Archive for the ‘Story and Poem’ Category

Sebatang Punya Cerita

Sunday, October 18th, 2015 |

Salam budaya!
Semoga report ini bisa sedikit memberikan gambaran tentang sebatang bagi teman-teman sekalian.

Pagi itu, 13 Oktober 2015, saya bersiap untuk berpetualang ke desa yang selama ini hanya saya dengar dari teman-teman jogja. Hargotirto. Dukuh Sebatang tepatnya. Berbekal motor pinjaman dan gps, saya menelusuri jalanan jogja – wates yang ternyata cukup membuat pantat mati rasa :p

Appetizer yang disuguhkan dalam perjalanan ini adalah keindahan panorama waduk sermo. Sungguh lebih dari cukup untuk menghilangkan kelelahan selama perjalanan tadi.

Main course tentu saja dukuh kita tercinta. Sebatang.
Jalanan menuju dukuh ini cukup aduhai, tetapi mas aziz dan mbak ela tampaknya sudah hafal medan. Harap hati-hati kawan, salah-salah bisa nyasar (info lengkap tanya korban langsung -> mas musa dan istri :p )
Kami disambut ramah oleh bapak Rubino dan disuguhi segelas teh panas. Perbincangan berbau PK masih menjadi topik hangat kala itu. Belum_bisa_move_on.com

Siang itu mas aziz mengantarkan saya menuju rumah pintar di Dukuh Segajih. Sayangnya saya hanya bisa melihatnya dari luar karena pintunya terkunci. Tidak jauh dari sana, ada balai terbuka tempat seperangkat gamelan disimpan. Agak sedikit berbeda dengan yang biasa saya lihat di Bali, ada gong, bonang, kenong, itu saja yang saya tahu 🙁

Dari obrolan mas aziz dengan ibu-ibu yang kebetulan sedang arisan di tempat itu, saya menangkap bahwa semangat berkesenian warga sangat tinggi. Permasalahan utama yang dikemukakan bukanlah dana atau fasilitas, tetapi pendampingan para ahli.

Akhirnya saya mengerti mengapa program sebatang sedaya terfokus pada pendampingan dan banyak kegiatan workshop kesenian. Kebutuhan masyarakat adalah alasan utamanya. Salut untuk teman-teman yang menggali kebutuhan warga dengan sangat cermat. Really appreciate it! ^_^

Balai ini cukup jauh dari sebatang, jadi lagi-lagi saya dibuat mengerti kenapa sebatang sedaya tidak hanya fokus ke sebatang, melainkan hargotirto. Fasilitas, jarak, sdm, itu alasannya.

Mas aziz juga mengajak saya melihat SD tempat adik inspirasi kita bersekolah. Jauh. Jauh pake banget T_T
Saya sebagai kakak inspirasi merasa ciut. Merekalah inspirasi yang sebenarnya. Saya yang ke sekolah dengan fasilitas lengkap saja masih suka mengeluh, bagaimana adik-adik itu yang untuk ke sekolah harus “mendaki gunung lewati lembah” ~sorry pinjem istilah mbak resty 😀

Dalam perjalanan mas aziz bercerita bahwa anak-anak di sana hanya bersekolah hingga SMP. SMA pun jarang. Contoh nyata yang mereka lihat adalah ~bekerjalah, maka kamu akan ‘sukses’~ walaupun hanya sebagai buruh atau kerja kasar.

Saya rasa disinilah salah satu tugas kakak inspirasi sekalian. Menanamkan bahwa pendidikan adalah gerbang menuju kesuksesan.

Dessert dari perjalanan ini adalah saat kita akhirnya menyadari bahwa kita sangat beruntung berkesempatan untuk melihat langsung desa yang selama ini kita perjuangkan melalui FR, gerilya proposal, dan lain sebagainya.
Jika belum kenyang, kalian bisa minta tambahan dessert loh. Kalibiru! Haha..

