Jika Aku Menjadi Menteri Pendidikan

Thursday, December 13th, 2012

Naskah Terbaik Kompetisi Esai Mahasiswa Menjadi Indonesia 2012

Oleh:  Gigay Citta Acikgenc

Program pertukaran pelajar yang pernah saya ikuti dua tahun silam meninggalkan jejak abadi di bilik memori. Hari-hari di sekolah yang saya jalani selama satu tahun ajaran membuka pintu kesempatan untuk saya merasakan perbedaan sistem pendidikan di Italia dan di Indonesia. Pengalaman sekali seumur hidup ini sukses membuat saya mencetuskan sebuah cita-cita baru: Menteri Pendidikan Republik Indonesia. Dan setelah saya pulang ke tanah air, imajinasi posisi panglima tertinggi di sektor pendidikan formal tersebut semakin tumbuh di benak saya.

Sekolah yang Menyenangkan

Tatkala saya menjadi murid di sebuah SMA negeri di kota Roma, ada percik antusiasme yang membuncah sebelum saya berangkat ke sekolah. Terpaan angin dingin bumi eropa setiap pagi ketika sedang menunggu bus tidak menyurutkan semangat saya untuk hadir di ruang kelas. Kemampuan bahasa Italia saya yang belum seberapa juga tidak menciutkan nyali saya untuk mengikuti ujian lisan maupun tulis yang sebenarnya tidak wajib mengingat sekembalinya saya ke Indonesia saya tetap akan mengulang kelas tiga SMA. Akan tetapi, mata pelajaran yang menarik serta sistem evaluasi yang bebas dari model pilihan ganda mengaburkan kendala bahasa dan cuaca yang menghadang saya.

Sesuai dengan usia saya yang saat itu berumur 17 tahun, saya ditempatkan di kelas IV Liceo Scientifico Stanislao Cannizzaro. Kelas IV disana setara dengan kelas 2 SMA di negara kita. Dan seperti yang tertulis di nama sekolah saya, saya masuk di sekolah Ilmu Alam. Yang unik, selain belajar Matematika, Fisika, dan Kimia, alokasi jam Sastra Italia, Sastra Latin, Sastra Inggris, Filsafat, Sejarah, dan Sejarah Seni tidak dianak-tirikan. Tak hanya kemampuan berhitung yang diasah, namun kami dilatih pula untuk mengenal keping – keping masa lalu yang acap kali di Indonesia tidak diselami lebih dalam kecuali jika Anda mahasiswa Ilmu Sejarah.

Selama satu tahun tersebut, jendela wawasan saya diperlebar dan keran pengetahuan yang terbuka dari berbagai disiplin ilmu membanjiri isi kepala saya. Saya memaknai kutipan populer Carpe Diem di jam Literatur Latin. Carpe Diem yang ditulis oleh Horace – yang artinya adalah Seize the Day – mengingatkan saya untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan hidup yang saya dapat hari ini. Lalu, di sesi Literatur Italia saya mengapresiasi fungsi moral dongeng Pinocchio dan Cinderella serta menganalisis faktor internal novel abad 17 karya Robinson Crusoe di jam Literatur Inggris. Saya juga membedah lukisan School of Athens karya Michelangelo dan mencoba memahami filsafat politik dari pemikiran filsuf asal Britania Raya, John Locke.

Saya tiba di Italia dengan kemampuan berbahasa sebatas ‘Halo! Nama saya Gea. Saya datang dari Indonesia’. Tiga bulan awal saya benar – benar merasa seperti alien. Ketika berada di kelas, menahan kantuk adalah kegiatan utama karena saya sama sekali tidak menangkap materi pelajaran atau obrolan yang sedang mereka bicarakan. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, saya membuktikan sendiri keajaiban otak manusia dalam beradaptasi dengan bahasa baru. Di bulan Desember 2011, saya mulai bisa berkomunikasi dua arah dan memberanikan diri untuk mengikuti ujian Literatur Italia dengan sub topik Il Purgatorio karya Dante.

Sepanjang satu tahun ajaran 2010/2011 itu, saya tidak pernah bertemu ujian dengan soal pilihan ganda. Yang saya hadapi adalah selembar kertas folio kosong. Saya tidak pernah menyilang jawaban, saya merangkai jawaban. Apa yang saya dan teman – teman pahami adalah yang akan kami tuangkan dalam bentuk tulisan. Beruntung sekali para guru sangat menghargai partisipasi saya setiap kali ada ujian. Mereka menilai ujian saya berdasarkan perkembangan tata bahasa Italia saya. Apresiasi ini pula yang membuat saya berangkat ke sekolah dengan perasaan senang, bukan paksaan atau pun sebuah keharusan.

