Archive for May 4th, 2009

Buku adalah Gizi, Maka Saya Peduli

Monday, May 4th, 2009

Ngecek isi dompet….begh, isinya tipis banget. Rencanya, Mau beli buku di acara Gramedia Fair di Sabuga. Tiga hari yang lalu udah ngeliat-ngeliat juga sama adik kelas Muhajir UKA’ 07. Bukunya bagus-bagus tapi sayang sepertinya ada yang kurang lengkap saja. Untuk acara seperti ini,  saya sudah rutin mengikutinya. Biasanya sih wajib beli buku habis ikut pameran. Pertimbangan kondisi keuangan yang sekarat, ya….cuma satu buku deh. Ada sedikit penurunan dari tahun-tahun kemaren. Mengapa harus membeli buku?

1. Gudang Ilmu

Buku adalah sumber ilmu. Basi deh ngomong kayak gitu. Tapi faktanya, segala bentuk pertukaran pikiran antara manusia satu dengan lainya  biasanya terjadi lewat buku. Ada kebenaran yang terkandung dengan buku. Bukankan manusia diciptakan untuk membaca. IQRA…Bacalah, ada makna tekandung didalamnya. Kalo Kata Galang Press ” Buku adalah Gizi, maka Kami Peduli”

2. Apresiasi

Menulis itu gampang-gampang susah. Bagi saya apresiasi adalah suatu bentuk kecil dari penghargaan saya akan sebuah tulisan. Sejelek apapun tulisan yang diciptakan dalam sebuah kertas, Bagi saya adalah sebuah kejujuran pemikiran. Jarang  bisa berbuat hal demikian. Jikapun ada pengkhianatan dalam sebuah tulisan, biarlah tulisan yang berbicara. Ada keindahan tersendiri, tak semua orang tahu itu.

Banyak alasan untuk membeli buku, bisa saja alasan saya diatas sangat tidak menjawab. Itulah saya. Buku yang saya beli adalah ” Mereka Menodong Bung Karno, sebuah Kesaksian Seorang Pengawal Presiden”. Saya tertarik akan sejarah bangsa ini, bangsa  besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya begitu pula sejarahnya.

Resensi :

bung-karnoDinihari, tanggal 11 Maret 1966 merupakan saat-saat yang menggetarkan bagi Soekardjo Wilardjito. Waktu itu ia menyaksikan sendiri satu sekuel sejarah kelam bangsa ini. Empat jenderal mendadak mengunjungi Istana Bogor, mereka adalah Jenderal M. Yusuf, Amir Machmud, Basoeki Rachmat, dan M. Panggabean. Mereka meminta Presiden Sukarno untuk menandatangani sebuah surat yang sangat penting. Dalam memoarnya ia menulis: Hanya mengenakan baju piyama, Bung Karno menemui keempat jenderal tersebut. Lantas Jenderal M. Yusuf menyodorkan sebuah surat dalam map warna merah jambu. Setelah membaca surat tersebut, dengan nada terkejut, Bung Karno spontan berkata: “Lho, diktumnya kok diktum militer, bukan diktum kepresidenan!” Mendengar kata Presiden seperti itu, secara refleks aku yang berada di ruangan tersebut tak kalah terkejutnya. Surat itu tidak terdapat lambang Garuda Pancasila dan Kop surat tersebut bukan berbunyi Presiden Republik Indonesia, melainkan kop di kiri atas, Markas Besar Angkatan Darat (Mabad). “Untuk merubah, waktunya sudah sangat sempit. Tanda tangani sajalah, Paduka. Bismillah,” sahut Basoeki Rachmat, yang diikuti oleh M. Panggabean mencabut pisol FN 46 dari sarungnya. Secepat kilat aku juga mencabut pistol. “Jangan! Jangan! Ya sudah kalau mandat ini harus kutandatangani, tetapi nanti kalau masyarakat sudah aman dan tertib, supaya mandat ini dikmbalikan kepadaku.” Keempat jenderal itu lantas mngundurkan diri. “Mungkin aku akan meninggalkan istana, hati-hatilah engkau,” kata Bung Karno kepadaku. Dan benar itu menjadi malam terakhirku berjumpa dengan Bung Karno… Buku ini banyak mnguak tabir sejarah yang selama ini terpendam. Berikut kisah pilu dan menghancurkan dari penulisnya yang notabenenya seorang eks tapol Orde Baru. Luar biasa, di hari senjanya ia masih mampu merekam kisah hidupnya dan terus menuliskannya menjadi jejak sejarah yang tak pernah kering.

Apakah anda tahu alasan Diponegoro dianggap pahlawan nasional? Bukankah dia hanya memperjuangkan kuburan leluhurnya yang akan dijadikan rel kereta api?

Jangan tersinggung dulu kawan. IQRA….Bacalah, temukan jawabannya

Sumber Resensi : Galang Press

About Me

Here I'll share my knowledge, discovery and experience related to my hobby and work. Most articles on this site are related to my travelling experiences More

Want to subscribe?

 Subscribe in a reader Or, subscribe via email:
Enter your email address:  
Memorizing Like an Elephant