Kisah hidup: Marina Silvia, Jelajahi Eropa dengan Numpang Tidur di Rumah Orang

Wednesday, October 17th, 2012

Enam Bulan Hanya Berbekal Uang Rp 9 Juta

Tidak perlu takut keliling dunia meski punya dana terbatas. Marina Silvia Kusumawardhani membuktikannya. Dia berkeliling Eropa selama enam bulan hanya dengan USD 1.000 secara legal. Bagaimana caranya?

FAROUK ARNAZ, Jakarta

PESAWAT Emirates jurusan Eropa baru berangkat sekitar pukul22.00. Malam itu, sekitar pukul 20.00, terminal keberangkatan internasional di Bandara Soekarno-Hatta juga masih lengang. Hanya satu-dua orang berlalu lalang. Seorang gadis berjilbab kuning bermotif serta jaket kaus tampak mendorong troli. Dia didampingi seorang ibu berbusana muslimah dengan penutup kepala cokelat tua.

“Maaf terlambat, Jakarta macet sekali,” kata Marina Silvia K. saat melihat Jawa Pos menunggu.

Berangkat dari kediamannya, kawasan Padasuka, Bandung, dengan diantar sang ibu, Dedeh Suryawati, 56, malam itu Marina dalam perjalanan menuju Eropa. Kali ini dia memang sengaja memilih penerbangan asal Dubai, Uni Emirat Arab, itu.

“He… he… saya memang tidak pernah banyak bawa barang kalau pergi-pergi. Baju kan bisa dicuci,” katanya saat ditanya tentang bekal yang dibawa untuk perjalanan 2,5 bulan (berakhir sekitar September 2008 mendatang) ke Eropa kali ini.

Troli yang didorongnya hanya berisi sebuah daypack (tas model ransel) ukuran laptop dan sebuah koper ukuran sedang. Menurut Marina, dirinya selalu menyesuaikan bekal yang dibawa dengan tujuan perjalanan. “Ini beda dengan saat backpacking ke Eropa dua tahun lalu, bawaan saya ransel yang gede,” kata wanita berusia 25 tahun itu.

Menurut Marina, kali ini keberangkatan ke Eropa untuk kepentingan sekolah. Dia ingin mengumpulkan informasi sebelum memburu gelar S-2 atas biaya sendiri di sana. Meski gemar travelling ke luar negeri, lulusan Teknik Industri ITB angkatan 2001 itu mengaku bukan anak orang kaya. Ayahnya, Rasyid Abdul Kadir, hanyalah pensiunan PNS (pegawai negeri sipil). Tapi, dia punya kiat bepergian dengan murah.

Saat keliling Eropa selama enam bulan pada 2006, misalnya, anak bungsu dari lima bersaudara itu hanya menghabiskan USD 1.000 atau sekitar Rp 9 juta. Tapi, jumlah itu belum termasuk biaya tiket pesawat menuju Eropa pulang-pergi serta urusan visa yang juga habis sekitar USD 1.000.

“Jadi, total USD 2.000 pulang pergi dan selamat utuh kembali ke Bandung,” katanya lantas tersenyum. Uang sebesar itu berasal dari tabungan selama 18 bulan yang dikumpulkan sebelum keberangkatan dan kerja proyek membantu dosen di ITB.

Lalu bagaimana caranya bisa tinggal di Eropa dengan dana yang irit seperti itu? Internet jadi kunci. Marina menjalin jejaring pertemanan melalui www.hospitalityclub.org dan www.couchsurfing.com. Kedua situs tersebut adalah tempat yang menghubungkan sesama pelancong di seluruh dunia. Para anggotanya siap menjadi tamu sekaligus tuan rumah (host) dari rekan sesama pelancong dari mana pun.

“Istilahnya, kita hidup menumpang dengan mereka. Tapi, bukan dalam arti memanfaatkan. Kita bisa mencari teman yang senapas dengan ketertarikan kita,” imbuhnya.

