Kantin Barat Laut. Riwayatmu dulu…. Sebuah Permohonan Maaf

Written on August 27, 2010 – 2:56 pm | by Aris Rinaldi | tags , |

26 November 1984. Nyaris 26 tahun yang lalu. Rektorat menyerahkan pengelolaan kantin pusat dan toko buku, yang letaknya di Student Center, kepada Kokesma ITB. Pada tanggal ini pula hari lahir Kokesma ITB ditetapkan.

Menuju WCU (entah World Class University, entah WCUmum), ITB mempercantik diri. Tahun 2005, Student Center direnovasi (baca: dibongkar paksa) karena dianggap kumuh dan tidak sesuai dengan kriteria WCU. Dibangunlah sebuah akuarium raksasa bernama Campus Center. Seluruh penghuni Student Center direlokasi ke tempat lain, termasuk kantin pusat, tokema dan toko buku milik kokesma.

Kantin, sekre kokesma dan tokema direlokasi ke bekas gedung MKOR di sebelah barat laut kampus. Toko buku tidak dapat jatah tempat sehingga sebagian kecil asetnya dilebur dengan tokema (selain karena pertimbangan cashflow yang kurang bagus). Kantin pusat, karena tidak lagi berada di pusat kampus, berubah nama menjadi kantin barat laut. Rektorat masih ‘berbaik hati’ pada kokesma. Relokasi Kantin dan Tokema ‘disubsidi’ dengan ‘peminjaman’ beberapa properti seperti meja-kursi dan etalase, termasuk pemberian hak tata guna lahan bangunan satu lantai untuk tokema dan dua lantai untuk KBL. Kokesma ‘hanya’ berkewajiban membayar biaya listrik dan air serta 10% SHU pada rektorat.

2010. Bapak profesor Djoko Santoso beserta jajaran rektoratnya turun jabatan. Rektorat yang baru berarti peraturan baru. Sangat berpengaruh bagi Kokesma. Status badan hukum Kokesma, yang sempat ‘aman’ pada masa rektorat lama, kembali dipertanyakan. Posisi tokema, sekre, dan KBL juga semakin terancam oleh issue perluasan gedung SBM yang pastinya memakan ‘korban’.

Puncaknya terjadi pada akhir semester genap. Direktorat Sarana Prasarana ITB memanggil seluruh kantin dan unit usaha yang berada dalam kampus ITB. Tujuannya, seluruh unit usaha wajib memperbaharui kontrak dan diwajibkan mengajukan proposal pengajuan perpanjangan kontrak usaha.

Proposal selesai (dengan perjuangan keras. thanks to Ridho, Yeris and Andi). Sialnya proposal ini sepertinya tidak dibaca oleh ‘mereka’. Bahkan Kokesma sempat mendapat surat peringatan karena dianggap belum mengumpulkan proposal (sempat jengkel walaupun beberapa hari kemudian Sarpras meralat surat peringatan itu)

Pertengahan Juni 2010. Keluar surat perjanjian kontrak. Seluruh klausul pada surat perjanjian tidak ada masalah kecuali satu hal : hak guna lahan dihargai Rp 37.500,00/m2/bulan yang berarti Kokesma harus membayar Rp 247.500.000,00 untuk Tokema dan KBL!!

Uang sebanyak itu bisa diperoleh darimana? keuntungan bersih kokesma tiap tahun hanya berkisar Rp 150.000.000,00. Dari KBL sendiri, nilai keuntungan maksimum hanya menyentuh angka Rp 75.000.000,00

Selama liburan, masalah ini terus diurus. Ridho, kabid usaha Kokesma 2010-2011, adalah yang paling berjasa dalam hal ini. Disaat pengurus inti yang lain KP keluar Bandung, Ridho bolak-balik ke sarpras dan rektorat untuk mengurus hal ini.

Sempat ada harapan buat Kokesma. Permintaan untuk pembayaran sebesar 20% dari SHU sempat hampir disetujui. Tapi entah kenapa keputusan ini dibatalkan sepihak oleh rektorat. Sarpras juga sempat memotong biaya menjadi Rp 30.000,00/m2, namun keputusan ini juga urung dilaksanakan. Rektorat tetap keukeuh dengan pendiriannya mewajibkan kita membayar hampir seperempat milyar.

Setelah liburan, masalah ini masih berlarut-larut. Muncul usulan dari sarpras agar Kokesma mengajukan permohonan subsidi dengan cara mengconvert kegiatan yang berhubungan dengan aktivitas kemahasiswaan kedalam nominal uang. Nantinya nominal yang diajukan Kokesma akan dijadikan pengurangan bagi nilai yang harus dibayarkan ke rektorat.

Pengurus akhirnya mengkonversikan seluruh program kerja kedalam nominal uang, namun ternyata jumlahnya tidak mencapai separuh dari harga yang ditawarkan rektorat. Itupun ada beberapa proker yang dianggap rektorat sebagai ‘bukan bernilai manfaat bagi mahasiswa’, sehingga jumlahnya makin berkurang lagi.

Senin, 16 Agustus 2010. Akhirnya direktur Sarpras sendiri yang turun tangan. Muncul opsi lain dari rektorat. KBL lantai 2 harus dilepaskan. Paling tidak Kokesma akan save140 juta jika melepaskan KBL lantai dua. begitu kata mereka (dan ini tampak seperti bukan sebuah pilihan bagi kami, pengurus Kokesma)

Kamis, 19 Agustus 2010. Pengurus tidak punya pilihan. Tidak mungkin membayar ratusan juta dengan kondisi keuangan seperti saat ini. Perjanjian juga akan habis bulan Desember, yang berarti tahun depan Kokesma harus membayar dengan nominal yang tidak jauh berbeda, bahkan mungkin lebih besar.

Kububuhkan tanda tanganku pada berita acara (asli, tanganku gemetaran waktu tanda tangan). Dalam waktu dekat, surat perjanjian akan dibuat, dan ketetapan hukum atas perjanjian akan berlaku. Intinya, KBL lantai 2 bukan lagi milik KOKESMA. Penggunaan bagi mahasiswa juga tampak akan segera dibatasi.

Mungkin ini salah satu cobaan Ramadhan. Tapi kalau boleh minta, sebenernya ga mau dapat ‘cobaan’ seperti ini. Rasanya seperti jadi pengkhianat. Pengkhianat bagi para ‘tetua’, pengkhianat bagi bapak-ibu karyawan, dan yang paling sedih aku merasa jadi pengkhianat bagi keluarga2 yang paling aku sayangi setelah keluarga kandungku.

Merasa ga berguna, ga bisa mengemban amanah dari mereka.

Walaupun mungkin kata maaf ga cukup, tapi mungkin yang bisa kulakukan cuma minta maaf (mewakili teman-teman pengurus yang lain juga).

Aku berharap kalian semua sama2 berdoa, Tuhan akan berikan jalan keluar dan masalah ini bisa menjadi kebaikan bagi kita semua.

Sekali lagi aku minta maaf…

link : klik ini

sebagai anggota pasif kokesma, saya turut bersimpati dengan tulisan teman diatas. semoga kreatifitas dan daya juang teman-teman kokesma dalam memajukan kokesma ke depannya semakin lebih baik.

 

Related Posts

Put your related posts code here

Post a Comment

About Me

Here I'll share my knowledge, discovery and experience related to my hobby and work. Most articles on this site are related to my travelling experiences More

Want to subscribe?

 Subscribe in a reader Or, subscribe via email:
Enter your email address:  
Memorizing Like an Elephant