7 Orang Indonesia yang Berprestasi di Luar Negeri Namun Masih Sangat Mencintai Indonesia

Wednesday, October 3rd, 2012

1. Prof Nelson Tansu. Ph,D
(Seorang peraih gelar Profesor termuda di Amerika dan pakar Teknologi Nano serta Optoelektronika).
Nelson Tansu meraih gelar Profesor di bidang Electrical Engineering di Amerika sebelum berusia 30 tahun. Karena last name-nya mirip nama Jepang, banyak petinggi Jepang yang mengajaknya “pulang ke Jepang” untuk membangun Jepang. Tapi Prof. Tansu mengatakan kalau dia adalah pemegang paspor hijau berlogo Garuda Pancasila dan memilih untuk tidak menjadi warga negara Amerika Serikat.

2. Andre Surya
(Seorang Digital Artist dan Special Efect dalam film Terminator, Iron Man, Star Trek, Transformer)
Lahir pada 1 Oktober 1984 di Jakarta, Andre yang hobi main bola ini mempunyai ketertarikan di bidang 3D. Ia pun memulai mempelajari computer graphic sejak awal SMA, ilmu yang bakal berguna bagi masa depannya sebagai seniman divisi Industrial Light and Magic (ILM) di Lucasfilm Singapore. Selulus SMA, ia melanjutkan sekolah dengan mengambil jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) di Universitas Tarumanegara (Untar). Hanya mengenyam bangku kuliah di Untar selama setahun, Andre lantas melanjutkan sekolah film Vanarts di Vancouver, Kanada, guna mengambil diploma di bidang Film and Special Effects.

3. Yolanda “Yo” Santoso
(Seorang Branding & Motion Graphic untuk Zack Snyder’s 300, Ugly Betty, Herbie Fully Loaded, The Triangle, Desperate Housewives, dan Hulk. Dia juga dinominasikan untuk 3 Emmy Award)
Yolanda Santosa wanita kelahiran Jakarta, Februari 1978, sejak duduk di bangku Sekolah Dasar Don Bosco Jakarta, selalu unggul di bidang seni. Saat pindah ke Singapura mengikuti orang tuanya, ia bersekolah di Opera Estate Primary School dan Katong Convent Secondary School di Singapura. Pada tahun 1995, kuliah di Art Center College of Design, Los Angeles. Setelah lulus kuliah, Yo sempat bekerja di perusahaan desain yU+co. Di sana ia memenangi tender untuk membuat film title, main title, opening show film serial televisi yang populer di AS, yaitu Desperate Housewives (2004), The Triangle (2005), dan Ugly Betty (2006). Dari ketiganya itulah pula Yo dinobatkan sebagai nominator pada Emmy Award untuk Outstanding Main Title Design selama 3 tahun berturut-turut dari tahun 2005 s/d 2007.

4. Henricus Kusbiantoro
(Seorang desainer logo yang mendesain logo America Super Bowl 2011, The Emmy Award, Samsung Beijing Olympic 2008, FIFA World Cup, Japan Airlines dan banyak lagi).
Kecintaannya pada desain logo mengantarkan dirinya menjadi desainer logo kelas dunia. Sejumlah penghargaan internasional telah berhasil diraih pemuda kelahiran Bandung, 1973 ini. Waktunya kini lebih banyak dihabiskan di New York, AS, untuk bekerja sebagai Design Director di Siegel+Gale. Lulus dari ITB pada 1997 dengan predikat Ganesha Award sebagai penghargaan untuk mahasiswa terbaik Seni Rupa, Henricus menjatuhkan pilihan pada studio grafis terkemuka LeBoYe milik Hermawan Tanzil sebagai tempat untuk berkarir pertamanya. Ketika tanah air diguncang krisis yang berakibat pada kerusuhan pada 1998, Henricus memeroleh beasiswaa paruh dari ASIA Help (IIE Foundation) untuk meneruskan pendidikan desain grafis di Pratt Institute, Brooklyn, New York.