Untuk mengetahui sosok sang calon tuan rumah, Marina mengandalkan profil mereka dan testimoni sesama member yang juga dipajang dalam situs tersebut. “Rely on (bersandar) hanya pada hal itu. Sebelum datang juga tidak pernah menelepon. Hanya kirim email. Tapi, (setelah bertemu darat) semuanya cocok banget. Mungkin namanya juga bule,” kata penyuka Bono (penulis hampir semua lagu U2) hingga sufisme Jalaluddin Rumi itu.

Meski Eropa bukan benua baru bagi Marina yang pernah ikut program homestay di Inggris saat SMP, modal keberanian juga mutlak dimiliki. Dengan
segala persiapan itulah, Marina sukses menapakkan kaki di negara-negara Eropa yang masuk wilayah schengen (beranggota 15 negara) dan non-schengen. “Saya masuk ke Eropa dengan Qantas dari Singapura menuju Frankurt, Jerman,” katanya.

Untuk menghemat biaya fiskal, dia menyeberang ke Singapura lewat laut via Batam. “Jadi, saya terbang dari Jakarta ke Batam.”

Selama enam bulan itu, total 45 kota di 13 negara yang sukses dilintasinya. Mulai Jerman, Rusia, Finlandia, Swedia, Norwegia, Denmark, Belgia,
Luksemburg, dan Prancis. Lalu dilanjutkan Spanyol, Italia, Austria, dan Ceko.

Meski perjalanan ditempuh seorang diri, hampir tak ada pengalaman buruk yang dia rasakan. Meski dengan kocek terbatas, berkat keluwesan berkomunikasi, penyuka wangi CK One itu juga tak perlu tidur di penginapan kecil ataupun stasiun misalnya. “Awalnya saya sempat khawatir apakah saya bisa bertahan. Eh ternyata semuanya bisa dilalui lahir dan batin,” imbuhnya.

Tak hanya menikmati alam Eropa yang indah dan eksotik, gadis kelahiran 30 Agustus 1983 itu melatih mental dan memperkaya batin. Itu karena
luasnya spektrum orang-orang yang dia temui sepanjang perjalanan. Marina yang masih lajang itu juga mengaku bisa menyesuaikan diri dengan
host (tuan rumah). Kuncinya saling percaya sehingga jalinan hubungan positif pun tercipta. Pengalaman itu telah dia tulis dalam buku Keliling Eropa 6 Bulan Hanya 1000 Dolar.

Buku itu menceritakan pertanyaan-pertanyaan sulit yang dia hadapi. Seperti saat merayakan Lebaran dan salat Id di Wina, Austria. Dashurie, perempuan berjilbab imigran Albania, bertanya kepadanya, “Bukankah nabi kita melarang perempuan berjalan sendirian?”

Mendapat pertanyaan begini, Marina yang juga pernah melakukan backpacking ke India itu menjawab, “Saya percaya Nabi dulu (melarang) untuk
kebaikan perempuan, karena dulu sangat tidak aman untuk berjalan sendiri.”

Soal amannya Eropa juga diamini Dedeh Suryawati, ibunda Marina. Dia mengaku tak khawatir dengan keselamatan sang buah hati walau setengah tahun berada di benua yang jaraknya ribuan kilometer dari Bandung.

“Kalau di sini (Bandung), jam 9 malam dia belum pulang, saya malah bingung. Di sini kan kejahatan aneh-aneh. Tapi, kalau di sana kok malah enggak ya,” katanya.

Dedeh yang sehari-hari berwiraswasta juga makin yakin setelah melihat teman-teman Marina sesama pelancong -anggota kedua situs tersebut- yang
kerap mampir dan menginap di rumahnya. Mereka yang datang itu ada yang dari Malaysia, Austria, Amerika, Norwegia, Jerman, Ceko, dan Prancis.

“Dengan memperlakukan mereka secara baik di Indonesia, insya Allah, anak saya juga akan diperlakukan baik dengan mereka,” katanya.

