males juga gw bahas ginian, mending hidup lo simpel tapi bermanfaat!!!

Zalaludduin, Bersepeda dari Pati ke Depok karena Diterima di UI

Friday, July 22nd, 2011

Jakarta – Muhammad Zalaludduin Sofan Fitri, remaja lulusan SMAN 1 Pati pesimistis dirinya diterima di jurusan Sejarah Universitas Indonesia (UI), yang merupakan pilihan pertamamya dalam Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Dia pun bernazar, akan bersepeda dari Pati, Jawa Tengah, ke Depok, Jawa Barat, bila diterima di UI. Kini pemuda itu harus menjalani nazarnya lantaran diterima di UI.

“Saya nazar karena pesimistis tidak diterima,” ujar Jalal, panggilan akrabnya ketika berbincang dengan detikcom, Kamis (21/7/2011).

Remaja 19 tahun itu menuturkan mengapa saat itu dirinya pesimistis. Menurut dia, selama bersekolah di SMA 1 Pati dia mendapat rangking bawah. Namun, nilai Ujian Akhir Nasional (UAN)-nya cukup membanggakan. “Rata-rata 8,8,” imbuhnya.

Saat SNMPTN, Jalal menjatuhkan pilihan pertamanya di jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya di UI. Sedangkan pilihan keduanya, jurusan Komunikasi, Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS).

“Saya mulai perjalanan ini dari Selasa (19/7) pukul 12.00 WIB dari perbatasan Pati-Kudus,” tutur Jalal yang hari ini sudah sampai Losari, Jawa Barat ini.

Nazar Jalal ini rupanya mendapat dukungan dari guru hingga teman-temannya di SMA 1 Pati. Guru dan teman-temannya pun memberikan bekal dan uang saku sekadarnya. Bagaimana dengan orangtua?

“Orangtua tidak khawatir, mereka malah khawatir kalau saya tidak menjalankan nazar ini. Saya harus tanggung jawab untuk melakukannya,” imbuhnya.

Berbekal uang saku sekadarnya dan ransel yang berisi bekal dan alat untuk memperbaiki sepeda, Jalal pun mantap menggowes sepeda onthel fixie-nya. Teman-temannya dari Pencinta Alam SMAN 1 Pati pun ramai-ramai mengantarnya sampai Kudus, Jawa Tengah. Selanjutnya, Jalur Pantai Utara (Pantura) pun dilewatinya.

Makan dan tidur selama perjalanan Pati – Depok tak menjadi masalah bagi Jalal. Sebagai seorang pencinta alam, Jalal sudah terbiasa berpetualang sendirian, makan dan tidur di gunung.

“Saya sudah sering naik gunung sendirian, di Lawu, Sindoro, Sumbing,” jelas Jalal.

Mengapa dirinya memilih sepeda ketimbang sepeda motor? “Dengan bersepeda saya bisa sambil melihat masyarakat di Pantura. Siapa tahu nanti kalau saya punya kekuatan, saya bisa berbuat banyak,” ucap pemuda kelahiran 4 April 1992 itu.

Di Depok, sulung dari 4 bersaudara pasangan Sutikno Hasan dan Khoiriah ini sudah memiliki tempat tinggal di Asrama Mahasiswa UI, Depok. Dia juga berharap mendapat keringanan biaya kuliah dari kampus barunya itu.

Dia bertekad akan menempuh pendidikan sebaik-baiknya sambil melanjutkan hobinya menjadi pencinta alam. “Masak fokus kuliah saja,” ujar Jalal yang selama 3 tahun menempuh pendidikan di SMA ini gratis karena selalu mendapat beasiswa ini.

link : detik.com

Anak UI Makan Sekali Sehari

Thursday, December 23rd, 2010

KAMPUS Universitas Indonesia (UI) sedang ramai. Mahasiswa berlalu-lalang riang gembira. Tapi tidak dengan David. Lelaki ini sedang murung. Matanya yang cekung menatap koperasi mahasiswa yang menjual berbagai jenis makanan pengganjal perut. Dia merogoh sakunya. Ia segera menjauh dari tempat itu. Uangnya tak cukup. Ada yang ngilu di ulu hatinya. Ingin ia menangis, tapi dia lelaki, harapan kedua orangtua dan adik-adiknya.

