Archive for September 7th, 2010

Islam itu Indah

Tuesday, September 7th, 2010

Sudan – Membaca Al Qur’an Jumat pertama Ramadhan di Masjid Umdovan desa Ban, di Khartoum, 13 Agustus. (Reuters / Abdallah Mohamed Nureldin)

foto lainnya: kaskus

Siapakah Mr R Itu?

Tuesday, September 7th, 2010

“Umurnya 65 tahun, tapi secara fisik tidak terlihat. Badannya kurus, kecil, rambut ikal, memakai kalung, dan gelang. Tinggal di Jakarta, asal Kalimantan, suku Dayak. Profesinya paranormal, nonmuslim, menganut animisme,” papar ibunda Qory, Fariawati, saat menggelar jumpa pers didampingi suaminya Dicky DJ Ustama di padepokan silaturahmi milik ustad Cilik Guntur Bumi di bilangan perumahan Pondok Indah, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Senin (6/9/2010).

Suka Dukaku di KIR Smansa Medan

Tuesday, September 7th, 2010

Assalamualaikooom,,,
Salam Techno,,,
waah maap ni baru ngeliat note nya,, kirain mau adain Buka Bareng eh ternyata berita mau di bubarknnya KIR,,,

alamaaaak,,, berita apa pulak tuh,, jgn lah sampe knyataan tuh,,
KIR harus ttp dipertahankn nya baik secara fisik maupun keaktifan prestasinya,,, ini PR buat kita smua,, kykna hrs terjalin komunikasi yg baik dr pengurus, anggota, alumni maupun pihak pembina n sekolah,,
kalo boleh saran sih kita buat temu kangen n temu solusi juga tuk masalah2 yg dihadapi para pengurus n anggota kir,

pihak guru n sekolah mgkn berpikir klo ekskul yg jarang berprestasi mesti dibekukan bahkan dipunahkan saja krn hanya membuang2 dana aja, tapi kita hrs buktikn klo KIR yang gemilang dahulu akan tetap gemilang dengan bantuan dr smuana,,,

KIR bukan kumpulan siswa2 iseng yang tidak berarti apapun,, KIR bukan siswa2 urakan yang tidak mempunyai cita-cita yg jelas,, KIR bukan wahana tuk mencari kesesatan dan KIR bukan pula tempat siswa2 SMANSA yang patah semangat,,

banyak alumni KIR yang telah membuktikan manfaat dari adanya KIR,, alumni KIR mampu bersaing tuk menggapai cita-cita mereka,, dari KIR dapat belajar, dapat bersosialisasi, dapat berkomunikasi, dapat berorganisasi dan dapat keluarga yang menghangatkan,, *Setidakna itu yang saya dapatkan selama di KIR*

Saya sangat terkesan slama berada di KIR SMansa Medan,,
dari awal pendaftaran jd anggota baru,, minta tanda tangan senior *tapi harus buat kerajinan tangan yang disuruh senior dl baru dpt ttd nya*, buat tugas karya tulis ampe masa seleksi anggota,, saya ingat wkt masa saya yg ngedaftar jd anggota KIR angkatan X tuh ada lebih dr 25 org tp seiring wkt yg mampu bertahan mpe masa seleksi hanya 15 org saja,, bagiku itu yg namana seleksi alam.
masa seleksi yang mgkin para guru atau sapapun yang menilai itu tdk penting sebenarnya itu pandangan yang SALAH,,

masa itu adalah masa yang paling menentukan sebenarna,, sapa yang kuat maka dialah yang akan bertahan menghadapi kenyataan,, bukan sikap sok SENIORITAS atau ajang BALAS DENDAM yang mau ditonjolkan,, dan itu bukanlah tujuan para senior walo sedikitpun tak terbersit dihati senior,, *itu yang saya rasakan,, tapi masa seleksi itu mampu memberikan kekuatan mental dalam diri adk2 anggota baru dalam menghadapi masalah sosial yang akan dihadapi kedepannya,, misalna dalam membuat salah satu ajang SEMINAR **Hehheh benar kan Aris??* susahnya menemui org2 yg kita butuhkan tuk membuat izin dan sebagainya,, bukan hanya sekedar susah tapi malah kadang kita dicaci dahulu ma pihak2 tertentu,, tapi ini masalah seberapa kuat keyakinan dan kemauan kita dalam merealisasikan ajang SEMINAR itu,, bukan masalah berhasil ato tidaknya SEMINAR itu juga,, tapi kita dapat bnyk belajar dari semua tahap yg kita lalui itu,, ***TANYA lebih lanjut dgn ARIS aja ya,,, susah dukanya slama dipaksakan oleh program kerja,, hehehheh****