Lalu, ke mana lagi setelah ini? Marina masih menyimpan mimpi untuk bisa sekali lagi kembali ke India atau menyusup jauh di pedalaman Amerika Selatan. Termasuk melihat kampung Maradona di Villa Fiorito, Buenos Aires, Argentina. (el)

Source Link : http://agnesdavonar.gerychocolatos.com/?p=1291

Ini Prestasi Luar Biasa! Congrats Chelsea!

Sunday, May 20th, 2012

Skuat Di Matteo mungkin telah menjadi pahlawan di kota London, tetapi mereka melalui kompetisi Eropa dengan sangat menegangkan musim ini. Mulai dari ancaman tereliminasi dari babak penyisihan grup, membalikkan kedudukan dengan sensasional saat menghadapi Napoli hingga pembalasan dendam atas Barcelona, The Blues telah mengatasi segala rintangan yang mereka hadapi, dan berhasil mendaki hingga puncak.

the sky still blu bro ^^v

Inikah Kisah Kasih Tak Sampai?

Wednesday, October 19th, 2011
Inikah Kisah Kasih Tak Sampai?
Malam itu saya sudah di ruang tunggu bandara Soekarno-Hatta Jakarta.
Siap berangkat ke Amsterdam, Belanda.Tas sudah masuk bagasi. Saya cek lagi paspor untuk melihat dokumen imigrasi.Semua beres. Saya pun siap-siap sebentar lagi boarding. Istri saya sudah di Eropa tiga hari lebih dulu. Mendampingi anak sulung saya yang menjabat Dirut Jawa Pos, yang menerima penghargaan dari persatuan koran sedunia. Jawa Pos terpilih sebagai koran terbaik dunia tahun ini.
Saya pun kirim BBM kepada direksi PLN untuk memberitahu saat boarding  sudah dekat. “Kapan pulangnya, Pak Dis?,” tanya seorang direktur.
“Tanggal 21 Oktober. Setelah kabinet baru diumumkan,” jawab saya.“Ooh, ini kepergian untuk nge-lesi ya,” guraunya.
Saya memang tidak kepingin jadi menteri.Saya sudah terlanjur jatuh cinta dengan PLN. Instansi yang dulu saya benci mati-matian ini telah membuat saya sangat bergairah dan serasa muda kembali. Bukan karena tergiur fasilitas dan gaji besar, tapi saya merasa telah menemukan model  transformasi korporasi yang sangat besar yang biasanya sulit untuk berubah. Saya juga tidak habis pikir mengapa PLN bisa berubah menjadi begitu dinamis.Beberapa faktor terlintas di pikiran saya.
Pertama, mayoritas orang PLN adalah orang yang otaknya encer.
Problem-problem sulit cepat mereka pecahkan.Sejak dari konsep, roadmap sampai aplikasi teknisnya. Kedua, latar belakang pendidikan orang PLN umumnya teknologi sehingga sudah terbiasa untuk berpikir logis. Ketiga, gelombang internal yang menghendaki agar PLN menjadi perusahaan yang baik/maju ternyata sangat-sangat besar. Keempat, intervensi dari luar yang biasanya merusak sangat minimal. Kelima, iklim yang diciptakan oleh  Menneg BUMN Bapak Mustafa Abubakar sangat kondusif yang memungkinkan lahirnya inisiatif-inisiatif besar dari korporasi.
Lima faktor itu yang membuat saya hidup bahagia di PLN. Dengan modal lima hal itu pula komitmen apa pun untuk menyelesaikan persoalan rakyat di bidang kelistrikan bisa cepat terwujud. Itulah sebabnya saya berani membayangkan, akhir tahun 2012 adalah saat yang sangat mengesankan bagi PLN.
Pada hari itu nanti, energy mix sudah sangat baik. Berarti penghematan bisa mencapai angka triliunan.Jumlah mati lampu sudah mencapai standar internasional untuk negara sekelas Indonesia. Penggunaan meter prabayar sudah menjadi yang terbesar di dunia. Ratio elektrifikasi sudah di atas 75%. Propinsi-propinsi yang selama ini dihina dengan cap “ayam mati di lumbung” sudah terbebas dari ejekan itu.
 Sumsel, Riau, Kalsel, Kaltim, Kalteng yang selama ini menjadi simbol “ayam mati di lumbung energi” sudah surplus listriknya.
Pada akhir tahun 2012 itu nanti, tepat tiga tahun saya di PLN, saatnya saya mengambil keputusan untuk kepentingan diri saya sendiri:
berhenti!
Saya ingin kembali jadi orang bebas.Tidak ada kebahagiaan melebihi kebahagiaan orang bebas. Apalagi orang bebas yang sehat, punya istri, punya anak, punya cucu dan he he punya uang! Bisa ke mana pun mau  pergi dan bisa mendapatkan apa pun yang dimau. Saya tahu masa jabatan saya memang lima tahun, tapi saya sudah sepakat dengan istri untuk hanya tiga tahun.
