Friday, March 9th, 2012
Nama lengkapnya: I Wayan Julian Arimbawa Hotzel. Ia lahir di Bali pada 9 Jun 1993 dari ayah asli Bali dan ibu Jerman. Talentanya yang luar biasa membuat Julian Hotzel terpilih masuk tim SAD Indonesia yang berlatih di Uruguay, di zaman Nurdin Halid dan Nirwan Bakrie berkuasa di PSSI. Namun, ketidakjelasan program pengiriman pemain ke Uruguay itu, apakah ini program PSSI atau program pribadi Nirwan Bakrie (klub Pelita Jaya) membuat nasib Julian Hotzel sekarang merana.
Ceritanya begini. Anak-anak SAD itu pulang ke Indonesia pada Desember lalu. Dan ternyata, waktu transit di Dubai mereka ditodong oleh pengurus Pelita Jaya, disuruh tandatangan perjanjian dengan Pelita Jaya dengan dalih agar mereka tidak dianggap ilegal sesampainya di Indonesia.
Pasal-pasalnya tidak jelas, dan semua tidak dikasih copy kontraknya. Yang mereka ingat cuman mereka sejak saat itu jadi milik klub Pelita sampai 2013, dan akan disiapkan untuk Sea Games 2013 (Koq yang nyiapin ke Sea Games Pelita?). Tapi kenyataannya, sampai sekarang mereka luntang-lantung, dititip klub sana-sini, tidak ada klub yang jelas dan besar.
Lazimnya sebuah kontrak, kedua belah pihak pasti akan mendapat lembar kontrak yang asli, yang ditandatangani oleh masing-masing pihak. Tapi Pelita tak berikan itu. Isi kontrak persisnya juga tak diketahui.
Sebenarnya Julian Hotzel sendiri tidak ikut rombongan itu, karena dia pulang duluan, untuk ikut Pra Piala Asia U-19 di Kuala Lumpur. Nah, mendengar namanya direkomendasikan untuk seleksi masuk ke klub Persebaya Surabaya dalam transfer window kompetisi IPL hari-hari ini, Julian Hotzel sangat bersemangat. Ia pun ikut seleksi, dan manajemen serta pelatih Persebaya Divaldo Alves (Portugal) amat tertarik dengan talenta besar striker muda bertinggi badan 184 cm ini.
Namun rupanya berita itu sampai ke telinga Pelita Jaya. Salah satu pejabat Pelita kemudian mulai meneror Julian sejak selasa malam hingga Rabu siang kemarin. Karena merasa tidak nyaman, Julian ceritakan itu ke manajer Persebaya. Akhirnya Julian memutuskan pulang ke Bali hari Rabu malam.
Mental Julian langsung drop. Ia tak menyangka mimpinya menjadi pemain besar di negerinya terhambat oleh tangan-tangan itu. Menurut ayahnya, sejak pulang dari Surabaya, Hotzel nampak tidak semangat. Ia lebih banyak tidur. Dan dari Bapaknya kami baru tahu bahwa Julian ternyata ikut tandatangan “kontrak” juga, cuman bukan di Dubai, tapi pas penyisihan Pra Piala Asia di Kuala Lumpur.
sumber : http://olahraga.kompasiana.com/bola/2012/03/09/nasib-julian-hotzel-eks-sad-indonesia-yang-terbelenggu-kekuatan-besar/
Komentar :
udah ga bisa komeng lagi gan, amburadul negeri ini
dan bahkan BRUNEI bisa mengalahkan INDONESIA, semua itu akan tercatat di buku buku sejarah SD, SMP dan SMA di BRUNEI bahwa BRUNEI pernah mengalahkan INDONESIA.
itu akan dikenang beberapa abad ke depan…. ANJING, kasihan anak cucu!
Posted in Bola Indo, Sport And Health | No Comments »
Sunday, July 31st, 2011
GROUP A
China
Jordan
Iraq
Singapore
GROUP B
South Korea
Kuwait
UAE
Lebanon
GROUP C
Japan
Uzbekistan
Syria
North Korea
GROUP D
Australia
Saudi Arabia
Oman
Thailand
GROUP E
Iran
Qatar
Bahrain
Indonesia
sumber : sitenya FIFA
Posted in Sport And Health | 1 Comment »
Saturday, July 9th, 2011
1 Juli 2011.
Berita hari ini.
Di Garut ditemukan satu keluarga yang menderita lumpuh. Emun (55) beserta ketiga anaknya, Adah (30), Aah (28), dan Yudi (21) mengalami kelumpuhan sejak beberapa tahun yang lalu. Keseharian mereka hanya diisi dengan berbaring di tempat tidur. Selama ini, Haryati (50), istri Emun yang merawat suami dan ketiga anaknya. Keempat penderita kelumpuhan ini tinggal dalam satu panggung yang tampak kumuh dan tidak terurus.
Berita hari ini.
Seorang mantan anak jalanan mendirikan sekolah gratis di kawasan Terminal Depok. Pada tahun 2000, Nurrohim sengaja mendirikan tempat belajar di beranda mesjid Terminal Depok. “Tak ada diskriminasi dalam pendidikan”, katanya dengan semangat. Tidak hanya anak jalanan, pengamen dan anak putus sekolah dari keluarga tidak mampu ikut bergabung menimba ilmu di sini dengan jumlah saat ini mencapai dua ribu orang mulai dari tingkat usia dini hingga SMA.