Perutnya terus berbunyi dan meminta makanan. Ia sedang lapar. Teringat ia ayah dan bundanya di desa, teringat sungai besar yang berbatu-batu banyak, teringat banyak.

Ia terus melangkah menjauh dari koperasi, sembari menunduk. Inilah dia, David Welkinson, mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia yang masih tetap semangat kuliah walaupun tak punya dana untuk biaya hidup sehari-hari.

David hanya makan sekali sehari, pas pukul tujuh malam tanpa sarapan pagi. Mungkin karena itu, ia terpaksa dirawat di rumah sakit. Matanya yang cekung tak terlihat lagi. Badannya mulai berisi, karena pengaruh infus dan obat.

“Setiap hari, saya makan pakai tempe dan sayur, modalnya cuma Rp3000,” kata David di Jakarta, Rabu (22/12) Ia adalah tipikal anak Indonesia yang ingin menggapai masa depan seterang bintang di langit. Ia gayutkan cita-cita setinggi mungkin, ia tapaki hari-hari dengan kepala tegak. “Masa depan adalah sekarang,” bisiknya suatu kali.

Jika orang lain, setiap pekan bergegas ke ATM mengintim kiriman dari kampung, tidak dengan David. Ia mengaku tak dapat kiriman lagi dari orangtuanya. Terakhir, orang tuanya mengirimkan uang pada Januari 2010 sebesar Rp500 ribu untuk bayar kos.

Itu artinya setahun silam. Sejak itu, ia jadi anak alam, ditimang diayun nasib. Ia berbaur bersama puluhan ribu mahasiswa di universitas hebat itu. David adalah wajah Indonesia sesungguhnya.

Menurut dia, uang kiriman orangtuanya itu, merupakan hasil pinjaman orangtuanya ke tetangga. Tak bisa dilukiskan bagaimana susahnya orangtua David. Betapa mereka ingin agar anaknya kelak jadi orang.

Mendapat kiriman Rp500 ribu, bukan berarti, persoalan sudah selesai, sebab total uang kos yang harus dibayar Rp900 ribu. Untuk menutupi kekurangan, David meminjam kepada teman-temannya yang mampu dan belum diganti sampai sekarang.

“Pinjaman itu belum saya ganti juga,” kata dia.
Untuk makan sehari-hari, David kadang menjual donat di kampus, keuntungannya sekitar Rp10 ribu, itu pun kalau habis semua. Namun, sering tak habis dan terkadang juga rugi. David pun patah semangat dan mencoba untuk mengajar. Sampai sekarang belum ada tawaran untuk itu. Tidak ada panggilan dari tempat kursusnya.

“Saya berusaha mencari pekerjaan sambilan di sana-sini untuk menutupi biaya hidup saya. Kalau tak ada duit, saya pinjam teman, alhamdulillah mereka selalu membantu,” kata dia sambil memegang buku. Laki-laki ini memang terkenal pintar, IP nya selalu di atas 3,5. Dia tak ikut organisasi ataupun kepanitiaan kampus apapun, karena harus bermodalkan pulsa dan ujung-ujungnya lagi adalah duit. Namun, waktu SMA, laki-laki yang memiliki tinggi 155 ini pernah menjadi ketua OSIS.