Niat seperti itu sudah sering saya kemukakan kepada sesama direksi.
Terutama di bulan-bulan pertama dulu. Tapi mereka melarang saya menyampaikannya secara terbuka. Khawatir menganggu kestabilan internal PLN. Mengapa? “Takut sejak jauh-jauh hari sudah banyak yang memasang strategi mengincar kursi Dirut, ujarnya. “Bukan strategi memajukan PLN,” tambahnya. “Lebih baik, selama tiga tahun itu kita menyusun perkuatan internal agar sewaktu-waktu Pak Dis meninggalkan PLN kultur internal kita sudah baik,” katanya pula.
Saya setuju untuk menyimpan “dendam tiga tahun” itu. Organisasi sebesar PLN memang tidak boleh sering goncang. Terlalu besar muatannya.
Kalau kendaraannya terguncang-guncang terus bisa mabuk penumpangnya.
Kalau 50.000 orang karyawan PLN mabuk semua, muntahannya akan menenggelamkan perusahaan.
Sepeninggal saya ini pun tidak boleh ada guncangan. Saya akan mengusulkan ke Menteri BUMN yang baru untuk memilih salah satu dari direksi yang ada sekarang, yang terbukti sangat mampu memajukan PLN.
Kalau di antara direksi sendiri ada yang ternyata berebut, saya akan usulkan untuk diberhentikan sekalian. Tapi tidak mungkin direksi yang ada sekarang punya sifat seperti itu.
Saya sudah menyelaminya selama hampir dua tahun. Saya merasakan tim direksi PLN ini benar-benar satu-hati, satu-rasa, dan satu-tekad. Ini sudah dibuktikan ketika PLN menerima tekanan intervensi yang luar biasa besar, direksi sangat kompak menepisnya.
Kekompakan seperti itu yang juga membuat saya semakin bergairah untuk  bekerja keras mempercepat transformasi PLN. Saya menyadari waktu tidak banyak. Keinginan untuk bisa segera menjadi orang bebas tidak boleh menyisakan agenda yang menyulitkan masa depan PLN. Itulah sebabnya motto PLN yang lama yang berbunyi “listrik untuk kehidupan yang lebih baik”, kita ganti untuk sementara dengan motto yang lebih sederhana tapi nyata:
 Kerja! Kerja! Kerja!
Tanggal 27 Oktober 2011 nanti, bertepatan dengan Hari Listrik Nasional, motto baru itu akan digemakan ke seluruh Indonesia. Kerja!
Kerja! Kerja! Sebenarnya ada satu kalimat yang saya usulkan sebelum kata  kerja! kerja! kerja! itu. Lengkapnya begini: Jauhi politik! Kerja!
Kerja! Kerja!
Tapi teman-teman PLN menyarankan kalimat awal itu dihapus saja agar tidak menimbulkan komplikasi politik.Tentu saya setuju. Saya tahu, berniat menjauhi politik pun bisa kena masalah politik!
Sudah lama saya ingin naik  business class yang baru dari Garuda Indonesia.Kesempatan ke Eropa ini saya pergunakan dengan baik. Toh bayar dengan uang pribadi. Saya dengar business classnya Garuda sekarang  tidak kalah mewah dengan penerbangan terkenal lainnya. Saya ingin merasakannya. Saya ingin membandingkannya. Kebetulan saat umroh Lebaran lalu saya sempat naik business class pesawat terbaru Emirat A380 yang ada bar-nya itu.
Sejak awal, sejak sebelum menjabat CEO PLN, saya memang mengagumi transformasi yang dilakukan Garuda. Saya dengar di Singapura pun kini Garuda sudah mendarat di terminal tiga. Lambang presitise dan keunggulan. Tidak lagi mendarat di terminal 1 yang sering menimbulkan ejekan “ini kan pesawat Indonesia,  taruh saja di terminal 1 yang paling lama itu!”.
Beberapa menit lagi saya akan merasakan untuk pertama kali business class jarak jauh Garuda yang baru. Saya seperti tidak sabar menunggu boarding. Di saat seperti itulah tiba-tiba….“Ini ada tilpon untuk Pak Dahlan,” ujar keluarga saya yang akan sama-sama ke Eropa sambil menyodorkan HP-nya. Telpon pun saya terima. Saya tercenung.“Tidak boleh berangkat!Ini perintah Presiden!” bunyi telpon itu.“Wah, saya kena cekal,” kata saya dalam hati.
Mendapat perintah untuk membatalkan terbang ke Eropa, pikiran saya langsung terbang ke mana-mana.