Letup Semangat yang Lenyap

Perbedaan kontras sangat terasa ketika saya kembali dan mengulang kelas 3. Jam sekolah yang tinggi, materi yang padat dan diujikan dalam bentuk Ujian Nasional sebagai syarat kelulusan meredupkan percik api semangat yang dulu pernah saya rasakan. Saya kehilangan waktu luang dan kebebasan melukiskan pikiran dalam bentuk tulisan. Di Italia, saya hanya berada di sekolah dari pukul 8.30 sampai pukul 13.30. Dan untuk lulus SMA, murid – murid disana diperbolehkan menulis apa saja dalam bentuk karya ilmiah yang nantinya akan dipresentasikan. Host-brother saya kala itu menulis tentang badut dan kaitannya dengan karya pelukis Picasso. Selain karya ilmiah yang bisa dipersiapkan di rumah, ujian di dalam ruangan (sit-in test) juga diselenggarakan oleh pemerintah. Teman saya menulis sebuah esai dengan tema you are what you eat (Kamu adalah apa yang kamu makan).

Bukan berlebihan jika saya mengatakan masyarakat kita hari ini adalah produk kurikulum nasional. Pendidikan adalah salah satu faktor pembentuk karakter umum suatu masyarakat. Meskipun ada perubahan, kurikulum dulu dan kini sebetulnya memiliki napas yang sama: materi pelajaran yang membeludak, jam sekolah yang tinggi, sistem evaluasi model pilihan ganda, dan ujian yang terstandardisasi (standarised-test).

Kalau hari ini masih banyak orang yang tidak malu melakukan tindak pidana korupsi, bisa jadi karena pelaksanaan EBTA/EBTANAS sampai yang namanya diubah menjadi Ujian Nasional tidak dianggap sebagai tempat bersemainya benih – benih generasi koruptif. Pelaksanaan Ujian Nasional yang rentan kecurangan adalah rahasia umum. Banyak murid yang saking takutnya atau saking malasnya akhirnya membeli soal dari pihak yang tak bertanggungjawab. Karena mereka dituntut untuk memenuhi nilai minimum kelulusan, tidak semuanya mampu menomorsatukan kejujuran. Soal pilihan ganda yang diujikan memudahkan para murid untuk menghalalkan praktik sontek – menyontek. Model evaluasi yang melihat nilai sebagai indikator kelulusan dan keberhasilan siswa memproduksi peserta didik yang belajar dengan berorientasi pada nilai (score-oriented), bukan berorientasi pada spirit pembelajar sejati (learning-oriented) yang seharusnya menjadi landasan setiap orang yang pernah mengecap pendidikan formal.

Karena sifatnya berorientasi pada nilai, alhasil pola belajar – mengajar di kelas mau tidak mau berfokus pada bagaimana nanti kami (baca: siswa) bisa lulus Ujian Nasional. Akibatnya, yang kami pelajari di sekolah adalah skill menjawab soal dengan cepat dan tepat. Dan yang dikejar oleh para tenaga pengajar, kepala sekolah, dan Menteri Pendidikan adalah kenaikan angka statistik kelulusan.

Introspeksi Diri

Parameter keberhasilan pendidikan nasional yang diukur oleh nilai batas minimum yang mampu dilewati siswa adalah potret kesuksesan yang semu. Buktinya semakin banyak orang yang bisa sekolah, berita tawuran antarpelajar, demo mahasiswa yang berujung kericuhan masih santer terdengar. Apa pasal ini bisa terjadi? Di kelas tidak ada cukup ruang untuk melatih cara berkomunikasi yang santun melalui media diskusi tukar opini. Dua jam mata pelajaran tidak cukup efektif untuk mempertajam radar berimajinasi dan bereksplorasi.

Selama 12 tahun kami dijejali soal – soal  yang tidak akan kami hadapi di kehidupan nyata. Kami tidak dibekali cara berpikir kritis karena kami tidak dibiasakan menulis. Dari ulangan harian sampai Ujian Nasional yang berbentuk pilihan ganda tidak mendorong kami untuk mencintai riset pustaka alias merangsang kami untuk gemar membaca. Sehingga, akhirnya tidak terbentuk pola pikir yang kreatif dan berpikiran terbuka (open-minded) dalam menyelesaikan masalah. Pengenalan pentingnya leadership (kepemimpinan) dan entrepreneurship (kewirausahaan) ? Di sekolah – sekolah swasta mungkin dua hal ini diselipkan. Akan tetapi, di sekolah negeri yang notabene untuk rakyat semua kalangan? Belum tentu.