Selain itu, karena terkenal pintar, David diandalkan oleh teman-temannya untuk belajar bersama untuk persiapan ujian. David dengan senang hati menjelaskan mata kuliah yang sulit kepada teman-temannya. Pernah juga, ia diminta untuk membuat makalah UAS temannya. Sebenarnya, ia tidak menyukai tindakan itu, namun karena dibayar Rp100.000 dan ia menyetujuinya. “Mungkin bagi sebagian orang ini perbuatan yang salah. tapi, berhubung saya tak punya duit dan itu tawaran menggiurkan, saya menerimanya.”

Cobaan yang dihadapinya tak sampai di sana. David masuk UI melalui jalur Kerja Sama Daerah dan Industri (KSDI) berasal dari salah satu provinsi. “Jangan tulis darimana saya berasal,” kata dia.

Sebenarnya, biaya kuliah dan biaya hidup David ditanggung pemerintah daerahnya. Tapi, dana dari pemerintah juga masih terbatas, sampai sekarang David harus bayar kuliahnya sendiri. Karena melalui jalur KSDI, ia tak bisa dapat beasiswa dari UI. Awal semester 5 ini, dia harus membayar uang kuliah sebanyak Rp10 juta. Jangankan untuk biaya kuliah, untuk biaya hidup saja ia sudah susah. Bahkan belakangan ia sering puasa.

Ia mencoba kembali minta bantuan ke daerahnya, tapi tak kunjung dibantu. Lalu, ia menceritakan masalah ini kepada teman-temannya jurusan Ilmu Komunikasi UI. Mahasiswa Komunikasi UI mengumpulkan duit dan akhirnya terkumpul duit sebanyak Rp10 juta dan kuliahnya masih lanjut sampai sekarang.

David menatap keramaian kantin. Badannya kembali lemas, ingin rasanya makan di sana, namun apa boleh buat tak ada uang. Ini bukan kali pertama ia merasakan lapar. Hampir tiap hari. Ia kembali mencoba melawannya. Waktu dulu, mungkin sempat terpikir untuk bunuh diri, mengakhiri semuanya karena tak mampu lagi menerima cobaan ini. Namun, ia selalu menepis hal itu. Baginya, adik-adik, ibu, ayah di rumah, selalu menantikan berharap perubahan hidup yang lebih baik di masa depan. Dan itu semua dimulai dari David, anak pertama dari 5 bersaudara. Keluargalah penyemangat hidupnya. Dan dia benar-benar yakin, selalu ada celah dari Allah untuk membantu hambaNya. Mana tahu di antara Anda ada yang berminat membantu. (*)

Penulis Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP UI

link : http://www.hariansinggalang.co.id/sgl.php?module=detailberita&id=2690

SUSAH CARI KERJA

Monday, July 26th, 2010

Saking susahnya cari kerja, seorang lulusan ITB akhirnya menerima kerja di kebun binatang bandung, tiap hari ia memakai kostum gorila, (toh ga ada yang liat karena pake topeng) mengunyah kacang dan pisang terus menerus..Ia berlompat lompatan dan setiap hari dengan lincahnya…dan juga dapat berhitung!!!,semenjak itu pengunjung kebun binatang bertambah banyak untuk menyaksikan gorila yang lincah dan juga… pintar (lha wong ITB..).Akhirnya pada satu hari, tibalah saat yang naas itu, waktu ia melompat lompat, ia tergelincir dan terjatuh ke kolam buaya..”Matilah aku kali ini”  katanya dalam hati,..Ia berusaha memanjat secepat cepatnya kepinggir kolam, namun buaya lebih cepat mendekat dengan mulut menganga lebar..Dan gigi gigi yang runcing siap merobek robek tubuhnya..Para pengunjung berteriak ngeri ketika moncong buaya menyergapnya..Antara sadar dan pingsan ia mendengar bisikan dari dalam mulut buaya..”Jangan takut mas, saya dari UI”.

About Me

Here I'll share my knowledge, discovery and experience related to my hobby and work. Most articles on this site are related to my travelling experiences More

Want to subscribe?

 Subscribe in a reader Or, subscribe via email:
Enter your email address:  
Memorizing Like an Elephant