Archive for March, 2012

Nasib Julian Hotzel, Eks SAD Indonesia yang Terbelenggu Kekuatan Besar

Friday, March 9th, 2012

Nama lengkapnya: I Wayan Julian Arimbawa Hotzel. Ia lahir di Bali pada 9 Jun 1993 dari ayah asli Bali dan ibu Jerman. Talentanya yang luar biasa membuat Julian Hotzel terpilih masuk tim SAD Indonesia yang berlatih di Uruguay, di zaman Nurdin Halid dan Nirwan Bakrie berkuasa di PSSI. Namun, ketidakjelasan program pengiriman pemain ke Uruguay itu, apakah ini program PSSI atau program pribadi Nirwan Bakrie (klub Pelita Jaya) membuat nasib Julian Hotzel sekarang merana.

Ceritanya begini. Anak-anak SAD itu pulang ke Indonesia pada Desember lalu. Dan ternyata, waktu transit di Dubai mereka ditodong oleh pengurus Pelita Jaya, disuruh tandatangan perjanjian dengan Pelita Jaya dengan dalih agar mereka tidak dianggap ilegal sesampainya di Indonesia.

Pasal-pasalnya tidak jelas, dan semua tidak dikasih copy kontraknya. Yang mereka ingat cuman mereka sejak saat itu jadi milik klub Pelita sampai 2013, dan akan disiapkan untuk Sea Games 2013 (Koq yang nyiapin ke Sea Games Pelita?). Tapi kenyataannya, sampai sekarang mereka luntang-lantung, dititip klub sana-sini, tidak ada klub yang jelas dan besar.

Lazimnya sebuah kontrak, kedua belah pihak pasti akan mendapat lembar kontrak yang asli, yang ditandatangani oleh masing-masing pihak. Tapi Pelita tak berikan itu. Isi kontrak persisnya juga tak diketahui.

Sebenarnya Julian Hotzel sendiri tidak ikut rombongan itu, karena dia pulang duluan, untuk ikut Pra Piala Asia U-19 di Kuala Lumpur. Nah, mendengar namanya direkomendasikan untuk seleksi masuk ke klub Persebaya Surabaya dalam transfer window kompetisi IPL hari-hari ini, Julian Hotzel sangat bersemangat. Ia pun ikut seleksi, dan manajemen serta pelatih Persebaya Divaldo Alves (Portugal) amat tertarik dengan talenta besar striker muda bertinggi badan 184 cm ini.

Namun rupanya berita itu sampai ke telinga Pelita Jaya. Salah satu pejabat Pelita kemudian mulai meneror Julian sejak selasa malam hingga Rabu siang kemarin. Karena merasa tidak nyaman, Julian ceritakan itu ke manajer Persebaya. Akhirnya Julian memutuskan pulang ke Bali hari Rabu malam.

Mental Julian langsung drop. Ia tak menyangka mimpinya menjadi pemain besar di negerinya terhambat oleh tangan-tangan itu. Menurut ayahnya, sejak pulang dari Surabaya, Hotzel nampak tidak semangat. Ia lebih banyak tidur. Dan dari Bapaknya kami baru tahu bahwa Julian ternyata ikut tandatangan “kontrak” juga, cuman bukan di Dubai, tapi pas penyisihan Pra Piala Asia di Kuala Lumpur.

sumber : http://olahraga.kompasiana.com/bola/2012/03/09/nasib-julian-hotzel-eks-sad-indonesia-yang-terbelenggu-kekuatan-besar/

Komentar :
udah ga bisa komeng lagi gan, amburadul negeri ini
dan bahkan BRUNEI bisa mengalahkan INDONESIA, semua itu akan tercatat di buku buku sejarah SD, SMP dan SMA di BRUNEI bahwa BRUNEI pernah mengalahkan INDONESIA.
itu akan dikenang beberapa abad ke depan…. ANJING, kasihan anak cucu!

Utang Model Argentina

Thursday, March 8th, 2012

Utang Model Argentina

Ivan A. Hadar, KOORDINATOR NASIONAL TARGET MDGs 2007-2010
Sumber : SINDO, 19 November 2011
Sebenarnya mayoritas rakyat Indonesia adalah orang miskin. Betapa tidak? Menggunakan kriteria mereka yang berpenghasilan di bawah USD2 per hari kita akan menemukan sekitar 130 juta rakyat Indonesia tergolong miskin.
Karena itu,yang seharusnya menjadi prioritas saat ini adalah pemimpin yang bisa sepenuh hati merasakan, memahami, dan bertindak untuk memboyong keluar mayoritas rakyat dari kemiskinan. Pemimpin yang demikian dijamin akan dicintai dengan sepenuh hati oleh mayoritas rakyat. Ada contoh dari dalam maupun luar negeri.Joko Widodo,Wali Kota Solo yang dicerca sebagai “orang bodoh” oleh Gubernur Jawa Tengah ketika lebih membela pasar rakyat ketimbang hypermarket, ternyata terpilih lebih dari 90% pada pilkada periode keduanya.Sebuah rekor untuk Indonesia. Dari mancanegara, kita baru saja dibuat kagum ketika Cristina Fernandez de Kirchner, terpilih untuk masa jabatan kedua sebagai presiden Argentina (23/10).

Pada masa jabatan pertamanya dia mengatakan: ”Dengan kepercayaan kepada Tuhan dan panggilan untuk membangun bangsa yang kuat, suara kita akan bisa didengar dalam forum internasional.Hal ini sekaligus akan bisa membuat kita mengecam eksistensi enclave kolonialisme di abad ke- 21 ini.” (Aljazeera, 3/4/2008). Cristina Fernandez meneruskan perjuangan suaminya,Nestor de Kirchner, yang menjadi Presiden Argentina sebelum dia.

