Archive for September 21st, 2010

Tinjauan Teknis Kasus Pergerakan Badan Jalan di Jalan Martadinata Jakarta

Tuesday, September 21st, 2010

Di share via FB, saya share kembali via blog saya

silahkan dibaca dan dikomentari ^^

Para Facebookers, berikut adalah tinjauan teknis kasus pergerakan badan jalan di jalan Martadinata yang saya ambil dari materi wawancara saya dengan RCTI reporter Bandung (16 September 2010), TransTV (17 September 2010), dll. Semoga informasi ini dapat bermanfaat dan menenangkan para Facebookers:

Ada 4 pertanyaan mendasar:

  1. Mekanisme apa yg sebenernya terjadi di lapangan, apakah settlement/amblesan/penurunan konsolidasi atau kelongsoran
  2. Apa kemungkinan penyebabnya
  3. Apa pengaruhnya terhadap kondisi yang ada sekarang
  4. Apa rekomendasi action plan dan solusinya

Data dan informasi yang saya dapatkan untuk memberikan komentar teknis ini:

a. Foto-foto dari media massa.

b. Fakta bahwa timbunan badan jalan berada di Pantura Jakarta yang umumnya tanah dasarnya adalah tanah sangat lunak dng  ketebalan sampai 20m.

c. Informasi bahwa jalan yg rusak ini sudah digunakan sejak 30th yang lalu dan dilakukan penambahan perkerasan jalan setahun yang lalu.

d. Pada tanggal 16 September 2010 badan jalan dan plat beton jalan bergerak kebawah sedalam 7m.

Apabila ada informasi baru yang berbeda, ada kemungkinan komentar teknis ini perlu direvisi.

1. Mekanisme apa yg sebenarnya terjadi di lapangan, apakah settelement atau kelongsoran?

Settlement atau amblesan atau penurunan konsolidasi terjadi 5-10cm pertahun di pantura Jawa dr jakarta-Surabaya, atau penurunan 1-2 mm/minggu sehingga prosesnya pelan-pelan, sementara yg terjadi di lapangan mendadak dan turunnya badan jalan sampai 7m. Selanjutnya, dengan terjadi konsolidasi, maka tanah sangat lunak dibawah timbunan jalan akan memadat dan kekuatan geser-nya akan meningkat, artinya kalau tidak ada penyebab lain maka timbunan diatas tanah lunak semakin lama akan semakin stabil yang ditandai dengan terjadinya settlement konsolidasi tanah lunak akibat beban timbunan. Dapat disimpulkan bahwa penyebabnya bukan settlement konsolidasi tetapi yang terjadi adalah kelongsoran. Melihat kondisi umum tanah di pantura, maka kelongsoran diperkirakan terjadi pada tanah unak beserta timbunan badan jalan diatasnya dengan kedalaman bidang longsor diperkirakan maksimum mencapai 25m. Penurunan konsolidasi tanah memang terjadi di Jakarta Utara, tapi tidak ada hubungannya dengan kelongsoran tanah lunak di jalan Martadinata ini yang justeru semakin lama kekuatan tanah lunaknya akan semakin membaik. Penurunan tanah akibat pemompaan dalam juga terjadi di pantura, tetapi tidak ada hubungannya dengan tanah lunak yang longsor diatasnya. Jadi, yang terjadi adalah kelongsoran dan bukan penurunan/amblesan.

2. Apa kemungkinan penyebabnya?

Dengan terjadinya konsolidasi dan settlement, tanah sangat lunak akan turun 5-10cm/thn, akan memadat dan kekuatan geser-nya semakin lama akan semakin meningkat, atau dalam istilah geoteknik disebut “Drained Condition”, jadi kalau tidak ada penyebab lain maka semakin lama timbunan badan jalan diatas tanah lunak akan semakin stabil. Kenyataannya terjadi kelongsoran, sehingga kemungkinan lain tersebut diantaranya berupa:

  1. Beban lalu-lintas yang besar
  2. Pasang-surut dan rapid-draw down
  3. Perubahan geometri lereng jalan

Beban lalu-lintas yang besar dan beban konstruksi:

Saat kelongsoran terjadi, kondisi traffik tidak pada beban puncak yaitu tidak pada waktu tronton-tronton besar lewat atau pada waktu full live load, jadi bukan akibat beban luar atau bukan akibat beban traffik.

Akibat beban, kemungkinan yang masih bisa memberi kontribusi adalah penambahan beban akibat penambahan pavement yang rutin dilakukan guna menaikkan elevasi jalan agar tidak terendam. Umumnya, penambahan beban undrained waktu konstruksi akan berakibat langsung dan diikuti dng kelongsoran yang juga terjadi dalam masa konstruksi. Penambahan beban pavement dapat berkontribusi menurunkan safety factor, tetapi diperkirakan bukan yang memberikan kontribusi utama mengingat rutin penambahan perkerasan dilakukan beberapa waktu setelah penimbunan sebelumnya.

