Curhatan rakyat Padang untuk SBY
Thursday, December 30th, 2010
Just Aris Weblog
Batu – Kisah perjalanan Arif Suyono meniti karir sebagai pesepakbola profesional tidak mulus-mulus saja. Pada satu waktu, supersub timnas Indonesia di Piala AFF 2010 itu bahkan harus mendapatkan sepatu sepakbola hasil berutang.
Peristiwa tersebut terjadi sekitar sepuluh tahun lalu, saat Arif masih berusia 16 tahun. Ketika itu pemuda kelahiran Batu, Malang, tersebut hendak ikut seleksi masuk ke dalam tim Piala Gubernur.
Yang menjadi masalah, alumni SMU Islam Batu tersebut tidak lagi memiliki sepatu sepakbola yang layak pakai. Sepatu yang ia miliki saat itu, sebuah sepatu pemberian teman sekolahnya, sudah koyak.
Kegelisahan gelandang Sriwijaya FC itu tak luput dari perhatian keluarga besarnya. Ningsih, kakak kedua Arif, pun akhirnya nekat berutang sepatubola dengan harga Rp 150 ribu demi sang adik.
“Kami kasihan lihat dia, bingung untuk dapat sepatu, kemudian kami sepakat mengutangkan di sebuah toko sepatu yang saya kenal,” cerita Ningsih sembari meneteskan air mata.
Melihat kakaknya membawa sepatu baru, Arif muda tak ayal langsung berlinangan air mata. “Kemudian dia berangkat dengan menangis. Kami sekeluarga tiap malam menggelar salat untuk mendoakan dia saat itu. Agar bisa jadi orang sukses,” tutur Ningsih.
Faktor ekonomi memang menjadi salah satu kendala dalam perjalanan Arif menimba ilmu sepakbola. Tak jarang ia sampai harus menunggu hasil upah sang ayah sebagai buruh di pasar, sebelum berangkat latihan.
“Kalau mau minta ongkos berangkat, kami kakak-kakaknya harus meminta uang kepada bapak, dengan mendatangi ke pasar,” ungkap Ningsih.
Untungnya Arif yang kelahiran 3 Januari 1984 tersebut memang dapat limpahan dukungan tanpa henti dari keluarga besarnya. Impian pemain yang dibesarkan bersama 12 saudaranya itu selalu ditempatkan sebagai prioritas keluarganya.
“Tujuan kami saat itu Arif biar jadi orang sukses dan mampu membantu keluarga. Karena kami 12 bersaudara dengan orangtua hanya kerja serabutan,” ujar Ningsih yang tiada hentinya meneteskan air mata.
Saat ini Arif sudah sukses, tapi ia tidak lupa kalau apa yang ia peroleh saat ini tidak lepas dari peran keluarga. Maka keluarga besarnya pun pun ikut menikmati hasilnya. Melalui kucuran dana Arif, bisnis keluarga dibangun melalui usaha kripik.
Muhammad Aminudin – detiksport
Congratulation Malaysia for the AFF-Suzuki Cup win!
Enjoy and Let’s uphold sportsmanship.

‘Pasangan’ pulau terketak dekat Rockport disebut Zavikon. Dua pulau itu termasuk kumpulan ‘kepulauan seribu’ yang berada di Saint Lawrence River di Teluk Alexandria, perbatasan AS-Kanada.
Persetujuan batas wilayah ini telah disepakati antara kedua Negara-AS dan Kanada-sejak 1793. Namun kedua Negara memutuskan tidak akan membagi dua pulau diperbatasan. Sekitar 2/3 pulau berada di wilayah kanada, 1/3 nya berada di amerika. AS maupun Kanada, menganggap posisi mereka setara dalam hal kepemilikan pulau.
Namun bagi pemandu wisata ini merupakan ‘keuntungan’ karena dari segi pariwisata keberadaan dua pulau ini menjadi sangat unik dan menarik ‘dijual’. Para pemandu wisata ingin jembatan internasional terkecil di dunia diketahui khalayak.
