DILARANG MENGINJAK RUMPUT: Tanya Kenapa?

Written on September 7, 2010 – 1:55 am | by Aris Rinaldi | tags , |

Banyak diantara kita mungkin sudah menonton film-film  Box Office bertemakan kehidupan mahasiswa di suatu universitas di Inggris atau Amerika. Apabila kita menonton film-film tersebut sering kita lihat adegan-adegan dimana mahasiswa melakukan berbagai aktivitas diatas rumput, seperti belajar bersama, latihan ekstrakurikuler atau sekedar mengobrol dan berdiskusi tentang suatu masalah. Tidak ada plang putih besar bertuliskan “Do Not Step On the Grass” alias “Dilarang Menginjak Rumput”. Tidak ada yang mengusir atau memarahi mereka. Mereka bebas beraktivitas dan berkreativitas.

Kondisi diatas tentunya sangat berbeda dengan yang terjadi di kampus ITB yang katanya sedang menuju World Class University. Rektorat menjadi sangat menyayangi rumput, melebihi kasih sayang dan kebebasan yang diberikan kepada mahasiswa. Banyak pengalaman dialami mahasiswa yang “kena semprot” saat harus menginjak rumput di daerah-daerah terlarang. Contohnya Via (BI 08, color guard MBWG). Via menceritakan “Waktu itu kita (Color Guard MBWG) sedang latihan dan pelatih kita harus berdiri diatas rumput CC Timur. Satpam ngeliatin dan ngawasin terus. Sampai akhirnya satpam nyamperin terus ngelarang ga bolehnginjek rumput”. Pengalaman tidak mengenakan karena peraturan “Dilarang Menginjak Rumput” ini juga dialami oleh Panitia Pasar Seni ITB. Menurut Zico Kadiv Humas Pasar Seni “Kita sangat terganggu dengan peraturan tersebut. Banyak kegiatan pasar seni yang menjadi sangat terhambat karenanya. Sawah Pasar Seni contohnya. Sawah-sawah yang kami buat dipindahkan seenaknya dengan alasan rumput lapangan SR tidak boleh terinjak. Kita ngumpul-ngumpul di lapangan SR aja dilarang. Kalau kita mau bikin kegiatan diatas rumput, rektorat langsung menyuruh kita melupakan rencana tersebut”. Pengalaman Via dan Zico mungkin hanya dua dari sejumlah pengalaman teman-teman mahasiswa ITB yang merasa terganggu dan terbatasi karena peraturan ini. Rasanya aneh apabila suatu kegiatan postif dan bermanfaat harus terhambat karena rumput-rumput ini.

Mungkin kita sering bertanya-tanya, sebenarnya apa latar belakang rumput-rumput ini tidak boleh diinjak? Rumput-rumput di lapangan bola bisa leluasa diinjak, mengapa rumput di ITB tidak bisa? Padahal nampaknya rumput-rumput yang hidup di ITB bukan tipe rumput-rumput sintetik yang mahal dan memerlukan perawatan khusus. HIMASITH Nymphaea mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dengan melakukan kajian kecil tentang karakter beberapa jenis rumput yang hidup di ITB dan ketahanan pertumbuhannya

Ketahanan rumput dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti panjang akar, kepadatan tanah, kemampuan recovery rumput dan habitat asalnya. Panjang akar dan kepadatan tanah berpengaruh dalam kemampuan rumput tersebut mendapatkan nutrisi di dalam tanah. Tanah yang terlalu sering diinjak dalam jangka waktu tertentu akan mempengaruhi kepadatan tanah. Tanah yang terlalu padat akan mempersulit akar rumput dalam mendapatkan unsur-unsur hara yang dibutuhkannya. Selain itu penginjakan dapat mempengaruhi kelembapan tanah. Namun masalah kelembapan tanah tentunya dapat diatasi selama tanah tempat rumput tumbuh masih diairi (tersiram hujan). Sementara kemampuan recovery berkaitan dengan waktu yang dibutuhkan rumput yang rusak untuk tumbuh kembali (memperbaiki sel-sel yang rusak dan berkembang biak). Penginjakan dapat mengganggu proses recovery. Proses recovery yang cepat menunjukan rumput tersebut memiliki ketahanan yang baik. Habitat asli juga berkaitan dengan ketahanan rumput. Rumput yang berasal dari daerah padang rumput atau savanna memiliki ketahanan yang baik dan tahan terhadap injakan. Hal ini disebabkan pada habitat aslinya, rumput tersebut sering diinjak oleh hewan-hewan yang mencari makanan diatasnya.