Menolak Bayar Utang 

Argentina yang berpenduduk 40 juta jiwa kini memiliki pendapatan domestik bruto lebih dari USD250 miliar dan pendapatan per kapita hampir USD7.000. Keberhasilan Argentina didorong oleh keberanian menolak pembayaran utang ke kreditor internasional.Argentina juga menolak resep ekonomi IMF, yang dituding telah gagal total di semua wilayah Amerika Latin.

Investor dan IMF mengucilkan Argentina. Namun, Presiden Venezuela Hugo Chavez menolong Argentina dengan membeli obligasi Pemerintah Argentina. Dana dari Venezuela berperan membantu Presiden Kirchner mengatasi persoalan ekonomi. Pada Maret 2005, dengan raut wajah berseri, Presiden Kirchner mengumumkan kepada seluruh rakyat Argentina keberhasilan pemerintah mengurangi utang luar negerinya.

Buah dari perundingan alot selama tiga tahun. Dari segi jumlah, pengurangan utang Argentina ini terbesar sepanjang sejarah. Meski coba diboikot oleh IMF dan lembaga keuangan swasta, mayoritas pemegang obligasi (bondholders) swasta akhirnya menyetujui tawaran Argentina untuk melakukan restrukturisasi utang sebesar USD130 miliar.

Dari jumlah tersebut,hanya sepertiga yang harus dibayar Argentina. Itu pun dalam tempo 40 tahun.Ternyata berbeda dengan kecemasan petinggi Indonesia, pengurangan utang telah menaikkan peringkat kredit Argentina di pasar internasional. Para bondholders boleh berharap bahwa nilai surat utangnya pun akan meningkat berbarengan dengan perbaikan ekonomi negeri yang pernah dijuluki “Swiss Amerika Selatan” ini.

Sesuatu yang bukan mustahil melihat pertumbuhan ekonomi Argentina yang mencapai angka 8- 9% pada dua tahun terakhir. Total utang publik Argentina yang tadinya berjumlah USD190 miliar (akhir Desember 2004), berkurang menjadi USD125 miliar atau sebanding dengan 72% pendapatan kotor nasional.

Adapun beban utangnya turun dari USD10 miliar menjadi USD3,2 miliar dari penghasilan ekspor. Hal yang menarik,butir-butir perundingan yang alot antara Argentina dan para kreditor, utamanya bukan berkaitan dengan usulan jumlah pengurangan nilai surat utang (bonds), melainkan pada persyaratan (conditionalities) IMF dalam rencana pembangunan ekonomi Argentina.

Strategi restrukturisasi utang Argentina, meskipun disebut-sebut sebagai “paradigma baru”,sebenarnya pragmatis dan memakai kaidah yang selama ini disepakati bersama. Ketika sebuah negara berada dalam kondisi nyaris bangkrut, “paket pertolongan” IMF bisa dipakai untuk membayar para investor.

Hal ini mengacu pada pendapat mantan Menteri Keuangan AS Paul O’Neill,bahwa pengurangan utang harus ditanggung bersama oleh kedua belah pihak, pemerintah dan kreditor.

Model Argentina 

Tak mengherankan bahwa acuan “Model Argentina” bagi solusi krisis utang global ramai dibicarakan. New York Times, misalnya, mensinyalir,“Argentina’s example may encourage other developing countries to act similarly,” (4/3/2005). Sebuah “pergolakan”yang diramal bakal berdampak besar bagi sistem keuangan internasional.

Menurut Miguel Kiguel, salah seorang anggota “perunding utang”(debt negotiator) Argentina, restrukturisasi utang negerinya memperlihatkan bahwa dalam kasus kesulitan anggaran,“sovereigns”atau kemauan politik serta keuletan berunding sebuah bangsa menjadi semakin penting. Bahkan boleh jadi, yang terpenting.

“Kini, aturan main telah berubah”, tulis Larry Rohter (New York Times, 4/3/2005). Apakah Indonesia mau mengikuti aturan main baru ini? Tampaknya tidak. Satu pekan setelah Argentina memperoleh keringanan signifikan utang luar negerinya,petinggi negeri ini masih merasa “sangat berterima kasih”ketika negaranegara kaya anggota Paris Club hanya memberikan moratorium utang (penundaan pembayaran) pada 2005 kepada Indonesia yang diterpa tsunami—sebesar USD2,6 miliar.

Selain penundaan pembayaran pokok utang yang jatuh tempo tadi, bunga yang tidak dibayar selama 2005 akan direkapitalisasi (recapitalized) dan ditambah menjadi utang pokok. Menurut hitung-hitungan kasar,setiap harinya Indonesia harus menyisihkan USD4-5 juta untuk membayar bunga utang kepada negara kreditor dan lembaga keuangan internasional, padahal lebih dari separuh rakyat negeri ini masih hidup di bawah garis kemiskinan.

Karena itu, rasanya siapa pun akan sepakat dengan suara kritis para aktivis dalam dan luar negeri yang semakin santer menganjurkan pengurangan utang. Pemerintah pilihan rakyat seharusnya lebih alot dalam berunding.

Bangsa ini telah banyak kehilangan, baik kehilangan pulau maupun harga diri. Janganlah ramalan UNICEF tentang generasi yang hilang menjadi kenyataan. Belajarlah dari Argentina.●

sumber : http://budisansblog.blogspot.com/2011/11/utang-model-argentina.html

About Me

Here I'll share my knowledge, discovery and experience related to my hobby and work. Most articles on this site are related to my travelling experiences More

Want to subscribe?

 Subscribe in a reader Or, subscribe via email:
Enter your email address:  
Memorizing Like an Elephant