Pulau besar yg diklaim sebagai wilayah kanada dibangun rumah, sementara pulau kecil yg merupakan bagian dari Amerika, berfungsi sebagai halaman belakang rumah.
Dua pulau yang saling berdekatan ternyata berada dalam dua wilayah berbeda. Pulau yang besar berada dalam wilayah Kanada sedang pulau yg kecil berada di wilayah Amerika Serikat. Yang menarik dua pulau beda Negara ini dihubungkan oleh jembatan sepanjang 10 meter. Inilah jembatan internasional terkecil atau terpendek di dunia.
Link Artikel : Kaskus.us

Harvest City, Kota Industri mengambang yang memiliki pemandangan yang sangat Indah. Harvest City dirancang oleh Tangram 3DS yang berkolaborasi dengan Boston E. Arsitek / Designer Kevin Schopfer untuk memvisualisasikan proposal Rancangan Desain untuk membangun sebuah Kota Industri yang mengambang di lepas pantai Haiti. Proposal pembangunan Harvest City ini memiliki tujuan untuk membangun Kota Industri mengambang Pertanian maka dari itu dinamakan dengan “Harvest City”. Harvest City digambarkan sebagai Kota yang berfungsi penuh dinamis dengan 30.000 penduduk yang mencakup tiga konsep utama.
Harvest City didesain dan dirancang sebagai sebuah kompleks yang memiliki diameter 2 mil dari modul mengambang yang ditambatkan. Desain keseluruhan dibagi menjadi empat zona atau komunitas interkoneksi oleh sistem kanal linier. Empat saluran utama yang memiliki akan fokus lingkungan dibangun terdiri dari empat cerita kompleks perumahan. Perimeter luar dari desain didominasi “satu hektar” lingkaran tanaman dengan saluran pengumpan sekunder. “Pelabuhan” Kota,rumah pusat kota dengan sekolah, administrasi, kegiatan masyarakat dan pasar umum. Seluruh kompleks akan mengapung dan kabel dirancang dan diletakkan di dasar laut. Karena profile yang rendah, kapasitas rancangan berat badan rendah mati dan attenuators perimeter gelombang, badai dan topan akan memiliki sedikit efek selain kumpulan air yang sangat dibutuhkan panen. Breakwater akan dibangun untuk menambah stabilitas kota. Breakwater dibangun menggunakan Semua Puing-puing Beton dari Gempa. Beton-beto ini akan mengisi Breakwater.
Bacaan Lebih Lengkapnya : Kaskus.us
Masih sangat jelas dalam ingatan saya, setiap detil kejadian pada hari itu, hari yang sangat kelam, INDONESIA, khusus nya Aceh di timpa bencana yang maha dashyat.
Hari itu. 26 desember 2004
Pukul 08.00 (JL.A.R hakim gang kolam no.59, MEDAN)
Saya tersentak bangun karena abang saya yang sedang main PS tiba2 ngomel
“de, jangan goyang-goyang lah, aku lagi main ni”
Saya bingung, jarak tempat tidur ke posisi dia ga memungkinkan buat merasakan goncangan yang saya buat dan saya juga tidak merasa telah membuat goncangan.
Dan tiba-tiba..
Orang tua saya berteriak dari luar.”GEMPA-GEMPA!!”
Secara spontan kita berdua lari keluar rumah.
Gempa pada saat itu lumayan lama dan kuat.( Saya lupa berapa skala ritcher).
Pukul 10.00
Setelah gempa itu saya segera packing untuk berlibur ke Aceh. Saat itu ayah saya masih menjadi salah satu karyawan perusahaan swasta di lhokseumawe,Aceh. Jadi sering PP Aceh-medan.
