Archive for November, 2008
Wednesday, November 26th, 2008
Peristiwa kelam itu benar2 terjadi..
tgl 26/11/08 ketika gw baru bangun tidur
ya ke wc dlulah,pas balik dari wc
ternyata…..
lho kok cuma tinggal kaos kaki doang
mana sepatunya?
setelah konfirmasi dengan beberapa temen
mereka tidak tahu akan keberadaan sepatu converse putih tersebut
setelah menunggu 24 jam
dapat disimpulkan sepatu itu hilang
sial…
mudah-mudahan gw tetap tabah
klo ketemu tuh orang
habis lah….
Posted in ARIS | No Comments »
Monday, November 24th, 2008
assalamualaikum wr.wb
dengan ini mengumumkan bahwa pada hari Jumat (14/11),telah terpilih anggota Tuha Peut 2008/2009, yaitu:
1. Ikhwanussafa (TM’04)
2. Alfaidhul Akbar (GL’05) dan didaulat menjadi Ketua Tuha Peut
3. Aldi Afriansyah (EL’05)
4. Cut Putri Suliani (TA’06)
5. Muhammad Ridha (TG’06)
dengan adanya diharapkan UKA menjadi lebih baik.dimohonkan aspirasi dari semua anggota UKA.mari kita jadikan UKA sebagai barometer unit daerah terbaik di ITB…aminnn
sekian adanya pengumuman ini, tak lebih dan tak kurang…
oh ya jangan lupa ya saran2 dan masukan buat Tuha Peut dan pengurus…
terima kasih
wassalamualaikum wr.wb
Posted in ITB | No Comments »
Monday, November 24th, 2008
Kejuaraan Bulutangkis Civitas Akademika
Ganesha Badminton Championship 2008
“Express Your Badminton Soul”
30 November-7desember 2008
Tempat : Lapangan Bulutangkis Gedung Serba Guna ITB
Peserta : Semua mahasiswa, dosen dan para instansi ITB lainnya yang bernaung dibawah civitas ITB.
Ayo wakilin himpunanmu, unitmu, jurusanmu, dan instansimu!!!
Buruan daftar rugi klo sampe ketinggalan!!!
Pendaftaran dibuka mulai tgl 13 nov-28 des di gerbang depan…
Biaya pendaftaran
nomor Tunggal Rp 25.000,00
nomor ganda Rp 40.000,00(sudah termasuk untuk 2 orang)
Hadiah Nomor ganda Hadiah Nomor tunggal
Juara 1 Piala+Rp 700.000,00 Juara 1 Piala+Rp 500.000,00
juara2 piala+Rp 500.000,00 juara2 piala+Rp 300.000,00
juara3 piala+RP 300.000,00 juara3 piala+RP 200.000,00
Organized by

cp Bayu 08568880258
Posted in ITB | No Comments »
Monday, November 24th, 2008
Latar belakang
Pada masa kolonialisme, yang dimulai dengan masuknya Portugis disusul Spanyol, Belanda, Inggris, dan Perancis, sekolah-sekolah umum diselenggarakan dalam rangka melestarikan penjajahan. Politik pendidikan kolonial Hindia Belanda, sejak VOC datang di awal abad ke XVII, bahkan sangat efektif melestarikan strategi pemecahbelahan setiap komponen masyarakat yang berpotensi untuk bersatu menentang kepentingan ekonomi dan politik penjajahan. Dan selama 300 tahun kekuasaan Hindia Belanda, trilogi pemerintahan yang terfokus pada educatie, irrigatie, dan emigratie (pendidikan, irigasi/pertanahan, dan transmigrasi) telah menegaskan bagaimana sistem pendidikan telah dipolitisir untuk pro status quo. Beberapa lembaga pengajaran yang khususnya mengajarkan bahasa Melayu adalah Sekolah Militer di Semarang (1819), Institut Bahasa Jawa (1832) dan Sekolah Guru Bumiputera atau Kweekschool (1852) di Surakarta.
Pembaruan pendidikan di Hindia Belanda boleh jadi dimulai ketika Mr. J.A. van der Chijs di angkat menjadi Inspektur Pendidikan Bumiputera, tahun 1864. Ia langsung mengambil alih pengawasan sekolah Bumiputera Kristen dari Komisi Tinggi Pendidikan yang telah “membina” sekolah-sekolah itu selama 30-40 tahun. Larangan pengajaran agama Kristen yang telah diputuskan pemerintah tahun 1857 baru efektif pada masa Van Der Chijs. Lalu pada 1 Januari 1867, Komisi Tinggi Pendidikan diganti oleh Departement van Onderwijs, Eeredienst, en Nijverheid (Departemen Pendidikan, Agama dan Industri). Hal ini menandakan makin pentingnya pendidikan, khususnya bagi kalangan Bumiputera. Tahun 1911, bidang industri dipisahkan dari lembaga ini.