5. Oki Gunawan
(Seorang Peneliti dan Inovator di bidang Teknologi Semikoduktor di IBM, New York).
Salah satu dari lima siswa kita yang ikut Olimpiade Fisika Internasional ke-24. Dalam kompetisi tersebut, lulusan SMAN 78 Jakarta (1990-1993) ini meraih medali perunggu. Sejak itu, prestasi dan pencapaian terbaik di kancah internasional tampaknya selalu menjadi bagian hidup Oki. Sejak 2007, peraih AT&T Leadership Award, Amerika Serikat (2000) dan IBM Patent Challenge Award dengan predikat Honorable Mention (2010) ini tercatat sebagai anggota staf IBM T. J. Watson Research Center yang berkantor di New York.

6. Dr. Yanuar Nugroho
(Seorang dosen dan peneliti di Manchester Institute Of Inovation Research dan peraih Hallsworth Fellowship 2010)
Yanuar Nugroho, MSc (UMIST, UK) adalah pendiri dan kini menjadi Sekretaris Jenderal dan peneliti di Uni Sosial Demokrat (UNISOSDEM) Jakarta. Dia juga mengajar di Jurusan Teknik Industri di Universitas Trisakti Jakarta, saat ini pun bertanggungjawab untuk merintis pendirian perguruan tinggi baru di Solo yaitu Universitas Sahid Surakarta dan juga tetap menjadi konsultan bagi Pusat Pemberdayaan Komunitas Perkotaan (PUSDAKOTA) di Universitas Surabaya. Dia dikenal luas sebagai konsultan, moderator dan fasilitator dalam pertemuan dan lokakarya berbagai LSM di Indonesia. Dia memusatkan penelitian dan karya akademik-organiknya pada implikasi sosial (dalam hal ini: kebijakan publik) dari teknologi informasi dan komunikasidan sistem pasar global. Dia mengambil kekhususan perhatian pada “Analisis Sosial” sebagai salah satu basis aktivitasnya.

7. Prof Dr. Khoirul Anwar (Seorang pemilik paten sistem telekomunikasi 4G berbasis Orthogonal Frequency Division Multiplexing atau OFDM dan bekerja di Institute of Science and Technology, Jepang)
Satu lagi peneliti Indonesia yang telah menorehkan prestasi di kancah internasional. Dia adalah Prof. Dr. Khoirul Anwar, penemu dan sekaligus pemilik paten teknologi 4G berbasis OFDM (Orthogonal Frequency Division Multiplexing). Temuannya ini kemudian mendapatkan penghargaan Best Paper untuk kategori Young Scientist pada Institute of Electrical and Electronics Engineers Vehicular Technology Conference (IEEE VTC) 2010-Spring yang digelar 16-19 Mei 2010, di Taiwan. Kini hasil temuan yang telah dipatenkan itu digunakan oleh sebuah perusahaan elektronik besar asal Jepang.

Data diolah dari berbagai sumber.

Sudah Berapa Lama Anda Belajar Bahasa Indonesia?

Tuesday, September 25th, 2012

Tokyo, penghujung musim panas 2012…

“Anda temannya Asep-san?”, teguran tersebut mengagetkan saya. Malam itu, pertengahan September, saya sedang memasuki gedung asrama tempat teman saya tinggal. Dia dan keluarganya akan meninggalkan Jepang dan pulang ke Indonesia karena masa studinya yang telah selesai. Saya berencana untuk membantu membereskan ruangan kamarnya, namun ternyata teman saya itu belum pulang. Alih-alih bertemu dengannya, saya bertemu dua wanita Jepang yang menegur saya tadi. Kata-kata teguran di atas bukan terjemahan dari bahasa Jepang ke bahasa Indonesia. Itu adalah murni teguran dalam bahasa Indonesia yang diucapkan orang Jepang, itulah sebabnya saya kaget.

“Wah, Anda bisa berbahasa Indonesia?” balas saya. Mereka hanya tersipu malu. “Iya, saya temannya Asep-san, kami sudah berjanji untuk bertemu malam ini. Namun tampaknya Asep-san dan istrinya belum tiba”, lanjut saya. Salah satu dari kedua wanita tersebut balas menyahut,”Ya, sejak tadi kami hubungi lewat Facebook, tapi tidak ada balasan. Kalau lewat telepon sudah tidak bisa, karena Asep-san bilang layanan teleponnya sudah diputus hari ini. Kami ke sini mau mengucapkan selamat tinggal.”