Ke Wamena yang listriknya harus cukup dan 100% harus dari tenaga air tahun depan. Ke Buol yang baru saya putuskan segera bangun PLTGB (pembangkit listrik tenaga gas batubara) agar dalam 8 bulan sudah menghasilkan listrik.
Ke PLTU Amurang yang tidak selesai-selesai.
Ke Flores yang membuat saya bersumpah untuk menyelesaikan PLTP (pembangkit listrik tenaga panas bumi) Ulumbu sebelum Natal ini. Saya tahu teman-teman di Ulumbu bekerja amat keras agar sumpah itu tidak menimbulkan kutukan.
Pikiran saya juga terbang Lombok yang kelistrikannya selalu mengganggu pikiran saya. Sampai-sampai mendadak saya putuskan harus ada mini LNG di Lombok dalam waktu cepat. Ini saya simpulkan setelah kembali  meninjau Lombok malam-malam minggu lalu. Saya tidak yakin PLTU di sana bisa menyelesaikan masalah Lombok dengan tuntas.
Pikiran saya terbang ke Bali membayangkan transmisi Bali Crossing yang akan menjadi tower tertinggi di dunia.
Ke Banten selatan dan Jabar selatan yang tegangan listriknya begitu rendah seperti takut menyetrum Nyi Roro Kidul.
Meski masih tercenung di ruang tunggu Garuda, pikiran saya juga terbang ke Lampung yang enam bulan lagi akan surplus listrik dengan selesainya PLTU baru dan geothermal Ulubellu.
Juga teringat GM Lampung Agung Suteja yang saya beri beban berat untuk menyelesaikan nasib 10.000 petambak udang di Dipasena dalam waktu tiga bulan. Padahal dia baru dapat beban berat menyelesaikan 80.000 warga yang harus secara massal pindah mendadak dari listrik koperasi ke listrik PLN.
Pikiran saya juga terbang ke Manna di selatan Bengkulu.Saya kepikir apakah saya masih boleh datang ke Manna tanggal 30 Desember, seperti yang saya janjikan untuk bersama-sama rakyat setempat syukuran terselesaikannya masalah listrik yang rumit di Manna.
Saya terpikir Rengat, Tembilahan, Selatpanjang, Siak dan Bagan Siapi-sapi yang saya programkan tahun depan harus beres.
Saya teringat Medan dan Tapanuli: alangkah hebatnya kawasan ini kalau  listriknya tercukupi, tapi juga ingat alangkah beratnya persoalan di situ: proyek Pangkalan Susu yang ruwet, ijin Asahan 3 yang belum keluar,  PLTP Sarulla yang bertele-tele dan bandara Silangit yang belum juga dibesarkan.
Pikiran saya terus melayang ke Jambi yang akan jadi percontohan penyelesaian problem terpelik system kelistrikan: problem peaker. Di sana lagi dibangun terminal compressed gas storage (CNG) yang kalau berhasil akan jadi model untuk seluruh Indonesia. Saya ingin sekali melihatnya mulai beroperasi beberapa bulan lagi.Masihkah saya boleh menengok bayi Jambi itu nanti?
Juga ingat Seram di Maluku yang harus segera membangun mini hidro.
Lalu bagaimana nasib program 100 pulau harus berlistrik 100% tenaga matahari. Ingat Halmahera, Sumba, Timika…..
Tentu saya juga ingat Pacitan.PLTU di Pacitan belum menemukan jalan keluar.Yakni bagaimana mengatasi gelombang dahsyat yang mencapai 8 meter di situ.Ini sangat menyulitkan dalam membangun breakwater untuk melindungi pelabuhan batubara.
Dan Rabu 23 Oktober lusa saya janji ke Nias.Dan bermalam di situ.
Empat bupati di kepulauan Nias sudah bertekad mendiskusikan bersama bagaimana membangun Nias dengan lebih dulu mengatasi masalah listriknya.
Yang paling membuat saya gundah adalah ini: saya melihat dan merasakan betapa bergairahnya seluruh jajaran PLN saat ini untuk bekerja keras memperbaiki diri. Saya seperti ingat satu persatu wajah teman-teman PLN di seluruh Indonesia yang pernah saya datangi.
Dengan pikiran yang gundah seperti itulah saya berdiri. Mengurus pembatalan terbang ke Eropa. Menarik kembali bagasi, membatalkan boarding, mengusahakan stempel imigrasi dan meninggalkan bandara. Hati saya malam itu sangat galau. Saya sudah terlanjur jatuh cinta setengah mati kepada orang yang dulu saya benci: PLN. Tapi belum lagi saya bisa merayakan bulan madunya saya harus meninggalkannya.
Inikah yang disebut kasih tak sampai?
Dahlan Iskan
CEO PLN

