Archive for October, 2015

[2015] Pulau Kodingareng Keke

Friday, October 30th, 2015

19 Februari 2015
Makassar-7230

Pulau Kodingareng Keke dapat diakses dari dermaga yang tedapat di  Pantai Losari dengan waktu tempuh +/- 50 menit dengan menggunakan perahu motor kecil. Sepanjang perjalanan kita bakal disuguhkan pemandangan laut dan kapal-kapal besar yang lalu lalang ke Pelabuhan Pelindo Makassar.

Pulau ini memiliki keunikan tersendiri dimana penghuni tetap pulau ini adalah kucing. Saya tidak tahu persis awal-mulanya bisa muncul kucing di  pulau ini, bisa jadi dibawa oleh pengunjung atau nelayan yang datang berkunjung. Jika musim bagus dan tidak berombak, Pulau Kodingareng Keke menawarkan keindahan gradasi laut dan pasir putih pantai yang menawan (red : terlampir pada foto). Pasir putih mengelilingi Pulau Kodingareng sehingga cukup baik bagi kita untuk berjemur dan bermain pasir sepuasnya.

Berenang? kamu harus juga melakukannya, sangat menenangkan dan imajinasi bebas dari hiruk pikuknya ibukota. Hmmm, pulau tak berpenghuni ini tidak menyediakan tempat ganti pakaian, kamu bisa mengganti pakaian basah di Pulau Samalona atau kering oleh panas terik dan angin laut selama perjalanan. Selamat menikmati keindahan Pulau Kodingareng Keke gaes! 9/10

Makassar-7273

Makassar-7222

Previous | Next

find more my article reviews on TripAdvisor | via @arishms | ig : arisandroo

email : aris.itb@gmail.com

[2015] Pantai Losari

Sunday, October 25th, 2015

19 Februari 2015

Pantai Losari merupakan salah satu destinasi wisata di Sulawesi Selatan. Pada malam harinya, ada beberapa penjual makanan dan minuman ringan di tempat ini. Menurut saya, Pantai Losari tidaklah seindah yang dibayangkan dan terkesan jorok. Mengapa? bayangkan saja ketika kita menikmati makanan lalu ada orang yang sedang “pipis ” di  bibir pantai. Ya, banyak orang yang buat hajat kecil di tepi pantai dan menurut saya tidaklah etis 🙁

Pada pagi harinya, Pantai Losari cukup ramai dikunjungi oleh masyarakat Makassar. Tanggal 19 Februari 2015 adalah hari libur nasional, warga Kota Makassar banyak yang beraktivitas pagi seperti lari pagi ataupun jalan santai di spot wisata ini. Untuk melepas lapar dan dahaga saya menyempatkan sarapan bubur di seputaran pantai. Destinasi selanjutnya sudah menanti kami, Pulau Kodingareng Keke.

Note:

Karna hape saya mengalami trouble dan install ulang, mohon maaf jika artikel ini tidak menyediakan foto aktual selama saya melakukan travelling di destinasi ini.

Previous | Next

find more my article reviews on TripAdvisor | via @arishms | ig : arisandroo

email : aris.itb@gmail.com

Eksplore Sulawesi Selatan 2015

Saturday, October 24th, 2015

Sebagai negara kepulauan, Indonesia merupakan destinasi island hopping yang cukup menjanjikan dan belum Indonesia rasanya jika kita belum menginjakkan kaki di pulau-pulau utama Indonesia layaknya Pulau Sulawesi. Ini merupakan pengalaman pertama saya travelling di Sulawesi dan saya akan share pengalaman singkat yang menajubkan pada rangkaian tulisan-tulisan berikutny. Hmmm, khatam Sulawesi Selatan adalah sebuah keharusan tersendiri.