Tanggal 3 Mei 1871 keluar keputusan kerajaan yang merupakan UU Pendidikan Bumiputera yang pertama. Lewat UU ini pendidikan guru diperbarui, dan sasaran pendidikan diperluas tidak saja bagi kalangan anak-anak penguasa Bumiputera, tetapi juga masyarakat Bumiputera lainnya. Yang lebih penting lagi, dalam UU ini dicantumkan ketentuan tentang bahasa pengantar di sekolah yang harus menggunakan bahasa setempat atau bahasa Melayu. Uang sekolah dihapuskan dan seterusnya biaya sekolah ditanggung oleh pemerintah. UU ini juga melarang pengajaran agama, baik Kristen maupun Islam atau lainnya, di sekolah. Sekolah bercirikan agama tidak mendapatkan subsidi dari pemerintah. Demikianlah jumlah sekolah Bumiputera kemudian berkembang dari 266 (1871) menjadi 512 (1882). Sekolah juga mulai diperluas tujuannya dari sekadar mencetak calon ambtenaar (pegawai negeri) ke arah pengembangan potensi masyarakat dan karenanya tidak saja mengajarkan soal bahasa melainkan juga mengikuti kemajuan ilmu pengetahuan. Menjelang akhir abad ke XIX, lewat UU Pendidikan 1893, penjenjangan sekolah juga mulai dilakukan. Sekolah Kelas Dua, 3 tahun lamanya, mengajarkan mata pelajaran membaca, menulis, dan berhitung, dengan bahasa Melayu sebagai pengantar. Lalu Sekolah Kelas Satu, 5 tahun lamanya, memuat mata pelajaran membaca, menulis, berhitung, ilmu bumi, ilmu alam, ilmu ukur, menggambar, dan sejarah, dengan bahasa Belanda sebagai pengantar. Sekolah-sekolah inilah yang kelak berubah menjadi Sekolah Rakyat (Volkschool) atau Sekolah Desa (Desaschool) atau Sekolah Standar (Standaardschool).
Sejalan dengan Politik Etis atau “politik penebus dosa”, pembaharuan pendidikan di Hindia Belanda pada masa prakemerdekaan, khususnya awal abad XX, dimotori oleh Mr. J.H. Abendanon (Direktur Pendidikan dan Agama 1900-1904), dan A.W.F. Idenburg (menjabat Gubernur Jenderal Hindia Belanda, 1909-1919). Raden Ajeng Kartini di Jepara, merupakan salah seorang yang memperoleh manfaat dari sentuhan Abendanon ketika merancang pendidikan calon ibu yang baik bagi gadis Jawa. Ia juga memperbarui sekolah guru, khususnya di Bukittinggi.
Setelah munculnya Tiong Hwa Hwee Koan yang diresmikan menjadi Hollandsch Chineesche School (HCS) tanggal 1 Mei 1908, maka G.H.J Hazeu yang menjabat Penasihat pemerintah untuk Urusan Bumiputera dan Direktur Pendidikan dan Agama (1912-1914) memperjuangkan sekolah sejenis untuk Bumiputera, yakni Holandsch Inlansche School (HIS). Dengan masa belajar 7 tahun, HIS menerima anak-anak Bumiputera umumnya, tidak dibatasi pada anak pembesar dan kalangan atas saja. Untuk sekolah lanjutan, sejak 15 Juni 1914, ditetapkanlah MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs), dengan masa belajar 3 tahun. Lalu lahirlah Algemeene Middlebare School (AMS) sebagai lanjutan MULO, juga 3 tahun. AMS memiliki dua jurusan, yakni A dan B. Jurusan A dibagi dua, A-1 (sastra dan humaniora Timur) dan A-2 (klasik Barat). Jurusan B untuk pengetahuan pasti dan alam.
AMS pertama di Yogyakarta, lengkap dengan dua jurusannya (1919). AMS di Bandung hanya untuk klasik Barat (A-2, tahun 1920). AMS A-1 didirikan di Surakarta (1926). Pada saat yang hampir bersamaan, Lembaga Kerajaan untuk Pendidikan Tinggi Teknik di Hindia Belanda, yang didirikan oleh mahasiswa Hindia Belanda yang ada di Nederland tahun 1918, berusaha mengumpulkan uang dan kemudian berhasil mendirikan Technische Hoogeschool te Bandung, Juli 1920. Inilah cikal bakal Institut Teknologi Bandung yang kita kenal sekarang. Disini pula pemuda Soekarno menamatkan sekolahnya dan kemudian memimpin pergerakan melawan pemerintah Hindia Belanda.
Harus diakui bahwa “Politik Etis” yang dilakukan pemerintah Hindia Belanda untuk “menebus dosa” dan meringankan “guilty feeling” mereka, masih sangat diskriminatif, setidaknya bagi kelompok Bumiputera yang Islam. Seperti dikatakan Nurcholish Madjid, umat Islam akhirnya mendirikan pesantren-pesantren dibawah pimpinan ulama dalam suasana kejiwaaan atau mindset “berjuang melawan” (fight against) kolonialisme Belanda. Pendidikan pesantren ini umumnya sangat kurang mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, tetapi hanya berkonsentrasi pada ilmu-ilmu agama saja. Baru ketika “Politis Etis” di bidang pendidikan berhasil melahirkan elit baru Bumiputera terpelajar yang mempelopori pendidikan Islam modern lewat gerakan Muhammadiyah-nya K.H. Ahmad Dahlan (dimulai dari Kauman, Yogyakarta, 1912) maka “pendidikan Islam” mengalami perkembangan yang signifikan.
