Ulil Abshar Abdalla, Selingkuh?
Thursday, February 23rd, 2012
sepertinya orang ini bakal masuk penjara deh? ;p
Just Aris Weblog

sepertinya orang ini bakal masuk penjara deh? ;p

Want to do something for the earth? Share this image further and show the world a mirror.
follow this : http://www.facebook.com/the.earthian.wipro

akarta – Indonesia sebagai habitat tunggal spesies primata Orangutan menarik perhatian produser film Amerika Serikat.
Salah satu produser film terbesar dunia Warner Bros dan Imax mendanai pembuatan film karya sutradara asal Amerika Serikat David Lickley, yang membuat film dokumenter tentang Gajah Kenya dan Orangutan yang populasinya terus menurun dan terancam punah. Naskah film yang dibuat Drew Fellman, dinarasikan apik oleh aktor Hollywood peraih Oscar tahun 2005, Morgan Freeman.
Film ini dibintangi oleh dua peneliti binatang langka yakni, Daphne Sheldrick peneliti Gajah Kenya, dan Birute Galdikas, wanita asal Kanada peneliti Orangutan.
Birute menghabiskan 40 tahun waktunya di Kalimantan untuk meneliti dan menyelamatkan Orangutan dari kepunahan.
Film dokumenter yang mengambil lokasi gambar di hutan pedalaman Tanjung Puting, Kalimantan Tengah, dan hutan tropis Kenya, mengisahkan dua peneliti tangguh yang menyelamatkan dua hewan langka dari kepunahan.
Film yang diluncurkan perdana di Amerika Serikat pada 8 April 2011 ini, baru diputar perdana di Indonesia pada Senin (20/2/2012) malam ini dan disaksikan oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Ibu Negara Ani Yudhoyono.
SBY merasa tersentuh dengan film dokumenter tersebut. “Bagus sekali, menyentuh, mudah-mudahan yang nonton tergerak dan kita bisa menjaga kelestariannya,” ujar SBY usai menonton film berdurasi 45 menit ini, di Teater Imax Keong Mas, TMII, Jakarta, Senin (20/2/2012).
Peneliti Orangutan sekaligus pemeran utama dalam film ini Birute mengharapkan, dari film berkualitas yang telah dibuat ini, mampu membangkitkan kesadaran yang tinggi dari seluruh manusia yang peduli akan kelestarian alam. “Harapan saya awarnes terhadap Orangutan meningkat,” kata dia usai pemutaran film. [gus]

A man sat at a metro station in Washington DC and started to play the violin; it was a cold January morning. He played six Bach pieces for about 45 minutes. During that time, since it was rush hour, it was calculated that 1,100 people went through the station, most of them on their way to work.
Three minutes went by, and a middle aged man noticed there was musician playing. He slowed his pace, and stopped for a few seconds, and then hurried up to meet his schedule.
A minute later, the violinist received his first dollar tip: a woman threw the money in the till and without stopping, and continued to walk.
A few minutes later, someone leaned against the wall to listen to him, but the man looked at his watch and started to walk again. Clearly he was late for work.
The one who paid the most attention was a 3 year old boy. His mother tagged him along, hurried, but the kid stopped to look at the violinist. Finally, the mother pushed hard, and the child continued to walk, turning his head all the time. This action was repeated by several other children. All the parents, without exception, forced them to move on.
In the 45 minutes the musician played, only 6 people stopped and stayed for a while. About 20 gave him money, but continued to walk their normal pace. He collected $32. When he finished playing and silence took over, no one noticed it. No one applauded, nor was there any recognition.
No one knew this, but the violinist was Joshua Bell, one of the most talented musicians in the world. He had just played one of the most intricate pieces ever written, on a violin worth $3.5 million dollars.
Two days before his playing in the subway, Joshua Bell sold out at a theater in Boston where the seats averaged $100.
This is a real story. Joshua Bell playing incognito in the metro station was organized by the Washington Post as part of a social experiment about perception, taste, and priorities of people. The outlines were: in a commonplace environment at an inappropriate hour: Do we perceive beauty? Do we stop to appreciate it? Do we recognize the talent in an unexpected context?
One of the possible conclusions from this experience could be:
If we do not have a moment to stop and listen to one of the best musicians in the world playing the best music ever written, how many other things are we missing?
sisa 22 dari 30 (inculde 3 orang logistik). semangat teman-teman!!!
bukan mau pamer, sekedar berbagi
lontong padang + teh telor adalah kenikamtan dunia yang awesome. dimana-mana ada yang jual kok.
untuk case gambar diatas, adanya di depan unpad samping pangdam, cek tkp sendiri aja deh, biasanya jualan pas pagi hari, gw dateng jam 10.00an ,asih jualan juga.
nett harga : lontomg sayur telur kayaknya 7rebu + teh telor kayaknya 5rebu (gw beli 2 lontong telur + 1 teh telor kena 19 rebu)
selamat mencoba ya ^^v
17/02/2012,
Sehabis menikmati wisata kuliner di Bandung, kita menuju kampus. Secara, udah lama ga liat latihan nari UKA ITB. Ada satu hal yang membuat saya sangat apreciate untuk datang malam itu, penari prianya sudah bisa rapai geleng. Cuma perlu waktu kurang dari satu bulan untuk menguasai gerakan-gerakan yang cukup sulit menurut pandangan saya. Semangatnya perlu dijaga dan flownya diatur, biar klimaks pada saat acara puncak nanti. Sepertinya saya bakal sangat kecewa karna tidak dapat hadir pada acara se-awesome ini. semangat panitia!!!
Ini merupakan pengalaman pahit dan cukup membuat saya tertawa
15/02/ 2012
Begini ceritanya
Setelah turun dari airfast dan ambil bagasi, tepatnya pukul 08.30 menurut jam saya, saya menuju ke terminal keberangkatan bandara Syamsudin noor, Banjarmasin. Saya “hampir” check in pukul 08.45 dan jam keberangkatan sesuai tiket 09.10, selisih 25 menit. Jika disesuaikan dengan kondisi 30menit check ini sebelum keberangkatan, oke saya salah, tapi apakah harus seperti itu? mengingat saya sering sekali menjadi korban DELAY lion air dan itu tidak ada kompensasinya. Babinya adalah tiket saya bener bener hangus karna “5 menit ” FUCK!
1. Masih di depan mata saya, teman saya bisa check in dan saya tidak bisa check in karna selisih waktu yang seperti disebutkan diatas!
2. Petugasnya hanya memberi coretan di tiket saja dan “maaf pak sudah tidak bisa check in” sementara di speaker sendiri jelas memanggil penumpang yang belum berangkat dan anjingnya si mbak lion air di bandara banjarmasin tersebut SOK SIBUK!
3. Sempat terjadi kericuhan(red : 5 orang complain) dan salah seorang petugas membawa kami ke loket lion air, emang anjing juga, dia meninggalkan kami di dalam dan seolah olah di sangat membantu.
4. Tiket tidak dapat diuangkan kembali, walaupun cuma 10%, alesannya karna kami beli di agen. Jelas jelas ada nama kita di situ!
5. Kecurigaan paling besar adalah tiket kami dijual kepada pihak lain oleh orang orang yang tidak bertanggung jawab. Wajar aja dia ga mau urus kami lagi, sok sibuk nih yeee!!!
Dan semua hal itu tidak saya temukan ketika saya menaiki GARUDA CITILINK, walaupun harus keluar kocek dengan harga tiket 2 kali harga LION AIR. tetapi saya tersenyum puas!
yang mau share tentang ke-anjing-an LION AIR, silahkan koment di bawah!!!!