Kita perlu berbenah. Sebagai lembaga negara yang memegang tongkat kekuasaan, Kementrian Pendidikan Nasional harus tahu diri. Kita tidak boleh mengabaikan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada Februari 2012 yang menyatakan bahwa jumlah pengangguran secara nasional pada Februari 2012 mencapai 7,6 juta orang dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Februari 2012 sebesar 6,32 persen. (sumber: http://www.pikiran-rakyat.com/node/203205 Selasa, 25 September 2012, 11.56 ). Alokasi dana APBN sebesar 20% jangan lagi digunakan untuk proyek yang tidak berdampak langsung terhadap kualitas peserta didik. Sistem perekrutan guru dan lulusan bergelar sarjana pendidikan wajib ditinjau ulang. Belajar dari negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia, Finlandia, guru – guru disana merupakan lulusan dengan nilai yang menduduki peringkat 1 sampai 5. Dengan model evaluasi berupa esai tentu dibutuhkan kompetensi sumber daya manusia yang lebih mumpuni agar tulisan yang dibuat benar – benar dapat melihat sejauh mana pemahaman siswa.

Jika Aku Menjadi Menteri Pendidikan

Saya ingin merampingkan materi yang terlalu detil dan memotong jam sekolah yang memakan waktu lama supaya percik api antusiasme yang pernah saya rasakan juga hadir di setiap individu. Saya ingin sedari dini warisan budaya seperti batik, wayang, upacara sakral, kesenian daerah diperkenalkan di sekolah. Setidaknya jika ada yang mengklaim, kita tidak hanya berteriak saling menyalahkan tetapi nyatanya kita tidak meruwat budaya Indonesia. Saya bermimpi profesi guru kembali kepada hakikatnya sebagai pendidik, bukan sekadar pengajar yang hanya mempersiapkan siswa untuk lulus ujian. Saya ingin nadi budaya baca – tulis dan rasa ingin tahu selalu berdenyut di pelosok pedesaan hingga jantung perkotaan. Saya tidak mau institusi modern mematikan potensi berpikir kritis anak – anak hanya karena tidak ada yang memicu kebiasaan berargumentasi di ruang kelas. Harapan saya pendidikan di tanah air tidak lagi menjadi ajang transfer ilmu yang menjadikan murid adalah cetak biru sang guru. Peserta didik harus mampu mentransformasi ilmu pengetahuan sehingga tujuan akhir pendidikan untuk mencetak generasi yang mampu menjawab tantangan zaman dapat tercapai.

Reformasi kurikulum hanya dapat diwujudkan oleh orang nomor satu di jajaran aparatur Kementrian Pendidikan Nasional. Saya belum tahu bagaimana caranya mecuri atensi presiden agar kelak beliau bersedia mengamanahi saya posisi yang menjadi poros utama penyelenggaraan pendidikan formal oleh negara. Akan tetapi, paling tidak mulai dari hari ini saya telah menghimpun gagasan perubahan yang layak diperjuangkan.

Dengan titel Ibu Menteri, saya juga ingin mengajak masyarakat untuk menghapus citra ‘Anak IPA lebih pintar dari anak IPS’. Nosi ‘Setiap Anak itu Unik’ harus disebarluaskan. Kelebihan di bidang olahraga, musik, seni rupa, jangan lagi diremehkan. Orang tua harus diberi pencerahan bahwa nilai di atas kertas bukan ukuran absolut keberhasilan anaknya. Ujian Nasional digantikan oleh tugas akhir berupa proyek sosial atau karya ilmiah agar siswa menyadari bahwa kesuksesan yang nyata tidak mendewakan angka semata. Namun, berawal dari ketekunan dan kerja keras, bukan dari tak-tik menjawab soal pilihan ganda dengan tangkas.

Imaji orang yang terpelajar dinilai berhasil karena pencapaiannya dalam bentuk materi; kaya raya, rumah dua, mobil merk ternama, harus pelan – pelan digeser menjadi imaji individu yang keberadaannya membawa manfaat sebanyak – sebanyaknya bagi sekitar.

source link : @geacitta

Komentar Aris :

Tulisan yang inspiratif sekali “Kamu adalah apa yang kamu makan”

Dosen-dosen “Busuk”

