Indonesia dan Air: Sumber Air

Friday, March 3rd, 2017

“Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.”

Indonesia, salah satu negara tropis yang terletak di garis khatulistiwa. Terkenal dengan julukan zamrud khatulistiwa. Berwarna hijau jika dilihat dari udara. Indonesia memiliki kekayaan alam yang berlimpah (katanya, dulu). Lautannya luas, memiliki garis pantai terpanjang di dunia. Kail dan jala cukup menghidupimu (katanya), tiada badai tiada topan kau temui, ikan dan udang menghampiri dirimu. Begitu kaya. Itu baru ikan dan udangnya, belum lagi air laut yang dimiliki Negara Keasatuan Republik Indonesia.

Airnya banyak, betul. Tapi air asin, bukan air tawar. Kita tidak minum dengan air asin. Kita bukan seperti negara-negara timur tengah yang harus menggunakan air laut untuk memenuhi kebutuhan air minum. Kerajaan Arab misalnya, hampir 50% pemenuhan kebutuhan air diperoleh dari proses desalinisasi air laut. Loh, berarti kita bisa oversupply, dong? Tunggu dulu, biaya desalinisasi air laut tidak murah. Setidaknya Kerajaan Arab menginvestasikan total lebih dari 100 miliar dolar Amerika sepanjang tahun 1975 – 2000 dan membutuhkan 130 miliar dolar Amerika untuk investasi pasokan air dan desalinisasi tahun 2002 – 2022. Desalinisasi di Indonesia? Duh, APBN negera kita berapa, sih?

Sesungguhnya Indonesia tidak perlu repot mencari sumber air bersih untuk pemenuhan keperluan air bersih warga negaranya. 200 juta penduduk Indonesia (mungkin sekarang hampir 250 juta) dengan kebutuhan air bersih (katakanlah) 200 liter/orang/hari, maka kita hanya membutuhkan 40.000 juta liter air bersih per hari. Jumlah yang sangat besar? Benar. Apakah sulit untuk dicapai? Tidak. Tentu tidak.

Indonesia sebenarnya sangat diuntungkan dengan letaknya yang berada di Garis Khatulistiwa. Iklim tropis yang menjanjikan curah hujan tinggi dengan frekuensi turunnya hujan hampir merata di sepanjang tahun. Bahkan tak jarang beberapa daerah di Indonesia “membuang-buang” air yang dimiliki ke daerah lain. Baik ini sebenarnya bukan sesuatu yang cukup disukai, biasanya pernyataan pada kalimat sebelum ini diejawantahkan dalam bentuk: banjir kiriman. Ya, ini yang selalu diteriakkan warga Jakarta saat mendapatkan “kiriman” air dari Bogor, kan? Percayalah, sesungguhnya permasalahan yang terjadi tidak sesederhana mengirim dan menerima. Sesuatu yang lebih kompleks, sangat kompleks. Berbicara masalah hujan, berikut saya lampirkan data curah hujan yang diperoleh dari BPS (indo_151_3).

Selain air hujan, sumber air di Negara ini adalah air permukaan, katakanlah sungai, danau, dan sumber air permukaan lainnya. Hampir di semua pulau di Negara Kepulauan Indonesia memiliki sungai, baik sungai permanen, sungai periodik, sungai intermittent, maupun sungai ephemmeral meskipun tidak semua pulau memiliki danau. Terlepas dari ada atau tidak adanya sungai dan danau di setiap daerah di Indonesia, namun percayalah bahwa kita dapat memenuhi kebutuhan air bersih harian dengan baik.

Satu lagi sumber air yang menjadi andalan di kota-kota besar di Indonesia, seperti Bandung dan Jakarta. Benar, airtanah. A I R T A N A H. Sebagaimana namanya, airtanah merupakan air yang berada di dalam tanah, atau dalam bahasa (sedikit) ilmiahnya, airtanah merupakan air yang berada di bawah permukaan tanah pada zona saturasi. Airtanah tergolong sebagai primadona sumber air bersih bagi manusia karena jumlahnya yang cukup banyak dan kualitas yang tidak main-main, nomor wahid di kalangan sumber daya air lainnya. Jumlah airtanah sebagai pemasok air tawar merupakan yang terbesar di dunia. Sebanyak 2/3 cadangan sumber air tawar di dunia merupakan airtanah. Jangan ditanya bagaimana keberadaan airtanah di Indonesia. Curah hujan tinggi dan kondisi geologi yang cukup mendukung menjadikan airtanah sebagai primadona di negeri kita, Indonesia.