“Wah, lancar sekali bahasa Indonesianya,” pikir saya dalam hati. Karena teman saya belum kunjung tiba, kami memutuskan untuk menunggunya di selasar depan kamarnya di lantai tiga. Kami pun melanjutkan obrolan. “Perkenalkan saya Ghani, nama Anda siapa?” ucap saya memperkenalkan diri terlebih dahulu. “Nama saya Rumi dan ini Ai,” ujar salah satu wanita tersebut. “Ooh, Rumi dan Ai lancar sekali ya berbahasa Indonesianya,” puji saya. “Kalau Ghani-san, bisa berbahasa Jepang?”, tanya Rumi. “Eeeto, sukoshi wakarimasu (mmm, mengerti sedikit). Saya baru datang enam bulan yang lalu,” jawab saya dalam bahasa Jepang yang disambung dengan bahasa Indonesia. “Wah, hebat, hebat, pintar,” ujar mereka antusias.

Pujian seperti itu sudah biasa saya terima dari orang Jepang. Mereka sangat senang ada orang asing yang bisa menguasai bahasa nasional mereka. Padahal kosakata yang saya kuasai saat itu paling-paling hanya ucapan selamat pagi, siang, dan malam, serta perkenalan dalam bahasa Jepang yang memang mudah untuk dihapal. Namun antusiasme mereka seolah tidak memedulikan hal itu. Penasaran dengan kemampuan berbahasa Indonesia mereka, saya pun melanjutkan perbincangan, “Sudah berapa lama Anda belajar Bahasa Indonesia?” Menanggapi pertanyaan saya tersebut, Ai menggelengkan kepalanya dan berkata, “Tidak mau kasih tahu, malu.”

Pentingnya menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar

Sebetulnya setelah itu kami masih terus melanjutkan percakapan hingga teman saya dan keluarganya datang. Bila diperhatikan, semua kalimat bahasa Indonesia yang saya ucapkan adalah kalimat dalam bentuk baku. Saya rasa itulah bentuk Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Lalu, apa yang saya rasakan saat mengucapkannya? Aneh. Saya merasa ganjil menggunakannya. Bagi saya, selain dalam hal tulis-menulis, menggunakan bahasa Indonesia yang baku bukanlah kebiasaan sehari-hari. Jika berkomunikasi dengan teman dan keluarga, saya menggunakan bahasa yang tidak baku. Mungkin jika Rumi dan Ai tadi adalah teman Indonesia saya, salah satu ekspresi saya dalam percakapan tersebut akan seperti ini: “Iya, saya temennya Asep-san, kami udah janjian buat ketemuan malem ini. Tapi kayanya Asep-san sama keluarganya belum dateng.”

Kalimat terakhir itu hanyalah salah satu contoh penggunaan bahasa Indonesia yang telah terdistorsi kebakuannya. Belum lagi jika bahasa Indonesia dicampur dengan kata-kata serapan non formal atau ilegal (yang belum disepakati bersama) dari bahasa daerah atau bahkan terpengaruh dari guyonan-guyonan yang dipopulerkan oleh artis-artis parodi dan sinetron di televisi, sudah tentu bentuknya menjadi bahasa Indonesia yang tidak baik dan tidak benar. Hal ini jika dibiarkan terus menerus akan menimbulkan efek negatif. Contohnya, jika seseorang sudah terbiasa menggunakan ekspresi, kosakata, dan ungkapan-ungkapan yang tidak formal dalam berbahasa Indonesia, ada kemungkinan sampai suatu ketika, secara tidak sadar, ia akan berkomunikasi dengan seseorang yang berbeda latar belakang dengan menggunakan bahasa sehari-harinya itu. Bahayanya adalah apabila terjadi kesalahpahaman dari komunikasi tersebut, maka kedua pihak akan rugi. Rugi waktu, rugi tenaga, bahkan jika itu komunikasi bisnis, keduanya dapat mengalami kerugian finansial. Hal tersebut masih rentan terjadi pada orang dewasa yang sudah berpendidikan. Bayangkan apa yang terjadi jika anak-anak usia sekolah sudah tidak bisa berbahasa Indonesia dengan baik?

Oleh karena itu penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar sangatlah penting. Karena bagi rakyat Indonesia yang terdiri dari berbagai macam suku bangsa, Bahasa Indonesia ini benar-benar menjadi alat komunikasi untuk mempersatukan masyarakat dalam berbagai aktivitas seperti perdagangan, pendidikan, dan pemerintahan. Saya mengerti tentang itu. Namun jika kita bertanya, “Bagaimanakah Bahasa Indonesia yang baik dan benar itu?” Dapatkah Anda menjawabnya?