So, Ingin merasakan paket komplit di atas? Ayo ke sebatang! ^_^

Sapa Sebatang

Team PK 43 Sapa Sebatang

-MDW-

Sepasang Romeo Dan Juliet Di Pulau Cangke

Thursday, August 30th, 2012 |

Sore hari menjelang ketika pertama kali aku menginjakkan kaki di sebuah pulau kecil  di Desa Mattiro Dolangeng, Kec. Liukang Tuppabiring, Kab. Pangkep, sekitar dua setengah jam perjalanan dari pelabuhan Pottere’ Kota Makassar dengan menggunakan perahu bermesin. Semakin mendekati Pulau Cangke, semakin kagum pula aku dengan akan keindahannya. Ketika kami tiba disana dan menginjakkan kakiku di pasirnya yang putih bersih membuat hatiku terasa tentram dan damai. Di sebuah pulau kecil yang dikelilingi lautan lepas, pohon pinus tumbuh sempurna di atas pasir, menari indah terhembus semilir angin, dan ikan-ikan karang bermain-main di antara lautan luas seakan menyambut kedatangan kami yang telah lelah selama perjalanan.

Cangke merupakan tempat terindah yang pernah aku kunjungi sehingga membuat aku ingin berlama-lama disana. Pulau yang indah menghadang lautan lepas ini menyimpan sebuah cerita kehidupan. Tentang sepasang manusia yang teguh menjaga nilai kesetiaan. Daeng Abu  dan Daeng Te’ne telah hidup bersama selama kurang lebih 40 tahun lamanya. Sebuah kisah kehidupan yang perlu kita pelajari tentang sebuah adaptasi antara manusia dengan alam beserta lautan, terhadap nilai sebuah keluarga, terhadap nilai-nilai dasar manusia, antara kasih sayang, perhatian, kesetiaan, tanggung jawab, bahkan cinta.

Kisah ini berasal dari ketika Daeng Abu disuruh oleh dinas kelautan untuk menjaga Pulau Cangke sejak tahun 1972. Beliau berasal dari Kecamatan Bungoro Kabupaten Pangkep Sulawesi Selatan, saat itu beliau masih sangat muda dan dan teleh bersama Daeng Te’ne istrinya. Beliau sekaligus sosok pria yang sangat aku kagumi bahkan mungkin buat orang-orang yang mengenal beliau. Beliau bukan kepala desa, kepala camat, bupati, atau pun persiden yang memiliki kekuasaan, bukan artis yang pandai berakting, bukan penyanyi yang suaranya merdu, bukan olahragawan yang berprestasi, bukan pula pejabat negara yang menari-nari diatas penderitaan rakyatnya. Tetapi beliau adalah seorang yang ramah, baik, humoris, dan yang paling penting beliau sangat mencintai dan peduli akan kelestarian alam yang telah diberikan Tuhan.

Saat–saat pertama mereka pindah kepulau, mereka melalui masa–masa yang sulit. Bayangkan saja mereka kesulitan mendapatkan air tawar, tidak ada listrik, dan bahkan untuk menanam sayuran pun tidak bisa karena tidak ada tanah, hanya pasir yang tertutup rerumputan liar. Akan tetapi mereka tidak putus asa.

Suatu ketika Daeng Abu mengalami kebutaan karena waktu itu beliau menolong seseorang untuk diambilkan jangkar di dasar laut dan mata beliau waktu itu sedang sakit, setelah beliau keluar dari air, tiba–tiba penglihatan beliau kabur dan mengalami kebutaan. Akan tetapi beliau selalu menemani istri tercintanya mencari ikan ketengah laut. Daeng Abu dan Daeng Te’ne setiap hari dengan pergi mencari ikan, cumi-cumi atau pun sejenisnya untuk memenuhi hidupnya. Ketika mereka mencari ikan, mereka tidak menangkap ikan yang berlebihan, hanya seperlunya saja untuk langsung dimasak atau digoreng maupun dijadikan ikan kering, tidak seperti kapal pukat harimau yang mengambil ikan dari ikan yang sangat kecil sampai ikan yang besar dan menurutku itu sangat berlebihan yang dapat merusak ekosistem laut.

