Dosen-dosen “Busuk”

Thursday, April 21st, 2011

Kemarin saya mengikuti rapat di Dikti dengan Ditnaga, Pak Supriyadi.Informasi yang disampaikan Pak Supriyadi tentang kelakukan para dosendi Indonesia, khususnya yang sedang mengajukan kenaikan pangkat,sungguh memalukan. Institusi pendidikan yang diharapkan menjadi benteng terakhir penjaga norma dan kejujuran sudah rusak, bukan oleh segelintir dosen, tetapi oleh sangat banyak dosen berperilaku “busuk” dengan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan pribadi.Beberapa kelakuan dosen tersebut yang disampaikan Pak Supriyadi
adalah:

– Memalsukan karya ilmiah. Makalah ilmiah orang, khususnya yang diterbitkan di jurnal ilmiah internasional diganti nama penulis aslinya menjadi nama yang bersangkutan. Dengan membawa ke tempat percetakan, maka tidak kentara bahwa makalah tersebut adalah makalah orang lain yang dipalsukan.

– Membuat jurnal palsu. Satu nomor jurnal internasional dimodifikasi. Caranya adalah mencabutkan satu makalah yang ada dalam jurnal tersebut dan diganti dengan makalah dia. Seolah-olah makalah dia sudah diterbitkan dalam jurnal tersebut. Dosen tersebut kemudian menjilid ulang jurnal tersebut sehingga tampak sebagai jurnal yang asli.

– Membuat jurnal nasional palsu. Ada kejadian dua dosen dari universitas yang sama dan jurusan yang sama. Mereka sama-sama mengajukan kenaikan pangkat. Ketika diteliti dokumennya, mereka melampirkan jurnal dengan volume yang sama dan nomor yang sama. Seharusnya jurnal tersebut memuat paper-paper yang sama. Tetapi ternyata tidak. – Jurnal dengan volume dan nomor yang sama tersebut memuat paper-paper yang berbeda. Jurnal yang dilampirkan si A memuat peper si A, sedangkan jurnal yang dilampirkan si B memuat paper si B. Ini berarti salah satu atau kedua dosen tersebut telah membuat sendiri jurnal tersebut dan mamasukkan makalahnya masing-masing ke dalamnya.

– Mengubah nama di ijasah luar negeri. Ijasah luar negeri orang lain diganti namanya dengan nama dia. Lalu dia datang ke percetakan untuk membuatkan ijasah yang persis sama dengan aslinya.

– Menulis paper dengan hanya mencantumkan nama senddiri pada karya mahasiswa bimbingan, agar yang bersangkutan dapat menikmati sendiri nilai kum paper tersebut.

– Membuat makalah palsu dari hasil copy paste di internet. Makalah tersebut diterbitkan di jurnal yang dikelola sendiri.

Hancurlah pendidikan bangsaku. Untuk menertibkan para dosen “busuk” tersebut mungkin beberapa langkah perlu dilakukan:

– Membentuk lembaga yang bernama Professor Watch. Lambaga ini menyelidiki kesahihan dokumen yang telah digunakan para professor untuk naik pangkat. Jika ditemukan kecurangan, professor tersebut diadukan ke polisi karena sudah melakukan tindakan penipuan. Kalau perlu dipidana, karena dari pekerjaan tersebut dia telah memakan uang
Negara dari tunjangan kehormatannya yang seharusnya bukan hak dia.

– Jabatan professor tidak diberikan secara permanen. Tiap 5 tahun performance profesor tersebut dinilai. Jika tidak perform dengan baik, jabatan profesor dicabut. Beberapat poin yang dinilai adalah: adanya mahasiswa bimbingan (khususnya mahasiswa doctor), penelitian yang dilakukan, karya ilmiah yang dihasilkan, pengajaran, dan lain-lain, yang dia lakukan setelah menjabat sebagai profesor. Kalau semua hal itu tidak dilakukan, buat apa kita memiliki profesor seperti itu.

