Calon Pengantin di Aceh Harus Bersertifikasi

Written on December 11, 2010 – 12:32 pm | by Aris Rinaldi | tags , , |

BANDA ACEH–MICOM: Semua calon pengantin di Kota Banda Aceh kini wajib mempunyai sertifikasi penilaian layak menikah sebelum mereka resmi menikah. Sertifikasi tersebut bisa didapatkan calon pengantin dengan mengikuti kursus pranikah yang diselenggarakan Kantor Kementrian Agama Kota Banda Aceh.

“Pendidikan pranikah ini menjadi sangat penting sebagai bekal bagi calon pengantin untuk menjalani kehidupan yang baru,” Kata Kepala Kantor Kementrian Agama Kota Banda Aceh Aiyub Ahmad saat memberikan materi manajemen rumah tangga bagi para calon pengantin di Banda Aceh, Kamis (9/12).

Dalam kesempatan itu sebanyak 150 orang calon pengantin di Kota Banda Aceh turut mengikuti program kursus tersebut.

“Mereka akan menjalani kehidupan yang berbeda dari sebelumnya, kalau dulu sendiri, sekarang berdua bahkan lebih, jadi perlu kesiapan mental dan psikologis. Menikah bukan hanya didorong oleh keinginan dan nafsu tapi lebih mengutamakan nilai ibadahnya,” jelasnya.

Senada dengan Aiyub, Kepala BKKBN Aceh Nasrullah Jakfar MA mengatakan, tujuan sertifikasi tersebut untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, sikap, dan prilaku positif calon pengantin dalam membangun bahtera rumah tangga, baik secara agama maupun kesehatan.

“Jika tidak mengikuti sertifikasi, calon pengantin tidak bisa menjalani pernikahan, sedangkan yang ikut sertifikasi, nantinya akan diberi sertifikat setelah mengikuti kursus singkat tersebut,” jelas Nasrullah.

Seorang peserta kursus pranikah, Harni (28), warga Kabupaten Aceh Tengah bersama pasangannya Khairil (30), yang akan menikah 14 Desember 2010 mengatakan senang mengikuti pendidikan pranikah tersebut, meskipun keduanya tidak mendapat fasilitas khusus, karena keduanya adalah pasangan cacat tuna netra.

“Fasilitas khusus maksudnya adalah buku saku dan lembar ujian post test dengan huruf braile, jadi kami tidak bisa membaca buku saku yang diberikan, tapi tidak mengapa karena sudah mengikuti penyajian materi dari para narasumber yang ada,” ujar Harni.

Untuk program tersebut BKKBN Aceh diberi anggaran sebesar Rp500 juta oleh Pemerintah Aceh yang dananya bersumber dari APBA 2010. “Dana tersebut diperuntukkan kepada 1.000 calon pengantin atau yang sering disebut calon “linto” (mempelai laki-laki) dan “dara baro” (mempelai wanita) atau calinda. Sementara, di Aceh ada 25.000 calinda yang menikah setiap tahunnya,” terang Nasrullah.(Ant/pj/OL-04)

sumber : klik ini

 

Related Posts

Put your related posts code here

Post a Comment

About Me

Here I'll share my knowledge, discovery and experience related to my hobby and work. Most articles on this site are related to my travelling experiences More

Want to subscribe?

 Subscribe in a reader Or, subscribe via email:
Enter your email address:  
Memorizing Like an Elephant