Juga harus diakui bahwa sekalipun pelaksanaan “Politik Etis” di bidang pendidikan masih sarat dengan kepentingan politik kolonialisme Belanda, namun terbukti sistem pendidikan waktu itu mampu melahirkan tokoh-tokoh sekaliber Soekarno, Hatta, Syahrir, dan Angkatan 1928 lainnya. Mereka inilah yang kemudian menjadi motor penggerak dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Selanjutnya, pada masa-masa awal kemerdekaan kita, yakni selama 20 tahun Orde Lama berkuasa, sistem pendidikan di tanah air belum banyak berkembang karena kita selalu berada dalam suasana “revolusi”. Sekolah-sekolah dan universitas negeri baru mulai dirintis oleh mereka yang umumnya mengalami pendidikan di zaman Belanda. Boleh dikatakan bahwa sistem pendidikan waktu itu sebagian besar merupakan warisan sistem pendidikan kolonial, sama seperti sebagian besar sistem hukum nasional yang belum mampu digantikan hingga kini.
Sejak masa Orde Baru dimulai dan sampai hari-hari ini sistem pendidikan kita juga agaknya masih belum banyak berkembang. Seperti banyak disinyalir oleh pakar pendidikan negeri ini, sistem pendidikan Orde Baru telah “sukses” dipolitisir untuk kembali menjajah jiwa rakyat banyak. Pola pendidikan yang militeristik, penuh upacara dan penyeragaman dimana-mana, telah membuat kaum muda terpasung tak berdaya. Tepatlah apa yang pernah dikatakan oleh Romo Mangunwijaya, bahwa generasi kita saat ini lebih terbelakang dari generasi Soekarno-Hatta-Syahrir. Atau dalam bahasa Sindhunata, pendidikan selama Orde Baru hanya melahirkan air mata. Lembaga-lembaga pengajaran yang ada terlalu banyak dimanajemeni, tetapi sangat kurang dipimpin. Sekolah dan universitas telah diubah menjadi sama dan sebangun dengan pabrik-pabrik konglomerat yang memproduksi benda-benda serba seragam dan tidak memiliki kreativitas karena tidak pernah diberi kebebasan yang memadai untuk memanusiawikan dirinya sebagai satu-satunya ciptaan yang diciptakan Sang Pencipta dengan dianugerahi daya cipta. Sebagian pakar pendidikan bahkan tidak ragu mengatakan sistem pendidikan kita lebih terbelakang dibanding sistem pendidikan kolonial Belanda, khususnya setelah Politik Etis di berlakukan. Mereka yang pernah ditunjuk menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan sepanjang Orde Baru tidak pernah mampu menghasilkan kebijakan yang memungkinkan lahirnya calon-calon pemimpin bangsa sekaliber angkatan 1928.
Runtuhnya Orde Baru setidaknya menggugah kembali harapan untuk menciptakan sistem pendidikan yang lebih baik, yakni sistem pendidikan yang membebaskan masyarakat dari kebodohan, kemiskinan, dan penderitaan. Utamanya diharapkan agar reformasi politik dan ekonomi dapat dicapai dengan juga melakukan reformasi dan transformasi di bidang pendidikan. Darmaningtyas, seorang pengamat pendidikan yang masih relatif muda, bahkan menegaskan bahwa reformasi seharusnya dimulai dari pendidikan. Seminar yang melibatkan Majalah Basis, Universitas Sanata Dharma, Penerbit Kanisius, Yayasan Pendidikan Kanisius, dan Ford Foundation, di Yogyakarta, Agustus 2000, juga mencoba menelusuri jawaban terhadap pertanyaan yang akan dijadikan tajuk buku Quo Vadis Pendidikan di Indonesia? Lalu Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia (Konaspi) IV yang berlangsung di Jakarta, September 2000, juga menyiratkan berbagai harapan agar sistem pendidikan nasional dibenahi secara mendasar.
Meskipun saat ini anggaran pendidikan kita telah mencapai 20%. Hal itu belum bisa menjawab akan seberapa penting pendidikan itu sendiri. Bangsa kita telah mengindentikkan pendidikan itu dengan sekolah sehingga ketika kita tidak bersekolah kita tidak berhak mendapatkan pendidikan. Kondisi itu real yang adanya, ketika kita harus dimiskinkan oleh proses pendidikan itu sendiri karna pendidikan telah menjadi candu bagi bangsa ini.
Sekolah Hanya Bikin Miskin
Kemiskinan bukanlah hal mudah untuk didefenisikan. Ada yang mengatakan kalau kemiskinan diukur oleh tingkat biaya konsumsi. Sedangkan yang lain, indikator kemiskinan adalah devpriviasi atau kehilangan kemampuan, seperti penurunan tingkat gizi, buta huruf, dan buruknya akses pada pelayanan kesehatan. Beberapa yang lain mendefenisikan kemiskinan dari pendapatan yang mereka terima. Akan tetapi ‘garis kemiskinan’ juga bisa terukur dari bentuk bangunan. Atau kemiskinan bisa saja didefenisikan oleh surat keterangan miskin dari Pak Lurah. Urusan untuk menetapkan kemiskinan itulah susah, di tengah krisis ekonomi baru yang terjadi saat ini. Realitas kemiskinan jauh lebih sulit difenisikan apalagi .dinikmati. Karena kita tahu, jumlah orang miskin makin bertambah saja dari hari ke hari.