Setelah selesai berkemas, saya, ayah dan adik saya menuju terminal sedangkan abang dan ibu saya stay di medan. Sesampainya di terminal, supir beserta orang2 yang ada disana keliatan panic, katanya Aceh banjir, jadi tidak bisa menempuh perjalanan kesana. Namun setengah jam kemudian, tiba2 semua nya berubah dan perjalanan tetap di teruskan.
pukul 11.00
Bus berangkat menuju Aceh, waktu itu saya masih duduk di kelas 2 SMP dan adik saya masih duduk di kelas 2 SD. Awal perjalanan terasa biasa saja, namun di suatu daerah(saya lupa nama daerah nya). Saya melihat rumah-rumah hancur, kondisi daerah itu berantakan dan saya melihat sebuah Mesjid yang berdiri kokoh dan didalam nya banyak orang yang berlindung, banyak yang sholat dan berdoa.
Dan bus kami tumpangi mulai mengurangi kecepatan, karena kawasan itu sedang kacau, banyak orang yang naik ke bus untuk meminta sumbangan. Sesungguh nya waktu itu saya belum tau apa yang sebenarnya terjadi.
pukul 15.00
Setelah melewati kawasan itu, tiba2 bus yang kami tumpangi mogok!!
Ternyata bus mengalami kerusakan dan tidak dapat beroperasi sampai tujuan. Seisi bus terpaksa keluar dan menunggu bus selanjut nya datang.
pukul 18.00 (komplek perumahan PT.AAF)
Setelah menumpangi bus yang kedua kami (saya, adik dan ayah saya) akhirnya sampai di tempat tujuan.
Tapi. Lagi-lagi kami kurang beruntung, komplek Perumahan saat itu dalam keadaan Gelap gulita, tidak ada penerangan satu pun. Tidak ada kendaraan yang beroperasi saat itu serta tidak ada sinyal sama sekali.
Ayah pun bingung dan Akhirnya kami ber-3 menuju mes dengan jalan kaki.
pukul 21.00
Sampai di mes Kompleks. Hanya ada beberapa temen ayah disana. Keadaan masih tanpa listrik dan tanpa sinyal. Dan ayah menyuruh kami untuk istirahat.
Keesokan Harinya
Di semua siaran TV menyiarkan tentang apa yang terjadi kemarin di Bumi Serambi Mekkah.
Astaghfirullah, ayah dan teman2 tidak berkedip melihat apa yang siarkan TV. Telah terjadi Bencana Tsunami di Bumi serambi mekkah yang menewaskan ratusan ribu orang, serta korban hilang yang tak terhitung banyaknya. Begitu kira-kira yang disampaikan oleh reporter disalah satu station TV swasta.
Dan kami baru sadar, gempa yang kami rasakan di Medan kemarin adalah dampak dari gempa yang dirasakan di Aceh yang mengakibatkan terjadinya Bencana Tsunami.
Ketika ada sinyal, serbuan SMS dan pesan Veronica masuk ke HP ayah saya, tidak lain itu sebagian besar pesan teks dan pesan suara dari ibu saya di Medan yang sangat mengkhawatirkan kami, ternyata berita tentang Bencana itu telah di siarkan dari kemarin. Sebagian lainnya dari saudara-saudara dan teman-teman ayah, yang isi nya hampir sama, menanyakan tentang bagaimana keadaan kami.
Dan dalam sekejap,
Aceh, my chillhood town, telah berubah, semua rata dengan tanah, tak ada lagi keindahan, tak ada lagi kegembiraan dari warga aceh. Semua berubah 180 derajat.
Astaghfirullah’al azim..
Tiga hari saya berada di Aceh sebelum akhirnya pulang kembali ke Medan, banyak hal yang saya lihat, banyak pelajaran yang saya petik, banyak pengalaman yang saya dapat.
*dari kejadian ini, MARILAH KITA MENGENANG, MERENUNG SEJENAK, DAN SEGERA MEMPERBAIKI DIRI MENJADI HAMBA-NYA YANG JAUH LEBIH BAIK*
Penulis : Ade Sandria( Statistika Unpad 2009, Adik Saya)
masih pada bingung mau dapet tiket AFF 2010?
males ngantri?
