Archive for November 21st, 2010

Ga Ngapa-ngapain

Sunday, November 21st, 2010

Adalah sesuatu yang umum di masyarakat mengenai image untuk pegawai negeri sipil alias PNS yang suka pergi belanja di tengah hari kerja, pulang cepat datang terlambat, mengobrol dan merokok saat kerja, serta berbagai kebiasaan lainnya. Namun demikian, saya tidak termasuk orang yang sepenuhnya setuju dengan opini tersebut karena toh kedua orang tua saya juga PNS, dosen dan guru, dan mereka tidak seperti itu. Atas dasar pemahaman itu, saya mengikuti saran kedua orang tua saya untuk ikut tes CPNS sebuah kementerian.

Tahapan untuk mengikuti tes tersebut pertama adalah tahap administrasi, yaitu para peserta diharuskan mengirimkan berkas-berkas yang diperlukan untuk pendaftaran via pos. Kemudian tahap selanjutnya adalah tes tertulis. Sebelum mengikuti tes tertulis ini para peserta diharuskan mengambil kartu peserta di tempat-tempat yang telah ditentukan dan tidak boleh diwakilkan oleh orang lain. Pada tahap ini saya merasa agak aneh karena menurut saya ini sangat tidak efisien. Bayangkan saja, saya yang bertempat tinggal di Bandung harus datang ke Jakarta mengambil kartu tersebut yang hanya menghabiskan waktu kurang dari 10 menit. Sementara perjalanan Bandung-Jakarta sekitar 2,5 jam.

Selanjutnya diadakan tes tertulis di Jakarta, tepatnya di Gelora Bung Karno, Senayan. Di sini saya merasakan ketidakteraturan. Para pengawas seperti belum di-briefing sehingga mereka sendiri kebingungan mengatur tempat duduk di tribun gedung olahraga tersebut, belum lagi adanya perbedaan pendapat dari kepala pengawas dengan pengawas di masing-masing sektor yang membuat para peserta bingung. Dari sudut pandang saya yang terbiasa dengan perfeksionisnya kepanitiaan di unit kegiatan mahasiswa, saya berani memberi nilai dengan kategori tidak memuaskan atau dalam bahasa unit yang saya ikuti, “Atah maraneh!”.

Setelah itu tiba saatnya tahap seleksi forum group discussion (FGD) dan wawancara. Pada tahap ini yang menyeleksi langsung dari pejabat eselon dua di kementerian tersebut. Diawali dengan FGD di suatu ruang rapat di kantor kementerian tersebut. FGD ini terdiri dari 15 orang peserta seteleh sebelumnya dari keseluruhan peserta dibagi ke masing-masing divisi yang dipilihnya. Ketika FGD ini dimulai, saya masih merasa biasa saja, bahkan cenderung bersemangat karena materi bahasannya termasuk ke dalam hal yang saya sukai. Namun ketika saya berniat mengutarakan pendapat untuk kedua kalinya, tiba-tiba forum diskusi tersebut dinyatakan selesai. Lagi-lagi saya merasa aneh. Dalam benak saya yang namanya diskusi itu setiap anggota forum bebas mengeluarkan pendapatnya, bebas menanyakan maksud pendapat anggota lain jika dirasa ada yang aneh. Akhirnya saya sadar bahwa tujuan dari forum tersebut bukan untuk mengetahui pola pikir masing-masing peserta, tapi hanya untuk mengetahui sejauh mana masing-masing peserta mampu berbicara di depan umum karena jelas-jelas penyeleksi di grup saya mengatakan, “Ya, saya lihat semuanya sudah bagus ngomongnyakayaknya udah pada terlatih nih.”