Lautan memang bentangan air tanpa pemilik, mereka yang hidup dari makan ikan tak akan pernah kelaparan saat samudera begitu penuh berisi ikan. Tapi bangsa penjarah tak pernah puas. Kita, tak pernah cukup hanya dengan memenuhi kebutuhan kita akan pangan.

Kapal-kapal pukat harimau berlomba menangkap ikan sebanyak mungkin untuk memenuhi dompet-dompet mereka dengan uang, nelayan-nelayan kecil yang tersingkir oleh penjarahan kapal-kapal besar, mereka menggunakan bom-bom ikan yang merusak dan membunuh semua makhluk yang berada dalam jangkauan ledakan tanpa toleransi.

Selain menjaga pulau beliau pun merawat. Awalnya, Pulau Cangke masih kering kerontang. Hatinya terasa tak tega melihat kondisi alam yang rusak itu. Beliau pun mulai menanaminya dengan pohon pinus dan berbagai tumbuhan hijau lain. Hasilnya, kini setelah 40 tahun, Pulau Cangke telah berubah menjadi satu pulau yang hijau, bak hutan kecil di tengah laut. Beliau pun juga turut membantu ketika penyu-penyu bertelur. Telur penyu menetas saat berumur 47 hari dan setiap penyu bertelur paling sedikit 130 butir telur. Dari setiap penetasan telur penyu Daeng Abu hanya mendapatkan 300 ribu untuk semua lubang telur penyu dari pemerintah. Sebenarnya pemerintah memberikan 10 ribu perlubang. Beliau mengetahui kapan penyu – penyu itu bertelur ketika ada sisik – sisik penyu itu dipasir. Setiap bertelur induk penyu ditangkap oleh pukat harimau yang tidak bertanggung jawab, dan hanya mementingkan keuntungan pribadi.

Satu lagi kemampuan yang aku bisa banggakan dari beliau, beliau menguasai tiga bahasa yaitu: bahasa Makassar, bahasa Bugis, dan bahasa Indonesia. Dengan kemampuan itu beliau dapat berinteraksi kepada siapa saja yang mampir di pulau itu baik mahasiswa mau pun masyarakat sekitar.

Awalnya beliau mempunyai 6 orang anak, tetapi tuhan berkhendak lain. Hanya anak yang kelima masih hidup, anak yang lainnya telah meninggal dunia disebabkan oleh penyakit. Namun begitu, semangat untuk melestariakan Pulau Cangke tak pernah berkurang. Anak kelima beliau yang masih hidup bernama Pak Sakka dan sekarang bertempat tinggal di Pulau Pala yang tidak jauh dari Pulau Cangke. Pak Sakka menikah sejak dia berumur 11 tahun dikarenakan Daeng Abu telah membuatkan rumah untuk Pak Sakka.

Dulu aku kira Romeo dan Juliet pasangan paling romantis di dunia ini, tapi ternyata aku salah besar. Aku baru menyadari sejak aku mengenal pulau itu, mengenal Daeng Abu dan Daeng Te’ne bahwa mereka adalah pasangan paling sempurna di dunia yang pernah aku temui. Daeng Abu tak perlu bunga, coklat, atau perhiasan untuk meluluhkan hati Daeng Te’na, tetapi hanya gubuk kecil dan sebuah perahu. Walau hanya begitu mereka mampu hidup bersama selama 40 tahun. Dengan keadaan Daeng Abu yang tidak dapat melihat lagi, Daeng Te’na dengan setia menemaninya. Saat Daeng Abu  mau merokok, Daeng Te’na membakarkan sebatang rokok. Tidak hanya sampi disitu saja, Daeng Te’na tetap disitu dan menjaga agar abu rokok yang jatuh itu tidak membakar sarung Daeng Abu. Sungguh itu pemandangan yang paling membuatku bahagia dan terharu. Mulai saat itu aku tidak akan berfikir untuk menjadi yang romantis, karena aku tidak akan bisa seperti mereka.