Meski jumlah orang miskin berbeda-beda ditinjau dari pendefenisian akan tetapi yang menarik di Indonesia, seperti yang dikatakan Direktur Regional Asia Pasifik Organisasi Perburuhan International/ILO, Indonesia baik sebelum maupun setelah krisis jumlah orang miskinnya tetap.(Kompas 2 Mei 2002). Tidak berpendidikan mungkin menjadi salah satu penyebab terjadinya kemiskinan di Indonesia. Pemerintah memang telah melakukan wajib belajar Sembilan tahun akan tetapi hak anak-anak untuk belajar seolah-olah terlupakan dan menjadi tanggungan pribadi keluarga. Belum lagi kondisi sekolah saat ini yang telah menjadi arena perdagangan mulai dari kebijakan SPP, jual beli buku pelajaran bahkan alat-alat tulis sekolah. Terkenang akan film Otomatis Romantis ketika Mas Tresno Memarahi Bambang ” Sempritan mu itu loh, mahal nya minta ampun”
Ekspresi demikian ini terekam dalam jajak pendapat yang dilakukan Kompas ( Lih Kompas juni 2003). Tidak Kurang dari 42% responden berpendapat, biaya sekolah di SD saat ini sangat mahal. Kemudian 45% mengganggap biaya SMP saat ini mahal dan 51% menyatakan biaya SMU saat ini mahal. Jangan Tanya bagaimana biaya di perguruan tinggi, tentu jauh lebih mahal. Untuk masuk ITB aja dari jalur USM, anda haru merogoh koceh sebesar 45 juta. Cukup untuk hidup selama 5 tahun di Desa Sitalang, Lubuk Basung, Sumatra Barat. Kalau berbicara soal kualitas, seorang peneliti pendidikan, menulis di KOMPAS 17 Agustus 2003, menurut temuannya rata-rata setiap murid SD kelas 3 sampai kelas 6 dalm setiap kuartal mempelajari sejumlah buku yang bila ditimbang beratnya 43 kilogram. Luar biasa bukan. Rata-rata berat murid SD tidak semasif itu.
Pemiskinan hanya menjadi proses yang berjalan seperti mesin penggiling. Orang tua seperti berhadapan dengan situasi darurat tanpa mampu mengambil pertimbangan. Setoran-setoran yang dilakukan ke sekolah sama dengan bayaran kesehatan. Padahal dalam amandenmen UUD 1945 pasal 31 ditetapkan bahwa kewajiban pemerintah untuk membiayai pendidikan dasar bagi tiap warga( pasal 31 ayat 2) dan kewajiban pemerintah dan DPR memproritaskan anggaran pendidikan minimal 20% dari APBN dan APBD (Pasal 31(4) UUD 1945). Padahal dalam ketentuan ini telah jelas tercantum bahwa pendidikan dari tingkat dasar hingga SMP, jika merujuk pada ketentuan UUD 1945, gratis dalam arti tidak dipungut biaya, karena telah menjadi tugas dan tanggung jawab pemerintah.
Bagaimanapun sekolah telah terlanjur menjadi candu, bahwa pendidikan adalah kebutuhan harus dipenuhi. Kebutuhan untuk sekolah telah menjadi keperluan untuk makan dan minum. Padahal pendidikan bukanlah sesuatu hal yang primer bahkan harus mengorbankan kebutuhan akan hidup. Kapitalisasi pendidikan telah menjadikan wajah pendidikan bangsa ini semakin kehilangan arah. Ada kepentingan dari kalangan pemodal yang menyelinap ketika mereka mendirikan sekolah( red: mungkin juga di perguruan tinggi). Swastanisasi lembaga pendidikan, bahkan dengan dasar pijakan otonomi membikin sekolah perlu mencari penghasilan lain; penghasilan yang lagi-lagi dikutip dari orang tua siswa. Prinsip Kapitalis “ Jika anda punya modal/uang maka anda berhak mendapatkan apa yang anda inginkan sesuai uang/modal anda” tak terkecuali pendidikan. Terasa percuma saja ketika saja orang-orang yang membahas tentang pendidikan dan kemahasiswaan adalah orang-orang miskin seperti saya. Karna memang begitulah adanya, masalah –masalah seperti itu hanya segelintir orang yang mau untuk sedikit menyisihkan waktunya untuk memikirkan hal-hal kurang menarik bagi mereka yang lainnya.
Ketika swastanisasi terjadi karna negara malas mengambil peran. Anggaran pendidikan yang jauh lebih murah ketimbang anggaran pertahanan membikin penguasa semakin tak terdidik. Pendidikan yang berulang-ulang disebutkan dalam konstistusi, ternyata Cuma ‘pemanis’ saja. Bahkan untuk organisasi intern kampus yang hanya mencantumkan pendidikan sebagai arah gerak saja tanpa adanya realisasi yang jelas.
