Archive for the ‘Sejarah dan Perjuangan’ Category

Palestinians Upgrades Status Became “The Non-Member Observer State” on United Nations

Friday, November 30th, 2012 |

Voting at 29/11/2012 gave Palestinians upgrade their status became a  Non-Member Observer State on United Nations. Previously, The Palestinians Authority  is a entity observer.

In the General Assembly, 138 countries voted yes, including France, Turkey, Russia and China. Nine countries voted no, and 41 countries abstained. Canada voted against the bid, along with the U.S. and Israel. The European countries gave “Abstain” for his political  reasons.

Only nine countries voted against the Palestinian Authority's bid to have its status in the UN upgraded to state recognition.

Only nine countries voted against the Palestinian Authority’s bid to have its status in the UN upgraded to state recognition.(CBC News)

Rahmi Allah Palestinians

Reference link : http://www.un.org 

Oda Nobunaga – Raja Iblis Surga Ke Enam

Wednesday, March 30th, 2011 |

Tiba tiba kepikiran nama nobunaga oda,  bikin post deh

Odanobunaga.jpg

Oda Nobunaga (織田 信長?) (lahir 23 Juni 1534 – meninggal 21 Juni 1582pada umur 47 tahun) adalah seorang daimyo Jepang yang hidup dari zaman Sengoku hingga zaman Azuchi-Momoyama.

Lahir sebagai pewaris Oda Nobuhide, Nobunaga harus bersaing memperebutkan hak menjadi kepala klan dengan adik kandungnya Oda Nobuyuki. Setelah menang dalam pertempuran melawan klan Imagawa dan klan Saito, Nobunaga menjadi pengikut Ashikaga Yoshiaki dan diangkat sebagai pejabat di Kyoto. Kekuatan penentang Nobunaga seperti klan Takeda, klan Asakura, pendukung kuil Enryakuji, dan kuil Ishiyama Honganji dapat ditaklukkan berkat bantuan Ashikaga Yoshiaki. Nobunaga menjalankan kebijakan pasar bebas (rakuichi rakuza) dann melakukan survei wilayah. Nobunaga diserang pengikutnya yang bernama Akechi Mitsuhide sehingga terpaksa melakukan bunuh diri dalamInsiden Honnōji.

Nobunaga dikenal dengan kebijakan yang dianggap kontroversial seperti penolakan kekuasaan oleh klan yang sudah mapan, dan pengangkatan pengikut dari keluarga yang asal-usul keturunannya tidak jelas. Nobunaga berhasil memenangkan banyak pertempuran di zaman Sengoku berkat penggunaan senjata api model baru. Selain itu, ia ditakuti akibat tindakannya yang sering dinilai kejam, seperti perintah membakar semua penentang yang terkepung di kuil Enryakuji, sehingga Nobunaga mendapat julukan raja iblis.

Makam Tan Malaka Disamarkan Jadi Makam Sunan Gesang

Wednesday, January 12th, 2011 |

Kediri – Hasil uji forensik menunjukkan makam tokoh nasional Tan Malaka berada di Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Namun diduga ada upaya menutupi fakta itu. Papan penunjuk lokasi makam sudah hilang, dan diganti dengan balok kayu bertuliskan ‘Makam Sunan Gesang’.

Pantauan detikcom Rabu (12/1/2011) menunjukkan, lokasi yang diduga makam Tan Malaka berada di tengah pemakaman umum Desa Selopanggung, turun jauh ke bawah di antara persawahan dengan sistem terasering. Pada jalur menuju lokasi makam Tan Malaka terdapat pohon yang dipasangi papan penunjuk. Saat ini papan penunjuk masih ada, namun tak lagi bertuliskan ‘Makam Tan Malaka’ melainkan ‘Makam Sunan Gesang’.

Sejumlah warga mengaku tak mengetahui perihal penggantian papan penunjuk lokasi tersebut. Papan tulisan tersebut diketahui warga mulai terpasang sekitar 6 bulan silam, tanpa diketahui pemasangnya.