Thursday, April 21st, 2011

Kemarin saya mengikuti rapat di Dikti dengan Ditnaga, Pak Supriyadi.Informasi yang disampaikan Pak Supriyadi tentang kelakukan para dosendi Indonesia, khususnya yang sedang mengajukan kenaikan pangkat,sungguh memalukan. Institusi pendidikan yang diharapkan menjadi benteng terakhir penjaga norma dan kejujuran sudah rusak, bukan oleh segelintir dosen, tetapi oleh sangat banyak dosen berperilaku “busuk” dengan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan pribadi.Beberapa kelakuan dosen tersebut yang disampaikan Pak Supriyadi
adalah:

– Memalsukan karya ilmiah. Makalah ilmiah orang, khususnya yang diterbitkan di jurnal ilmiah internasional diganti nama penulis aslinya menjadi nama yang bersangkutan. Dengan membawa ke tempat percetakan, maka tidak kentara bahwa makalah tersebut adalah makalah orang lain yang dipalsukan.

– Membuat jurnal palsu. Satu nomor jurnal internasional dimodifikasi. Caranya adalah mencabutkan satu makalah yang ada dalam jurnal tersebut dan diganti dengan makalah dia. Seolah-olah makalah dia sudah diterbitkan dalam jurnal tersebut. Dosen tersebut kemudian menjilid ulang jurnal tersebut sehingga tampak sebagai jurnal yang asli.

– Membuat jurnal nasional palsu. Ada kejadian dua dosen dari universitas yang sama dan jurusan yang sama. Mereka sama-sama mengajukan kenaikan pangkat. Ketika diteliti dokumennya, mereka melampirkan jurnal dengan volume yang sama dan nomor yang sama. Seharusnya jurnal tersebut memuat paper-paper yang sama. Tetapi ternyata tidak. – Jurnal dengan volume dan nomor yang sama tersebut memuat paper-paper yang berbeda. Jurnal yang dilampirkan si A memuat peper si A, sedangkan jurnal yang dilampirkan si B memuat paper si B. Ini berarti salah satu atau kedua dosen tersebut telah membuat sendiri jurnal tersebut dan mamasukkan makalahnya masing-masing ke dalamnya.

– Mengubah nama di ijasah luar negeri. Ijasah luar negeri orang lain diganti namanya dengan nama dia. Lalu dia datang ke percetakan untuk membuatkan ijasah yang persis sama dengan aslinya.

– Menulis paper dengan hanya mencantumkan nama senddiri pada karya mahasiswa bimbingan, agar yang bersangkutan dapat menikmati sendiri nilai kum paper tersebut.

– Membuat makalah palsu dari hasil copy paste di internet. Makalah tersebut diterbitkan di jurnal yang dikelola sendiri.

Hancurlah pendidikan bangsaku. Untuk menertibkan para dosen “busuk” tersebut mungkin beberapa langkah perlu dilakukan:

– Membentuk lembaga yang bernama Professor Watch. Lambaga ini menyelidiki kesahihan dokumen yang telah digunakan para professor untuk naik pangkat. Jika ditemukan kecurangan, professor tersebut diadukan ke polisi karena sudah melakukan tindakan penipuan. Kalau perlu dipidana, karena dari pekerjaan tersebut dia telah memakan uang
Negara dari tunjangan kehormatannya yang seharusnya bukan hak dia.

– Jabatan professor tidak diberikan secara permanen. Tiap 5 tahun performance profesor tersebut dinilai. Jika tidak perform dengan baik, jabatan profesor dicabut. Beberapat poin yang dinilai adalah: adanya mahasiswa bimbingan (khususnya mahasiswa doctor), penelitian yang dilakukan, karya ilmiah yang dihasilkan, pengajaran, dan lain-lain, yang dia lakukan setelah menjabat sebagai profesor. Kalau semua hal itu tidak dilakukan, buat apa kita memiliki profesor seperti itu.

Terlalu keenakan para profesor di Indonesia ini.

dari milis sebelah

“Saya gak tahu sumbernya dari milis mana, tapi saya nemuin tulisan ini di milis CFBE (LSM pendidikan) yang nyalin dari milis para alumni ITB. Di milis alumni ITB dan CFBE, tulisan ini jadi diskusi rame bangets. Pesan saya satu: meskipun “kreatif”, tapi jangan sekali-kali dipraktekin ya…..:)

ITB Hanya Terima Mahasiswa Program Sarjana Melalui SNMPTN

Wednesday, January 12th, 2011

BANDUNG, itb.ac.id – Seperti yang dilansir situs resmi Ujian Saringan Masuk itb.ac.id/usm-itb, ITB hanya menerima mahasiswa program sarjana melalui Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi (SNMPTN). Hal tersebut mengacu pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 34/2010 tentang pola penerimaan mahasiswa baru program sarjana.