Proyek kemiskinan berhasil berkat jasa libelarisasi pendidikan. Apalagi jika kita lihat bahwa keberhasilan sekolah dalam mencetuskan pengganguran, maka lengkaplah tuduhan bahwa sekolah hanya akan membuat spiral kemiskinan yang tak berujung

Jika memang bagan diatas adalah sebuah takdir maka mungkin saja kita ada dalam takdir tersebut. Tapi kalau orang miskin itu kita ganti dengan orang kaya, maka siklusnya akan lain. Anda bisa bayangkan sendiri, betapa orang miskin jadi tampak seperti bunyi puisinya Wiji Thukul :
Siapa boleh tinggal di tanah Ibu ini
Tentu saja siapa yang sanggup membayar hukum
Dan membeli surat ijin dagang anakku
Lalu bagaimana dengan saudara-saudaraku yang tak mampu
Gampang nak, ikutlah KB jangan banyak anak
Ini penting demi hidup masa depan sejahtera
Sekolah Itu Harusnya Murah
Anda ingin kejutan, bagaimana ganasnya orang kaya Indonesia dalam mengeluarkan biaya untuk seks? Untuk jadi anggota klub yang akan menyaksikan pesta bugil, buth duit sebesar Rp 50 juta! Keanggotaan ini berlaku selama 6 bulan ( Jakarta Undercover, Galang, 2003) atau lihat table di bawah ini
|
Program
|
Biaya
|
|
Menumbuhkan Rambut
|
Rp 10 juta
|
|
Permak Hidung
|
Rp 13 juta
|
|
Terapi Botox
|
Rp 10 juta
|
|
Mempercantik Payudara
|
Rp 25 juta
|
|
Behel Gigi
|
Rp 20 juta
|
|
Memutihkan Kulit
|
Rp 7 juta
|
|
Sedot Lemak
|
Rp 35 juta
|
|
Melangsingkan Lemak
|
Rp 15 juta
|
Sumber: SWAsembada No 11/XIX/28
Mei- 11 juni 2003
Saya juga tidak tahu juga kalau tabel diatas terjadi pada prang kaya yang seperti apa, akan tetapi dari segi pengeluaran biaya, tidak mungkin terjadi bagi orang miskin. Jika saja orang-orang kaya Indonesia memiliki sedikit tanggung jawab moral mungkin saja angka putus sekolah dapat di minimalisir. Selain itu perlu adanya sekolah dengan biaya murah tapi bukan murahan. Saya juga sependapat dengan Eko Prasetyo ( Penulis buku Orang Miskin Dilarang Sekolah) bahwa entah kenapa kita terbiasa dengan sikap kompromistis terhadap pendidikan berbiaya mahal. Pemerintah disini selalu ketinggalan dalam soal kebijakan pendidikan yang berpihak. Kita malu jika mau menengok kebijakan yang ditelurkan oleh pemimpin RRC Deng Xiaoping. Tiap tahu n RRC membiayai 5.000-10.000 mahasiswa untuk belajar ke Eropa, Amerika, Kanada. Hal yang sama dikerjakan oleh Mahatir Muhammad di Malaysia yang tipa tahun mengirimkan 50 ribu calon doktor antara lain ke Inggris dan Amerika. Jumlah itu dibiayai negara dan itu karena pemimpinnya ‘melek’ pendidikan.
Efek dari sekolah berbiaya murah
· Menggalang kepedulian masyarakat pada soal pendidikan
· Dapat menekan prilaku korupsi
· Meringankan beban siswa dan orang tua
· Memperkuat legitimasi negara dan memenuhi tugas pokok negara
· Memperkecil gangguan keamanan
Jika sekolah telah menjadi kebutuhan pokok dan dibutuhkan oleh orang banyak sudah sewajarnya harganya murah jika tidak kita harus meninjau kembali undang-undang yang berlaku di negara ini maupun kebijakan-kebijakan yang ada. Keadilan itu harus dirasakan oleh seluruh tumpah darah Indonesia bukan bagi sebagian pihak saja. Itupun jika kita masih mau melihat Indonesia dalam lingkup Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Miskin bukanlah aib, cuma saja sangat tidak menyenangkan
(anonim)
Posted in Mahasisme, Pendidikan | No Comments »
Friday, November 21st, 2008
untuk mengaplikasikan ilmu yang di dapat dari kuliah Kewirausahaan Bu Siti…
mulai saat ini aris rinaldi mendeklarasikan sebuah perusahaan profit
hha…
PT Aris Jaya Selalu
adapun kegiatan dari perusahaan ini adalah
1. Distribusi Pulsa Seluler( Bekerja sama dengan KMMS celular)
2. Jual Beli HP ( CV Aris Celular Agency)
3. Bisnis-bisnis yang tidak mengikat lainnya
untuk itu dibutuhkan usaha dan kerja keras
agar usaha ini membuahkan hasil
amin…
Posted in ARIS, Umum | No Comments »
Friday, November 21st, 2008

Posted in ITB, Mahasisme | No Comments »
Monday, November 17th, 2008
PEMIMPIN
Pemimpin adalah orang yang memimpin. Defenisi sederhana yang dianut banyak orang Indonesia. Itupun kalau sebagian masyarakat yang ada mengerti akan arti pemimpin. Karna 12, 8 juta orang Indonesia harus di melek aksarakan oleh keadaan yang ada. Itu hitungan kuantitaifnya, jika dibandingkan secara kualitatif mungkin saja lebih besar lagi. Mengapa demikian? Karna seringkali jumlah yang disampaikan dalam tulisan yang ada, tidak merepresentasikan keadaan real di masyarakat kita. Dalam kaitan terhadap pembahasan yang lanjut untuk mengatasi realita yang terjadi, pemimpin mempunyai peranan yang besar dalam menentukan arah kebijakan yang ada.