Pada dasarnya, daerah-daerah yang ditumbuhi rumput di ITB (seperti lapangan SR, lapangan sipil, lapangan radar, pinggir lapangan cinta dan pinggir CC Barat) tidak ditumbuhi oleh satu jenis rumput yang sama, melainkan ditumbuhi beberapa jenis rumput. Berikut ini jenis rumput yang banyak tumbuh di ITB:

1. Axonopus compressus (Jukut Pait)

Rumput ini berasal dari Amerika tropik dan tumbuh secara liar. Habitat aslinya berasal dari savanna. Memiliki batang yang masuk kedalam tanah sehingga memiliki area penyerapan yang luas  dan kemampuan recovery yang baik. Rumput ini berkembang biak dengan cepat. Jukut Pait menyukai tanah gembur. Pada tanah-tanah terbuka, Jukut Pait biasanya tumbuh merajai lapangan. Rumput ini sering ditanam untuk penutup tanah atau halaman karena rumput ini tahan terhadap pangkasan dan injakan

2. Setaria palmifolia (Jukut Sauheum)

Rumput ini berasal dari India, biasa tumbuh liar di sekitar pantai, pegunungan dan di tepi hutan-hutan sekunder. Ukurannya tergolong besar. Jukut Sauheum termasuk jenis rumput yang hidupnya menahun (musim berbunganya sepanjang tahun). Rumput ini dapat tumbuh subur baik pada tempat-tempat terbuka maupun pada tempat-tempat terlindung dan lembab. Rumput jenis ini juga dapat bertahan hidup walaupun kekurangan cahaya matahari, sebagaimana di hutan rumput ini dapat hidup di bawah naungan pohon-pohon yang rimbun.

3. Cyperus kyllingia atau Kyllinga monocephala (Rumput Kenop)

Cyperus kyllingia berasal dari daerah tropik dan subtropik di Asia. Rumput Kenop tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Rumput ini biasa hidup di perkebunan, hutan sekunder dan grasslands. Kemampuannya dalam menghadapi stress lingkungan sangat baik dan dapat bertahan hidup di area yang kering.

4.       Fimbristylis sp

Fimbristylis sp berasal dari daerah tropik di Amerika. Rumput ini terdistribusi hingga daerah Asia Tenggara. Rumput ini biasa hidup di daerah lembab (rawa). Rumput di daerah rawa memiliki akar yang pendek dan dekat permukaan tanah sehingga ketahanannya terhadap injakan kurang baik

Berdasarkan karakter-karakter diatas, rumput yang hidup di beberapa tempat di ITB sebenarnya merupakan rumput-rumput liar. Hal ini berarti rumput-rumput tersebut memiliki ketahanan hidup yang baik. Walaupun bagaimana pun juga setiap makhluk hidup termasuk rumput, memiliki batas toleransi terhadap stress yang terjadi terhadapnya. Yang terpenting adalah sikap kita dalam memperlakukan makhluk hidup tersebut. Maka daripada itu, peraturan “Dilarang Menginjak Rumput” seharusnya tidak perlu diberlakukan karena tidak memiliki latar belakang yang jelas. Kita tentunya tidak menginginkan, rektorat menggunakan rumput-rumput sebagai alasan untuk membatasi kegiatan mahasiswa dalam berkarya. Apabila hal ini benar-benar terjadi maka sungguh ironis sekali kampus kita ini.

Demi Tuhan, Untuk Bangsa dan Almamater

-Tim Eksternal dan Kajian HIMASITH Nymphaea-

 

Related Posts

Put your related posts code here

  1. 3 Responses to “DILARANG MENGINJAK RUMPUT: Tanya Kenapa?”

  2. By tobe on Mar 18, 2011 | Reply

    thanks atas infonya…

  3. By tobe on Mar 18, 2011 | Reply

    trims atas infonya…

  4. By rony on Aug 28, 2019 | Reply

    itulah kenapa kita dilarang menginjak rumput tetangga yang notabene gampang rusak

Post a Comment

About Me

Here I'll share my knowledge, discovery and experience related to my hobby and work. Most articles on this site are related to my travelling experiences More

Want to subscribe?

 Subscribe in a reader Or, subscribe via email:
Enter your email address:  
Memorizing Like an Elephant