Daftar Negara-Negara di Dunia

Friday, July 23rd, 2010

Daftar negara di dunia berikut ini, yang disusun urut berdasarkan abjad, merupakan suatu gambaran dari negara-negara yang ada di dunia. Daftar ini meliputi teritori yang merupakan negara merdeka (baik yang diakui maupun yang tidak diakui secara internasional), wilayah dependensi berpenghuni, dan wilayah kedaulatan khusus.

Apabila Anda mencari daftar negara yang berdaulat (baik secara de facto maupun de jure), yang dimaksud biasanya adalah 192 negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa ditambah dengan Tahta Suci Vatikan. Nama negara dalam daftar berikut ini dinyatakan dalam Bahasa Indonesia, meliputi nama singkat normatif atau resmi (misal: Indonesia) dan nama resmi lengkap (misal: Republik Indonesia). Pencantuman suatu nama dalam halaman ini tidak dimaksudkan untuk mengambil suatu sikap resmi dalam sengketa penamaan manapun.

Daftar ini terdiri dari 245 entitas sebagai berikut:
193 negara dengan pengakuan internasional secara luas:

192 negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
1 negara dengan pengakuan internasional secara luas tetapi bukan anggota PBB, di bawah pemerintahan Tahta Suci (negara pengamat di PBB): Vatikan.