“Sudah lama dipasang. Tapi lamanya juga belum genap setahun,” kata seorang wanita tua dalam bahasa Jawa kepada detikcom, saat tengah melintas di jalan sekitar lokasi makam Tan Malaka.

Wanita tua yang sedang mencari pakan ternak tersebut juga mengatakan, dia membenarkan adanya makam Sunan Gesang tersebut. Sayang, dia tak tahu lokasi persisnya karena belum sekalipun mendatanginya.

“Tirose wonten radi tengah. Tapi cirine nopo kulo boten semerap. (Katanya ada agak di tengah. Tapi cirinya apa saya tidak tahu-red),” sambungnya.

Kepala Desa Selopanggung Muhammad Zairi juga membenarkan adanya papan penunjuk lokasi Makam Sunan Gesang tersebut. Meski demikian dia tidak tahu siapa pemasang papan tersebut dan sejak kapan dipasang.

“Anak buah banyak yang ngomong, tapi siapa yang masang juga nggak tahu. Intinya tidak ada izin ke saya atau perangkat lainnya,” ungkap Zairi kepada detikcom di rumahnya.

Zairi justru membantah di pemakaman umum desa yang dipimpinnya terdapat makam Sunan Gesang. Selain terduga Tan Malaka yang belakangan benar adanya, makam tua lain yang ada di pemakaman umum adalah sesepuh Desa Selopanggung.

Ketiganya adalah Ki Kerto Joyo, prajurit Kerajaan Mataram Kuno yang meninggal dalam pelariannya, dan belakangan diketahui merupakan pembabat hutan untuk membuka desa. Makam tua kedua adalah Ki Ageng Selo, dan makam ketiga adalah Buyut Kanti yang juga tercatat sebagai orang pertama penghuni Desa
Selopanggung.

“Selain tiga itu dan Tan Malaka nggak ada yang lain. Bahkan saya sudah tanya ke orang-orang tua di sini, nggak ada makamnya Sunan Gesang itu,” tegas Zairi.

Lokasi makam Tan Malaka dipastikan berada di Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri. Ini diketahui dari hasil pemeriksaan forensik tulang belulang yang diangkat di lokasi tersebut tanggal 12 September 2009 silam, di mana metode odontologi dan antropologi forensik menunjukkan kebenaran.

Datuk Tan Malaka yang bernama asli Ibrahim merupakan pejuang kemerdekaan yang misterius. Makamnya juga sempat jadi misteri sebelum diyakini berada di Kediri. Proses kematiannya juga misterius, meski banyak tulisan bahwa dia meninggal setelah ditembak aparat militer. Sejarah Tan Malaka dihitamkan, karena dia dituding terlibat komunis.

Link Berita : detik.com

Tukang Becak Paling mulia Di Dunia

Saturday, October 23rd, 2010 |


kisah Bai Fang Li ini saya harap menjadi pelajaran hidup bagi kita semua untuk saling membantu sesama kita yangkesusahan, walaupun hidup serba pas-pasan tetapi tetap membantu orang tanpa pamrih Tak perlu menggembar-gemborkan sudah berapa banyak kita menyumbang orang karena mungkin belum sepadan dengan apa yang sudah dilakukan oleh Bai Fang Li. Kebanyakan dari kita menyumbang kalau sudah kelebihan uang. Jika hidup pas-pasan keinginan menyumbang hampir tak ada.

Bai Fang Li berbeda. Ia menjalani hidup sebagai tukang becak. Hidupnya sederhana karena memang hanya tukang becak. Namun semangatnya tinggi. Pergi pagi pulang malam mengayuh becak mencari penumpang yang bersedia menggunakan jasanya. Ia tinggal di gubuk sederhana di Tianjin, China.

Ia hampir tak pernah beli makanan karena makanan ia dapatkan dengan cara memulung. Begitupun pakaiannya. Apakah hasil membecaknya tak cukup untuk membeli makanan dan pakaian? Pendapatannya cukup memadai dan sebenarnya bisa membuatnya hidup lebih layak. Namun ia lebih memilih menggunakan uang hasil jerih payahnya untuk menyumbang yayasan yatim piatu yang mengasuh 300-an anak tak mampu.