Berkenaan dengan hal tersebut, ITB meminta seluruh informasi mengenai sistem Penerimaan Mahasiswa Baru ITB 2011 yang pernah terbit sebelum Senin, 10 Januari 2011 agar diabaikan. Termasuk informasi tentang pelaksanaan PMBP-ITB 2011, KN-ITB 2011, dan program Beasiswa seperti Bidik Misi, BIUS, Beasiswa Ekonomi Lemah, dan lain sebagainya.

Saat dikonfirmasi Kantor Berita kepada seksi penyaringan mahasiswa, Rabu (12/01/11), ITB masih merembukkan rencana selanjutnya terkait keputusan tersebut, seperti masalah keuangan, beasiswa, dan program studi yang selama ini hanya menggunakan penyaringan mandiri. Mereka berharap keputusan final bisa didapatkan dalam minggu ini. Jika ada informasi baru, hal tersebut akan segera dipublikasikan pada situs resmi USM.

Kabar penghapusan USM ini memang mengejutkan banyak pihak. Di situs mikro blogging twitter cukup banyak pengguna yang menanyakan hal ini. Seperti yang ditulis oleh @nilamastari : Demi apa lu? Seriusan?! RT @DeviNathania: Gak ada cyiiin..RT @nilamastari: Eh SERIUSAN PMBP ITB NGGAK ADA?

Atau seperti yang ditulis oleh Billy Richardo pada akun nya @billyrch: USM ITB GA ADA LAGI>>>> SPEKTAKULAR>>> itb dpt duit drmana donk?

Ada pula pihak yang kecewa dengan penghapusan USM ini. @dididiardi misalnya, dalam sebuah twitnya ia menulis @dididiardi: Okay thanks mendiknas lu menghancurkan semangat itb gw

Namun, tak sedikit pula pengguna yang mendukung keputusan tersebut. Seperti yang ditulis oleh @selvyrosa: Seriusan?mulai taun ini ken? RT @kenny_ald: Gile ITB gk pake USM+Kemitraan lagi! Good..good…

Keputusan ITB setelah menutup penerimaan mandiri dapat diakses pada situs USM
Peraturan Menteri Pendidikan no. 34/2010 dapat Anda unduh di sini.

link berita :

– http://www.itb.ac.id/news/3069.xhtml

Merefleksikan Pendidikan

Friday, December 24th, 2010

Yup, saya baru menyelesaikan quarter pertama saya sebagai mahasiswi Stanford University! Tiga bulan ini sangat berarti buat saya – saya melihat kultur yang berbeda, mengadaptasi cara pandang yang berbeda, merasakan gaya pendidikan yang berbeda. Dalam post ini saya ingin berbagi aspek-aspek pendidikan Stanford yang mengesankan saya, refleksi saya terhadap pendidikan yang saya dapat di Indonesia sebelumnya dan apa yang saya harap bisa diterapkan di Indonesia.

Moral, bukan agama

Sebulan sesudah saya mulai bersekolah, saya bertemu His Holiness the Dalai Lama saat beliau berbicara di Stanford mengenai compassion. Poin speechnya yang paling berkesan buat saya, adalah ketika beliau bilang bahwa compassion itu tidak melihat agama, dan bahwa pendidikan seharusnya tidak religiocentric atau berpusat pada suatu ideologi agama, namun pada moral values, compassion, yang universal. Menarik, mengingat beliau adalah pemimpin agama.

Saya setuju dengan beliau. Rasanya struktur pendidikan agama di Indonesia tidak sesuai dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika itu sendiri. Katanya negara kita negara toleransi dan understanding antar 5 agama, tapi saya merasa hampir tidak tahu apa2 tentang Buddha, Hindu, dan Islam dari sekolah, selain nama kitab suci mereka, nama tempat ibadah, nama hari raya, nama tokoh besar. Yup, hal-hal penting. Tapi superfisial. Pertama kalinya saya merasa ‘mengerti’ agama, adalah ketika saya sekamar dengan teman beragama Islam sewaktu pelatihan, dan dia mengajarkan saya arti gerakan-gerakan sholat. Di Stanford, saya belajar meditasi Buddhisme Zen dan belajar ideologi mereka, dan ternyata banyak yang bisa saya pelajari dari sana.