Kaskus Solusinya—-> cek tkp : KLIK INI
Yup, saya baru menyelesaikan quarter pertama saya sebagai mahasiswi Stanford University! Tiga bulan ini sangat berarti buat saya – saya melihat kultur yang berbeda, mengadaptasi cara pandang yang berbeda, merasakan gaya pendidikan yang berbeda. Dalam post ini saya ingin berbagi aspek-aspek pendidikan Stanford yang mengesankan saya, refleksi saya terhadap pendidikan yang saya dapat di Indonesia sebelumnya dan apa yang saya harap bisa diterapkan di Indonesia.
Moral, bukan agama
Sebulan sesudah saya mulai bersekolah, saya bertemu His Holiness the Dalai Lama saat beliau berbicara di Stanford mengenai compassion. Poin speechnya yang paling berkesan buat saya, adalah ketika beliau bilang bahwa compassion itu tidak melihat agama, dan bahwa pendidikan seharusnya tidak religiocentric atau berpusat pada suatu ideologi agama, namun pada moral values, compassion, yang universal. Menarik, mengingat beliau adalah pemimpin agama.
Saya setuju dengan beliau. Rasanya struktur pendidikan agama di Indonesia tidak sesuai dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika itu sendiri. Katanya negara kita negara toleransi dan understanding antar 5 agama, tapi saya merasa hampir tidak tahu apa2 tentang Buddha, Hindu, dan Islam dari sekolah, selain nama kitab suci mereka, nama tempat ibadah, nama hari raya, nama tokoh besar. Yup, hal-hal penting. Tapi superfisial. Pertama kalinya saya merasa ‘mengerti’ agama, adalah ketika saya sekamar dengan teman beragama Islam sewaktu pelatihan, dan dia mengajarkan saya arti gerakan-gerakan sholat. Di Stanford, saya belajar meditasi Buddhisme Zen dan belajar ideologi mereka, dan ternyata banyak yang bisa saya pelajari dari sana.
Pendidikan agama di Indonesia yang cuma berpusat pada 1 agama tertentu, membawa notion bahwa agama lain adalah “bukan agama saya, bukan urusan saya.” Menurut saya, pendidikan moral seharusnya menarik ideologi kelima agama dan menelaahnya secara universal, yang berlaku pada semua orang. Bila ada aspek2 di mana ajaran mereka berlawanan, telaahlah tentang semuanya. Jangan take side tentang mana yang benar. Pelajarpun akan tumbuh menjadi orang-orang yang dunianya tidak berpusat pada kepercayaannya sendiri, tapi peduli dan punya deeper understanding tentang kepercayaan lain. Pelajaran bukan mestinya berarah pada membuat murid beriman, tapi memberikan pengetahuan dan latar belakang untuk mendorong murid menemukan imannya sendiri.
Trust, Expectation, Responsibility
Saya kaget banget waktu ujian pertama saya di sini. Kita masuk ke auditorium, duduk sesuka hati, dibagiin kertas ujian, lalu semua lecturer/TA keluar dari ruangan dan nunggu di luar. Ga ada orang yang jaga ruang ujian. Yang ada cuma 1 paragraf di depan kertas ujian “Saya mengerti dan menjalankan Honor Code. Saya tidak menerima bantuan yang tidak diizinkan sebelum, ataupun selama tes berlangsung.” dan tanda tangan kita. Kalau mau mencontek, gampang aja. Di sini murid bener2 dipercaya… Ekspektasi awal orang terhadap murid positif, bukan negatif. Kami dipercaya membuat keputusan sendiri, bahwa kita bisa bertanggung jawab atas kepercayaan itu. Ini tercermin juga dari kelas online wajib AlcoholEdu, tentang alkohol di kampus. Yang menarik, di pendahuluan kelas itu, ditulis : “Kami tidak akan menggurui kamu untuk tidak minum. Kami hanya akan memberikan informasi, dan adalah kebebasan kamu untuk memutuskan.”