Tersentuh

Bai Fang Li mulai tersentuh untuk menyumbang yayasan itu ketika usianya menginjak 74 tahun. Saat itu ia tak sengaja melihat seorang anak usia 6 tahunan yang sedang menawarkan jasa untuk membantu ibu-ibu mengangkat belanjaannya di pasar. Usai mengangkat barang belanjaan, ia mendapat upah dari para ibu yang tertolong jasanya.

Namun yang membuat Bai Fang Li heran, si anak memungut makanan di tempat sampah untuk makannya. Padahal ia bisa membeli makanan layak untuk mengisi perutnya. Ketika ia tanya, ternyata si anak tak mau mengganggu uang hasil jerih payahnya itu untuk membeli makan. Ia gunakan uang itu untuk makan kedua adiknya yang berusia 3 dan 4 tahun di gubuk di mana mereka tinggal. Mereka hidup bertiga sebagai pemulung dan orangtuanya entah di mana.

Bai Fang Li yang berkesempatan mengantar anak itu ke tempat tinggalnya tersentuh. Setelah itu ia membawa ketiga anak itu ke yayasan yatim piatu di mana di sana ada ratusan anak yang diasuh. Sejak itu Bai Fang Li mengikuti cara si anak, tak menggunakan uang hasil mengayuh becaknya untuk kehidupan sehari-hari melainkan disumbangkan untuk yayasan yatim piatu tersebut.

Tak Menuntut Apapun

Bai Fang Li memulai menyumbang yayasan itu pada tahun 1986. Ia tak pernah menuntut apa-apa dari yayasan tersebut. Ia tak tahu pula siapa saja anak yang mendapatkan manfaat dari uang sumbangannya. Pada tahun 2001 usianya mencapai 91 tahun. Ia datang ke yayasan itu dengan ringkih. Ia bilang pada pengurus yayasan kalau ia sudah tak sanggup lagi mengayuh becak karena kesehatannya memburuk. Saat itu ia membawa sumbangan terakhir sebanyak 500 yuan atau setara dengan Rp 675.000.

Dengan uang sumbangan terakhir itu, total ia sudah menyumbang 350.000 yuan atau setara dengan Rp 472,5 juta. Anaknya, Bai Jin Feng, baru tahu kalau selama ini ayahnya menyumbang ke yayasan tersebut. Tahun 2005, Bai Fang Li meninggal setelah terserang sakit kanker paru-paru.

Melihat semangatnya untuk menyumbang, Bai Fang Li memang orang yang luar biasa. Ia hidup tanpa pamrih dengan menolong anak-anak yang tak beruntung. Meski hidup dari mengayuh becak (jika diukur jarak mengayuh becaknya sama dengan 18 kali keliling bumi), ia punya kepedulian yang tinggi yang tak terperika

Link:  Here

Panglima Kumbang, Sang Pendamai

Saturday, October 2nd, 2010 |

Gambar dan tulisan merupan repost dari trit kaskus


TENANGKAN MASSA – Panglima Kumbang memegang megaphone didamping polisi untuk mencegah gerak massa yang beringas di Pusat Kota Tarakan.


TENANGKAN MASSA – Panglima Kumbang memegang megaphone didampingi polisi untuk mencegah gerak massa yang beringas di Pusat Kota Tarakan.


PIMPIN RAPAT – Panglima Kumbang memimpin rapat dalam rangka strategi menurunkan eskalasi dan konflik di Tarakan


PAGAR HIDUP – Panglima Kumbang membuat pagar hidup bersama tokoh agama dan suku untuk memberikan jalan bagi polisi mengangkut pengungsi Tarakan.


Panglima Kumbang dan Kapolri berpelukan di Ruang VIV bandara Tarakan, Jumat (1/10/2010).

About Me

Here I'll share my knowledge, discovery and experience related to my hobby and work. Most articles on this site are related to my travelling experiences More

Want to subscribe?

 Subscribe in a reader Or, subscribe via email:
Enter your email address:  
Memorizing Like an Elephant