Merefleksikan Pendidikan

Written on December 24, 2010 – 2:30 pm | by Aris Rinaldi | tags , , |

Yup, saya baru menyelesaikan quarter pertama saya sebagai mahasiswi Stanford University! Tiga bulan ini sangat berarti buat saya – saya melihat kultur yang berbeda, mengadaptasi cara pandang yang berbeda, merasakan gaya pendidikan yang berbeda. Dalam post ini saya ingin berbagi aspek-aspek pendidikan Stanford yang mengesankan saya, refleksi saya terhadap pendidikan yang saya dapat di Indonesia sebelumnya dan apa yang saya harap bisa diterapkan di Indonesia.

Moral, bukan agama

Sebulan sesudah saya mulai bersekolah, saya bertemu His Holiness the Dalai Lama saat beliau berbicara di Stanford mengenai compassion. Poin speechnya yang paling berkesan buat saya, adalah ketika beliau bilang bahwa compassion itu tidak melihat agama, dan bahwa pendidikan seharusnya tidak religiocentric atau berpusat pada suatu ideologi agama, namun pada moral values, compassion, yang universal. Menarik, mengingat beliau adalah pemimpin agama.

Saya setuju dengan beliau. Rasanya struktur pendidikan agama di Indonesia tidak sesuai dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika itu sendiri. Katanya negara kita negara toleransi dan understanding antar 5 agama, tapi saya merasa hampir tidak tahu apa2 tentang Buddha, Hindu, dan Islam dari sekolah, selain nama kitab suci mereka, nama tempat ibadah, nama hari raya, nama tokoh besar. Yup, hal-hal penting. Tapi superfisial. Pertama kalinya saya merasa ‘mengerti’ agama, adalah ketika saya sekamar dengan teman beragama Islam sewaktu pelatihan, dan dia mengajarkan saya arti gerakan-gerakan sholat. Di Stanford, saya belajar meditasi Buddhisme Zen dan belajar ideologi mereka, dan ternyata banyak yang bisa saya pelajari dari sana.

Pendidikan agama di Indonesia yang cuma berpusat pada 1 agama tertentu, membawa notion bahwa agama lain adalah “bukan agama saya, bukan urusan saya.” Menurut saya, pendidikan moral seharusnya menarik ideologi kelima agama dan menelaahnya secara universal, yang berlaku pada semua orang. Bila ada aspek2 di mana ajaran mereka berlawanan, telaahlah tentang semuanya. Jangan take side tentang mana yang benar. Pelajarpun akan tumbuh menjadi orang-orang yang dunianya tidak berpusat pada kepercayaannya sendiri, tapi peduli dan punya deeper understanding tentang kepercayaan lain. Pelajaran bukan mestinya berarah pada membuat murid beriman, tapi memberikan pengetahuan dan latar belakang untuk mendorong murid menemukan imannya sendiri.

Trust, Expectation, Responsibility

Saya kaget banget waktu ujian pertama saya di sini. Kita masuk ke auditorium, duduk sesuka hati, dibagiin kertas ujian, lalu semua lecturer/TA keluar dari ruangan dan nunggu di luar. Ga ada orang yang jaga ruang ujian. Yang ada cuma 1 paragraf di depan kertas ujian “Saya mengerti dan menjalankan Honor Code. Saya tidak menerima bantuan yang tidak diizinkan sebelum, ataupun selama tes berlangsung.” dan tanda tangan kita. Kalau mau mencontek, gampang aja. Di sini murid bener2 dipercaya… Ekspektasi awal orang terhadap murid positif, bukan negatif. Kami dipercaya membuat keputusan sendiri, bahwa kita bisa bertanggung jawab atas kepercayaan itu. Ini tercermin juga dari kelas online wajib AlcoholEdu, tentang alkohol di kampus. Yang menarik, di pendahuluan kelas itu, ditulis : “Kami tidak akan menggurui kamu untuk tidak minum. Kami hanya akan memberikan informasi, dan adalah kebebasan kamu untuk memutuskan.”