smasa Klas 2,, saya dipercayai menjabat sebagai kadiv INT,, saya banyak belajar hal2 baru dan memaksa saya tuk rajin membaca agar saya bisa menyampaikan info2 dan ilmu2 terbaru kpd tmn2 SMANSA,, menyenangkan sekali,,

smasa kelas 3,, saya dipercayai menjabat sebagai sekretaris umum, nah saya lebih banyak belajar lg tuk turut mengatur sgala program kerja KIR sehingga para kadiv2 tidak terlalu kewalahan dalam menentukan jadwal kegiatan yang telah mereka susun,, pokona KIR banyak memberikan ruang pikir saya semakin luas

Jadi, smua yang diajarkan di KIR slama saya bergabung disana banyak memberikan efek positif tuk diri saya,, saya bnyk belajar dari senior2 saya juga (k’faham, K’icha, K’bowo, K’tun, K’ira, K’Tino dan banyak lagi),, mereka juga banyak memberikan inspirasi tuk saya slama ini,,tidak hanya senior saja tapi juga teman2 seangkatan saya (KIR X) juga turut andil memberikan inspirasi saya,, serta adik2 angkatan XI (bilqis, aseng, aris, bilhasry, rolly, eka dan masih bnyk lg adk2 saya ini), KIR XII,, waaaah pokokna tak sanggup saya pikir dan bayangkan jika KIR benar2 akan dihapuskan,,,

Mari smuanya,,, Pengurus, Anggota aktif, alumni, pembina dan pihak sekolah kita pikrkan masalah ini bersama,,, jgn langsung menutup dan menonaktifkan atao meleburkan KIR kita,, berbanggalah klo skolah SMANSA tercinta kita ini telah memiliki KIR dan tinggal bagaimana kita menjalani, kita pertahankan dan kita majukan KIR kita,,
karena KIR ini salah satu wadah siswa berkreasi dan berprestasi,,
maap saya telah banyak becerita,,,
SALAM TECHNO!!

Link : KIR

Catatan Aris:

Tulisan ini merupakan salah satu komentar dari mantan sekretaris umum KIR, Cut Desna Apriana ( KIR 10) dalam menanggapi artikel saya “KIR bubar” . Tulisan beliau cukup menyentuh kita baik alumni, anggota aktif dan fans KIR.

salam techno!!!

Dengarkan Curhatku

Tuesday, September 7th, 2010

menurut gw, bubar atau digabungin itu sama aja ,
bedanya : jika digabungin, masih ada DNA KIR di organisasi yang nantinya dibentuk sedangkan kalo bubar KIR itu benar-benar punah. Jika kita lihat ad/art KIR opsi penggabungan itu saya rasa tidak ada. Pilihannya: kita melanjutkan KIR atau kita SENDIRI yang ngebubarin KIR.

Variasi eskul di dunia sekolah itu biasa aja misalnya cheer dan tari saman itu eskul yang berbeda tapi sejenis. Itu lazim terjadi di jakarta bandung. Malah ada eskul angklung. untuk eskul ini maenannya eropa loh.Kalo untuk KIR, klo ga bisa nasional ya Sumut saja. Lah,sekolah kita juga udah jarang juara olimpiade. benar ga tuh? atau ada yang bisa kasih info juara apa aja sekolah kita di tahun ini?

Tolak ukur prestasi dan kreativitas itu apa?
KIR itu kan berjalan sesuai visi dan misi ketuanya, arahan tertulis ada di ad/art. jika tolak ukurnya piala/medali/ sertifikat kita ikutin aja lomba-lomba yang ada. Banyaklah itu. Klo mau kreatif lebih banyak lagi
misalnya buat acc FB dan twitter KIR, blog KIR, Mading KIR, foto-foto. ini juga prestasi yang ga bisa diukur dengan piala atau semacamnya. Proses yang dijalani itu merupak prestasi buat bekal hidup kedepannya.

Klo kita pernah nonton 3 idiots ada satu ungkapan unik ” Make your hobby as profession”. Contohnya : orang cina lah itu, ujung-ujungnya dagang. Tapi lo liat sendiri omsetnya?