Bahasa Indonesia: Ilmu tidak pasti?
Sejauh pengalaman saya belajar bahasa Indonesia, sejak tingkat SD, SMP, SMA, bahkan saat saya mahasiswa, tata bahasa untuk bahasa Indonesia pasti berubah-ubah. Beda halnya dengan bahasa Inggris yang grammar nya memang sudah menjadi standar dan lestari sejak bertahun-tahun lamanya. Contoh kecil saja, untuk penggunaan kata “prakata,”, “pengantar”, dan “kata pengantar.” Definisi dan penggunaannya tidak sama antara apa yang diajarkan kepada saya di SMA dan di perguruan tinggi. Saya tidak percaya jika guru dan dosen saya memiliki ilmu bahasa yang kurang. Saya juga kurang yakin kalau perubahan-perubahan itu muncul akibat kesepakatan Kongres Bahasa Indonesia yang diadakan hanya lima tahun sekali. Puncak-puncaknya saya kesal saat harus mengumpulkan tugas akhir di mata kuliah “Tata Tulis Karya Ilmiah” yang berujung terhapusnya beberapa pemahaman tata bahasa yang saya kuasai sejak di SMA dan saya pelajari untuk mengadapi SNMPTN. Sejak saat itu saya merasa ada ketidaksinkronan diantara pakar bahasa dan budaya kita. Dan sejak itu saya menyatakan bahwa bahasa Indonesia adalah ilmu tidak pasti.

Disinilah pentingnya berbagi peran dalam melestarikan bahasa Indonesia. Mengampanyekan gerakan berbahasa Indonesia yang baik dan benar saja tidaklah cukup. Sebagai masyarakat awam, memang itu porsi saya, tapi untuk kalangan akademisi di bidang bahasa Indonesia, sastrawan, budayawan, dan bahkan jurnalis, merumuskan bahasa Indonesia yang baik dan benar dan menyosialisasikannya adalah porsi mereka. Tentang perumusan bahasa Indonesia yang baik dan benar, menurut saya harus terus menerus dilakukan.

Belum sampai satu abad usia bahasa kita jika mengacu pada momen Sumpah Pemuda sebagai deklarasi awal penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Dalam usia yang masih muda itu, kajian-kajian terhadap penyerapan kosakata baru dan aturan ketatabahasaan masih harus dilakukan. Saya sendiri masih kelabakan kalau harus menulis makalah teknik yang sarat dengan istilah-istilah asing namun tidak bisa menemukan padanannya dalam bahasa Indonesia. Tugas berikutnya, menyosialisasikan kosakata dan tata bahasa yang sudah dirumuskan. Hal ini juga sangat penting. Bagi saya yang sudah tidak belajar atau kuliah bahasa Indonesia, sangatlah terbatas untuk mengetahui informasi-informasi terkini tentang ketatabahasaan.

Sejauh ini kemampuan tata bahasa saya diperoleh dari media-media cetak nasional, seperti Kompas, dan juga penerbit-penerbit buku yang memang sudah terkenal memerhatikan masalah tata bahasa. Beberapa penerbit dan media cetak lain saya lihat masih saja memiliki ketidakseragaman di tata bahasanya. Itulah mengapa saya sebutkan bahwa bahasa Indonesia itu adalah ilmu tidak pasti. Karena untuk kalangan yang seharusnya menjadi rujukan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar saja, penggunaan tata bahasanya masih berbeda satu sama lain.

Jika saya dimintai pendapat atau usulan dalam Kongres Bahasa Indonesia atau seminar tentang bahasa Indonesia, hanya satu permintaan saya kepada para pakar bahasa: “Jadikanlah bahasa Indonesia menjadi ilmu pasti!”
Dipaksa atau terpaksa berbahasa Indonesia yang baik dan benar: Pilih yang mana?