Ini buat saya breath of fresh air. Saya biasa dibilang, jangan begini, jangan begitu. Rasanya selalu ada prasangka yang unspoken, seperti kita harus selalu diarah-arahkan untuk bisa berbuat benar. Seperti kita akan mencontek kalo nggak ada yang melihat. Seperti kita bakal melakukan hal buruk kalo kita nggak ada yang melarang. Rasanya, kepercayaan seperti yang diterapkan di sini lebih ampuh. Karena merasa dipercaya, ada rasa tanggung jawab. Dan nggak ada bahan untuk ‘diberontakkan’, seperti yang, rasanya, banyak terjadi pada orang-orang yang terlalu banyak diatur. Poin saya di sini : expect yang terbaik dari murid, dan pastikan kalau murid menyadari itu.

Diversitas dan Individualitas

Pendidikan di US membawa apresiasi akan diversitas ke level yang lebih jauh, dengan membentuk jurusan-jurusan baru yang menggabungkan jurusan2 berbeda yang saling berkaitan (interdisciplinary study). Misalnya, Symbolic Systems (contoh lulusan : Google’s Marissa Mayer) yang menggabungkan Computer Science, Philosophy, Psychology, Linguistics, Communication, dan Education – memberikan programmer2 spesialisasi dalam mengerti dan mengkomunikasikan keinginan user. Management Science & Engineering yang seperti menspesialisasikan MBA ke bidang-bidang sains dan engineering. Human Biology, yang menggabungkan biologi, farmasi obat2an, nutrisi, dan antropologi. Interdisciplinary study seperti ini membawa pendidikan ke arah yang lebih spesifik dan terspesialisasi, serta mendayagunakan orang-orang yang punya beragam interest. Hampir semua (atau semua?) departemen memungkinkan mahasiswa untuk mendesign majornya sendiri.

Pendidikan di sini menghargai individualitas – tugas-tugas di kelas banyak yang sangat open-ended dan memungkinkan siswa melakukan apa yang jadi passionnya tanpa banyak pembatasan. Tugas akhir kelas humanities saya, misalnya, hasilnya bermacam2: film, film bisu, skit, rap, bahkan dunia virtual hasil permainan The Sims. Dan para profesor pun bisa menghargai hasil-hasil yang nggak konvensional. Salah satu hal yang paling sering ditekankan kepala asrama saya adalah kata-kata : “Don’t judge.” Jangan mengomentari atau mempertanyakan preferensi teman kamu dalam aspek apapun. Kalau kamu ditanya kenapa suka The Beatles, misalnya, jawaban “Because I do.” adalah jawaban yang valid, dan orang lain nggak punya hak bertanya lebih jauh.

Dua aspek ini terkadang hilang dari sistem pendidikan Indonesia. Murid didikte akan kelas-kelas apa yang harus diambil, dan ada semacam persepsi akan pelajaran mana yang lebih penting daripada yang lain. Pertanyaan yang tidak open-minded menjuruskan pikiran murid ke satu arah tertentu, dan sering kali pelajaran memojokkan orang dengan cara pandang yang berbeda.

Entrepreneurship

Di sini saya benar2 sadar kunci utama kemajuan entrepreneurship di US : pendidikan. Universitas, terutama. Teman saya, graduate student yang sempat intern di Facebook summer lalu, bilang kalo waktu dia bertemu mahasiswa CS di Stanford, hampir semua bilang kalau mereka mau membuat startups, bukan bekerja. Emphasis Stanford terhadap entrepreneurship benar2 kuat – aura entrepreneurship di sini adalah one of those things yang harus ada di sini untuk ‘ngerasain’ itu. Environmentnya luar biasa kondusif. Kerja di small or start-up company adalah sesuatu yang hip di sini. Mahasiswa punya start-up itu biasa. Banyak faculty di sini yang entrepreneurs themselves atau berhubungan dekat dengan perusahaan2 (presiden Stanford, John Hennessy, adalah boardmember di Google dan banyak company lain) – dan mereka ready untuk mentor entrepreneurs secara langsung. Professor Frederick Terman, misalnya, menjadi mentor Hewlett dan Packard waktu mereka masih di garasi di Palo Alto, dan mendorong terbentuknya Silicon Valley. Larry Page dan Sergey Brin sering menyebut Professor Terry Winograd sebagai pengaruh besar terbentuknya Google.