Hari terakhir aku dan teman-teman disana adalah  hari yang menyedihkan karena harus bepisah dengan sapasang Romeo dan Juliet di Pulau Cangke. Tetesan air mata Daeng Abu membuat hatiku sangat berat untuk meninggalkan pulau itu. Aku telah benar-benar jatuh cinta kepada mereka. Saat perjalanan pulang sampai sekarang pun aku selalu bertanya-tanya kapan aku akan kembali lagi kesana dan melihat meraka.

By JUNG MUHAMMAD

link : http://kosmik.web.id/kisah/sepasang-romeo-dan-juliet-di-pulau-cangke/

Dolph Lundgren, Smart Actor

Monday, August 20th, 2012 |

EXPENDABLES

Mini Biography

Dolph Lundgren attended the Royal Institute of Technology in Stockholm, Sweden. He received a master’s degree in chemical engineering from the University of Sydney, New South Wales, Australia, in 1982, and the next year was awarded a Fulbright Scholarship to MIT. In New York City, he met drama coach Warren Robertson and decided to try his luck as an actor in action movies. His film Hidden Assassin (1995) was shot mainly in Prague, Czech Republic. Lundgren has a second-degree black belt in karate and is aiming for his third-degree black belt.


please check the red line. awesome actor

source link : IMDb

Be Shakespeare

Monday, August 20th, 2012 |

The world is still deceiv’d with ornament,
In law, what plea so tainted and corrupt,
But, being season’d with a gracious voice,
Obscures the show of evil? In religion,
What damned error, but some sober brow
Will bless it and approve it with a text,
Hiding the grossness with fair ornament?

~ William Shakespeare

BENCANA NUKLIR DI NEGERI 1000 PEMIMPIN

Sunday, April 8th, 2012 |
Suatu hari sy melihat di NATIONAL GEOGRAPHIC CHANNEL yang menayangkan kisah 1 tahun TRAGEDI FUKUSHIMA.

Fukushima adalah Reaktor Nuklir yg dibangun pada tahun 1960 oleh pemerintah Jepang, dan di gunakan untuk pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN).

Ada lima reaktor yg dimiliki Fukushima, selama ini reaktor tersebut berjalan baik2 saja dan menjadi Penopang Utama kebutuhan listrik untuk kota Tokyo.

Malang tak dapat di tolak, ternyata Gempa Bumi dan Gelombang Tsunami dahsyat yg terjadi 1 tahun yg lalu telah memporakporandakan reaktor nuklir yang ada di Fukushima tersebut.

Sejak saat itu Jepang mengalami krisis bencana NUKLIR NASIONAL yg tak kalah hebat dengan peristiwa Chernobyl di Rusia.

Dari ke 5 reaktor yg ada, satu persatu Reaktor Nuklir itu mulai mengalami kebocoran dan mengeluarkan Radiasi menyebar dari reaktor ke wilayah yg ada di Fukushima.

Berbondong2 penduduk Fukushima mengungsi ketempat sejauh-jauhnya dari kota Fuksuhsima agar tidak terkena Radiasi Nuklir yang sangat mematikan itu. 

Saking hebatnya kerja aparat pemerintah Jepang, hampir tidak ada satupun penduduk yg di kabarkan sempat terkena radiasi.

Tapi apa yang di lakukan oleh Perdana Menteri Jepang Naoto Kan, Sebagai seorang pemimpin sejati ia malah meminta pada aparatnya untuk mengantarnya dengan helikopter langsung menuju lokasi bocornya reaktor Fukhusima, ia tidak puas hanya mendengar laporan dari bawahannya bahkan ia tidak puas hanya melihat melalui camera video yg di pasang pada ROBOT bergerak yg di operasikan untuk memantau reaktor yg ada di Fukushima.

Ia datang sendiri, menyaksinak sendiri, terjun langsung ke lokasi tempat reaktor tsb mengalami kebocoran dan berani mati untuk mendekati Reaktor yg sedang mengalami kebocoran hebat. yg setiap saat bisa saja meledak dan membunuh jiwanya. OMG…!!! Sungguh Manakjubkan !!!!