Cukup beruntung mendapatkan tiket promo Garuda pada event Garuda Travel Fair, direct filght Jakarta – Makassar Rp 1.000.000 saja for return flight dan event-event setelahnya saya tidak menemukan lagi harga tiket garuda yang cukup tidak masuk akal tersebut. Eksplore Sulawesi Selatan 2015 dilakukan dalam rentang waktu 19-22 februari 2015 dengan rute darat sebagai berikut : Makasar – Gowa – Takalar – Jeneponto – Bantaeng – Bulukumba – Sinjai – Bone -Soppeng – Sidrap – Enrekang – Toraja – Toraja Utara – Pinrang – Pare-Pare – Barru – Pangkajene – Maros – Makasar.

Peta Sulsel

source pic : http://makassar.bpk.go.id/

Adapun itinerary sebagai berikut :

Meeting Point : Bandara Sultan Hasanuddin (UPG) – Makassar
04:30 WITA : Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar
05:00 s/d 05.30 WITA : menuju Pantai Losari
05.30 s/d 06.30 WITA : sarapan dan foto2 di Pantai Losari dan Masjid Terapung
06.30 s/d 07.00 WITA : menuju Dermaga ke Samalona
07.00 s/d 12.30 WITA : eksplorasi Samalona & Kodingareng Keke (makan di pulau), kembali ke dermaga
12.30 s/d 13.00 WITA : benteng Fort Roterdam
13:00 s/d 18:00 WITA : menuju ke Tanjung Bira
18.00 WITA : check in homestay, makan malam, acara bebas, istirahat

Hari 2 (jum’at, 20 Feb 2015) :
05.30 s/d 07.00 WITA : Bangun pagi, sarapan, persiapan snorkeling
07.00 s/d 14.30 WITA : eksplorasi & snorkeling Pulau Kambing, dan Pulau Liukang (Makan siang di pulau). Termasuk ke penangkaran penyu.
14.30 s/d 15.30 WITA : kembali ke pantai Bira.
15.30 s/d 17.00 WITA : menuju & melihat tempat pembuatan kapal phinisi
17.00 s/d 18.00 WITA : eksplore Bira sampai sunset
18.00 s/d 19.00 : makan malam, persiapan menuju Toraja
19.00 s/d 06.00 WITA : menuju Toraja

Hari – 3 (sabtu, 21 Feb 2015) :
06.00 s/d 07.00 WITA : sarapan dan istirahat di Toraja
07.00 s/d 15.30 WITA : eksplorasi Toraja Utara
15.30 s/d 22.00 WITA : menuju Rammang-Rammang (makan malam di Enrekang atau bebas)
22.00 s/d 22.30 WITA : menuju Desa Berua, istirahat di penginapan.

Hari – 4 (Minggu, 22 Feb 2015) :
07.00 s/d 08.00 WITA : Sarapan, bersih2-bersih
08.00 s/d 12.00 WITA : eksplore Rammang-Rammang
12.00 s/d 13.00 WITA : makan siang di Rumah Daeng Beta di Rammang-Rammang
13.00 s/d 13.45 WITA : kembali ke dermaga Rammang-Rammang
13.45 s/d 15.00 : menuju Bandara Sultan Hasanuddin (UPG) – Makassar

Itinenary tersebut menyesuaikan kondisi aktual saat travelling :

  1. Perjalanan ke Bulukumba cukup melelahkan sehingga kita memutuskan makan coto di Bantaeng ( Red : Kota ini rapi dan indah di malam hari)
  2. Ban mobil bocor di soppeng
  3. Makan indomie rebus di perhentian Enrekang sembari menikmati Gunung Nona
  4. etc

Perjalanan yang cukup singkat, padat dan jelas 🙂

 

 Next

find more my article reviews on TripAdvisor | via @arishms | ig : arisandroo

email : aris.itb@gmail.com

Coretan Kisah di Sebatang

Tuesday, October 20th, 2015

Salam Budaya!
Semoga apa yang tertulis bisa bermanfaat untuk semuanya..