9 negara dengan pengakuan internasional terbatas, tidak ada yang merupakan anggota PBB, yang dapat didefinisikan sebagai negara menurut hukum kebiasaan internasional, disimpulkan sesuai dengan preseden Konvensi Montevideo:

3 negara dengan pengakuan internasional hanya dari beberapa negara dan memenuhi klausa (d) dari Konvensi Montevideo (capacity to enter into relations with the other states) sehubungan dengan keanggotaannya dalam organisasi internasional (seperti Bank Dunia, Uni Afrika)
-1 negara, tidak lagi menjadi anggota PBB sejak akhir 1971, diakui oleh 22 negara anggota PBB dan Tahta Suci (Vatikan), dan mempunyai hubungan internasional secara de facto dengan banyak negara lainnya: Republik Cina (umumnya disebut sebagai Taiwan).
-1 negara, diakui oleh 52 negara anggota PBB dan Republik Cina (Taiwan): Republik Kosovo.
-1 negara, diakui oleh 46 negara anggota PBB tetapi tidak pernah mencoba bergabung dengan PBB, dengan sebagian besar wilayah yang diklaimnya berada di bawah pemerintahan de facto Maroko: Republik Demokratik Arab Sahrawi di Sahara Barat.

6 negara tanpa atau hampir tanpa pengakuan internasional.
-2 negara, diakui secara diplomatik oleh 2 negara anggota PBB: Republik Abkhazia[4] dan Republik Ossetia Selatan.
-1 negara, diakui secara diplomatik oleh tidak satupun negara anggota PBB kecuali Turki: Republik Turki Siprus Utara
-3 negara, diakui secara diplomatik oleh tidak satupun negara anggota PBB: Republik Nagorno-Karabakh, Republik Somaliland dan Transnistria.

38 wilayah dependensi berpenghuni:
-3 teritori eksternal Australia (Kepulauan Cocos (Keeling), Pulau Natal, dan Pulau Norfolk).

-2 negara seberang lautan di dalam Kerajaan Denmark (Kepulauan Faroe dan Greenland).

-7 teritori seberang laut Perancis:
1 jajahan sui generis (unik) (Kaledonia Baru).
6 jajahan seberang laut:
1 negara (Polinesia Perancis)
1 departemen jajahan (Mayotte)
1 teritori jajahan (Saint Pierre dan Miquelon)
2 jajahan (Saint-Barthélemy dan Saint Martin)
1 teritori (Wallis dan Futuna)

-2 negara seberang lautan di dalam Kerajaan Belanda (Aruba dan Antillen Belanda).

-3 teritori dependensi Selandia Baru:
2 negara dalam asosiasi bebas dengan Selandia baru (Kepulauan Cook dan Niue).
1 teritori seberang lautan (Tokelau).

-16 teritori dependensi Britania Raya:
13 teritori seberang lautan (Anguilla, Bermuda, Kepulauan Virgin Britania Raya, Kepulauan Cayman, Kepulauan Falkland, Gibraltar, Montserrat, Kepulauan Pitcairn, Saint Helena (dan dependensinya, Ascension dan Tristan da Cunha), Kepulauan Turks dan Caicos, dan Area Pangkalan Kuasa Akrotiri dan Dhekelia).
3 dependensi mahkota (Guernsey, Jersey, dan Pulau Man).

-5 daerah insuler Amerika Serikat:
2 persemakmuran (Kepulauan Mariana Utara dan Puerto Riko).
2 teritori terorganisir (Guam dan U.S. Virgin Islands).
1 teritori terorganisir de facto tanpa Organic Act (Samoa Amerika).

-5 entitas khusus yang diakui melalui kesepakatan atau perjanjian internasional (Åland di Finlandia; Svalbard di Norwegia; Palestina; dan 2 Daerah Administratif Khusus Republik Rakyat Cina, Hong Kong dan Makau).

Dalam ‘Entitas yang tidak termasuk’, dijelaskan mengenai gambaran entitas-entitas yang tidak termasuk di dalam daftar ini. Entitas tersebut meliputi entitas politik dan hukum terpisah yang juga dikenal sebagai negara, tetapi sebenarnya merupakan bagian integral dari suatu negara (yang juga disebut negara) – seperti negara-negara pembentuk Britania Raya.. Selain itu negara mikro juga tidak dimasukkan ke dalam daftar entitas karena terlalu kecil secara de facto dan tidak diakui secara de jure.