Ini buat saya breath of fresh air. Saya biasa dibilang, jangan begini, jangan begitu. Rasanya selalu ada prasangka yang unspoken, seperti kita harus selalu diarah-arahkan untuk bisa berbuat benar. Seperti kita akan mencontek kalo nggak ada yang melihat. Seperti kita bakal melakukan hal buruk kalo kita nggak ada yang melarang. Rasanya, kepercayaan seperti yang diterapkan di sini lebih ampuh. Karena merasa dipercaya, ada rasa tanggung jawab. Dan nggak ada bahan untuk ‘diberontakkan’, seperti yang, rasanya, banyak terjadi pada orang-orang yang terlalu banyak diatur. Poin saya di sini : expect yang terbaik dari murid, dan pastikan kalau murid menyadari itu.
Diversitas dan Individualitas
Pendidikan di US membawa apresiasi akan diversitas ke level yang lebih jauh, dengan membentuk jurusan-jurusan baru yang menggabungkan jurusan2 berbeda yang saling berkaitan (interdisciplinary study). Misalnya, Symbolic Systems (contoh lulusan : Google’s Marissa Mayer) yang menggabungkan Computer Science, Philosophy, Psychology, Linguistics, Communication, dan Education – memberikan programmer2 spesialisasi dalam mengerti dan mengkomunikasikan keinginan user. Management Science & Engineering yang seperti menspesialisasikan MBA ke bidang-bidang sains dan engineering. Human Biology, yang menggabungkan biologi, farmasi obat2an, nutrisi, dan antropologi. Interdisciplinary study seperti ini membawa pendidikan ke arah yang lebih spesifik dan terspesialisasi, serta mendayagunakan orang-orang yang punya beragam interest. Hampir semua (atau semua?) departemen memungkinkan mahasiswa untuk mendesign majornya sendiri.
Pendidikan di sini menghargai individualitas – tugas-tugas di kelas banyak yang sangat open-ended dan memungkinkan siswa melakukan apa yang jadi passionnya tanpa banyak pembatasan. Tugas akhir kelas humanities saya, misalnya, hasilnya bermacam2: film, film bisu, skit, rap, bahkan dunia virtual hasil permainan The Sims. Dan para profesor pun bisa menghargai hasil-hasil yang nggak konvensional. Salah satu hal yang paling sering ditekankan kepala asrama saya adalah kata-kata : “Don’t judge.” Jangan mengomentari atau mempertanyakan preferensi teman kamu dalam aspek apapun. Kalau kamu ditanya kenapa suka The Beatles, misalnya, jawaban “Because I do.” adalah jawaban yang valid, dan orang lain nggak punya hak bertanya lebih jauh.
Dua aspek ini terkadang hilang dari sistem pendidikan Indonesia. Murid didikte akan kelas-kelas apa yang harus diambil, dan ada semacam persepsi akan pelajaran mana yang lebih penting daripada yang lain. Pertanyaan yang tidak open-minded menjuruskan pikiran murid ke satu arah tertentu, dan sering kali pelajaran memojokkan orang dengan cara pandang yang berbeda.
Entrepreneurship
Di sini saya benar2 sadar kunci utama kemajuan entrepreneurship di US : pendidikan. Universitas, terutama. Teman saya, graduate student yang sempat intern di Facebook summer lalu, bilang kalo waktu dia bertemu mahasiswa CS di Stanford, hampir semua bilang kalau mereka mau membuat startups, bukan bekerja. Emphasis Stanford terhadap entrepreneurship benar2 kuat – aura entrepreneurship di sini adalah one of those things yang harus ada di sini untuk ‘ngerasain’ itu. Environmentnya luar biasa kondusif. Kerja di small or start-up company adalah sesuatu yang hip di sini. Mahasiswa punya start-up itu biasa. Banyak faculty di sini yang entrepreneurs themselves atau berhubungan dekat dengan perusahaan2 (presiden Stanford, John Hennessy, adalah boardmember di Google dan banyak company lain) – dan mereka ready untuk mentor entrepreneurs secara langsung. Professor Frederick Terman, misalnya, menjadi mentor Hewlett dan Packard waktu mereka masih di garasi di Palo Alto, dan mendorong terbentuknya Silicon Valley. Larry Page dan Sergey Brin sering menyebut Professor Terry Winograd sebagai pengaruh besar terbentuknya Google.