Pagi itu, H+5 pasca PK tepatnya tanggal 15 Oktober, saya di Jogja ditemani teman-teman perwakilan Angkringan Berhati Nyaman (Mas Aziz, Mbak Laili, Ela, Melisa) persiapan untuk pelaksanaan workshop kebudayaan mulai dari membuat TOR, mencetak undangan, spanduk, kroscek proyektor+layar lcd, dsb.. Siangnya, setelah pembagian tugas, saya dan Mas Aziz ke Sebatang untuk menyerahkan undangan dan TOR untuk para pemateri, naahhh mulai dari sinilah keseruan perjalanan dimulai..

Perjalanan dari Jogja ke Sebatang kami tempuh dengan naek motor “si Jeruk” kesayangannya Mas Aziz sekitar 1,5 jam dan jalan yang dipilih Mas Aziz adalah jalan pintas menuju Sebatang dengan kondisi jalan yang ‘aduhai’ berbatu dan ‘mendaki gunung lewati lembah’.. Sesampainya di Sebatang, kami langsung menuju rumah Pak Rubino. Jalan menuju kediaman Pak Rubino pun berhasil buat saya ‘deg-deg’an.. Malam nya, saya, Mas Aziz, Pak Rubino, dan Mas Kelik ke rumah Pak Dukuh untuk mengantar undangan dan untuk pertama kalinya saya ke Sebatang dalam kondisi malam hari dengan jalanan yang sepiiiiiiii, gelaaaappppp banget (lampu pun ndak ada lho teman), ditambah jalannya yang berbatu, menukik, naik turun, sempiittt yang berhasil bikin jantung mau copot dan sepanjang perjalanan (ini curhat) saya berkali2 harus bilang salam biar ndak ada kejadian yg “aneh-aneh” tiba2 lewat depan mata.

Sesampainya di rumah Pak Dukuh, kami langsung menyerahkan undangannya dan reaksi yang diberikan untuk acara budaya kita hanya seadanya yang setelah itu malah pembahasannya ke permintaan pembuatan proposal untuk pengadaan gamelan baru.. Ini yang saya temui dan buat saya kaget, ternyata usaha teman2 Jogja untuk pendekatan ke warga itu susssaaahhh karena mereka masih berpikir bahwa kita harus menghasilkan sesuatu padahal program budaya kita untuk mendampingi SDM Sebatang supaya bisa lebih mandiri ke depannya..

Esok harinya, pagi2 sebelum kembali ke Jogja, saya dan Mas Aziz mengantarkan undangan ke pemateri yaitu Bapak Surtrisno Wiroso, tokoh Jathilan Klasik yang rumahnya ada di tengah hutan dengan jalan menanjak dan berkelok, sebelum itu kami mampir ke rumah Mas Kelik terlebih dahulu. Di sini saya juga menemukan sesuatu hal yang buat saya terharu. Ada seorang anak yatim piatu umur 5 tahun bernama Vian, dia anak yang pendiam tapi saat saya tanya apa dia suka Jathilan dan dia langsung meragakan tarian nya dengan gumaman alat musik nya, anak sekecil itu lho paham Jathilan, saya langsung speechless ndak tau harus bilang apa ke dia, ada perasaan bangga juga kita mau ngadain workshop untuk menggali Jathilan Klasik di Sebatang..

Masih banyak sebenernya cerita yang ndak bisa diungkapkan lewat tulisan ini, so kalian harus ngerasain sendiri sensasi nya di Sebatang kayak gimana, ketemu masyarakat yang super ramaaahhh..

Ayo ke Sebatang fellas 😘😘😘😘

Written by Rizka

Sebatang Punya Cerita

Sunday, October 18th, 2015

Salam budaya!
Semoga report ini bisa sedikit memberikan gambaran tentang sebatang bagi teman-teman sekalian.