Lalu terakhir tahap wawancara, pada tahap ini tiap-tiap peserta diwawancara satu per satu oleh penyeleksi yang sama. Ketika tiba giliran saya, awalnya biasa-biasa saja, kecuali bagian beliau mewawancara saya sambil merokok di ruangan ber-AC, saya jadi curiga alarm kebakaran di gedung tersebut sudah rusak. Namun mulai agak tidak menyenangkan ketika penyeleksi tersebut mempertanyakan hal-hal yang menurut saya tidak perlu dipertanyakan yaitu masalah keyakinan saya dalam menjalankan ajaran Islam. Ada keyakinan ajaran Islam yang saya pegang yang menurut penyeleksi berlebihan. Bagi saya hal itu adalah hak asasi saya, biarpun beliau bilang saya menuruti keyakinan orang lama, yang jelas itu yang saya yakini benar dan saya pegang. Saya sempat agak terpancing untuk mendebatkan hal tersebut, namun akhirnya saya memutuskan untuk mengatakan, “Itu yang saya yakini dan saya memang ga suka cara yang orang-orang sekarang lakukan.” Mungkin ketika itu ekspresi saya terlihat sangat dingin (atau keras kepala) sehingga beliau pun memutuskan tidak memperpanjang pembahasan tersebut.

Selanjutnya pertanyaan beralih pada apakah saya sudah yakin untuk masuk ke kementerian tersebut. Saya jawab setengah hati dengan kata iya. Penyeleksi lalu bertanya lagi, “Bener yakin? Bisa-bisa kamu di sini 10 tahun dan ga ngapa-ngapain.” Lalu saya nyaris tertawa soalnya saya langsung membandingkan dengan adik saya yang sekarang berumur 12 tahun, 10 tahun yang lalu dia baru bisa ngoceh dan sekarang dia sudah masuk SMP. Di benak saya lalu terbayang ratusan ribu PNS di negara ini, apa bener selama 10 tahun mereka ga ngapa-ngapainPantesan negara ini terus terpuruk kalau orang-orang yang (seharusnya) bekerja di lembaga pemerintahan malahan ga ngapa-ngapain.

Lalu terakhir sebelum sesi wawancara saya diakhiri, datanglah pejabat eselon dua yang lainnya, yang setelah mengetahui almamater saya, beliau langsung bertanya, “Ya udah sekarang saya tanya, kamu mau masuk kementerian ini mau jadi apa? Dirjen?” Lalu kali ini saya benar-benar tidak bisa tidak tersenyum, “Kalau saya mau jadi menterinya, boleh kan Pak?” Sekali lagi entah mengapa penyeleksi terdiam dan memutuskan untuk mengakhiri wawancara saya.

Sebelum pulang saya sempat berbicara dengan asisten dari penyeleksi tersebut, beliau menyebut-nyebut nominal gaji sebagai CPNS yang membuat saya refleks bertanya, “Wah, di Jakarta uang segitu bisa dapet apa?” Lalu asisten tersebut menjawab, “Yah emang sih kecil ya, bisa dapet apa coba uang segitu? Tapi ya di sini menang nyantei kerjanya.” Seketika itu juga saya langsung yakin untuk tidak meneruskan proses di kementerian tersebut.

Sejujurnya setelah melewati hari itu, saya jadi teringat kata-kata sahabat saya, “Kamu sih masih terlalu idealis buat jadi PNS.” Saya sadar kalau saya masuk ke kementerian tersebut, mungkin saya tidak akan jauh beda dengan image pergi belanja di tengah hari kerja atau pulang cepat datang terlambat, karena toh kerjanya pun ga ngapa-ngapain. Mungkin idealisme mahasiswa saya masih terbawa sampai sekarang, atau arogansi almamater saya, atau apapun itu namanya yang jelas saya tidak mau menjadi manusia yang tidak berguna, membiarkan pengetahuan yang saya punya melapuk begitu saja, atau mengubur prinsip yang saya punya selama saya masih punya kesempatan untuk menyatakan tidak.

Bukan berarti semua PNS itu buruk, insya Allah masih ada orang-orang yang memegang idealismenya hanya saja tidak memiliki kesempatan untuk berkembang. Insya Allah juga masih ada orang-orang yang mencoba membuka aliran angin segar di dunia lembaga pemerintahan, namun waktunya belum tepat. Insya Allah suatu hari nanti orang-orang yang memang peduli kepada bangsa ini akan membawa perubahan.

You may say that I’m a dreamer, but I’m not the only one

I hope someday you’ll join us, and the world will be as one

Imagine-John Lennon

True story by Aulia Qiranawangsih (sipil 06)

About Me

Here I'll share my knowledge, discovery and experience related to my hobby and work. Most articles on this site are related to my travelling experiences More

Want to subscribe?

 Subscribe in a reader Or, subscribe via email:
Enter your email address:  
Memorizing Like an Elephant