Sering kita mendengar bahwa pemimpin itu identik dengan pimpinan. Bagi saya, itu merupakan kedua hal yang berlainan secara defenisi. Pemimpin adalah orang yang melakukan hal yang benar sedangkan pimpinan adalah orang yang melakukan segala hal yang benar. Pemimpin lebih memiliki tanggung jawab secara sosial di masyarakat sedangkan pimpinan lebih bertanggung jawab secara organisasi sesuai fungsi jabatannya. Jika diaplikasikan, manusia adalah pemimpin bagi dirinya. Tidak cocok menggunakan kata pimpinan pada kalimat tersebut. Alasanya , terletak pada porsi tanggung jawabnya sebagai manusia. Tanggung jawab sebagai pemimpin lebih kepada hal-hal humaniora yang terdapat di lingkungan tempat tinggalnya.
Jika kita berbicara mengenai pemimpin kita harus memeliki referensi yang jelas baik secara tulisan maupun kondisi real yang ada. Kepemimpinan adalah seni mempengaruhi orang lain baik dalam pemikiran maupun konseptual. Secara umum ada lima pendekatan tentang teori kepemimpinan yang muncul pada abad ke dua puluh. Pendekatan ini meliputi sifat, prilaku, kekuasaan/ pengaruh, situasional dan integratif. Teori-teori kepemimpinan ‘ manusia agung’, yang mendominasi pembahasan kepemimpinan sebelum tahun 1900, menjadi pendahulu munculnya teori-teori kepemimpinan yang menekankan sifat-sifat pemimpin. Untuk melengkapi pandangan tersebut , para ahli teori mulai memberikan perhatian yang lebih besar pada faktor-faktor situasional dan lingkungan. Selanjutnya , dikembangkan pula teori-teori integrasi antara manusia dan situasi, psikoanalisis, pencapaian peran, perubahan, tujuan dan berbagai kebetulan yang menyebabkan orang bisa menjadi pemimpin. Adapun teori-teori kepemimpinan yang berkembang di dunia.
1. Teori- Teori Jalur Tujuan
Penulis Terkemuka/ Tahun: M.G. Evans (1970); Georgepoulos Mahoney, & Jones (1957); House (1971); House & Dessler (1974)
Para pemimpin memperkuat proses perubahan pada para pengikut dengan menunjukkan pada mereka perilaku-perilaku (jalur) yang bisa dilakukan untuk mencapai imbalan yang diinginkan. Para pemimpin juga mengklarifikasi tujuan-tujuan para pengikut dan mendorong mereka untuk memberikan kinerja yang lebih baik. Faktor-faktor situasional akan menentukan cara yang diambil para pemimpain dalam menunjukkan jalur dan mendorong pencapaian tujuan.
2. Teori- Teori Ketergantungan Pada Keadaan
Penulis Terkemuka/ Tahun: Fielder (1967); Fielder, Chemer, & Mahar (1976)
Efektivitas dari seorang pemimpin yang berorientasi pada tugas atau hubungan merupakan hal yang tergantung pada situasi. Program-program pelatihan kepemimpinan yang disusun berdasarkan teori ini membantu para pemimpin untuk mengidentifikasikan orientasi mereka dan untuk menyesuaikannya secara lebih baik dengan kondisi situasi yang baik maupun buruk.
3. Kepemimpinan Kultural dan Holistik
Penulis Terkemuka/ Tahun: DePree(1992); Mintzberg (1998); Vaill(1989)
Kepemimpinan adalah kemampuan untuk melangkah keluar dari budaya yang ada dan memulai proses perubahan evolusioner yang lebih adaptif. Kepemimpinan adalah kemampuan untuk melibatkan para pemegang kepentingan (stakeholder) yang penting, menumbuhkan perasaan ingin mengikuti dan memberdayakan orang lain. Pendekatan holistik Wheatley menggangap bahwa kepemimpinan adalah sesuatu yang kontekstual dan sistemik. Pemimpin menciptakan hubungan-hubungan sinergis antara individu-individu, organisasi-organisasi, dan lingkungan tempat mereka berada. Para pemimpin mendorong terbentuknya organisasi pembelajaran melalui pelaksanaan lima disiplin.
