Eko Pratomo Suyatno : Bahagia Dunia Akhirat

Written on November 6, 2010 – 1:39 pm | by Aris Rinaldi | tags , , |

Eko Pratomo Suyatno, siapa yang tidak kenal lelaki bersahaja ini? Namanya sering muncul di koran, televisi, di buku-buku investasi dan keuangan. Dialah salah seorang dibalik kemajuan industri reksadana di Indonesia dan juga seorang pemimpin dari sebuah perusahaan investasi reksadana besar di negeri ini.

Dalam posisinya seperti sekarang ini, boleh jadi kita beranggapan bahwa pria ini pasti super sibuk dengan segudang jadwal padat. Tapi dalam note ini saya tidak akan menyoroti kesuksesan beliau sebagai eksekutif. Karena ada sisi kesehariannya yang luar biasa!!!!

Usianya sudah tidak terbilang muda lagi, 60 tahun. Orang bilang sudah senja bahkan sudah mendekati malam, tapi Pak Suyatno masih bersemangat merawat istrinya yang sedang sakit. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun. Dikaruniai 4 orang anak.

Dari isinilah awal cobaan itu menerpa, saat istrinya melahirkan anak yang ke empat. tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan. Hal itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang, lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi.

Setiap hari sebelum berangkat kerja Pak Suyatno sendirian memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi dan mengangkat istrinya ke tempat tidur. Dia letakkan istrinya di depan TV agar istrinya tidak merasa kesepian. Walau istrinya sudah tidak dapat bicara tapi selalu terlihat senyum. Untunglah tempat berkantor Pak Suyatno tidak terlalu jauh dari kediamannya, sehingga siang hari dapat pulang untuk menyuapi istrinya makan siang.

Sorenya adalah jadwal memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa saja yg dia alami seharian. Walaupun istrinya hanya bisa menanggapi lewat tatapan matanya, namun begitu bagi Pak Suyatno sudah cukup menyenangkan. Bahkan terkadang diselingi dengan menggoda istrinya setiap berangkat tidur. Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun. Dengan penuh kesabaran dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke 4 buah hati mereka. Sekarang anak- anak mereka sudah dewasa, tinggal si bungsu yg masih kuliah.

Pada suatu hari…saat seluruh anaknya berkumpul di rumah menjenguk ibunya– karena setelah anak-anak mereka menikah dan tinggal bersama keluarga masing-masing– Pak Suyatno memutuskan dirinyalah yang merawat ibu mereka karena yang dia inginkan hanya satu ‘agar semua anaknya dapat berhasil’.

Dengan kalimat yang cukup hati-hati, anak yang sulung berkata:

“Pak kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak……bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu.” Sambil air mata si sulung berlinang.

“Sudah keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak, dengan berkorban seperti ini, kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji akan merawat ibu sebaik-baik secara bergantian”. Si Sulung melanjutkan permohonannya.

”Anak-anakku…Jikalau perkawinan dan hidup di dunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah lagi, tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian di sampingku itu sudah lebih dari cukup,dia telah melahirkan kalian….*sejenak kerongkongannya tersekat*… kalian yang selalu kurindukan hadir di dunia ini dengan penuh cinta yang tidak satupun dapat dihargai dengan apapun. Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaanya seperti ini ?? Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya seperti sekarang, kalian menginginkan bapak yang masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yang masih sakit.” Pak Suyatno menjawab hal yang sama sekali tidak diduga anak-anaknya

Sejenak meledaklah tangis anak-anak Pak Suyatno, merekapun melihat butiran-butiran kecil jatuh di pelupuk mata Ibu Suyatno..dengan pilu ditatapnya mata suami yang sangat dicintainya itu……

Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada Pak Suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yg sudah tidak bisa apa-apa….disaat itulah meledak tangisnya dengan tamu yang hadir di studio kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru.

Disitulah Pak Suyatno bercerita : “Jika manusia di dunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian itu adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 anak yang lucu-lucu..Sekarang saat dia sakit karena berkorban untuk cinta kami bersama… dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit…” Sambil menangis

” Setiap malam saya bersujud dan menangis dan saya hanya dapat bercerita kepada Allah di atas sajadah..dan saya yakin hanya kepada Allah saya percaya untuk menyimpan dan mendengar rahasia saya…”BAHWA CINTA SAYA KEPADA ISTRI, SAYA SERAHKAN SEPENUHNYA KEPADA ALLAH”.

Dear my friends, that’s a true story from someone who taugh me about the important of investment three years ago. I wish i could be someone like him…to give all attention to family..i believe family is our precious thing..more than money or gold.