Kembali ke pengalaman saya berinteraksi dengan orang Jepang di atas, saat itu sebisa mungkin saya menggunakan bahasa Indonesia formal yang biasa digunakan untuk menulis tugas atau laporan saat masih di Indonesia. Rasanya janggal juga. Tapi jika saya berbicara menggunakan bahasa yang tidak baku, mereka mungkin tidak akan mengerti. Ini sebenarnya kali kedua saya bertemu orang Jepang yang bisa berbahasa Indonesia. Sebelumnya saya bertemu dengan seorang pria Jepang yang sedang antusias belajar bahasa Indonesia, Taichi namanya. Minggu-minggu awal kami berteman, dia rajin menyapa saya lewat WhatsApp, dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar tentunya. Saya pun terpaksa membalasnya dengan bahasa Indonesia yang formal. Lucu dan malu juga rasanya. Lucu karena saya berpura-pura menggunakan bahasa Indonesia yang baik. Malu karena saya merasa ditegur oleh bangsa lain untuk menggunakan bahasa nasional saya dengan baik dan benar.

Ada yang berkata, kita akan lebih mencintai Indonesia jika sudah berada di negeri orang. Saya setuju terhadap pernyataan tersebut. Namun saya tidak menyangka hal tersebut berlaku pula untuk kemampuan bahasa Indonesia saya. Saya menjadi lebih peduli tentang bahasa Indonesia karena bertemu orang-orang asing yang berbahasa Indonesia dengan baik. Sejak saat itu saya berpikir daripada terpaksa menggunakan bahasa Indonesia yang baik saat bertemu orang Jepang yang bisa berbahasa Indonesia, akan lebih baik jika saya memaksa diri saya sendiri untuk berbahasa Indonesia. Hal ini bisa dilatih dengan aktif menulis artikel dalam bahasa Indonesia dan mulai melatih diri menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam forum-forum yang pesertanya berasal dari berbagai macam daerah di Indonesia.

Jadi dari pengalaman saya ini, hanya ada dua pilihan bagi saya: dipaksa atau terpaksa menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar? Dipaksa itu bagi saya berarti memaksa diri sendiri meningkatkan kemampuan berbahasa, karena tidak mungkin orang lain memaksa saya menggunakan bahasa yang baik. Dan menurut saya, itu adalah pilihan yang terbaik. Jika memilih “terpaksa menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar,” ada kemungkinan kita menunjukan kualitas bahasa Indonesia yang tidak bagus, karena tidak ada persiapan dan tidak ikhlas dalam berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Oleh karena itu mari bersama-sama memperbaiki kualitas berbahasa kita sehingga jangan sampai ada orang asing bertanya kepada kita, “Sudah berapa lama Anda belajar bahasa Indonesia?” Tentunya ini pertanyaan retoris jika ditanyakan kepada orang Indonesia. Dan jawaban seperti Ai, “Tidak mau kasih tahu, malu,” bukanlah jawaban yang tepat.

Source link : kompasiana | Penulis : Masrur Abdul Ghani (Calon engineer yang ingin membangun Indonesia dan dunia)

Komentar Pemilik Blog : tulisan yang inspiratif bagi saya, mengingat zaman sekarang bahasa ada bentuk identitas nyata dari sebagai pribadi bangsa. Semangat juragan ^^v

2 Tahun Lagi, ITB Targetkan 5 Prodi Berakreditasi Internasional

Friday, September 7th, 2012

Bandung – Dalam kurun waktu satu hingga dua tahun ke depan, Institut Teknologi Bandung (ITB) menargetkan lima program studi (prodi) mendapat akreditasi internasional dari Accreditation Board for Engineering and Technology (ABET), lembaga akreditasi independen dari Amerika Serikat.

Sejauh ini sudah ada empat prodi di ITB yang mendapat akreditasi ABET. Keempat prodi itu masing-masing teknik elektro, teknik kelautan, teknik kimia dan teknik fisika.

“Kita berharap dalam satu hingga dua tahun ke depan, lima prodi lainnya menyusul dapat akreditasi (ABET),” ujar Sekretaris Satuan Penjaminan Mutu (SPB) ITB Pepen Arifin dalam konferensi pers di Gedung Rektorat ITB, Jalan Sulanjana, Jumat (7/9/2012). 

Kelima prodi yang ditargetkan segera mendapat akreditasi ABET adalah teknik industri, teknik perminyakan, teknik informatika, teknik lingkungan dan teknik sipil.

Untuk mendapat akreditasi ABET, Pepen menyebut butuh persiapan yang banyak mulai dari perbaikan sarana-prasarana hingga peningkatan kualitas SDM.

