Dosen-dosen “Busuk”

Written on April 21, 2011 – 12:27 am | by Aris Rinaldi | tags , , |

Kemarin saya mengikuti rapat di Dikti dengan Ditnaga, Pak Supriyadi.Informasi yang disampaikan Pak Supriyadi tentang kelakukan para dosendi Indonesia, khususnya yang sedang mengajukan kenaikan pangkat,sungguh memalukan. Institusi pendidikan yang diharapkan menjadi benteng terakhir penjaga norma dan kejujuran sudah rusak, bukan oleh segelintir dosen, tetapi oleh sangat banyak dosen berperilaku “busuk” dengan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan pribadi.Beberapa kelakuan dosen tersebut yang disampaikan Pak Supriyadi
adalah:

– Memalsukan karya ilmiah. Makalah ilmiah orang, khususnya yang diterbitkan di jurnal ilmiah internasional diganti nama penulis aslinya menjadi nama yang bersangkutan. Dengan membawa ke tempat percetakan, maka tidak kentara bahwa makalah tersebut adalah makalah orang lain yang dipalsukan.

– Membuat jurnal palsu. Satu nomor jurnal internasional dimodifikasi. Caranya adalah mencabutkan satu makalah yang ada dalam jurnal tersebut dan diganti dengan makalah dia. Seolah-olah makalah dia sudah diterbitkan dalam jurnal tersebut. Dosen tersebut kemudian menjilid ulang jurnal tersebut sehingga tampak sebagai jurnal yang asli.

– Membuat jurnal nasional palsu. Ada kejadian dua dosen dari universitas yang sama dan jurusan yang sama. Mereka sama-sama mengajukan kenaikan pangkat. Ketika diteliti dokumennya, mereka melampirkan jurnal dengan volume yang sama dan nomor yang sama. Seharusnya jurnal tersebut memuat paper-paper yang sama. Tetapi ternyata tidak. – Jurnal dengan volume dan nomor yang sama tersebut memuat paper-paper yang berbeda. Jurnal yang dilampirkan si A memuat peper si A, sedangkan jurnal yang dilampirkan si B memuat paper si B. Ini berarti salah satu atau kedua dosen tersebut telah membuat sendiri jurnal tersebut dan mamasukkan makalahnya masing-masing ke dalamnya.

– Mengubah nama di ijasah luar negeri. Ijasah luar negeri orang lain diganti namanya dengan nama dia. Lalu dia datang ke percetakan untuk membuatkan ijasah yang persis sama dengan aslinya.

– Menulis paper dengan hanya mencantumkan nama senddiri pada karya mahasiswa bimbingan, agar yang bersangkutan dapat menikmati sendiri nilai kum paper tersebut.

– Membuat makalah palsu dari hasil copy paste di internet. Makalah tersebut diterbitkan di jurnal yang dikelola sendiri.

Hancurlah pendidikan bangsaku. Untuk menertibkan para dosen “busuk” tersebut mungkin beberapa langkah perlu dilakukan:

– Membentuk lembaga yang bernama Professor Watch. Lambaga ini menyelidiki kesahihan dokumen yang telah digunakan para professor untuk naik pangkat. Jika ditemukan kecurangan, professor tersebut diadukan ke polisi karena sudah melakukan tindakan penipuan. Kalau perlu dipidana, karena dari pekerjaan tersebut dia telah memakan uang
Negara dari tunjangan kehormatannya yang seharusnya bukan hak dia.

– Jabatan professor tidak diberikan secara permanen. Tiap 5 tahun performance profesor tersebut dinilai. Jika tidak perform dengan baik, jabatan profesor dicabut. Beberapat poin yang dinilai adalah: adanya mahasiswa bimbingan (khususnya mahasiswa doctor), penelitian yang dilakukan, karya ilmiah yang dihasilkan, pengajaran, dan lain-lain, yang dia lakukan setelah menjabat sebagai profesor. Kalau semua hal itu tidak dilakukan, buat apa kita memiliki profesor seperti itu.

Terlalu keenakan para profesor di Indonesia ini.

dari milis sebelah

“Saya gak tahu sumbernya dari milis mana, tapi saya nemuin tulisan ini di milis CFBE (LSM pendidikan) yang nyalin dari milis para alumni ITB. Di milis alumni ITB dan CFBE, tulisan ini jadi diskusi rame bangets. Pesan saya satu: meskipun “kreatif”, tapi jangan sekali-kali dipraktekin ya…..:)

 

Related Posts

Put your related posts code here

Post a Comment

About Me

Here I'll share my knowledge, discovery and experience related to my hobby and work. Most articles on this site are related to my travelling experiences More

Want to subscribe?

 Subscribe in a reader Or, subscribe via email:
Enter your email address:  
Memorizing Like an Elephant