Pendidikan agama di Indonesia yang cuma berpusat pada 1 agama tertentu, membawa notion bahwa agama lain adalah “bukan agama saya, bukan urusan saya.” Menurut saya, pendidikan moral seharusnya menarik ideologi kelima agama dan menelaahnya secara universal, yang berlaku pada semua orang. Bila ada aspek2 di mana ajaran mereka berlawanan, telaahlah tentang semuanya. Jangan take side tentang mana yang benar. Pelajarpun akan tumbuh menjadi orang-orang yang dunianya tidak berpusat pada kepercayaannya sendiri, tapi peduli dan punya deeper understanding tentang kepercayaan lain. Pelajaran bukan mestinya berarah pada membuat murid beriman, tapi memberikan pengetahuan dan latar belakang untuk mendorong murid menemukan imannya sendiri.

Trust, Expectation, Responsibility

Saya kaget banget waktu ujian pertama saya di sini. Kita masuk ke auditorium, duduk sesuka hati, dibagiin kertas ujian, lalu semua lecturer/TA keluar dari ruangan dan nunggu di luar. Ga ada orang yang jaga ruang ujian. Yang ada cuma 1 paragraf di depan kertas ujian “Saya mengerti dan menjalankan Honor Code. Saya tidak menerima bantuan yang tidak diizinkan sebelum, ataupun selama tes berlangsung.” dan tanda tangan kita. Kalau mau mencontek, gampang aja. Di sini murid bener2 dipercaya… Ekspektasi awal orang terhadap murid positif, bukan negatif. Kami dipercaya membuat keputusan sendiri, bahwa kita bisa bertanggung jawab atas kepercayaan itu. Ini tercermin juga dari kelas online wajib AlcoholEdu, tentang alkohol di kampus. Yang menarik, di pendahuluan kelas itu, ditulis : “Kami tidak akan menggurui kamu untuk tidak minum. Kami hanya akan memberikan informasi, dan adalah kebebasan kamu untuk memutuskan.”

Ini buat saya breath of fresh air. Saya biasa dibilang, jangan begini, jangan begitu. Rasanya selalu ada prasangka yang unspoken, seperti kita harus selalu diarah-arahkan untuk bisa berbuat benar. Seperti kita akan mencontek kalo nggak ada yang melihat. Seperti kita bakal melakukan hal buruk kalo kita nggak ada yang melarang. Rasanya, kepercayaan seperti yang diterapkan di sini lebih ampuh. Karena merasa dipercaya, ada rasa tanggung jawab. Dan nggak ada bahan untuk ‘diberontakkan’, seperti yang, rasanya, banyak terjadi pada orang-orang yang terlalu banyak diatur. Poin saya di sini : expect yang terbaik dari murid, dan pastikan kalau murid menyadari itu.

Diversitas dan Individualitas

Pendidikan di US membawa apresiasi akan diversitas ke level yang lebih jauh, dengan membentuk jurusan-jurusan baru yang menggabungkan jurusan2 berbeda yang saling berkaitan (interdisciplinary study). Misalnya, Symbolic Systems (contoh lulusan : Google’s Marissa Mayer) yang menggabungkan Computer Science, Philosophy, Psychology, Linguistics, Communication, dan Education – memberikan programmer2 spesialisasi dalam mengerti dan mengkomunikasikan keinginan user. Management Science & Engineering yang seperti menspesialisasikan MBA ke bidang-bidang sains dan engineering. Human Biology, yang menggabungkan biologi, farmasi obat2an, nutrisi, dan antropologi. Interdisciplinary study seperti ini membawa pendidikan ke arah yang lebih spesifik dan terspesialisasi, serta mendayagunakan orang-orang yang punya beragam interest. Hampir semua (atau semua?) departemen memungkinkan mahasiswa untuk mendesign majornya sendiri.

Pendidikan di sini menghargai individualitas – tugas-tugas di kelas banyak yang sangat open-ended dan memungkinkan siswa melakukan apa yang jadi passionnya tanpa banyak pembatasan. Tugas akhir kelas humanities saya, misalnya, hasilnya bermacam2: film, film bisu, skit, rap, bahkan dunia virtual hasil permainan The Sims. Dan para profesor pun bisa menghargai hasil-hasil yang nggak konvensional. Salah satu hal yang paling sering ditekankan kepala asrama saya adalah kata-kata : “Don’t judge.” Jangan mengomentari atau mempertanyakan preferensi teman kamu dalam aspek apapun. Kalau kamu ditanya kenapa suka The Beatles, misalnya, jawaban “Because I do.” adalah jawaban yang valid, dan orang lain nggak punya hak bertanya lebih jauh.

Dua aspek ini terkadang hilang dari sistem pendidikan Indonesia. Murid didikte akan kelas-kelas apa yang harus diambil, dan ada semacam persepsi akan pelajaran mana yang lebih penting daripada yang lain. Pertanyaan yang tidak open-minded menjuruskan pikiran murid ke satu arah tertentu, dan sering kali pelajaran memojokkan orang dengan cara pandang yang berbeda.