Pagi itu, 13 Oktober 2015, saya bersiap untuk berpetualang ke desa yang selama ini hanya saya dengar dari teman-teman jogja. Hargotirto. Dukuh Sebatang tepatnya. Berbekal motor pinjaman dan gps, saya menelusuri jalanan jogja – wates yang ternyata cukup membuat pantat mati rasa :p

Appetizer yang disuguhkan dalam perjalanan ini adalah keindahan panorama waduk sermo. Sungguh lebih dari cukup untuk menghilangkan kelelahan selama perjalanan tadi.

Main course tentu saja dukuh kita tercinta. Sebatang.
Jalanan menuju dukuh ini cukup aduhai, tetapi mas aziz dan mbak ela tampaknya sudah hafal medan. Harap hati-hati kawan, salah-salah bisa nyasar (info lengkap tanya korban langsung -> mas musa dan istri :p )
Kami disambut ramah oleh bapak Rubino dan disuguhi segelas teh panas. Perbincangan berbau PK masih menjadi topik hangat kala itu. Belum_bisa_move_on.com

Siang itu mas aziz mengantarkan saya menuju rumah pintar di Dukuh Segajih. Sayangnya saya hanya bisa melihatnya dari luar karena pintunya terkunci. Tidak jauh dari sana, ada balai terbuka tempat seperangkat gamelan disimpan. Agak sedikit berbeda dengan yang biasa saya lihat di Bali, ada gong, bonang, kenong, itu saja yang saya tahu 🙁

Dari obrolan mas aziz dengan ibu-ibu yang kebetulan sedang arisan di tempat itu, saya menangkap bahwa semangat berkesenian warga sangat tinggi. Permasalahan utama yang dikemukakan bukanlah dana atau fasilitas, tetapi pendampingan para ahli.

Akhirnya saya mengerti mengapa program sebatang sedaya terfokus pada pendampingan dan banyak kegiatan workshop kesenian. Kebutuhan masyarakat adalah alasan utamanya. Salut untuk teman-teman yang menggali kebutuhan warga dengan sangat cermat. Really appreciate it! ^_^

Balai ini cukup jauh dari sebatang, jadi lagi-lagi saya dibuat mengerti kenapa sebatang sedaya tidak hanya fokus ke sebatang, melainkan hargotirto. Fasilitas, jarak, sdm, itu alasannya.

Mas aziz juga mengajak saya melihat SD tempat adik inspirasi kita bersekolah. Jauh. Jauh pake banget T_T
Saya sebagai kakak inspirasi merasa ciut. Merekalah inspirasi yang sebenarnya. Saya yang ke sekolah dengan fasilitas lengkap saja masih suka mengeluh, bagaimana adik-adik itu yang untuk ke sekolah harus “mendaki gunung lewati lembah” ~sorry pinjem istilah mbak resty 😀

Dalam perjalanan mas aziz bercerita bahwa anak-anak di sana hanya bersekolah hingga SMP. SMA pun jarang. Contoh nyata yang mereka lihat adalah ~bekerjalah, maka kamu akan ‘sukses’~ walaupun hanya sebagai buruh atau kerja kasar.

Saya rasa disinilah salah satu tugas kakak inspirasi sekalian. Menanamkan bahwa pendidikan adalah gerbang menuju kesuksesan.

Dessert dari perjalanan ini adalah saat kita akhirnya menyadari bahwa kita sangat beruntung berkesempatan untuk melihat langsung desa yang selama ini kita perjuangkan melalui FR, gerilya proposal, dan lain sebagainya.
Jika belum kenyang, kalian bisa minta tambahan dessert loh. Kalibiru! Haha..

So, Ingin merasakan paket komplit di atas? Ayo ke sebatang! ^_^

Sapa Sebatang

Team PK 43 Sapa Sebatang

-MDW-

About Me

Here I'll share my knowledge, discovery and experience related to my hobby and work. Most articles on this site are related to my travelling experiences More

Want to subscribe?

 Subscribe in a reader Or, subscribe via email:
Enter your email address:  
Memorizing Like an Elephant