Di kampus, kami punya Stanford Student Startup Lab (semacam YCombinator), Stanford Technology Venture Program, seminar mingguan tentang entrepreneurship, kelas entrepreneurship, konferensi entrepreneurship, Startup School, dan banyak kontes-kontes entrepreneurship di kampus. Kami punya job fair khusus start-ups. Kedekatan kami dengan Silicon Valley membawa banyak tokoh bicara di sini – dalam tiga bulan, saya bertemu Seth Sternberg (cofounder Meebo), Peter Thiel (CEO Paypal & venture capitalist), beberapa venture capitalist dan eksekutif dari Facebook, Twitter, dan Foursquare. Mark Zuckerberg ‘mampir’ ke salah satu kelas pendahuluan Computer Science. VC atau tokoh2 Silicon Valley sering datang ke sini menilai presentasi2 tugas akhir.
Ujung tombak perubahan adalah universitas. Untuk Indonesia bisa membentuk ‘Silicon Valley’nya sendiri (seperti wacana yang belakangan ini sering muncul), yang harus ada di depan bukan pemerintah, tapi universitas – bagaimana mereka melibatkan startups yang sekarang menjamur di Indonesia dalam proses pendidikan, dan berperan lebih aktif dalam mengembangkan kultur entrepreneurship. First and foremost, seharusnya, adalah bagaimana membuat bekerja di startup sebagai sesuatu yang nggak asing atau aneh. Dari sisi lain, startups juga baiknya membuka kesempatan magang bagi mahasiswa-mahasiswa.
Praktikalitas
Selama SMA, saya mengamati, dan merasakan, bagaimana pelajaran dasar programming sangat mudah untuk jadi ‘membosankan’. Kode looping, percabangan, teks hasilnya keluar di layar warna hitam…. Dan murid akan bertanya, “terus kenapa? Apa gunanya?” Dan waktu saya sempat mengajar di beberapa pelatihan, saya cuma bisa bilang “sabar ya. ini masih dasar, tapi bentar lagi ada good stuffnya.” Karena itu saya impressed melihat bagaimana approachable-nya kelas programming dasar di sini.
Kelas dasar programming di Stanford terdiri dari 2 bagian, CS 106A dan CS 106B. Kelas CS 106A menarik hampir seribu murid setiap tahunnya, sebagian besar tanpa pengalaman programming sebelumnya. Minggu pertama kelas itu, mereka bermain dengan Karel, teaching language mirip Pascal, tapi sintaksnya sangat disederhanakan, dan belajar konsep-konsep dasar programming tanpa perlu terlalu khawatir dengan masalah sintaks. Setelah itu, mereka belajar Java. Kelebihan kedua kelas ini, menurut saya, adalah profesor-profesornya sudah mengkode library yang customized untuk kelas-kelas ini, termasuk tampilan grafis yang menarik dan struktur data yang lebih learner-friendly. Sejak awal, dari semua tugas kedua kelas ini, programming dibuat menantang, tapi hasilnya bisa dinikmati. Tugas terakhir CS 106A adalah membuat facebook yang bisa diikuti dan dimainkan murid-murid pengambil kelas tersebut (dan Mark Zuckerberg jadi surprise guest lecturer di kelas terakhir). Tugas terakhir kelas CS 106B adalah versi sederhana Google Map.