Entrepreneurship

Di sini saya benar2 sadar kunci utama kemajuan entrepreneurship di US : pendidikan. Universitas, terutama. Teman saya, graduate student yang sempat intern di Facebook summer lalu, bilang kalo waktu dia bertemu mahasiswa CS di Stanford, hampir semua bilang kalau mereka mau membuat startups, bukan bekerja. Emphasis Stanford terhadap entrepreneurship benar2 kuat – aura entrepreneurship di sini adalah one of those things yang harus ada di sini untuk ‘ngerasain’ itu. Environmentnya luar biasa kondusif. Kerja di small or start-up company adalah sesuatu yang hip di sini. Mahasiswa punya start-up itu biasa. Banyak faculty di sini yang entrepreneurs themselves atau berhubungan dekat dengan perusahaan2 (presiden Stanford, John Hennessy, adalah boardmember di Google dan banyak company lain) – dan mereka ready untuk mentor entrepreneurs secara langsung. Professor Frederick Terman, misalnya, menjadi mentor Hewlett dan Packard waktu mereka masih di garasi di Palo Alto, dan mendorong terbentuknya Silicon Valley. Larry Page dan Sergey Brin sering menyebut Professor Terry Winograd sebagai pengaruh besar terbentuknya Google.

Di kampus, kami punya Stanford Student Startup Lab (semacam YCombinator), Stanford Technology Venture Program, seminar mingguan tentang entrepreneurship, kelas entrepreneurship, konferensi entrepreneurship, Startup School, dan banyak kontes-kontes entrepreneurship di kampus. Kami punya job fair khusus start-ups. Kedekatan kami dengan Silicon Valley membawa banyak tokoh bicara di sini – dalam tiga bulan, saya bertemu Seth Sternberg (cofounder Meebo), Peter Thiel (CEO Paypal & venture capitalist), beberapa venture capitalist dan eksekutif dari Facebook, Twitter, dan Foursquare. Mark Zuckerberg ‘mampir’ ke salah satu kelas pendahuluan Computer Science. VC atau tokoh2 Silicon Valley sering datang ke sini menilai presentasi2 tugas akhir.

Ujung tombak perubahan adalah universitas. Untuk Indonesia bisa membentuk ‘Silicon Valley’nya sendiri (seperti wacana yang belakangan ini sering muncul), yang harus ada di depan bukan pemerintah, tapi universitas – bagaimana mereka melibatkan startups yang sekarang menjamur di Indonesia dalam proses pendidikan, dan berperan lebih aktif dalam mengembangkan kultur entrepreneurship. First and foremost, seharusnya, adalah bagaimana membuat bekerja di startup sebagai sesuatu yang nggak asing atau aneh. Dari sisi lain, startups juga baiknya membuka kesempatan magang bagi mahasiswa-mahasiswa.

Praktikalitas

Selama SMA, saya mengamati, dan merasakan, bagaimana pelajaran dasar programming sangat mudah untuk jadi ‘membosankan’. Kode looping, percabangan, teks hasilnya keluar di layar warna hitam…. Dan murid akan bertanya, “terus kenapa? Apa gunanya?” Dan waktu saya sempat mengajar di beberapa pelatihan, saya cuma bisa bilang “sabar ya. ini masih dasar, tapi bentar lagi ada good stuffnya.” Karena itu saya impressed melihat bagaimana approachable-nya kelas programming dasar di sini.

Kelas dasar programming di Stanford terdiri dari 2 bagian, CS 106A dan CS 106B. Kelas CS 106A menarik hampir seribu murid setiap tahunnya, sebagian besar tanpa pengalaman programming sebelumnya. Minggu pertama kelas itu, mereka bermain dengan Karel, teaching language mirip Pascal, tapi sintaksnya sangat disederhanakan, dan belajar konsep-konsep dasar programming tanpa perlu terlalu khawatir dengan masalah sintaks. Setelah itu, mereka belajar Java. Kelebihan kedua kelas ini, menurut saya, adalah profesor-profesornya sudah mengkode library yang customized untuk kelas-kelas ini, termasuk tampilan grafis yang menarik dan struktur data yang lebih learner-friendly. Sejak awal, dari semua tugas kedua kelas ini, programming dibuat menantang, tapi hasilnya bisa dinikmati. Tugas terakhir CS 106A adalah membuat facebook yang bisa diikuti dan dimainkan murid-murid pengambil kelas tersebut (dan Mark Zuckerberg jadi surprise guest lecturer di kelas terakhir). Tugas terakhir kelas CS 106B adalah versi sederhana Google Map.