4. Kepemimpinan Pelayanan
Penulis Terkemuka/Tahun: Firholm(1994); Senge (1990); Schein(1992); Wheatley(1992)
Kepemimpinan pelayanan menyiratkan bahwa para pemimpin sebenarnya memimpin dengan melayani orang lain, para karyawan, pelanggan dan masyarakat. Karakteristik dari seseorang pemimpin pelayan meliputi : mendengarkan, empati, menyembuhkan, kesadaran, persuasi, konseptulitas, memandang ke depan,tanggung jawab, komitmen tehadap pertumbuhan orang lain, dan membangun masyarakat.
5. Kepemimpinan Spiritual
Penulis Terkemuka/ Tahun:Greenleaf(1996); Spears & Frick(1992), DePree (1989); Etzioni(1993); Fairholm (1997); Greenleaf(1977); Hawley(1993); Keffer(1992); J.Maxwell; Vaill (1989)
Kepemimpinan lebih berkaitan dengan berusaha mempengaruhi jiwa manusia daripada tindakan-tindakan untuk mengontrol. Falholm berpendapat bahwa kepemimpinan antara lain juga berkaitan dengan proses untuk berhubungan dengan orang lain. Lebih jauh lagi, “ saat pemimpin memberikan komitmen untuk memperhatikan pribadi manusia secara utuh, mereka juga harus memasukkan perhatian spiritual dalam tindakan yang mereka ambil. Para pemimpin abad ini harus mempertimbangkan dan secara aktif terlibat untuk membuat hubungan-hubungan bagi diri mereka sendiri dan bagi para pengikut mereka. “ pengaruh seorang pemimpin tumbuh dari pengetahuannya mengenai budaya, kebiasaan, nilai-nilai dan tradisi-tradisi organisasi.
6. Kepemimpinan Berdasarkan Hasil
Penulis Terkemuka/ Tahun: Clifton (2001)
Ulrich dkk., mengajukan sebuah pandangan mengenai kepemimpinan yang “ menggambarkaan hasil-hasil yang berbeda yang dihasilkan oleh para pemimpin” dan mengaitkan hasil-hasil tersebut dengan karakter. Para pemimpin memiliki karakter moral, integritas dan energi, di samping juga memiliki pengetahuan teknis maupun kemampuan berpikir strategis. Lebih jauh lagi, para pemimpin menunjukkan prilaku efektif yang mendorong keberhasilan organisasi yang lebih jauh. Dan, tahap selanjutnya, karena hasil-hasil kepemimpinan bisa terukur, hal ini juga bisa diajarkan dan dipelajari. Dalam apa yang mereka sebut sebagai Proyek Evergreen, Nohria, dkk., mempelajari lebih dari 200 praktik manajemen yang dipakai dalam rentang waktu 10 tahun untuk menentukan praktik-praktik mana yang benar-benar memberikan hasil yang lebih unggul. Empat praktik yang paling utama adalah strategi, pelaksanaan, budaya dan strukutur.
7. Kepemimpinan Partisipatif, Rasioanal- Deduktif
Penulis Terkemuka/ Tahun: Coch & French(1948); J.Gardner (1990); Lewin, Lippit, & White (1939) ; Vroom & Yetton(1974).
Pandangan kepemimpinan berdasarkan teori kekuasaan-pengaruh meliputi kepemimpinan partisipatif. Penelitian-penelitian di bidang kekuasaan- pengaruh memperhatikan seberapa besar kekuasaan yang dimiliki dan dijalankan oleh seorang pemimpin. Pendekatan ini juga menggangap adanya hubungan sebab akibat satu arah. Kepemimpinan partisipatif berkaitan dengan pembagian kekuasaan dengan para pengikut dan pemberdayaan meraka. Vroom dan Yetton mengajukan resep teori kepemimpinan yang menganggap bahwa para pemimpain adalah pihak yang memberikan arah dan para pengikut bersifat pasif mengikuti. Namun jika para pengikut memliki pengetahuan yang lebih banyak, peran mereka seharusnya bisa lebih partisipatif. Gardner percaya bahwa “ kepemimpinan adalah proses persusasi atau pemberian contoh yang dilakukan oleh seseorang( atau sebuah tim kepemimpinan) terhadap satu kelompok orang untuk mengejar tujuan-tujuan yang dimiliki oleh pemimpin atau dimilki bersama oleh pemimpin dan para pengikutnya. “dia menunjukkan bahwa kepemimpinan adalah sebuah peran yang harus ada dan dengan demikian, para pemimpin memainkan sebuah peran yang integral dalam sistem di mana mereka berada.
Adapun referensi diatas tidak mencakup semua teori kepemimpinan yang ada di dunia ini, tetapi itu cukup mewakili sebagian yang ada. Bisa saja pemimpin tersebut lahir tanpa teori-teori yang ada. Kata lahir juga kurang cocok penempatannya untuk seorang pemimpin. Mungkin saja pemimpin tidak hanya dilahirkan oleh keadaan tapi juga dibentuk oleh keadaan dengan sedikit kebijaksanaan Tuhan. Kita tentu tak akan menyangka bahwa Pak Harto ( red: almarhum) menjadi pemimpin terlama di dunia.