Biaya operasional sekolah gratis ini semula dari warung milik Nurrohim, tapi kini ada bantuan juga dari badan zakat, dan penjualan barang rongsokan. Pengajarnya adalah relawan yang rela mengajar tanpa pamrih/tidak dibayar. Meski begitu mereka bangga bisa berbuat sesuatu untuk sesama. Usaha Nurrohim tidak sia-sia, beberapa anak berhasil mendapatkan beasiswa ke luar negeri, ataupun diterima di perguruan tinggi negeri. Terbentang angan Nurrohim untuk membangun rumah sakit dan perguruan tinggi yang semua tenaga dan anak didiknya direkrut dari anak-anak jalanan dan kurang mampu.
Berita hari ini.
Empat orang TKI asal Lampung terancam dihukum gantung di Malaysia. Menurut Kepala Dinas Tenaga Kerja Provinsi Lampung, Setiojo, keempat TKI ini diancam hukuman mati akibat tuduhan pengeroyokan hingga mati terhadap seorang preman atau perampok di Negara Bagian Perak Malaysia. Proses hukum keempat WNI yang diketahui menjadi TKI secara ilegal ini telah berlangsung setahun terakhir ini.
Berita hari ini,
sebagian besar masyarakat petani di beberapa kecamatan Kabupaten Mojokerto, saat ini sedang dilanda keresahan. Pasalnya tanaman padi milik para petani terancam gagal panen karena sedang diserang hama wereng. Hal ini menimbulkan rasa khawatir dan keresahan bagi para petani. Bila hama ini tidak segera diatasi, maka akan menimbulkan gagal panen secara massal di kawasan ini. Persediaan padi dan beras akan terancam, dan perekonomian para petani juga akan terganggu.
Berita hari ini.
Perdana Menteri Perancis, Francois Fillon mengungkapkan kekagumannya akan budaya Indonesia. Hal ini disampaikan saat memberi Kuliah Umum di Universitas Indonesia, hari ini.
“Leluhur orang Indonesia banyak meninggalkan monumen-monumen yang indah seperti Borobudur dan Prambanan. Bangunan yang juga merupakan peradaban dari bangsa ini. Hasil peradaban tersebut telah menjadi sebuah warisan budaya yang beragam dan sukses menjadi daya tarik bagi para turis, di antaranya 150 ribu orang Perancis. Karena itu, sudah semestinya dijaga,” kata Fillon. “Saya sangat bangga karena daerah di Indonesia memiliki kekhasan dari satu etnis, satu provinsi bahkan satu pulau dimana tempat tinggal, produksi, adat istiadatnya merupakan juga peninggalan yang tidak dapat dipungkiri,” ungkap Fillon.
Berita hari ini.
Kasus century, mafia peradilan, dan lainnya masih teronggok tanpa kejelasan kapan akan diselesaikan. Nasib korban Lapindo masih terkatung-katung. Pegawai Freeport berdemo di Papua meminta kenaikan gaji. Korban bencana alam Tarutung masih menanti uluran tangan dari pemerintah dan masyarakat. Beribu TKI menanti namanya dipanggil oleh peradilan Arab Saudi. Tempe, jengkol, Reog Ponorogo, dan batik telah diklaim/dipatenkan oleh negara asing dan budaya/milik Indonesia lainnya telah siap untuk diklaim juga.
Berita hari ini,
Beribu siswa SMA telah lulus SNMPTN dan siap menempuh pendidikan di universitas. Beribu lulusan universitas telah siap menempuh kehidupan di dalam masyarakat. Sebuah kabupaten di Kalimantan memberikan jaminan kesehatan gratis dan pendidikan gratis hingga SMA kepada penduduknya. Beberapa orang mahasiswa melakukan pendidikan gratis kepada anak jalanan di pinggiran kota Bandung. Seorang dokter mengadakan pengobatan gratis bagi penduduk yang tidak mampu. Kekayaan budaya Indonesia diakui kancah internasional.
Berita hari ini,
Masih ada kebaikan, semangat, dan kejujuran di Indonesia kita tercinta yang siap mengalahkan dan mengenyahkan kebobrokan, kemiskinan, dan ketidakadilan dari bumi Sabang-Merauke. Masih ada anak-anak pertiwi yang memiliki keinginan untuk membangun negeri, merintis jalan menuju kebangkitan dan membuka pintu-jendela keadilan, menghidupkan lagi aroma tawa dan sukacita dari setiap anak bangsa, setiap manusia yang bertanah-airkan merah putih.
Berita hari ini.
Masih ada anda dan saya, yang pada waktu selanjutnya akan mengisi “berita hari ini”. “Berita hari ini” manakah yang akan anda dan saya akan pilih? “Berita hari ini” yang memberikan kesesakan dan tangis bagi anak bangsa yang lain? Ataukah “berita hari ini” yang akan memberikan harapan dan tawa bagi setiap orang yang membacanya? Keputusan itu ada di tangan anda dan saya.
Berita hari ini.