“ITB punya komitmen semua hal yang jadi persyaratan untuk mendapat akreditasi ABET harus terpenuhi dalam kurun satu hingga dua tahun ini,” kata Pepen.

Sementara selain tengah merintis untuk mendapat akreditasi ABET, beberapa prodi juga mempersiapkan diri untuk mendapat akreditasi pendidikan dari lembaga akreditasi internasional lainnya.

SPM misalnya tengah menempuh akreditasi dari lembaga akreditasi di Jepang, prodi S2 arsitektur menjajaki akreditasi di Korea, teknik kimia di lembaga akreditasi di Inggris, serta teknik mesin dan kedirgantaraan di lembaga akreditasi di Jepang.

via  : detik.com

BENCANA NUKLIR DI NEGERI 1000 PEMIMPIN

Sunday, April 8th, 2012
Suatu hari sy melihat di NATIONAL GEOGRAPHIC CHANNEL yang menayangkan kisah 1 tahun TRAGEDI FUKUSHIMA.

Fukushima adalah Reaktor Nuklir yg dibangun pada tahun 1960 oleh pemerintah Jepang, dan di gunakan untuk pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN).

Ada lima reaktor yg dimiliki Fukushima, selama ini reaktor tersebut berjalan baik2 saja dan menjadi Penopang Utama kebutuhan listrik untuk kota Tokyo.

Malang tak dapat di tolak, ternyata Gempa Bumi dan Gelombang Tsunami dahsyat yg terjadi 1 tahun yg lalu telah memporakporandakan reaktor nuklir yang ada di Fukushima tersebut.

Sejak saat itu Jepang mengalami krisis bencana NUKLIR NASIONAL yg tak kalah hebat dengan peristiwa Chernobyl di Rusia.

Dari ke 5 reaktor yg ada, satu persatu Reaktor Nuklir itu mulai mengalami kebocoran dan mengeluarkan Radiasi menyebar dari reaktor ke wilayah yg ada di Fukushima.

Berbondong2 penduduk Fukushima mengungsi ketempat sejauh-jauhnya dari kota Fuksuhsima agar tidak terkena Radiasi Nuklir yang sangat mematikan itu. 

Saking hebatnya kerja aparat pemerintah Jepang, hampir tidak ada satupun penduduk yg di kabarkan sempat terkena radiasi.

Tapi apa yang di lakukan oleh Perdana Menteri Jepang Naoto Kan, Sebagai seorang pemimpin sejati ia malah meminta pada aparatnya untuk mengantarnya dengan helikopter langsung menuju lokasi bocornya reaktor Fukhusima, ia tidak puas hanya mendengar laporan dari bawahannya bahkan ia tidak puas hanya melihat melalui camera video yg di pasang pada ROBOT bergerak yg di operasikan untuk memantau reaktor yg ada di Fukushima.

Ia datang sendiri, menyaksinak sendiri, terjun langsung ke lokasi tempat reaktor tsb mengalami kebocoran dan berani mati untuk mendekati Reaktor yg sedang mengalami kebocoran hebat. yg setiap saat bisa saja meledak dan membunuh jiwanya. OMG…!!! Sungguh Manakjubkan !!!!

Digambarkan di sana bagaimana sang PM masuk dan melihat langsung di dampingi oleh para ahli yg sudah berhari2 berada disana memantau keadaan.

Peristiwa ini sungguh mengundang decak kagum dari seluruh dunia, sampai2 banyak reporter asing yg geleng2 kepala tak habis pikir dengan apa yg dilakukan oleh sang perdana menteri, karena menurut mereka biasanya di salah satu negara semisal Amerika saja, jika ada kejadian seperti ini pasti presidennya akan segera di selamatkan terlebih dahulu ketempat yg paling aman.

Kantor berita CNN juga melansir berita bahwa sang perdana menteri merasa bersalah dan meminta maaf pada penduduk Fukushima atas terjadinya tragedi ini, dan ia mengatakan mulai bulan ini ia tidak mau menerima gaji bulanannya ( US $ 20 ribu = Rp 200 juta) sampai krisis ini berhasil di tuntaskannya. 

Padahal mungkin pemimpin negara lain bisa saja berkelit bahwa tragedi ini bukanlah KESALAHANNYA DAN PEMERINTAHANNYA melainkan PERISTIWA ALAM yg tak bisa di kendalikan, terlebih lagi Reaktor itu dibangun tahun 1960 oleh Perdana Menteri yg memerintah pada periode tahun tersebut dan bukan dirinya dan pemerintahannya. 