Pasang surut dan rapid-draw-down:

Rapi-draw-down terjadi setelah muka air laut yang tinggi kemudian diikuti dengan surut yang mendadak, ini kemungkinan bisa memberi kontribusi. Pasang-surut yang cepat dapat menyebabkan terjadinya rapid-draw-down(perbedaan tinggi air di dalam badan dan diluar badan timbunan jalan) dan juga erosi (piping) butir-butir tanah dibawah pavement jalan, ditambah lagi apabila ada drainase yang kurang baik, meskipun demikian, kontribusinya kemungkinan tidak besar mengingat pasang-surut (dan efeknya) sudah terjadi sejak 30 tahun yang lalu sepanjang umur jalan.

Perubahan geometri lereng jalan:

Kemungkinan penyebab yang lain adalah adanya perubahan geometri lereng yang menjadikan lereng badan jalan makin tajam atau tanah dibawah kaki lereng menjadi semakin dalam. Perubahan geometri lereng ini kemungkinan memberi kontribusi paling besar dalam menurunkan safety factor hingga lebih kecil dari 1.0. Hal ini juga sejalan dengan pengalaman sebelumnya oleh penulis dalam menangani kasus-kasus serupa. Perubahan geometri lereng bisa diakibatkan oleh gerusan air sungaierosi, ataupun akibat adanya aktifitas penggalian atau pengerukan. Pengalaman penulis, kalau penyebabnya adalah gerusan sungai, maka umumnya terjadi pada sisi luar daerah belokan sungai atau percabangan sungai. Kalau penyebabnya adalah penggalian atau pengerukan, maka aktifitas penggalian atau pengerukan jaraknya bisa cukup jauh dari lokasi kelongsoran karena rendahnya kuat geser tanah lunak yang perilakunya mirip seperti fluida.

Kepastian penyebab kontribusi kelongsoran ini baru dapat diperoleh setelah terkumpul data teknis dan perhitungan stabilitas lereng yang lengkap. 

3. Apa pengaruhnya terhadap kondisi yang ada disekitar lokasi yang bermasalah

Umunya berdasarkan pengalaman penulis menangani kasus serupa ini, daerah kelongsoran seperti ini akan melebar karena tanah masih dalam proses mencari keseimbangan baru. Lereng sisa yang terjal saat ini biasanya akan melandai dan diikuti oleh kelongsoran yang membesar. Sehingga perlu diantisipasi potensi melebarnya bidang kelongsoran yang bisa membahayakan pengguna jalan maupun orang disekitar lokasi kelongsoran.

4. Apa rekomendasi action plan dan solusinya

(a)  Mengunpulkan data teknis dengan melakukan penyelidikan tanah dan bathimetri untuk mengetahui profil permukaan tanah dan profil kekuatan geser tanah, as-built drawing, dan informasi tentang aktifitas-aktifitas yang dapat merubah geometri lereng sebagaimana disebutkan diatas disekitar lokasi dalam beberapa bulan terakhir ini guna input untuk perhitungan.

(b)  Setelah mendapatkan data teknis, melakukan perhitungan back-calculated untuk memastikan penyebab kelongsoran, memberikan solusi, dan mengantisipasi kejadian yang serupa dikemudian hari.

(c)  Disarankan agar setengah jalan yang masih digunakan saat ini ditutup atau segera diperkuat spy kelongsoran tidak melebar.

(d)  Untuk di daerah yang longsor, salah satu alternatif yang paling cepat dan secara geoteknik handal adalah dengan menggunakan konstruksi slab-on-pile seperti jembatan di jalan toll cengkareng, disamping masih banyak alternatif lain yang tersedia.

(e)  Memperkuat lereng-lereng disekitar lokasi kelongsoran yang diperkirakan kondisinya juga sudah cukup kritis, misalnya dengan memasang turap.

(f)  Kedepan harus dicegah gerusan, erosi ataupun pengerukan yang dapat menyebabkan ketidakstabilan lereng jalan

Bandung, 16-17 September 2010

Prof Masyhur Irsyam, PhD

Ahli Geoteknik Utama

Member ISSMGE (International Society for Soil Mechanics and Geotechnical Engineering)

Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan ITB

Updating terakhir pagi tgl 21 September 2010

About Me

Here I'll share my knowledge, discovery and experience related to my hobby and work. Most articles on this site are related to my travelling experiences More

Want to subscribe?

 Subscribe in a reader Or, subscribe via email:
Enter your email address:  
Memorizing Like an Elephant