Lantas bagaimana pemanfaatan airtanah di Indonesia? Silahkan lihat produk-produk air minum isi ulang, air minum dalam kemasan, bahkan pasokan air bersih bagi PDAM juga banyak yang memanfaatkan airtanah. Namun ternyata banyak masalah yang timbul akibat pemanfaatan airtanah ini, baik dari segi ekonomi, sosial masyarakat, lingkungan, bahkan dari segi kemanusiaan. Usut punya usut, ternyata airtanah di Indonesia ternyata dilindungi oleh konstitusi dasar Negara ini. Sebagaimana kalimat pembuka tulisan ini yang menyitir Pasal 33 ayat 3 UUD 1945 bahwa air merupakan salah satu komponen yang DIKUASAI NEGARA DAN AKAN DIMANFAATKAN SEBESAR-BESARNYA UNTUK KEMAKMURAN RAKYAT. Saya akan membutuhkan tiga artikel untuk membahas ini, nanti.

Jadi,intinya adalah Indonesia tidak akan kekurangan air karena kita memiliki banyak sumber. Air hujan, air permukaan, dan air tanah semua kita miliki. Tugas kita selanjutnya adalah menjaga agar sumber air ini dapat dimanfaatkan dengan bijak dan dikelola oleh negara sebagai instrumen teramanat dalam menguasai sumber daya air untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

-musti-

sumber : https://nawalacarita.wordpress.com/2017/03/02/indonesia-dan-air-sumber-air/

 

Satu Dekade Program Studi Teknik Airtanah ITB

Friday, February 24th, 2017

Sejarah

Sejarah berdirinya Program Studi Teknik Airtanah ITB dimulai pada tahun 2007, dimana terjadi penggabungan bidang keilmuan hidrogeologi Progam Studi Rekayasa Pertambangan dan hidrogeologi Program Studi Teknik Geologi ITB.

Pendirian tersebut dilatarbelakangi oleh kondisi hidrogeografi Indonesia yang dikenal sangat spesifik sehingga perlu dipelajari dan diteliti secara lebih mendalam. Selama ini, di Indonesia, pemahaman mengenai keilmuan hidrogeologi hanya terbatas pada airtanah sebagai sumber daya. Padahal, selain sebagai sumber daya yang perlu dikonservasi, airtanah juga dapat berfungsi sebagai kendala teknis yang perlu diperhatikan terutama dalam rekayasa sipil, pertambangan, hidrokarbon, panas bumi, mineral, dan fasilitas bawah tanah .

Saat ini, Program Studi Teknik Airtanah ITB, merupakan program studi khusus pada jenjang magister dalam naungan Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB, dan menjadi satu-satunya Program Studi Teknik Airtanah di Indonesia, yang dapat mengakomidir kebutuhan spesifik hidrogeologi Indonesia.

Persyaratan Peserta 

Calon peserta adalah lulusan S1 dari jurusan atau program studi Teknik Geologi, Teknik Pertambangan, Teknik Geofisika, Geofisika dan Meteorologi, Teknik Perminyakan, Teknik Sipil, Geografi Fisik, Teknik Lingkungan dan Fisika Bumi, dari perguruan tinggi negeri dan swasta, baik lulusan dalam negeri maupun luar negeri. Tidak menutup kemungkinan dari jurusan atau program studi lainnya, yang memilki kompetensi yang sesuai dengan persyaratan peserta kuliah.

Silabus 

Tabel Mata Kuliah Wajib Program Studi Teknik Airtanah ITB

Tabel Mata Kuliah Pilihan Program Studi Teknik Airtanah ITB

  • * IGSH/Short Course : Mata kuliah pilihan transfer kredit saat short course/summer school yang berkaitan dengan keilmuan Program Studi Teknik Airtanah ITB yang sesuai dengan peraturan dan ketentuan akademik yang berlaku di ITB.
  • * Hidrogeologi Pertanian merupakan mata kuliah pilihan baru usulan penulis mengingat aplikasi keilmuan airtanah sangat berkaitan dengan bidang Pertanian.

Alumni 

Alumni Program Studi Teknik Airtanah ITB tersebar di berbagai bidang kerjaan baik sebagai akademisi, praktisi, dan professional baik di instansi swasta maupun pemerintahan, dalam dan luar negeri.

