Archive for February, 2019

Engagement Penulis & Pembaca

Saturday, February 23rd, 2019

Salah satu dari sekian peran Penulis ialah membuat ‘engagement’ dengan Pembaca. Alhamdulillah, banyak saran/masukan/kritik yang membangun sehingga buku Hidrogeologi Pertanian selalu update based on Pembaca.

Kumpulan Review/Saran/Masukan/Kritik tersebut saya sarikan ditrit twitter berikut: https://twitter.com/arishms/status/1032570697590001665 (mengingat twitter memudahkan penggunanya untuk membuat sebuah trit).

Gambar 1. Ucapan Terima Kasih dari Pembaca Buku Hidrogeologi Pertanian

Picture: Ucapan terima kasih dari Direktur Destinasi Pariwisata Badan Otorita Borobudur (BOB) Yogyakarta, Agustin Peranginangin. Bagi kami, ucapan terima kasih adalah apresiasi tebaik bagi Penulis dalam menghasilkan karya.

Mungkin suatu saat keilmuan hidrogeologi berkembang dari sisi pariwisata mengingat banyaknya potensi tersebut di republik ini, salah satunya ialah geowisata engineering, Bendung Bribin Gunung Kidul, bendungan bawah tanah pertama di dunia.
http://arishms.com/2019/02/bendungan-bawah-tanah/

Bermanfaat via Sitasi (Studi Kasus: Karya Tulis Ilmiah CPNS Kementerian PUPR 2018)

Saturday, February 16th, 2019

Paper ini merupakan Tugas Karya Tulis Ilmiah CPNS Kementerian PUPR, datanya Saya peroleh dari Subdit Hidrologi dan Lingkungan Sumber Daya Air, Ditjen SDA. Saya upload softcopy papernya di ResearchGate sebagai preprint, dan saat ini telah disitasi dalam jurnal (terlampir di foto).

Gambar 1. Sitasi KTI Saya di E-Journal (EUGENIA)
Gambar 2. Cuplikan Sitasi KTI Saya di E-Journal (EUGENIA)

Semoga bermanfaat bagi Indonesia. 
Make it simple but significant.

Terima kasih Pak Doktor Idham Moe

Link unduh paper:
https://www.researchgate.net/…/328954021_Evaluasi_Permasala…

Gambar 3. Paper Saya sebagai Tugas Karya Tulis Ilmiah di Kementerian PUPR

Bendungan Bawah Tanah

Monday, February 11th, 2019
Gambar 1. Bendung Bribin
(Sumber: Twitter Kementerian PUPR)

Bendungan (dam) dan Bendung (weir) memiliki pengertian dan fungsi yang berbeda. Bendungan berfungsi untuk menampung air sementara bendung berfungsi untuk menaikkan muka air.

Umumnya, bendungan dan bendung terdapat di permukaan tanah, namun pada artikel kali ini akan membahas bendungan bawah tanah. Pada kondisi ini, pengertian bendungan dan bendung sedikit bias mengingat bendungan bawah tanah tentunya dibangun pada daerah yang memiliki sungai bawah tanah sehingga diharapkan mampu menyimpan alirannya sebagai cadangan air sepanjang tahun, biasanya terdapat pada daerah karst dengan struktur geologi yang kaya akan batu kapur.

Terlepas dari pengertian dan fungsinya yang masih dapat diperdebatkan, titik temunya adalah sebagai berikut “Bendungan bawah tanah menampung air yang berasal dari sungai bawah tanah sebagai cadangan air dan membutuhkan bendung untuk mengatur muka airnya tersebut guna kepentingan pertanian, perternakan, dan pariwisata”

Gambar 2. Penerapan Konsep Bendungan Bawah Tanah
(Sumber: Twitter Kementerian PUPR)

Sumber:
– dari berbagai sumber
– https://twitter.com/KemenPU/status/1094831153536630784
– http://eproduklitbang.pu.go.id/bendungan-bawah-tanah/

Aris Rinaldi

Cetakan Baru, Rezeki Baru, Selamat Ulang Tahun LPDP

Sunday, February 3rd, 2019

Buku saya ini berawal dari sebuah komentar di facebook, dan sekarang menjadi bagian dari 100 tahun ITB dan Pendidikan Tinggi Teknik di Indonesia.

Selamat ulang tahun ke-7 LPDP. Terima kasih atas beasiswanya, saya cicil kontribusinya 🇲🇨

#ITB #LPDP #100TahunITB #HidrogeologiPertanian
#arisandroo

Gambar 1. Testimoni Pembaca Buku Hidrogeologi Pertanian (cetakan baru)
Gambar 2. Selamat Ulang Tahun ke-7 LPDP

[Diskusi Sipil] Cara Menentukan Wind Speed Bagi Bangunan Gedung dan Power Plant.

Saturday, February 2nd, 2019

Dalam menentukan wind speed bagi bangunan gedung dan power plant terdapat 2 cara umum, cara ini lazim berlaku dalam perencanaan konstruksi di Indonesia:

  1. Menggunakan Standar yang berlaku misal SNI 1727-2013, ASCE 7-16 atau PBI 83. Dibedakan atas dua hal yaitu: wind speed bagi bangunan yang berada di tepi pantai (25 m/s, PBI 83) atau tidak. Kekurangan dari penggunaan wind speed berdasar pada aturan yang berlaku ialah dikhawatirkan data wind speed yang digunakan kebesaran/kekecilan.
  2. Menggunakan data pengukuran instansi misal BMKG.
    Jika berdasarkan data ini, lebih baik menggunakan max wind speed bukan average wind speed, karna kita ga pernah tahu kapan terjadi wind speed maks. Hal ini sebagai langkah preventif mitigasi. Umumnya, menggunakan data stasiun BMKG yang terdekat dengan lokasi konstruksi.
  3. Penggunaan nilai wind speed pada beberapa pekerjaan: tiang cctv 40 m/s, telco 90 m/s.
Gambar 1. Contoh wind speed menggunakan data instansi



Source: dari berbagai sumber

About Me

Here I'll share my knowledge, discovery and experience related to my hobby and work. Most articles on this site are related to my travelling experiences More

Want to subscribe?

 Subscribe in a reader Or, subscribe via email:
Enter your email address:  
Memorizing Like an Elephant