Jalan menuju kemajuan/kemunduran bangsa telah ada sejak lama dan siap ditempuh siapa saja. Jalan mana yang anda dan saya tempuh? Jalan menuju kemajuan yang telah ditempuh para tokoh besar Indonesia, Nurrohim, ataupun sang dokter? Atau jalan menuju kemunduran yang telah ditempuh para koruptor ataupun mafia peradilan?
Semoga langkah dan pilihan yang anda dan saya ambil akan membawakan sukacita dan kesenangan bagi siapapun yang merasakannya. Semoga.
Selamat menjalani “berita hari ini”.
^^
*Berita-berita di atas diambil dari kompas.com dan liputan6.com

link : http://sahatmps.blogspot.com/
Posted in Mahasisme | No Comments »
Thursday, June 2nd, 2011
1. PT.PAL sukses membuat salah satu kapal terbaik di dunia “Star 50″berbobot
50,000 ton. Salah satu Negara yang memesan kapal ini adalah Singapura.
2. Di singapura, gamelan menjadi mata pelajaran wajib di sekolah dasar pada hampir sebagian wilayahnya.
3. Pabrik/manufaktur Mattel (boneka Barbie USA) hanya ada 2 di dunia. Pabrik pertama berada di China dan lainnya di Jababeka, Cikarang, Jawa Barat.
4. Brand internasional yang amat prestisius, Gucci, menggunakan kain tenun asli Indonesia sebagai bahan bakunya.
5. Mobil terpopuler di Uni Emirat Arab adalah Toyota Kijang Innova yang sepenuhnya diproduksi di Indonesia.
6. Bunga nasional Korea Utara yang amat popular Kimilsungia berasal dari Indonesia dan diberi nama oleh Presiden RI pertama Ir. Soekarno.
7. Tahukah Anda, airbridge –tangga belalai menuju pintu pesawat yang ngetrend di bandara-bandara dunia kali pertama dibuat oleh PT Bukaka, Indonesia.
8. Pejuang HAM legendaris dan bapak pembebasan Negara Afrika Selatan, Nelson Mandela, setelah berhasil menghapus Apartheid di negerinya, mengakui bahwa perjuangannya itu diinspirasikan oleh perjuangan Syekh Yusuf dari Makassar.
9. Tahun 2002, dalam Special Edition TIME magazine on Asian Heroes, penyanyi Iwan Fals menjadi cover fullpage. Begitu juga dengan Aa Gym di tahun 2006 (The Holy Quran).
10. Mobil prestisius, Mercedes Benz, menggunakan knalpot buatan Indonesia, yang pengerjaannya sepenuhnya dilakukan di Purbalingga, Jawa Tengah.
11. Presiden RI ke-3, BJ Habibie adalah pemegang 46 paten di bidang aeronautika dunia.
12. David Foster mengaku, lagu ciptaanya ‘To Love You More’ yang dibawakan Celine Dion terinspirasi dari musik Keroncong yang berasal dari Indonesia.
13. Menara Kuala Lumpur ternyata dirancang oleh putra Indonesia, Ir.Achmad Murdijat alumni ITB.
14. Indofood merupakan produsen mie instan terbesar di dunia.
15. Tas Bagteria made in Indonesia telah dijajakan di berbagai etalase di mall-mall kelas atas di 32 negara di seluruh penjuru dunia. Public figure dunia yang mengenakan produk ini antara lain Paris Hilton, Zara Phillips, Emma Thomson, dan Audrey Tatou.
16. Tiga jenis kopi andalan Starbucks di Seattle, AS, adalah: Sumatera, Java Mocha dan Toraja Coffee. Ketiga jenis kopi ini dipajang di etalase paling depan.
17. Koin Ringgit Malaysia dan passport Malaysia adalah produksi PT PERURI.
18. Seragam serdadu NATO diproduksi oleh PT Sritex, Solo, Jawa Tengah.
19. Kacang dua kelinci (PT Dua Kelinci), menjadi sponsor Real Madrid.
20. Motor GP, Produsen Honda menggunakan jargon ”One Heart” (Honda Indonesia) yang terpasang di motor balapnya, Yamaha juga membubuhi jargon ”Semakin di Depan” di baju balapnya. Walaupun motor Jepang, tapi Semua produksinya dilakukan di Indonesia.
21. Stadion Gelora Bung Karno merupakan stadion terbesar ke-2 di Asia.
22. Senjata yang namanya Kriss SVD terinspirasi dari senjata tradisional Indonesia, Keris. Pencipta Kriss SVD ternyata pernah tinggal di Indonesia.
23. Sepatu Adidas bekerja sama dengan salah satu perusahaan sepatu Indonesia dan merupakan satu-satunya perusahaan sepatu yang dipercaya oleh Adidas untuk memproduksi Football Shoes di seluruh dunia.
24. Biji kopi luwak adalah biji kopi termahal di dunia, dan produsennya adalah Indonesia.
25. Jersey dan Jaket Official Manchester United adalah buatan Indonesia.
link : dari milis sebelah
Posted in Indonesia, Just Information | No Comments »
Friday, May 27th, 2011
Dirgantara Indonesia’s CN-235 Military aircraft (MIL) exploits its full capabilities. Dirgantara Indonesia’s experience is evident in the production line where improvements in manufacturing and engineering technology are continuously introduced to maintain the highest quality and analytic standards for the CN-235 military aircraft.