Pelatihan? boleh juga. Orang-orang kayak rolly, hendry, aseng yang ada di medan cukuplah buat ngasih pelatihan buat anak sma. Mulai dari hal-hal yang kecil dulu, mungkin kedepannya kita bisa undang Justin Bieber atau Ashton Kutcher. “if you dream it, you can make do it”

Yang membatasi kita itu bukan ruang, waktu, biaya atau kepala sekolah,
Tapi niat. Bu muslimah aja bisa ngasilin orang- orang kayak andrea hirata. Pernah dengar fitrian dwi rahayu? itu loh siswa smp yang meraih nilai UN terbaik (afgan banget nilainya! cuma bahasa inggris yg 9,8 artinya salah satu gan, sisanya 10 semua….wew!!!!)
doi ternyata ke sekolah bersepeda 3KM , uang saku 2 ribu!
Ini sma negeri satu medan gitu loh? Kurang apa sih nyet?

tulisan ini terkait dengan : TULISAN INI

DILARANG MENGINJAK RUMPUT: Tanya Kenapa?

Tuesday, September 7th, 2010

Banyak diantara kita mungkin sudah menonton film-film  Box Office bertemakan kehidupan mahasiswa di suatu universitas di Inggris atau Amerika. Apabila kita menonton film-film tersebut sering kita lihat adegan-adegan dimana mahasiswa melakukan berbagai aktivitas diatas rumput, seperti belajar bersama, latihan ekstrakurikuler atau sekedar mengobrol dan berdiskusi tentang suatu masalah. Tidak ada plang putih besar bertuliskan “Do Not Step On the Grass” alias “Dilarang Menginjak Rumput”. Tidak ada yang mengusir atau memarahi mereka. Mereka bebas beraktivitas dan berkreativitas.

Kondisi diatas tentunya sangat berbeda dengan yang terjadi di kampus ITB yang katanya sedang menuju World Class University. Rektorat menjadi sangat menyayangi rumput, melebihi kasih sayang dan kebebasan yang diberikan kepada mahasiswa. Banyak pengalaman dialami mahasiswa yang “kena semprot” saat harus menginjak rumput di daerah-daerah terlarang. Contohnya Via (BI 08, color guard MBWG). Via menceritakan “Waktu itu kita (Color Guard MBWG) sedang latihan dan pelatih kita harus berdiri diatas rumput CC Timur. Satpam ngeliatin dan ngawasin terus. Sampai akhirnya satpam nyamperin terus ngelarang ga bolehnginjek rumput”. Pengalaman tidak mengenakan karena peraturan “Dilarang Menginjak Rumput” ini juga dialami oleh Panitia Pasar Seni ITB. Menurut Zico Kadiv Humas Pasar Seni “Kita sangat terganggu dengan peraturan tersebut. Banyak kegiatan pasar seni yang menjadi sangat terhambat karenanya. Sawah Pasar Seni contohnya. Sawah-sawah yang kami buat dipindahkan seenaknya dengan alasan rumput lapangan SR tidak boleh terinjak. Kita ngumpul-ngumpul di lapangan SR aja dilarang. Kalau kita mau bikin kegiatan diatas rumput, rektorat langsung menyuruh kita melupakan rencana tersebut”. Pengalaman Via dan Zico mungkin hanya dua dari sejumlah pengalaman teman-teman mahasiswa ITB yang merasa terganggu dan terbatasi karena peraturan ini. Rasanya aneh apabila suatu kegiatan postif dan bermanfaat harus terhambat karena rumput-rumput ini.

Mungkin kita sering bertanya-tanya, sebenarnya apa latar belakang rumput-rumput ini tidak boleh diinjak? Rumput-rumput di lapangan bola bisa leluasa diinjak, mengapa rumput di ITB tidak bisa? Padahal nampaknya rumput-rumput yang hidup di ITB bukan tipe rumput-rumput sintetik yang mahal dan memerlukan perawatan khusus. HIMASITH Nymphaea mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dengan melakukan kajian kecil tentang karakter beberapa jenis rumput yang hidup di ITB dan ketahanan pertumbuhannya