Ditulis oleh adriannugraha

Link : KLIK INI

 

Related Posts

Put your related posts code here

  1. 13 Responses to “Eko Pratomo Suyatno : Bahagia Dunia Akhirat”

  2. By ekp pratomo on Nov 7, 2010 | Reply

    Salam Saudaraku yang baik,
    Dalam seminggu ini saya banyak menerima email, sms, BBm dari teman-teman yg mengenal saya. Mereka semua bingung dan menanyakan tentang kisah di atas. Nama saya Eko Pratomo, dan foto yang tertera di artikel di atas juga merupkan foto saya. Namun, kisah yang tertera di atas saya rasa kisah nyata dari Bapak Suyatno, bukan kisah mengenai diri saya.
    Saya berumur 47 tahun, bukan 60 tahun, tidak memiliki putra/putri, seperti dicertitakan dalam kisah di atas.
    Memang saya megmikiki istri, Dian Syarief, yang menyandang Lupus sejak 11 tahun yang lalu dan harus mengalami berbagai operasi besar (bedah otak, pengangkatan rahim, dll), hingga kehilangan penglihatan.
    Perjuangan bersama istri menghadapi Penyakit Lupus saya tuangkan dalam buku betjudul “MIRACLE OF LOVE – DENGAN LUPUS MENUJU TUHAN”.
    Membaca kisah Pak Suyatno, menambah motivasi saya untuk mengikuti jejak beliau, merawat istri saya. Saya rasa perlu sekali untuk meluruskan kisah sejati Bapak Suyatno dan mengoreksi kesalahan bahwa kisah diatas adalah Kisah Bapak Suyatno, bukan kisah Eko Pratomo Suyatno.
    Demikian penjelasan dan koreksi dari saya dan saya memohon bantuan kepada Mas Adrian dan teman-teman lainnya untuk juga mengoreksi kesalahan di atas.
    Terima kasih & salam,
    eko pratomo
    eko pratomo said this on Your comment is awaiting moderation. November 7, 2010 at 4:02 pm | Reply

  3. By Aris Rinaldi on Nov 8, 2010 | Reply

    @mas eko : wah seperti itu ya mas, terima kasih atas konfirmasinya. mudah-mudahan pembaca dapat mengetahui info secara benar adanya.

    terima kasih telah berkunjung ke blog saya.

  4. By ekp pratomo on Nov 8, 2010 | Reply

    terima kasih mas Aris. salam -eko

  5. By Jomblo Sejati on Nov 14, 2010 | Reply

    Kunjungi http://www.wisnuvegetarianorganic.wordpress.com/

  6. By Dolly on Nov 16, 2010 | Reply

    ЎGracias por el artнculo. Cada vez que quieres leer.
    Have a nice day

    Dolly

  7. By Edwas on Dec 2, 2010 | Reply

    Super post, tienen que marcarlo en Digg

    Edwas

  8. By DingoDogg on Dec 22, 2010 | Reply

    Hola, No estб seguro de que esto es verdad:), pero gracias a un cargo.

    DingoDogg

  9. By Roy Wisaksono on Oct 12, 2011 | Reply

    Yth. mas Eko Pratomo dan mas Suyatno.
    Sebelumnya saya mohon maaf kalau kata2 dibawah ini tidak berkenan buat mas Eko dan mas Suyatno.
    Hanya dengan ijin Allah saya sampai bisa membaca kisah ini, dan jika tidak keberatan… saya ingin bisa membantu, dan bantuan saya ingin saya sampaikan langsung melalui telepon, saya cuma berharap, ada Ridho Allah untuk mas Eko dan mas Suyatno bisa mendapatkan kasih sayang Allah.
    Sekali lagi saya mohon maaf kalau kata2 saya ini tidak berkenan di hati mas Eko dan mas Suyatno.
    HP saya 0812 6031 6600

    Salamu’alaikum.
    Roy Wisaksono

  10. By Umaimah Wahid on Nov 20, 2011 | Reply

    Pak Eko yth.

    setelah saya baca kisah bapak dan saya minta suami juga baca, suami saya meminta saya mencari nomor bapak dan tentu saja saya tidak mempunyainya. namun saya sudah lama tahu “ibadah bapak dari Allah yg luar biasa ini”.

    Nmaun jika berkenan dengan niat tulus, suami saya meminta saya mengatakan kepada bapak untuk memberikan nomor hpnya kepada bapak dan jika berkenan meminta bapak menelpon suami saya. Ini nomor telponya 021-986 12275.Semoga selalu ada obat untuk penyakit appaun atas ijin Allah SWT

    salam,

    umaimah wahid

  11. By stefanus dwi on Nov 22, 2011 | Reply

    Kisah Cinta yang indah sekali dari Bp Eko dan Bp Suyatno….banyak hikmah yg mungkin bs saya ambil dr kisah bapak. Saya berharap Tuhan sendiri dapat melihat niat suci dan tulus dari bapak untuk kesembuhan istri bapak. Tuhan memberkati…Amin

  12. By said harianom on Sep 23, 2012 | Reply

    asswrwb
    mas eko
    salam alumni dr iptn, semoga sukses dan mendapat hidayah dr allah swt dengan membahagiakan madam dan jd istri yg shalehah, sy dan tmn2 sdh baca dan lihat di metrotv & trans7 semoga kita bs kontak2 trs salam kagem kel. di rmh tks wasswrwb
    nb : msh suka ktm dng rowin, sy rkn jbr

  1. 2 Trackback(s)

  2. Dec 31, 2010: Manusia Berhati Malaikat « Adam Arizal
  3. Aug 15, 2014: Bukan Basa Basi, Kisah Nyata Arti Sebuah Kesetiaan - Konsultan Prudential Syariah | Konsultan Prudential Syariah

Post a Comment

About Me

Here I'll share my knowledge, discovery and experience related to my hobby and work. Most articles on this site are related to my travelling experiences More

Want to subscribe?

 Subscribe in a reader Or, subscribe via email:
Enter your email address:  
Memorizing Like an Elephant