FeatureShort
* Take-Off Landing
* Able to Operate on Unprepared Airfields
* Easy Loading and Unloading Operations through Ramp Door
* Low Maintenance Cost
* Mission Versatility
* High Visibility Windscreen
Configuration
* Troop Transport
* Paratroop Dropping
* Maritime Patrol Aircraft
* Anti Submarine Warfare
* Cargo/Logistic Transport
* Medical Evacuation
* Aerial Delivery
* VIP/VVIP
Dimension
Overall Span 25.81 m
Overall Length 21.40 m
Overall Height 8.17 m
Wheel Tack 3.90 m
Wheel Base 6.92 m
Cabin Volume 41.88 m3
Performance
Take-off Distance 1,037 m
Landing Distance 1,068 m
Max Speed 230 knots
Long Range Speed 213 knots
Service Ceiling (AEO) 7,924 m


Engine
Two General Electric CT7-9C Turboprop Engines
Propeller
Two four-bladed Hamilton Standard HS 14 RF-21 propellers
Weights
- Max. Taxi Weight 16,550 kg
- Max. Take-off Weight 16,500 kg
- Max. Landing Weight 16,500 kg
- Max. Zero Fuel Weight 15,400 kg
- Max. Fuel Capacity 4,000 kg
Military Customers
Korean Air Force Military Transport & V I P
TUDM Malaysia Military Transport & V I P
Pakistan Air Force Military Transport & V I P
UAE Air Force Military Transport & V I P
Royal Brunei Air Force Military Transport
Indonesian Air Force Military Transport & MPA
Burkina Faso Military Transport
Posted in Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi | No Comments »
Wednesday, January 5th, 2011

Rafflesia arnoldii merupakan tumbuhan parasit obligat yang terkenal karena memiliki bunga berukuran sangat besar, bahkan merupakan bunga terbesar di dunia. Ia tumbuh di jaringan tumbuhan merambat (liana) Tetrastigma dan tidak memiliki daun sehingga tidak mampu berfotosintesis. Tumbuhan ini endemik di Pulau Sumatera, terutama bagian selatan (Bengkulu, Jambi, dan Sumatera Selatan). Taman Nasional Kerinci Seblat merupakan daerah konservasi utama spesies ini. Jenis ini, bersama-sama dengan anggota genus Rafflesia yang lainnya, terancam statusnya akibat penggundulan hutan yang dahsyat. Di Pulau Jawa tumbuh hanya satu jenis patma parasit, Rafflesia patma.
Berita Lengkapnya : Kaskus.us
Posted in Animals and Plants, Indonesia | No Comments »
Wednesday, January 5th, 2011

Arthur Irawan? Pemain mana dia? Seumur-umur main Football Manager dan mengikuti lower league (kompetisi di bawah Premier League) saya belum pernah mendengar nama pemain ini.
Karenanya ketika ada nama pemain ini dalam daftar pemain pelatnas timnas U-23, saya cukup kaget, apalagi menurut Goal.com disebutkan si Irawan ini main di tim Championship (divisi satu) Inggris, Preston North End.
“Dari daftar pemain yang dipanggil, terdapat Arthur Irawan yang dalam rilis itu disebutkan bermain di klub Divisi Championship Inggris Preston North End.”
Goal.com
Setelah kroscek dan diskusi dengan teman di Twitter, tak ada nama Arthur Irawan di skuad Preston. Baik itu di tim junior (U-18), tim reserves alias cadangan, apalagi di tim senior.
Menurut info terbaru, si Irawan ini ternyata main di tim amatir (non-league) Lytham Town.
Musim 2010/11 ini Lytham bermain di West Lancashire Football League Division 2, kompetisi amatir yang berada 13 LEVEL di bawah Liga Primer Inggris.
Bisa anda bayangkan bagaimana amatirnya tim dan kompetisi calon pemain timnas kita ini bukan? Jangan sampai karena ‘asal main di Inggris’ lantas menjadi acuan standar kelayakan main di timnas.
Jangan mau deh dibohongi sama PSSI (lagi)…
Berikut daftar pemain seleksi timnas U-23:
Seleksi pertama, 6 Januari 2011
1. Choirun Nasrin (Persela Lamongan)
2. Arditani Ardhiyasa (Persija Jakarta)
3. Seftia Hadi (PSPS Pekanbaru)
4. Andri Ibo (Persidafon Dafonsoro)
5. Safri Umri (Persiraja Aceh)
6. Abdul Hamid Mony (Persiba Balikpapan)
7. Wirya Kusmandra (Persija)
8. Hendro Siswanto (Persela)
9. Johan Manadji (Persiba Bantul)
10. Lifki Suteja (Persija)
11. Nasution Karubaba (Perseman Manokwari)
12. Ramdani Lestaluhu (Persija)
13. Sigit Hermawan (Persija)
14. Fred Ferdinando Mote (Persiwa Wamena)
15. Arthur Irawan (Preston North End??)
16. Fahrizal Dila (Persiraja Aceh)
17. Aris Alfiansyah (Persela)
18. Harmoko (Persekam Metro)
19. Zisva Siswanto Marco (Perseman)
20. Alan Athur Arrongear (Persiwa)
21. Lucky Wahyu P (Persebaya Surabaya)
22. Andik Firmansyah (Persebaya)
23. Novan Setyo Songko (Persibo Bojonegoro)
24. Fandy Edy (PSM Makassar)
25. Dajusman Trisadi (PSM)
26. Rachmat (PSM)
27. Kim Kurniawan (Persema Malang)
28. Reza Mustofa Ardiansya (Persema Malang)
29. Joko Ribowo (Persema Malang)
30. Irfan Bachdim (Persema Malang)
31. Kurnia Mega (Arema Indonesia)
32. Yongky Aribowo (Arema Indonesia)
33. Okto Maniani (Sriwijaya FC)
sumber artikel : http://catatanbola.wordpress.com
Posted in Bola Indo, Sport And Health | No Comments »
Thursday, December 30th, 2010
Batu – Kisah perjalanan Arif Suyono meniti karir sebagai pesepakbola profesional tidak mulus-mulus saja. Pada satu waktu, supersub timnas Indonesia di Piala AFF 2010 itu bahkan harus mendapatkan sepatu sepakbola hasil berutang.
Peristiwa tersebut terjadi sekitar sepuluh tahun lalu, saat Arif masih berusia 16 tahun. Ketika itu pemuda kelahiran Batu, Malang, tersebut hendak ikut seleksi masuk ke dalam tim Piala Gubernur.
Yang menjadi masalah, alumni SMU Islam Batu tersebut tidak lagi memiliki sepatu sepakbola yang layak pakai. Sepatu yang ia miliki saat itu, sebuah sepatu pemberian teman sekolahnya, sudah koyak.
Kegelisahan gelandang Sriwijaya FC itu tak luput dari perhatian keluarga besarnya. Ningsih, kakak kedua Arif, pun akhirnya nekat berutang sepatubola dengan harga Rp 150 ribu demi sang adik.
“Kami kasihan lihat dia, bingung untuk dapat sepatu, kemudian kami sepakat mengutangkan di sebuah toko sepatu yang saya kenal,” cerita Ningsih sembari meneteskan air mata.
Melihat kakaknya membawa sepatu baru, Arif muda tak ayal langsung berlinangan air mata. “Kemudian dia berangkat dengan menangis. Kami sekeluarga tiap malam menggelar salat untuk mendoakan dia saat itu. Agar bisa jadi orang sukses,” tutur Ningsih.
Faktor ekonomi memang menjadi salah satu kendala dalam perjalanan Arif menimba ilmu sepakbola. Tak jarang ia sampai harus menunggu hasil upah sang ayah sebagai buruh di pasar, sebelum berangkat latihan.
“Kalau mau minta ongkos berangkat, kami kakak-kakaknya harus meminta uang kepada bapak, dengan mendatangi ke pasar,” ungkap Ningsih.
Untungnya Arif yang kelahiran 3 Januari 1984 tersebut memang dapat limpahan dukungan tanpa henti dari keluarga besarnya. Impian pemain yang dibesarkan bersama 12 saudaranya itu selalu ditempatkan sebagai prioritas keluarganya.
“Tujuan kami saat itu Arif biar jadi orang sukses dan mampu membantu keluarga. Karena kami 12 bersaudara dengan orangtua hanya kerja serabutan,” ujar Ningsih yang tiada hentinya meneteskan air mata.
Saat ini Arif sudah sukses, tapi ia tidak lupa kalau apa yang ia peroleh saat ini tidak lepas dari peran keluarga. Maka keluarga besarnya pun pun ikut menikmati hasilnya. Melalui kucuran dana Arif, bisnis keluarga dibangun melalui usaha kripik.
Muhammad Aminudin – detiksport
Posted in Sport And Health | No Comments »
Friday, December 24th, 2010
Yup, saya baru menyelesaikan quarter pertama saya sebagai mahasiswi Stanford University! Tiga bulan ini sangat berarti buat saya – saya melihat kultur yang berbeda, mengadaptasi cara pandang yang berbeda, merasakan gaya pendidikan yang berbeda. Dalam post ini saya ingin berbagi aspek-aspek pendidikan Stanford yang mengesankan saya, refleksi saya terhadap pendidikan yang saya dapat di Indonesia sebelumnya dan apa yang saya harap bisa diterapkan di Indonesia.
Moral, bukan agama
Sebulan sesudah saya mulai bersekolah, saya bertemu His Holiness the Dalai Lama saat beliau berbicara di Stanford mengenai compassion. Poin speechnya yang paling berkesan buat saya, adalah ketika beliau bilang bahwa compassion itu tidak melihat agama, dan bahwa pendidikan seharusnya tidak religiocentric atau berpusat pada suatu ideologi agama, namun pada moral values, compassion, yang universal. Menarik, mengingat beliau adalah pemimpin agama.
Saya setuju dengan beliau. Rasanya struktur pendidikan agama di Indonesia tidak sesuai dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika itu sendiri. Katanya negara kita negara toleransi dan understanding antar 5 agama, tapi saya merasa hampir tidak tahu apa2 tentang Buddha, Hindu, dan Islam dari sekolah, selain nama kitab suci mereka, nama tempat ibadah, nama hari raya, nama tokoh besar. Yup, hal-hal penting. Tapi superfisial. Pertama kalinya saya merasa ‘mengerti’ agama, adalah ketika saya sekamar dengan teman beragama Islam sewaktu pelatihan, dan dia mengajarkan saya arti gerakan-gerakan sholat. Di Stanford, saya belajar meditasi Buddhisme Zen dan belajar ideologi mereka, dan ternyata banyak yang bisa saya pelajari dari sana.