Waktu orientasi, ada ‘demo kelas’ tentang machine learning. Profesornya nunjukkin video helikopter akrobatik yang muter2 di angkasa, dan bilang kalo itu dimulai dari proyek siswa sophomore (tingkat dua). Kelas CS 193 (iPhone & iPad Application Programming) menghasilkan aplikasi2 yang sekarang ada di iTunes Store. Aplikasi Pulse untuk iPad yang mendapat rave reviews di TechCrunch adalah hasil kelas di d.school. Tugas akhir kelas database adalah membuat situs seperti eBay. Salah satu hasil terbaiknya adalah website ini (murid yang membuat website tsb juga membuat website YouTube Instant yang sempat viral, diliput TechCrunch, dan ditawari posisi di YouTube langsung oleh CEOnya via Twitter. Awesome guy in person too).

Caution : ternyata ytinstant nggak jalan optimal di internet di Indonesia. Intinya, website itu seperti Google Instant, jadi video yang ditunjukkin bakal berubah as we type.

Humanities and Critical Thinking

Beberapa bulan lalu, di blog ini saya sempat bicara tentang kurangnya mandatory reading dalam pendidikan Indonesia:

It occurred to me that Indonesian school system has been terribly undervaluing the benefits of assigned reading. It’s rare in the first place. When we did have a reading, tasks will be on language (synopsis, etc) , largely ignoring the topics and contents it brought forward. Books are perceived merely as a matter of language and not as a provoker of new ideas and thoughts. Somehow we are educated to read for the sake of the story itself, and not for the meaning behind it.

dan setelah tiga bulan terakhir ini, saya jadi merasa bahwa masalahnya bukan mandatory reading itu sendiri, tapi tiadanya fokus pendidikan critical thinking di kehidupan sehari-hari. Dalam pendidikan di US, ini dicapai oleh pelajaran humanities, seperti dengan sangat jelas dituturkan video ini (berjudul “In Defense of Humanities”, oleh profesor di Stanford). Kelas-kelas humanities mendorong kita bertanya dan mendiskusikan life questions, mendorong kita untuk berpikir tentang hal-hal yang biasanya kita take for granted. Semua mahasiswa tingkat 1 di Stanford wajib mengambil 3 quarter Introduction to Humanities. Quarter kemarin, kelas humanities saya mengajak murid untuk membayangkan bagaimana teknologi bisa membentuk masa depan yang utopian atau dystopian. 2 quarter ke depan, kita bakal menelaah ajaran berbagai macam agama.

Sistem discussion section buat saya sangat bisa (tapi saya belum lihat) diterapkan di sekolah menengah Indonesia. Dua kali seminggu, selama sejam, sekitar 15 orang murid duduk di sekeliling meja kotak besar bersama seorang guru, dan kita berdiskusi atau berdebat tentang topik pelajaran itu. Guru benar2 jadi fasilitator dan berlaku seperti salah satu peserta diskusi juga. Selama ini yang saya pernah rasakan adalah diskusi kelompok 3-4 orang, lalu mempresentasikan di depan kelas dan orang bisa bertanya. Saya agak kurang suka dengan sistem ini, karena tendensi orang adalah menjatuhkan argumen mereka yang berpresentasi. Sementara dalam diskusi atau bahkan debat semeja, semua orang sadar kalau kita membangun argumen secara konstruktif.

Kesimpulannya, banyak aspek pendidikan Barat yang bisa kita pelajari dan terapkan di Indonesia – keterbukaan terhadap individualitas dan diversitas, tugas-tugas yang praktikal, dorongan untuk menemukan dan memulai hal baru, pemikiran kritikal dalam kehidupan sehari-hari, dan kepercayaan terhadap murid.

Let me know what you think! Feel free to share your experiences too

Link : http://angelinaveni.com/2010/12/12/merefleksikan-pendidikan/

semoga share artikel ini dapat menambah wawasan anda ^^v

Indonesia Mengajar : Hendra Aripin

Wednesday, October 6th, 2010

Berikut saya tampilan profile salah seorang pengajar muda Indonesia Mengajar Angkatan 1. Kebetulan saya mengenal beliau, karna beliau adalah seorang kader HMS dan Interisti.

Situs Indonesia Menagajar : http://www.indonesiamengajar.org/

About Me

Here I'll share my knowledge, discovery and experience related to my hobby and work. Most articles on this site are related to my travelling experiences More

Want to subscribe?

 Subscribe in a reader Or, subscribe via email:
Enter your email address:  
Memorizing Like an Elephant