Tapi Naoto kan selaku perdana menteri saat itu tidak melakukannya. Ia bukanlah tipe pemimpin yg seperti itu, Ia sama sekali tidak mau menggunakan ILMU BERKELIT UNTUK MEMPERTAHANKAN JABATAN yg biasa digunakan para memimpin negara lain.

Wow !! kembali hal ini membuat reporter CNN dan masyarakat dunia berdecak kagum.

Sampailah 1 tahun masa penanganan Krisis Nuklir Fukushima…..
Berkat hasil kerja keras Sang Perdana Mentri Jepang Naoto Kan dan jajaran tim nya, akhirnya Fukushima dapat di jinakkan dan hampir semua penduduk Fukushima selamat dari bencana Radiasi Nuklir yg mematikan.

Dan coba tebak apa yg terjadi dan apa yg dilakukannya…..?

Apakah Naoto Kan , segera menceritakan betapa hebat dirinya dalam menangani masalah BENCANA NUKLIR DI FUKUSHIMA INI PADA MASYARAKAT JEPANG…? agar ia di elu-elukan oleh masyarakat dan agar citranya melambung…?

Sama sekali tidak !!!! 

Perdana Mentri Nouto kan ternyata hanya mengumumkan laporan status terakhir dari Fukushima, dan setelah itu dia mengumumkan PENGUNDURAN DIRINYA SEBAGAI PERDANA MENTERI karena Fukushima telah selesai dia atasi. Dan berangsur2 mulai dinyatakan aman.

Keluarga Indonesia….. sungguh… sebagai orang Indonesia sy benar-bernar terharu dan tercenung di depan TV menyaksikan tayangan yg di sajikan oleh National Geographic Channel ini….. Speechless…

Tak sadar seluruh tubuh saya merinding menyaksikan tayangan tersebut, tanpa terasa air mata pun meleleh di pipi saya menyaksikan mundurnya Sang Pemimpin Sejati….di negeri 1000 pemimpin !!!

Negeri yg para pemimpinya siap untuk MUNDUR kapan saja jika merasa dirinya bersalah pada rakyat dan negerinya….

Negeri yg para pemimpinnya benar2 berjuang untuk bangsa dan negaranya.

Tiba2 saja saya berkhayal……Ah…. seandainya saja di Indonesia kita punya pemimpin seperti ini….? Semoga ya Allah… amiiinnnn 1000x

link : http://www.facebook.com/photo.php?fbid=261097733980977&set=a.109615492462536.18963.100002422579530&type=1

Jam Kerja di Jepang

Friday, August 20th, 2010

06:30 = bangun dari tempat tidur
07:30 = berangkat ke kantor (jalan kaki / naik sepeda / subway)
08:50 = harus tiba di kantor
09:00 = meeting pagi dengan supervisor
09:10 = mulai kerja
12:00 = makan siang (bento / kantin / restoran terdekat)
13:00 = mulai kerja lagi
17:00 = lembur dimulai (biasanya tanpa uang lembur)
20:30 = pesta nomikai (kalau ada)
21:30 = pulang ke rumah (jalan kaki / naik sepeda / subway)
22:30 = sampe rumah, nonton TV, baca koran
23:00 = tidur

Ulangi terus dari Senin-Jumat. Sabtu biasanya pulang lebih awal (kalau ada lembur, kerja seperti biasa).Minggu libur (kalau ada lembur, kerja seperti biasa). Tentunya hal tersebut tidak akan anda temui di Indonesia, bener tidak?

Tambahan :
Peraturan di kantor:

#1. Kalau atasan bilang bumi berbentuk kotak, maka bumi bentuknya kotak.
#2. Kalau dia berubah pikiran, maka bumi juga bentuknya berubah.
#3. Lupakan apa kata pelanggan. Boss adalah raja.
#4. Karyawan baru? Boss adalah Tuhan.
#5. Membungkuk. Membungkuk. Membungkuk.

sumber : jepang.net

About Me

Here I'll share my knowledge, discovery and experience related to my hobby and work. Most articles on this site are related to my travelling experiences More

Want to subscribe?

 Subscribe in a reader Or, subscribe via email:
Enter your email address:  
Memorizing Like an Elephant