Di kampus, kami punya Stanford Student Startup Lab (semacam YCombinator), Stanford Technology Venture Program, seminar mingguan tentang entrepreneurship, kelas entrepreneurship, konferensi entrepreneurship, Startup School, dan banyak kontes-kontes entrepreneurship di kampus. Kami punya job fair khusus start-ups. Kedekatan kami dengan Silicon Valley membawa banyak tokoh bicara di sini – dalam tiga bulan, saya bertemu Seth Sternberg (cofounder Meebo), Peter Thiel (CEO Paypal & venture capitalist), beberapa venture capitalist dan eksekutif dari Facebook, Twitter, dan Foursquare. Mark Zuckerberg ‘mampir’ ke salah satu kelas pendahuluan Computer Science. VC atau tokoh2 Silicon Valley sering datang ke sini menilai presentasi2 tugas akhir.

Ujung tombak perubahan adalah universitas. Untuk Indonesia bisa membentuk ‘Silicon Valley’nya sendiri (seperti wacana yang belakangan ini sering muncul), yang harus ada di depan bukan pemerintah, tapi universitas – bagaimana mereka melibatkan startups yang sekarang menjamur di Indonesia dalam proses pendidikan, dan berperan lebih aktif dalam mengembangkan kultur entrepreneurship. First and foremost, seharusnya, adalah bagaimana membuat bekerja di startup sebagai sesuatu yang nggak asing atau aneh. Dari sisi lain, startups juga baiknya membuka kesempatan magang bagi mahasiswa-mahasiswa.

Praktikalitas

Selama SMA, saya mengamati, dan merasakan, bagaimana pelajaran dasar programming sangat mudah untuk jadi ‘membosankan’. Kode looping, percabangan, teks hasilnya keluar di layar warna hitam…. Dan murid akan bertanya, “terus kenapa? Apa gunanya?” Dan waktu saya sempat mengajar di beberapa pelatihan, saya cuma bisa bilang “sabar ya. ini masih dasar, tapi bentar lagi ada good stuffnya.” Karena itu saya impressed melihat bagaimana approachable-nya kelas programming dasar di sini.

Kelas dasar programming di Stanford terdiri dari 2 bagian, CS 106A dan CS 106B. Kelas CS 106A menarik hampir seribu murid setiap tahunnya, sebagian besar tanpa pengalaman programming sebelumnya. Minggu pertama kelas itu, mereka bermain dengan Karel, teaching language mirip Pascal, tapi sintaksnya sangat disederhanakan, dan belajar konsep-konsep dasar programming tanpa perlu terlalu khawatir dengan masalah sintaks. Setelah itu, mereka belajar Java. Kelebihan kedua kelas ini, menurut saya, adalah profesor-profesornya sudah mengkode library yang customized untuk kelas-kelas ini, termasuk tampilan grafis yang menarik dan struktur data yang lebih learner-friendly. Sejak awal, dari semua tugas kedua kelas ini, programming dibuat menantang, tapi hasilnya bisa dinikmati. Tugas terakhir CS 106A adalah membuat facebook yang bisa diikuti dan dimainkan murid-murid pengambil kelas tersebut (dan Mark Zuckerberg jadi surprise guest lecturer di kelas terakhir). Tugas terakhir kelas CS 106B adalah versi sederhana Google Map.