Digambarkan di sana bagaimana sang PM masuk dan melihat langsung di dampingi oleh para ahli yg sudah berhari2 berada disana memantau keadaan.

Peristiwa ini sungguh mengundang decak kagum dari seluruh dunia, sampai2 banyak reporter asing yg geleng2 kepala tak habis pikir dengan apa yg dilakukan oleh sang perdana menteri, karena menurut mereka biasanya di salah satu negara semisal Amerika saja, jika ada kejadian seperti ini pasti presidennya akan segera di selamatkan terlebih dahulu ketempat yg paling aman.

Kantor berita CNN juga melansir berita bahwa sang perdana menteri merasa bersalah dan meminta maaf pada penduduk Fukushima atas terjadinya tragedi ini, dan ia mengatakan mulai bulan ini ia tidak mau menerima gaji bulanannya ( US $ 20 ribu = Rp 200 juta) sampai krisis ini berhasil di tuntaskannya. 

Padahal mungkin pemimpin negara lain bisa saja berkelit bahwa tragedi ini bukanlah KESALAHANNYA DAN PEMERINTAHANNYA melainkan PERISTIWA ALAM yg tak bisa di kendalikan, terlebih lagi Reaktor itu dibangun tahun 1960 oleh Perdana Menteri yg memerintah pada periode tahun tersebut dan bukan dirinya dan pemerintahannya. 

Tapi Naoto kan selaku perdana menteri saat itu tidak melakukannya. Ia bukanlah tipe pemimpin yg seperti itu, Ia sama sekali tidak mau menggunakan ILMU BERKELIT UNTUK MEMPERTAHANKAN JABATAN yg biasa digunakan para memimpin negara lain.

Wow !! kembali hal ini membuat reporter CNN dan masyarakat dunia berdecak kagum.

Sampailah 1 tahun masa penanganan Krisis Nuklir Fukushima…..
Berkat hasil kerja keras Sang Perdana Mentri Jepang Naoto Kan dan jajaran tim nya, akhirnya Fukushima dapat di jinakkan dan hampir semua penduduk Fukushima selamat dari bencana Radiasi Nuklir yg mematikan.

Dan coba tebak apa yg terjadi dan apa yg dilakukannya…..?

Apakah Naoto Kan , segera menceritakan betapa hebat dirinya dalam menangani masalah BENCANA NUKLIR DI FUKUSHIMA INI PADA MASYARAKAT JEPANG…? agar ia di elu-elukan oleh masyarakat dan agar citranya melambung…?

Sama sekali tidak !!!! 

Perdana Mentri Nouto kan ternyata hanya mengumumkan laporan status terakhir dari Fukushima, dan setelah itu dia mengumumkan PENGUNDURAN DIRINYA SEBAGAI PERDANA MENTERI karena Fukushima telah selesai dia atasi. Dan berangsur2 mulai dinyatakan aman.

Keluarga Indonesia….. sungguh… sebagai orang Indonesia sy benar-bernar terharu dan tercenung di depan TV menyaksikan tayangan yg di sajikan oleh National Geographic Channel ini….. Speechless…

Tak sadar seluruh tubuh saya merinding menyaksikan tayangan tersebut, tanpa terasa air mata pun meleleh di pipi saya menyaksikan mundurnya Sang Pemimpin Sejati….di negeri 1000 pemimpin !!!

Negeri yg para pemimpinya siap untuk MUNDUR kapan saja jika merasa dirinya bersalah pada rakyat dan negerinya….

Negeri yg para pemimpinnya benar2 berjuang untuk bangsa dan negaranya.

Tiba2 saja saya berkhayal……Ah…. seandainya saja di Indonesia kita punya pemimpin seperti ini….? Semoga ya Allah… amiiinnnn 1000x

link : http://www.facebook.com/photo.php?fbid=261097733980977&set=a.109615492462536.18963.100002422579530&type=1

About Me

Here I'll share my knowledge, discovery and experience related to my hobby and work. Most articles on this site are related to my travelling experiences More

Want to subscribe?

 Subscribe in a reader Or, subscribe via email:
Enter your email address:  
Memorizing Like an Elephant