Ketahanan rumput dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti panjang akar, kepadatan tanah, kemampuan recovery rumput dan habitat asalnya. Panjang akar dan kepadatan tanah berpengaruh dalam kemampuan rumput tersebut mendapatkan nutrisi di dalam tanah. Tanah yang terlalu sering diinjak dalam jangka waktu tertentu akan mempengaruhi kepadatan tanah. Tanah yang terlalu padat akan mempersulit akar rumput dalam mendapatkan unsur-unsur hara yang dibutuhkannya. Selain itu penginjakan dapat mempengaruhi kelembapan tanah. Namun masalah kelembapan tanah tentunya dapat diatasi selama tanah tempat rumput tumbuh masih diairi (tersiram hujan). Sementara kemampuan recovery berkaitan dengan waktu yang dibutuhkan rumput yang rusak untuk tumbuh kembali (memperbaiki sel-sel yang rusak dan berkembang biak). Penginjakan dapat mengganggu proses recovery. Proses recovery yang cepat menunjukan rumput tersebut memiliki ketahanan yang baik. Habitat asli juga berkaitan dengan ketahanan rumput. Rumput yang berasal dari daerah padang rumput atau savanna memiliki ketahanan yang baik dan tahan terhadap injakan. Hal ini disebabkan pada habitat aslinya, rumput tersebut sering diinjak oleh hewan-hewan yang mencari makanan diatasnya.

Pada dasarnya, daerah-daerah yang ditumbuhi rumput di ITB (seperti lapangan SR, lapangan sipil, lapangan radar, pinggir lapangan cinta dan pinggir CC Barat) tidak ditumbuhi oleh satu jenis rumput yang sama, melainkan ditumbuhi beberapa jenis rumput. Berikut ini jenis rumput yang banyak tumbuh di ITB:

1. Axonopus compressus (Jukut Pait)

Rumput ini berasal dari Amerika tropik dan tumbuh secara liar. Habitat aslinya berasal dari savanna. Memiliki batang yang masuk kedalam tanah sehingga memiliki area penyerapan yang luas  dan kemampuan recovery yang baik. Rumput ini berkembang biak dengan cepat. Jukut Pait menyukai tanah gembur. Pada tanah-tanah terbuka, Jukut Pait biasanya tumbuh merajai lapangan. Rumput ini sering ditanam untuk penutup tanah atau halaman karena rumput ini tahan terhadap pangkasan dan injakan

2. Setaria palmifolia (Jukut Sauheum)

Rumput ini berasal dari India, biasa tumbuh liar di sekitar pantai, pegunungan dan di tepi hutan-hutan sekunder. Ukurannya tergolong besar. Jukut Sauheum termasuk jenis rumput yang hidupnya menahun (musim berbunganya sepanjang tahun). Rumput ini dapat tumbuh subur baik pada tempat-tempat terbuka maupun pada tempat-tempat terlindung dan lembab. Rumput jenis ini juga dapat bertahan hidup walaupun kekurangan cahaya matahari, sebagaimana di hutan rumput ini dapat hidup di bawah naungan pohon-pohon yang rimbun.

3. Cyperus kyllingia atau Kyllinga monocephala (Rumput Kenop)

Cyperus kyllingia berasal dari daerah tropik dan subtropik di Asia. Rumput Kenop tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Rumput ini biasa hidup di perkebunan, hutan sekunder dan grasslands. Kemampuannya dalam menghadapi stress lingkungan sangat baik dan dapat bertahan hidup di area yang kering.

4.       Fimbristylis sp

Fimbristylis sp berasal dari daerah tropik di Amerika. Rumput ini terdistribusi hingga daerah Asia Tenggara. Rumput ini biasa hidup di daerah lembab (rawa). Rumput di daerah rawa memiliki akar yang pendek dan dekat permukaan tanah sehingga ketahanannya terhadap injakan kurang baik

Berdasarkan karakter-karakter diatas, rumput yang hidup di beberapa tempat di ITB sebenarnya merupakan rumput-rumput liar. Hal ini berarti rumput-rumput tersebut memiliki ketahanan hidup yang baik. Walaupun bagaimana pun juga setiap makhluk hidup termasuk rumput, memiliki batas toleransi terhadap stress yang terjadi terhadapnya. Yang terpenting adalah sikap kita dalam memperlakukan makhluk hidup tersebut. Maka daripada itu, peraturan “Dilarang Menginjak Rumput” seharusnya tidak perlu diberlakukan karena tidak memiliki latar belakang yang jelas. Kita tentunya tidak menginginkan, rektorat menggunakan rumput-rumput sebagai alasan untuk membatasi kegiatan mahasiswa dalam berkarya. Apabila hal ini benar-benar terjadi maka sungguh ironis sekali kampus kita ini.

Demi Tuhan, Untuk Bangsa dan Almamater

-Tim Eksternal dan Kajian HIMASITH Nymphaea-

About Me

Here I'll share my knowledge, discovery and experience related to my hobby and work. Most articles on this site are related to my travelling experiences More

Want to subscribe?

 Subscribe in a reader Or, subscribe via email:
Enter your email address:  
Memorizing Like an Elephant