Waktu orientasi, ada ‘demo kelas’ tentang machine learning. Profesornya nunjukkin video helikopter akrobatik yang muter2 di angkasa, dan bilang kalo itu dimulai dari proyek siswa sophomore (tingkat dua). Kelas CS 193 (iPhone & iPad Application Programming) menghasilkan aplikasi2 yang sekarang ada di iTunes Store. Aplikasi Pulse untuk iPad yang mendapat rave reviews di TechCrunch adalah hasil kelas di d.school. Tugas akhir kelas database adalah membuat situs seperti eBay. Salah satu hasil terbaiknya adalah website ini (murid yang membuat website tsb juga membuat website YouTube Instant yang sempat viral, diliput TechCrunch, dan ditawari posisi di YouTube langsung oleh CEOnya via Twitter. Awesome guy in person too).

Caution : ternyata ytinstant nggak jalan optimal di internet di Indonesia. Intinya, website itu seperti Google Instant, jadi video yang ditunjukkin bakal berubah as we type.

Humanities and Critical Thinking

Beberapa bulan lalu, di blog ini saya sempat bicara tentang kurangnya mandatory reading dalam pendidikan Indonesia:

It occurred to me that Indonesian school system has been terribly undervaluing the benefits of assigned reading. It’s rare in the first place. When we did have a reading, tasks will be on language (synopsis, etc) , largely ignoring the topics and contents it brought forward. Books are perceived merely as a matter of language and not as a provoker of new ideas and thoughts. Somehow we are educated to read for the sake of the story itself, and not for the meaning behind it.

dan setelah tiga bulan terakhir ini, saya jadi merasa bahwa masalahnya bukan mandatory reading itu sendiri, tapi tiadanya fokus pendidikan critical thinking di kehidupan sehari-hari. Dalam pendidikan di US, ini dicapai oleh pelajaran humanities, seperti dengan sangat jelas dituturkan video ini (berjudul “In Defense of Humanities”, oleh profesor di Stanford). Kelas-kelas humanities mendorong kita bertanya dan mendiskusikan life questions, mendorong kita untuk berpikir tentang hal-hal yang biasanya kita take for granted. Semua mahasiswa tingkat 1 di Stanford wajib mengambil 3 quarter Introduction to Humanities. Quarter kemarin, kelas humanities saya mengajak murid untuk membayangkan bagaimana teknologi bisa membentuk masa depan yang utopian atau dystopian. 2 quarter ke depan, kita bakal menelaah ajaran berbagai macam agama.

Sistem discussion section buat saya sangat bisa (tapi saya belum lihat) diterapkan di sekolah menengah Indonesia. Dua kali seminggu, selama sejam, sekitar 15 orang murid duduk di sekeliling meja kotak besar bersama seorang guru, dan kita berdiskusi atau berdebat tentang topik pelajaran itu. Guru benar2 jadi fasilitator dan berlaku seperti salah satu peserta diskusi juga. Selama ini yang saya pernah rasakan adalah diskusi kelompok 3-4 orang, lalu mempresentasikan di depan kelas dan orang bisa bertanya. Saya agak kurang suka dengan sistem ini, karena tendensi orang adalah menjatuhkan argumen mereka yang berpresentasi. Sementara dalam diskusi atau bahkan debat semeja, semua orang sadar kalau kita membangun argumen secara konstruktif.

Kesimpulannya, banyak aspek pendidikan Barat yang bisa kita pelajari dan terapkan di Indonesia – keterbukaan terhadap individualitas dan diversitas, tugas-tugas yang praktikal, dorongan untuk menemukan dan memulai hal baru, pemikiran kritikal dalam kehidupan sehari-hari, dan kepercayaan terhadap murid.

Let me know what you think! Feel free to share your experiences too

Link : http://angelinaveni.com/2010/12/12/merefleksikan-pendidikan/

semoga share artikel ini dapat menambah wawasan anda ^^v

 

Related Posts

Put your related posts code here

Post a Comment

About Me

Here I'll share my knowledge, discovery and experience related to my hobby and work. Most articles on this site are related to my travelling experiences More

Want to subscribe?

 Subscribe in a reader Or, subscribe via email:
Enter your email address:  
Memorizing Like an Elephant