Pendidikan agama di Indonesia yang cuma berpusat pada 1 agama tertentu, membawa notion bahwa agama lain adalah “bukan agama saya, bukan urusan saya.” Menurut saya, pendidikan moral seharusnya menarik ideologi kelima agama dan menelaahnya secara universal, yang berlaku pada semua orang. Bila ada aspek2 di mana ajaran mereka berlawanan, telaahlah tentang semuanya. Jangan take side tentang mana yang benar. Pelajarpun akan tumbuh menjadi orang-orang yang dunianya tidak berpusat pada kepercayaannya sendiri, tapi peduli dan punya deeper understanding tentang kepercayaan lain. Pelajaran bukan mestinya berarah pada membuat murid beriman, tapi memberikan pengetahuan dan latar belakang untuk mendorong murid menemukan imannya sendiri.
Trust, Expectation, Responsibility
Saya kaget banget waktu ujian pertama saya di sini. Kita masuk ke auditorium, duduk sesuka hati, dibagiin kertas ujian, lalu semua lecturer/TA keluar dari ruangan dan nunggu di luar. Ga ada orang yang jaga ruang ujian. Yang ada cuma 1 paragraf di depan kertas ujian “Saya mengerti dan menjalankan Honor Code. Saya tidak menerima bantuan yang tidak diizinkan sebelum, ataupun selama tes berlangsung.” dan tanda tangan kita. Kalau mau mencontek, gampang aja. Di sini murid bener2 dipercaya… Ekspektasi awal orang terhadap murid positif, bukan negatif. Kami dipercaya membuat keputusan sendiri, bahwa kita bisa bertanggung jawab atas kepercayaan itu. Ini tercermin juga dari kelas online wajib AlcoholEdu, tentang alkohol di kampus. Yang menarik, di pendahuluan kelas itu, ditulis : “Kami tidak akan menggurui kamu untuk tidak minum. Kami hanya akan memberikan informasi, dan adalah kebebasan kamu untuk memutuskan.”
Ini buat saya breath of fresh air. Saya biasa dibilang, jangan begini, jangan begitu. Rasanya selalu ada prasangka yang unspoken, seperti kita harus selalu diarah-arahkan untuk bisa berbuat benar. Seperti kita akan mencontek kalo nggak ada yang melihat. Seperti kita bakal melakukan hal buruk kalo kita nggak ada yang melarang. Rasanya, kepercayaan seperti yang diterapkan di sini lebih ampuh. Karena merasa dipercaya, ada rasa tanggung jawab. Dan nggak ada bahan untuk ‘diberontakkan’, seperti yang, rasanya, banyak terjadi pada orang-orang yang terlalu banyak diatur. Poin saya di sini : expect yang terbaik dari murid, dan pastikan kalau murid menyadari itu.
Diversitas dan Individualitas
Pendidikan di US membawa apresiasi akan diversitas ke level yang lebih jauh, dengan membentuk jurusan-jurusan baru yang menggabungkan jurusan2 berbeda yang saling berkaitan (interdisciplinary study). Misalnya, Symbolic Systems (contoh lulusan : Google’s Marissa Mayer) yang menggabungkan Computer Science, Philosophy, Psychology, Linguistics, Communication, dan Education – memberikan programmer2 spesialisasi dalam mengerti dan mengkomunikasikan keinginan user. Management Science & Engineering yang seperti menspesialisasikan MBA ke bidang-bidang sains dan engineering. Human Biology, yang menggabungkan biologi, farmasi obat2an, nutrisi, dan antropologi. Interdisciplinary study seperti ini membawa pendidikan ke arah yang lebih spesifik dan terspesialisasi, serta mendayagunakan orang-orang yang punya beragam interest. Hampir semua (atau semua?) departemen memungkinkan mahasiswa untuk mendesign majornya sendiri.
Pendidikan di sini menghargai individualitas – tugas-tugas di kelas banyak yang sangat open-ended dan memungkinkan siswa melakukan apa yang jadi passionnya tanpa banyak pembatasan. Tugas akhir kelas humanities saya, misalnya, hasilnya bermacam2: film, film bisu, skit, rap, bahkan dunia virtual hasil permainan The Sims. Dan para profesor pun bisa menghargai hasil-hasil yang nggak konvensional. Salah satu hal yang paling sering ditekankan kepala asrama saya adalah kata-kata : “Don’t judge.” Jangan mengomentari atau mempertanyakan preferensi teman kamu dalam aspek apapun. Kalau kamu ditanya kenapa suka The Beatles, misalnya, jawaban “Because I do.” adalah jawaban yang valid, dan orang lain nggak punya hak bertanya lebih jauh.