Alumni diharapkan mempunyai :

  1. Wawasan dan keterampilan dasar yang digunakan untuk pengembangan airtanah
  2. Wawasan dan kemampuan untuk melanjutkan penelitian ke jenjang doktor di bidang airtanah
  3. Kemampuan untuk mendesain dan mengatur suatu penelitian independen di bidang airtanah
  4. Pemahaman dan kemampuan untuk mengaplikasikan ilmu airtanah dalam manajemen sumber daya air, kerekayasaan, konservasi lingkungan, dan eksplorasi sumber daya bumi.

Akreditasi 

Akreditasi Program Studi Teknik Airtanah ITB

Berdasakarn SK Ban-PT Kemenristekdikti dengan nomor 1152/SK/BAN-PT/Akred/M/XI/2015 Program Studi Teknik Airtanah ITB memiliki akreditasi A.

Beasiswa 

Kegiatan Lainnya 

  • Laboratorium Hidrogeologi.
  • Kuliah Lapangan Cisolok.
  • Publikasi jurnal nasional dan internasional.
  • Seminar nasional dan intenasional.
  • Aktif dalam kegiatan keprofesian Perhimpunan Ahli Airtanah Indonesia (PAAI) dan International Association of Hydrogeologists (IAH).

Satu Dekade

Seiring dengan usia program studi Teknik Airtanah ITB yang akan memasuki satu dekade, besar harapannya program studi ini menjadi pelopor dalam kemajuan keilmuan dan riset bidang airtanah/hidrogeologi baik dari sisi sains, kerekayasaan dan teknologi di Indonesia, serta terus berkembang secara eksponesial – limit x mendekati tak hingga. Selamat satu dekade Program Studi Teknik Airtanah ITB.

Referensi 

korespondensi : aris.itb@gmail.com

Link Berita Lainnya :

  • Blog Awardee PK-43 Jivakalpa : http://jivakalpa.com/satu-dekade-program-studi-teknik-airtanah-itb/

Selamat Wisuda Bos-Bis HMS ITB, Oktober 2012

Saturday, October 20th, 2012

Mars HMS ITB

Sunday, October 7th, 2012

Kami HMS ITB
Bersatu padu
Di bawah almamater
ITB tercinta

Melangkah dengan gagah dan perkasa
Meraih cita-cita
Berbakti dan berkarya tuk negara
Indonesia

Tak gentar akan rintangan
Dan cobaan
Dengan smangat ayo maju terus
Hidup HMS ITB!

Download mp3 : 4shared

2 Tahun Lagi, ITB Targetkan 5 Prodi Berakreditasi Internasional

Friday, September 7th, 2012

Bandung – Dalam kurun waktu satu hingga dua tahun ke depan, Institut Teknologi Bandung (ITB) menargetkan lima program studi (prodi) mendapat akreditasi internasional dari Accreditation Board for Engineering and Technology (ABET), lembaga akreditasi independen dari Amerika Serikat.

Sejauh ini sudah ada empat prodi di ITB yang mendapat akreditasi ABET. Keempat prodi itu masing-masing teknik elektro, teknik kelautan, teknik kimia dan teknik fisika.

“Kita berharap dalam satu hingga dua tahun ke depan, lima prodi lainnya menyusul dapat akreditasi (ABET),” ujar Sekretaris Satuan Penjaminan Mutu (SPB) ITB Pepen Arifin dalam konferensi pers di Gedung Rektorat ITB, Jalan Sulanjana, Jumat (7/9/2012). 

Kelima prodi yang ditargetkan segera mendapat akreditasi ABET adalah teknik industri, teknik perminyakan, teknik informatika, teknik lingkungan dan teknik sipil.

Untuk mendapat akreditasi ABET, Pepen menyebut butuh persiapan yang banyak mulai dari perbaikan sarana-prasarana hingga peningkatan kualitas SDM.

“ITB punya komitmen semua hal yang jadi persyaratan untuk mendapat akreditasi ABET harus terpenuhi dalam kurun satu hingga dua tahun ini,” kata Pepen.

Sementara selain tengah merintis untuk mendapat akreditasi ABET, beberapa prodi juga mempersiapkan diri untuk mendapat akreditasi pendidikan dari lembaga akreditasi internasional lainnya.

SPM misalnya tengah menempuh akreditasi dari lembaga akreditasi di Jepang, prodi S2 arsitektur menjajaki akreditasi di Korea, teknik kimia di lembaga akreditasi di Inggris, serta teknik mesin dan kedirgantaraan di lembaga akreditasi di Jepang.

via  : detik.com

About Me

Here I'll share my knowledge, discovery and experience related to my hobby and work. Most articles on this site are related to my travelling experiences More

Want to subscribe?

 Subscribe in a reader Or, subscribe via email:
Enter your email address:  
Memorizing Like an Elephant