[Singkawang Trip] Bukit Bougenville

Monday, September 23rd, 2013

18 Agustus 2013

Bukit Bougenville adalah salah satu resort wisata alam yang ada di Kota Singkawang. Dinamakan bukit Bougenville, karena di areal taman ini ditumbuhi dengan berbagai jenis species bunga bougenville yang bibitnya tidak saja berasal dari alam lokal akan tetapi ada yang sengaja didatangkan dari luar negeri. Pada taman bukit bougenville ini juga telah berhasil dikembangkan sebanyak 46 species tanaman bougenville. Luasnya sekitar 9 hektar, 6 km sebelah Barat dari pusat Kota Singkawang. Sangat cocok untuk membawa keluarga anda ke kawasan wisata ini (Re : ini promosi ga sih?)

20130818_120919

20130818_123050

20130818_123132

20130818_124721

Semacam Botanical Garden kaya Kebun Raya Bogor, piknik bareng keluarga sungguh menyenangkan dan edukatif

“postingannya bertahap ya, enjoy my articles”

previous | next

Source tambahan : Dinas Pariwisata Kota Singkawang

Batik-ku Batik-mu

Thursday, October 6th, 2011

Sejak 2 tahun lalu, tanggal 2 Oktober ditetapkan oleh Pemerintah Indonesia sebagai Hari Batik Nasional, setelah UNESCO “merestui” batik untuk masuk ke dalam “Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity“. Ini seperti menjadi salah satu “kemenangan” Indonesia di tengah “perang klaim warisan kebudayaan” dengan negara tetangga kita yang sedang hangat-hangatnya saat itu.

Masyarakat Indonesia seperti disadarkan kembali dengan keberadaan batik yang pada dasarnya (atau setidaknya kita yakini) memang milik Indonesia. Hari batik dirayakan dengan himbauan untuk menggunakan batik selama bekerja di kantor atau kuliah, misalnya. Jika kita perhatikan, industri kreatif di Indonesia juga semakin banyak yang menjadikan batik sebagai tema yang diangkat, entah itu pakaian, tas, atau bahkan permainan (game).

Hal ini bukan berarti bahwa batik adalah hal yang asing sebelumnya. Batik adalah salah satu pilihan dresscode untuk suasana formal. Entah siapa yang pertama kali memulai “kebiasaan” ini. Yang jelas, saya memandang hal ini secara positif sebagai upaya menunjukkan kebudayaan Indonesia di acara-acara formal. Walaupun, di sisi lainnya saya juga merasa betapa “jawa”-nya Indonesia, sehingga siapa pun yang sedang berada di acara pernikahan mana pun akan menggunakan batik. Betapa minimnya pemahaman saya tentang batik. Padahal juga ada corak batik dari daerah di luar Jawa, seperti Bali.

Rasanya ini adalah respon yang buruk ketika dunia pun sudah mengakui bahwa batik berasal dari Indonesia. Bagaimana dengan meningkatnya minat penggunaan batik di industri kreatif kita? Ini bisa menjadi parameter, hanya saja sangat sayang ketika batik hanya diposisikan sebagai komoditas.

Ingat, UNESCO sendiri menempatkan batik sebagai warisan budaya. Terlalu sempit jika hanya menilai batik sebagai komoditas ekonomi. Yah, terjadinya hal seperti ini sebenarnya tidak terlalu mengherankan lantaran pemerintah sendiri pun “membatasi” budaya dengan pariwisata. Perhatikan, di Indonesia saat ini yang ada adalah Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Ministry of Culture & Tourism).

Banyak nilai-nilai kebudayaan secara filosofis yang membentuk batik itu sendiri. Filosofi-filosofi tersebut salah satunya tertuang dalam corak-corak yang ditampilkan pada batik. Sebagai contoh, batik truntum dari Jogjakarta yang biasanya digunakan saat upacara pernikahan bermakna menuntun, atau diharapkan orang tua dapat menuntun calon pengantin.

Tidak hanya corak, kita dapat mengambil beberapa hal bahkan dari proses pengerjaannya. Salah satu teknik pembuatan batik adalah batik tulis yang menggunakan canting. Teknik ini membutuhkan ketekunan dan ketelitian yang luar biasa. Selain itu, pewarnaan batik menggunakan bahan-bahan alami dari alam yang tentunya ramah terhadap alam pula (setidaknya inilah yang digunakan jaman dulu). Ini mengajarkan kita untuk menyadari hubungan timbal balik antara manusia dengan alam.

Menghargai batik tidak cukup sebatas dengan memasifkan pemakaian batik di masyarakat. Kita menghargai batik dengan menyadari bahwa batik adalah milik kita dan harus dilestarikan. Kita tidak dapat menyadari batik milik kita sampai kita menyadari hal-hal di balik batik itu sendiri.

Mari kita hargai batik, jangan kalah dengan Carlos Santana atau Nelson Mandela.

M. Haekal Izmanda Pulungan /135 07 020 / Teknik Informatika 2007 /Institut Teknologi Bandung/

I’m a grower, not a shower…”

link : http://km.itb.ac.id/site/?p=6631

These are the National Geographic BEST pictures for the year.

Wednesday, December 31st, 2008

download_031download_002download

download_004download_028download_0031download_010download_012download_014

Ngga nyangka aja kalau alam telah menyediakan sesuatu yang begitu indah untuk dinikmati

itu tak lepas dari karunia Allah sebagai sang pencipta…

Aq ada beberpa foto lagi…ngga ditampilin sih.

tapi klo mw, tinggalin email aja biar di sent

” Hidup adalah ibadah”

ini  link  downloadnya

best picture

About Me

Here I'll share my knowledge, discovery and experience related to my hobby and work. Most articles on this site are related to my travelling experiences More

Want to subscribe?

 Subscribe in a reader Or, subscribe via email:
Enter your email address:  
Memorizing Like an Elephant