Dua aspek ini terkadang hilang dari sistem pendidikan Indonesia. Murid didikte akan kelas-kelas apa yang harus diambil, dan ada semacam persepsi akan pelajaran mana yang lebih penting daripada yang lain. Pertanyaan yang tidak open-minded menjuruskan pikiran murid ke satu arah tertentu, dan sering kali pelajaran memojokkan orang dengan cara pandang yang berbeda.
Entrepreneurship
Di sini saya benar2 sadar kunci utama kemajuan entrepreneurship di US : pendidikan. Universitas, terutama. Teman saya, graduate student yang sempat intern di Facebook summer lalu, bilang kalo waktu dia bertemu mahasiswa CS di Stanford, hampir semua bilang kalau mereka mau membuat startups, bukan bekerja. Emphasis Stanford terhadap entrepreneurship benar2 kuat – aura entrepreneurship di sini adalah one of those things yang harus ada di sini untuk ‘ngerasain’ itu. Environmentnya luar biasa kondusif. Kerja di small or start-up company adalah sesuatu yang hip di sini. Mahasiswa punya start-up itu biasa. Banyak faculty di sini yang entrepreneurs themselves atau berhubungan dekat dengan perusahaan2 (presiden Stanford, John Hennessy, adalah boardmember di Google dan banyak company lain) – dan mereka ready untuk mentor entrepreneurs secara langsung. Professor Frederick Terman, misalnya, menjadi mentor Hewlett dan Packard waktu mereka masih di garasi di Palo Alto, dan mendorong terbentuknya Silicon Valley. Larry Page dan Sergey Brin sering menyebut Professor Terry Winograd sebagai pengaruh besar terbentuknya Google.
Di kampus, kami punya Stanford Student Startup Lab (semacam YCombinator), Stanford Technology Venture Program, seminar mingguan tentang entrepreneurship, kelas entrepreneurship, konferensi entrepreneurship, Startup School, dan banyak kontes-kontes entrepreneurship di kampus. Kami punya job fair khusus start-ups. Kedekatan kami dengan Silicon Valley membawa banyak tokoh bicara di sini – dalam tiga bulan, saya bertemu Seth Sternberg (cofounder Meebo), Peter Thiel (CEO Paypal & venture capitalist), beberapa venture capitalist dan eksekutif dari Facebook, Twitter, dan Foursquare. Mark Zuckerberg ‘mampir’ ke salah satu kelas pendahuluan Computer Science. VC atau tokoh2 Silicon Valley sering datang ke sini menilai presentasi2 tugas akhir.
Ujung tombak perubahan adalah universitas. Untuk Indonesia bisa membentuk ‘Silicon Valley’nya sendiri (seperti wacana yang belakangan ini sering muncul), yang harus ada di depan bukan pemerintah, tapi universitas – bagaimana mereka melibatkan startups yang sekarang menjamur di Indonesia dalam proses pendidikan, dan berperan lebih aktif dalam mengembangkan kultur entrepreneurship. First and foremost, seharusnya, adalah bagaimana membuat bekerja di startup sebagai sesuatu yang nggak asing atau aneh. Dari sisi lain, startups juga baiknya membuka kesempatan magang bagi mahasiswa-mahasiswa.
Praktikalitas
Selama SMA, saya mengamati, dan merasakan, bagaimana pelajaran dasar programming sangat mudah untuk jadi ‘membosankan’. Kode looping, percabangan, teks hasilnya keluar di layar warna hitam…. Dan murid akan bertanya, “terus kenapa? Apa gunanya?” Dan waktu saya sempat mengajar di beberapa pelatihan, saya cuma bisa bilang “sabar ya. ini masih dasar, tapi bentar lagi ada good stuffnya.” Karena itu saya impressed melihat bagaimana approachable-nya kelas programming dasar di sini.
Kelas dasar programming di Stanford terdiri dari 2 bagian, CS 106A dan CS 106B. Kelas CS 106A menarik hampir seribu murid setiap tahunnya, sebagian besar tanpa pengalaman programming sebelumnya. Minggu pertama kelas itu, mereka bermain dengan Karel, teaching language mirip Pascal, tapi sintaksnya sangat disederhanakan, dan belajar konsep-konsep dasar programming tanpa perlu terlalu khawatir dengan masalah sintaks. Setelah itu, mereka belajar Java. Kelebihan kedua kelas ini, menurut saya, adalah profesor-profesornya sudah mengkode library yang customized untuk kelas-kelas ini, termasuk tampilan grafis yang menarik dan struktur data yang lebih learner-friendly. Sejak awal, dari semua tugas kedua kelas ini, programming dibuat menantang, tapi hasilnya bisa dinikmati. Tugas terakhir CS 106A adalah membuat facebook yang bisa diikuti dan dimainkan murid-murid pengambil kelas tersebut (dan Mark Zuckerberg jadi surprise guest lecturer di kelas terakhir). Tugas terakhir kelas CS 106B adalah versi sederhana Google Map.
Waktu orientasi, ada ‘demo kelas’ tentang machine learning. Profesornya nunjukkin video helikopter akrobatik yang muter2 di angkasa, dan bilang kalo itu dimulai dari proyek siswa sophomore (tingkat dua). Kelas CS 193 (iPhone & iPad Application Programming) menghasilkan aplikasi2 yang sekarang ada di iTunes Store. Aplikasi Pulse untuk iPad yang mendapat rave reviews di TechCrunch adalah hasil kelas di d.school. Tugas akhir kelas database adalah membuat situs seperti eBay. Salah satu hasil terbaiknya adalah website ini (murid yang membuat website tsb juga membuat website YouTube Instant yang sempat viral, diliput TechCrunch, dan ditawari posisi di YouTube langsung oleh CEOnya via Twitter. Awesome guy in person too).
