Archive for the ‘Menyapa Indonesia’ Category

Water for Indonesia

Friday, April 21st, 2017 |

Sedekah air adalah sebaik-baiknya sedekah.

Dari Qatadah dari Said, sesungguhnya Said pernah mengunjungi Nabi Muhammad SAW dan bertanya, “Sedekah apakah yang paling engkau senangi?” Rasulullah menjawab, “Air”. (HR Abu Daud) .

Kami membuka donasi fund raising via @kitabisacom , untuk mewujudkan sumber air bersih bagi masyarakat Desa Cimahi, Kab. Garut. Bantuan sekecil apapun akan berdampak besar bagi masyarakat Desa Cimahi. Berikut link donasinya :

https://m.kitabisa.com/waterin?utm_source=facebook&utm_medium=sharebutton&utm_campaign=projectshare .

Terima kasih sudah berkenan membantu, baik share, donasi dan volunteering ☺
#water
#foodforhumanity
#waterforlife
#energyforfuture

link facebook : Water for Indonesia

Coretan Kisah di Sebatang

Tuesday, October 20th, 2015 |

Salam Budaya!
Semoga apa yang tertulis bisa bermanfaat untuk semuanya..

Pagi itu, H+5 pasca PK tepatnya tanggal 15 Oktober, saya di Jogja ditemani teman-teman perwakilan Angkringan Berhati Nyaman (Mas Aziz, Mbak Laili, Ela, Melisa) persiapan untuk pelaksanaan workshop kebudayaan mulai dari membuat TOR, mencetak undangan, spanduk, kroscek proyektor+layar lcd, dsb.. Siangnya, setelah pembagian tugas, saya dan Mas Aziz ke Sebatang untuk menyerahkan undangan dan TOR untuk para pemateri, naahhh mulai dari sinilah keseruan perjalanan dimulai..

Perjalanan dari Jogja ke Sebatang kami tempuh dengan naek motor “si Jeruk” kesayangannya Mas Aziz sekitar 1,5 jam dan jalan yang dipilih Mas Aziz adalah jalan pintas menuju Sebatang dengan kondisi jalan yang ‘aduhai’ berbatu dan ‘mendaki gunung lewati lembah’.. Sesampainya di Sebatang, kami langsung menuju rumah Pak Rubino. Jalan menuju kediaman Pak Rubino pun berhasil buat saya ‘deg-deg’an.. Malam nya, saya, Mas Aziz, Pak Rubino, dan Mas Kelik ke rumah Pak Dukuh untuk mengantar undangan dan untuk pertama kalinya saya ke Sebatang dalam kondisi malam hari dengan jalanan yang sepiiiiiiii, gelaaaappppp banget (lampu pun ndak ada lho teman), ditambah jalannya yang berbatu, menukik, naik turun, sempiittt yang berhasil bikin jantung mau copot dan sepanjang perjalanan (ini curhat) saya berkali2 harus bilang salam biar ndak ada kejadian yg “aneh-aneh” tiba2 lewat depan mata.

Sesampainya di rumah Pak Dukuh, kami langsung menyerahkan undangannya dan reaksi yang diberikan untuk acara budaya kita hanya seadanya yang setelah itu malah pembahasannya ke permintaan pembuatan proposal untuk pengadaan gamelan baru.. Ini yang saya temui dan buat saya kaget, ternyata usaha teman2 Jogja untuk pendekatan ke warga itu susssaaahhh karena mereka masih berpikir bahwa kita harus menghasilkan sesuatu padahal program budaya kita untuk mendampingi SDM Sebatang supaya bisa lebih mandiri ke depannya..

Esok harinya, pagi2 sebelum kembali ke Jogja, saya dan Mas Aziz mengantarkan undangan ke pemateri yaitu Bapak Surtrisno Wiroso, tokoh Jathilan Klasik yang rumahnya ada di tengah hutan dengan jalan menanjak dan berkelok, sebelum itu kami mampir ke rumah Mas Kelik terlebih dahulu. Di sini saya juga menemukan sesuatu hal yang buat saya terharu. Ada seorang anak yatim piatu umur 5 tahun bernama Vian, dia anak yang pendiam tapi saat saya tanya apa dia suka Jathilan dan dia langsung meragakan tarian nya dengan gumaman alat musik nya, anak sekecil itu lho paham Jathilan, saya langsung speechless ndak tau harus bilang apa ke dia, ada perasaan bangga juga kita mau ngadain workshop untuk menggali Jathilan Klasik di Sebatang..

Masih banyak sebenernya cerita yang ndak bisa diungkapkan lewat tulisan ini, so kalian harus ngerasain sendiri sensasi nya di Sebatang kayak gimana, ketemu masyarakat yang super ramaaahhh..

Ayo ke Sebatang fellas 😘😘😘😘

Written by Rizka

About Me

Here I'll share my knowledge, discovery and experience related to my hobby and work. Most articles on this site are related to my travelling experiences More

Want to subscribe?

 Subscribe in a reader Or, subscribe via email:
Enter your email address:  
Memorizing Like an Elephant