Terlalu keenakan para profesor di Indonesia ini.

dari milis sebelah

“Saya gak tahu sumbernya dari milis mana, tapi saya nemuin tulisan ini di milis CFBE (LSM pendidikan) yang nyalin dari milis para alumni ITB. Di milis alumni ITB dan CFBE, tulisan ini jadi diskusi rame bangets. Pesan saya satu: meskipun “kreatif”, tapi jangan sekali-kali dipraktekin ya…..:)

Memoar with Hiskia Ahmad

Tuesday, June 8th, 2010

Gambar : ttd Hizkia Ahmad saat acara Sarasehan ITB 2020

Bagi anak itb, tokoh ini cukup dikenal. Mengapa tidak, hampir sebagian buku paduan kimia dasar TPB mengambil referensi karya beliau. Saya cukup berkesan ketika bertemu beliau saat acara sarasehan itb 2020. Orangnya bersahaja walaupun dari segi  usia sudah cukup senja. Kata-kata beliau yang cukup berkesan bagi saya adalah anda-anda ini, mahasiswa itb, adalah sebagian kecil masyarakat Indonesia yang cukup beruntung berkuliah di kampus ini, optimalkan itu.

Ucapan beliau dapat menginspirasi saya, kita tidak cukup mengeluh pada kondisi, nyalakan lilin itu dan jangan bertanya pada kegelapan ^^

Dosenku Sopir Panggilan

Wednesday, December 9th, 2009

Dosenku Sopir Panggilan

Selasa, 08 Desember 2009 | 22:52 WIB

TEMPO Interaktif, Pamekasan – Dedy Prianto, 40 tahun, sudah berkemeja rapi. Rambut tersisir klimis. Wangi parfum semerbak tiap kali ia lalu lalang antara kamar dan ruang tamu di rumah dinas guru sekolah dasar, di Kabupaten Pamekasan.”Saya mau mengajar,” katanya kepada Tempo, Jumat pekan lalu. Dedy adalah dosen ilmu politik di Universitas Islam Madura, Pamekasan.Saat akan memacu sepeda motornya, tiba-tiba telepon genggamnya berdering. Dedy tampak serius menyimak perbicaraan orang diseberang telepon. Beberapa kali ia menganggukkan kepala. Setelah pembicaraan selesai, tangannya mengutak-atik tombol HP mengirim pesan singkat.”Gak jadi ngajar, ada orderan, saya udah kasi tahu mahasiswa saya,” ujarnya girang.Orderan yang dimaksud Dedy adalah menjadi sopir panggilan. Jumat itu ada orang nyarter mobil milik kawannya untuk pergi ke Surabaya. Ia dipercaya menjadi sopir, tiap kali ada penyewa mobil. “Kalau ada orderan, ngajar pasti saya tinggalkan dulu,” kata pria beranak dua ini.Kenapa? Dedy mengaku honor sopir panggilan jauh lebih besar dibandingkan mengajar di Universitas Islam Madura. Sekali nyopir ia bisa mengantongi Rp 100 ribu jika tidak menginap. Jika menginap ia terima bersih Rp 300 ribu. “Sekali nyopir, pendapatan setara satu bulan gaji dosen,” katanya menerangkan.Ia mengaku dari mengajar hanya mendapatkan Rp 160 ribu per bulan. Dalam sebulan Dedy hanya empat kali mengajar, tiap pertemuan dibayar Rp 15 ribu. Tapi sejak Desember ini bayarannya naik menjadi Rp 20 ribu sekali mengajar. “Honor Rp 15 ribu itu sejak tahun 2000,” katanya.Dengan pendapatan sekecil itu, Dedy mesti mengubur impiannya memiliki rumah sendiri. Kini ia dan keluarganya, tinggal disebuah rumah dinas guru sekolah dasar di Pamekasan. “Meski kecil rumahnya enak karena gak perlu sewa,” katanya sambil tertawa.Meski pendapatan kecil, Dedy mengaku dosen adalah jalan hidupnya karena ia merasa puas dengan mengajar terlebih jika ada anak didiknya menjadi orang sukses. “Sampai sekarang ada mahasiswa yang memberi beras dan rokok kepada saya, terutama kelas extention yang rata-rata PNS,” katanya.Ia mengaku tidak malu menjadi sopir panggilan. Bahkan sempat suatu kali, orang tua seorang mahasiswanya menyarter mobil yang biasa dipegang Dedy. “Agak canggung juga, tapi saya bilang, anggap saya sebagai sopir saja,” kenangnya.Dedy berharap, kelak bisa menjadi dosen pegawai negeri sipil dan bisa memperoleh beasiswa untuk melanjutkan ke strata dua yang menjadi syarat menjadi dosen negeri. Semoga…

About Me

Here I'll share my knowledge, discovery and experience related to my hobby and work. Most articles on this site are related to my travelling experiences More

Want to subscribe?

 Subscribe in a reader Or, subscribe via email:
Enter your email address:  
Memorizing Like an Elephant