Caution : ternyata ytinstant nggak jalan optimal di internet di Indonesia. Intinya, website itu seperti Google Instant, jadi video yang ditunjukkin bakal berubah as we type.
Humanities and Critical Thinking
Beberapa bulan lalu, di blog ini saya sempat bicara tentang kurangnya mandatory reading dalam pendidikan Indonesia:
It occurred to me that Indonesian school system has been terribly undervaluing the benefits of assigned reading. It’s rare in the first place. When we did have a reading, tasks will be on language (synopsis, etc) , largely ignoring the topics and contents it brought forward. Books are perceived merely as a matter of language and not as a provoker of new ideas and thoughts. Somehow we are educated to read for the sake of the story itself, and not for the meaning behind it.
dan setelah tiga bulan terakhir ini, saya jadi merasa bahwa masalahnya bukan mandatory reading itu sendiri, tapi tiadanya fokus pendidikan critical thinking di kehidupan sehari-hari. Dalam pendidikan di US, ini dicapai oleh pelajaran humanities, seperti dengan sangat jelas dituturkan video ini (berjudul “In Defense of Humanities”, oleh profesor di Stanford). Kelas-kelas humanities mendorong kita bertanya dan mendiskusikan life questions, mendorong kita untuk berpikir tentang hal-hal yang biasanya kita take for granted. Semua mahasiswa tingkat 1 di Stanford wajib mengambil 3 quarter Introduction to Humanities. Quarter kemarin, kelas humanities saya mengajak murid untuk membayangkan bagaimana teknologi bisa membentuk masa depan yang utopian atau dystopian. 2 quarter ke depan, kita bakal menelaah ajaran berbagai macam agama.
Sistem discussion section buat saya sangat bisa (tapi saya belum lihat) diterapkan di sekolah menengah Indonesia. Dua kali seminggu, selama sejam, sekitar 15 orang murid duduk di sekeliling meja kotak besar bersama seorang guru, dan kita berdiskusi atau berdebat tentang topik pelajaran itu. Guru benar2 jadi fasilitator dan berlaku seperti salah satu peserta diskusi juga. Selama ini yang saya pernah rasakan adalah diskusi kelompok 3-4 orang, lalu mempresentasikan di depan kelas dan orang bisa bertanya. Saya agak kurang suka dengan sistem ini, karena tendensi orang adalah menjatuhkan argumen mereka yang berpresentasi. Sementara dalam diskusi atau bahkan debat semeja, semua orang sadar kalau kita membangun argumen secara konstruktif.
Kesimpulannya, banyak aspek pendidikan Barat yang bisa kita pelajari dan terapkan di Indonesia – keterbukaan terhadap individualitas dan diversitas, tugas-tugas yang praktikal, dorongan untuk menemukan dan memulai hal baru, pemikiran kritikal dalam kehidupan sehari-hari, dan kepercayaan terhadap murid.
Let me know what you think! Feel free to share your experiences too
Link : http://angelinaveni.com/2010/12/12/merefleksikan-pendidikan/
semoga share artikel ini dapat menambah wawasan anda ^^v
Posted in Pendidikan | No Comments »
Sunday, December 19th, 2010
Berhubung dengan diadakannya Piala AFF 2010, demi menyemarakkan event 2 tahunan ini maka aris cell mengadakan kontes tebak skor pertandingan Indonesia. Berhubung Indonesia udah masuk semifinal maka kontes tetap dilanjutkan, jika masuk final lagi lanjut lagi. hha
Berikut adalah daftar pemenang kontes aris cell bagi-bagi pulsa ^^v
1. Indonesia vs Laos = Kontestan : 15 Facebooker, Tidak ada pemenang. 6-0
2. Indonesia vs Malaysia = Tidak dilaksanakan
3. Indonesia vs Thailand = Kontestan 16 Facebooker, Pemenang
Adhita Tarih Rahman (GD 06) 1-2
4. Filiphina vs Indonesia = Kontestan 4 Facebooker. Pemenang
Ramdana Salopajimhe (TA 06) 0-1
5. Indonesia vs Filiphina = Kontestan 16 Facebooker. Pemenang
Ade Sandria (Unpad 09) 0-1
6. Malaysia vs Indonesia = Kontestan 24 Facebooker. Pemenang
Ilham Maessa (TA 06) 3-0
7. Indonesia Vs Malaysia = Kontestan 22 Facebooker. Pemenang
Anton Oktavianus (TI 05)
Reward :
- untuk pelaksanaan 1-5 berupa pulsa 10rebu all operator
- pelaksanaan ke 6 berupa pulsa 10 rebu all operator dan +2 cendol (jika punya id kaskus)
- pelaksanaan ke 7 berupa pulsa 25 rebu all operator dan +2 cendol (jika punya id kaskus)
” cara nasionalisme kita beda dan itu unik “
Posted in ARIS, Indonesia | No Comments »