Waktu orientasi, ada ‘demo kelas’ tentang machine learning. Profesornya nunjukkin video helikopter akrobatik yang muter2 di angkasa, dan bilang kalo itu dimulai dari proyek siswa sophomore (tingkat dua). Kelas CS 193 (iPhone & iPad Application Programming) menghasilkan aplikasi2 yang sekarang ada di iTunes Store. Aplikasi Pulse untuk iPad yang mendapat rave reviews di TechCrunch adalah hasil kelas di d.school. Tugas akhir kelas database adalah membuat situs seperti eBay. Salah satu hasil terbaiknya adalah website ini (murid yang membuat website tsb juga membuat website YouTube Instant yang sempat viral, diliput TechCrunch, dan ditawari posisi di YouTube langsung oleh CEOnya via Twitter. Awesome guy in person too).
Caution : ternyata ytinstant nggak jalan optimal di internet di Indonesia. Intinya, website itu seperti Google Instant, jadi video yang ditunjukkin bakal berubah as we type.
Humanities and Critical Thinking
Beberapa bulan lalu, di blog ini saya sempat bicara tentang kurangnya mandatory reading dalam pendidikan Indonesia:
It occurred to me that Indonesian school system has been terribly undervaluing the benefits of assigned reading. It’s rare in the first place. When we did have a reading, tasks will be on language (synopsis, etc) , largely ignoring the topics and contents it brought forward. Books are perceived merely as a matter of language and not as a provoker of new ideas and thoughts. Somehow we are educated to read for the sake of the story itself, and not for the meaning behind it.
dan setelah tiga bulan terakhir ini, saya jadi merasa bahwa masalahnya bukan mandatory reading itu sendiri, tapi tiadanya fokus pendidikan critical thinking di kehidupan sehari-hari. Dalam pendidikan di US, ini dicapai oleh pelajaran humanities, seperti dengan sangat jelas dituturkan video ini (berjudul “In Defense of Humanities”, oleh profesor di Stanford). Kelas-kelas humanities mendorong kita bertanya dan mendiskusikan life questions, mendorong kita untuk berpikir tentang hal-hal yang biasanya kita take for granted. Semua mahasiswa tingkat 1 di Stanford wajib mengambil 3 quarter Introduction to Humanities. Quarter kemarin, kelas humanities saya mengajak murid untuk membayangkan bagaimana teknologi bisa membentuk masa depan yang utopian atau dystopian. 2 quarter ke depan, kita bakal menelaah ajaran berbagai macam agama.
Sistem discussion section buat saya sangat bisa (tapi saya belum lihat) diterapkan di sekolah menengah Indonesia. Dua kali seminggu, selama sejam, sekitar 15 orang murid duduk di sekeliling meja kotak besar bersama seorang guru, dan kita berdiskusi atau berdebat tentang topik pelajaran itu. Guru benar2 jadi fasilitator dan berlaku seperti salah satu peserta diskusi juga. Selama ini yang saya pernah rasakan adalah diskusi kelompok 3-4 orang, lalu mempresentasikan di depan kelas dan orang bisa bertanya. Saya agak kurang suka dengan sistem ini, karena tendensi orang adalah menjatuhkan argumen mereka yang berpresentasi. Sementara dalam diskusi atau bahkan debat semeja, semua orang sadar kalau kita membangun argumen secara konstruktif.
Kesimpulannya, banyak aspek pendidikan Barat yang bisa kita pelajari dan terapkan di Indonesia – keterbukaan terhadap individualitas dan diversitas, tugas-tugas yang praktikal, dorongan untuk menemukan dan memulai hal baru, pemikiran kritikal dalam kehidupan sehari-hari, dan kepercayaan terhadap murid.
Let me know what you think! Feel free to share your experiences too
Link : http://angelinaveni.com/2010/12/12/merefleksikan-pendidikan/
semoga share artikel ini dapat menambah wawasan anda ^^v
alhamdulilah, sekarang ane jadi penulis tetap di
serving you in very simple way
semoga tulisan ane disononya bermanfaat ^^v