Daftar negara menurut benua
Daftar negara di Asia
Daftar negara di Afrika
Daftar negara di Amerika Selatan
Daftar negara di Amerika Utara
Daftar negara di Eropa
Daftar negara di Oseania

sumber : link : cek ini

Resmi…Dukung Barca, Gracias

Wednesday, May 27th, 2009

Lagi Live nih di Kosan Temen…cuma satu pendukung MU, si ridha TG’06

100% vote for barca, absolutely.

Selamat Menonton

28 Mei 2009 01:49

goal…..menit 10…nice eto’o 01:57

lanjutan

Gracias Barca….Gracias Barca…Luar biasa

The Real Champion

Ketika Barca berhasil membungkam chelsea di Stamford Brigde, Firasat saya sudah mengatakan bahwa Barca akan juara. Sempat bingung dukung tim ketika semifinal chelsea vs barca, apapun lah asal bukan MU. Chelsea dan Barca adalah tim favorit saya selain inter Milan. Tercipta 2 gol dalam pertandingan itu yaitu

1. Gol Pertama

Melalui aksi individu Eto’o, akhirnya bola bersarang di gawang Van de Sar. Padahal malam itu MU diperkuat dengan Vidic dan Ferdinad, tetap aja pertahanan MU tembus, itupun terjadi pada menit ke 10. Kontan saja mmbuat pemain MU tidak bersemangat dan lebih sering  defend daripada menyerang. 1-0 buat barca

2.Gol Kedua

Aneh bin ajaib, kok bisa ya seorang bocah pendek seperti messi membobol gawang MU yang dikawal Van de Sar dan dibentengi Bek tangguh Ferdinad dengan sundulan? Umpan Xavi memang luar biasa,tapi messi lebih luar biasa dengan sundulannya. Greatful….Barca telah mengajarkan MU bermain bola atraktif dan indah

Spanyol dan Ac Milan

Spanyol adalah juara EURO 2008 dan pemain-pemain spanyol sebagian adalah team andalannya barca seperti inieasta, xavi, puyol dan lainnya. Motivasi dan semangat mereka ditularkan terhadap pemain-pemain barca lainnya sehingga mereka jadi lebih bersemangat untuk menggapai juara.

Peristiwa liga Champion 2006/2007 terulang kembali, the big four inggris mengelilingi tim luar inggris. Pada musim itu Ac milan Berhasil menjuarai LC dengan mengalahkan Liverpool lewat goal si hoki maut Inzaghi. Sekarang, Barca juga dikelilingi big four inggris dan Barca pun mengulang suksesnya Milan. Gracias Barca…

Fatwa Haram dukung MU

hahaha…jangan emosi dlu, MU kan Setan Merah tuh, Kok kita dukung setan yah, mending kita dukung barca yang sponsornya UNICEF. Nah…terbukti tuh tuhan mendengarkan doa orang2 yang baik, kayak film india, anak mudanya pasti menang di akhir-akhir film. Korelasinya apa ya?

Setelah selebrasi, saya beranjak tidur, teman2 saya yang lain sibuk ganti status facebook dan “meneror” para pendukung MU….hahaha sepakbola2

Bangun Jam 11, saya pulang dari siliwangi sambil berjalan kaki menikmati keindahan mural dan pepohonan siliwangi

Singgah di McD sambil nge-Eskrim sundae strawberry dengan diiringi lagu Jason Mraz “absolutely zero”

Zero to MU, Gracias barca

About Me

Here I'll share my knowledge, discovery and experience related to my hobby and work. Most articles on this site are related to my travelling experiences More

Want to subscribe?

 Subscribe in a reader Or, subscribe via email:
Enter your email address:  
Memorizing Like an Elephant