Terkadang referensi yang ada justru berasal padangan subjektif para ahli terhadap keadaan yang dilihat darinya maupun pembelajaran masa lalu. Tanpa mengesampingkan peran mereka dalam pembentukan pola pikir beberapa pemimpin. Mungkin seperti buah pola pikir Karl Max yang notabenenya mempengaruhi orang-orang seperti Lenin dan Castro dalam pelaksanaan di negaranya. Tidak ada yang salah akan hal itu. Tak lebih dari sebuah seni mempengaruhi dan itulah yang sering dilupakan oleh semua orang.
Kita tak harus menjadi besar untuk menjadi pemimpin. Butuh sedikit kebijaksanaan Tuhan. Hanya sedikit, itu tak membuat manusia sepenuhnya selalu menggatungkan diri pada Tuhan karna itu, kita diciptakan ke dunia ini dengan tujuan bagi diri kita sendiri. Proses untuk menjadi pemimpin itulah tak lepas dari pengaruh kebijaksanaan Tuhan. Sekalipun dia tak memiliki agama dan Tuhan, tetap saja pola pemikiran dia akan mengacu pada suatu hal, baik sifatnya real maupun abstrak. Menurut perspektif saya, itu tak lebih dari pembenaran akan keberadaan tuhan dalam bentuk lain. Dalam suatu bentuk komunal, pemimpin itu mutlak adanya. Jikapun Tuhan tidak menciptakan kata pemimpin di dunia ini, manusia tetap saja menjadi pemimpin bagi dirinya.
“ Terkadang tulisan dapat menjadi sarana apresiasi dari pemikiran walaupun terkadang tak lebih dari tiga kata”
Ardi-15006058
Digunakan seperlunya.
Posted in Mahasisme, Umum | 3 Comments »
Sunday, November 16th, 2008
dotcheck_gaji
Posted in Umum | No Comments »
Friday, November 14th, 2008
Visi
Pelayanan dan Pemberdayaan Anggota IMMAM sebagai organisasi bernuansa islami yang solid, mandiri dan produktif yang berlandaskan kekeluargaan
Misi
· Meningkatkan eksistensi IMMAM
· Mempererat Hubungan Silaturahmi antar anggota IMMAM dan alumni
· Memberdayakan anggota IMMAM dan meningkatkan rasa memiliki dan rasa kekeluargaan
Program Kerja
1. Intern IMMAM
– Meningkatkan kekeluargaan antaranggota
– Bagi-bagi buku TPB
– Memperingati Hari-hari besar Islam
2. Ekstern IMMAM
– Meningkatkan silaturrahmi & menjaga hubungan baik dengan pihak luar.
– Membentuk koordinator IMMAM di kampus yang memiliki anggota IMMAM
Kamu (umat islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, ( karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah yang mungkar, dan beriman kepada Allah
(QS Ali Imron : 110)
Pendapat Mereka Tentang Saya
Aris, wah anaknya gaul dan bersahabat. Aris yang kukenal adalah anak yang kritis jalan pemikirannya kadang memang sulit untuk dicerna, tapi kalau ditelaah lebih jauh, banyak sekali pemikiran-pemikiran yang sangat membangun. Selain itu, Aris sebenarnya orang yang sangat ramah dan terbuka, yang membuat orang merasa ada suatu rasa saudara bila sudah berkenalan dengannya. Sukses selalu buat Aris.
(Alumni Diklat Aktivis Terpusat/ DPA Himpunan Mahasiswa Planologi 2008/2009)
Aris, orang yang kukenal baik selama TPB dan di jurusan sipil, Aris lebih ku kenal ketika di HMS. Orang yang senang beraktifitas baik di himpunan dan di kemahasiswaan terpusat. Orangnya kritis, baik dalam berfikir dan bertindak, diiringi semangat rasa ingin tahunya, ia mendapat banyak pengalaman dalam berorganisasi juga dalam beraktivitas. Kesanku ketika rapat membahas terkait organisasi, Aris orang yang paling lama dalam mengeluarkan pendapat, dapat kusimpulkan ia mampu berfikir kritis dengan memandang banyak aspek. Kagum awak oi….! Semangat trus Ris..!!
(Sean Kufri / Wakil Ketua Unit Kebudayaan Melayu Riau(UKMR) 2008/ Koordinator OHU 2008)
Jika nanti terpilih jadi ketua Ikatan Mahasiswa Muslim Medan, maka jadilah pemimpin yang amanah, yang bisa berprilaku adil dan bijaksana kepada staf-staf nya dan jadikanlah staf-staf itu sebagai ladang amal kita juga.
Selamat berjuang Ris…Good Luck
(Remon Akbar/ Ketua Gamais FTSL 2008)
Aris, anak Sipil ITB Angkatan 2006. Punya motivasi tinggi untuk berbuat, namun kadang-kadang lebih memilih untuk melepaskan hal-hal yang tidak ia sukai. Aris, rajin menabung dan punya rasa solidaritas yang tinggi.
(Eka Juniawan/ Ketua Unit Kebudayaan Aceh 2008)
Aris yang kukenal dari TPB saat ini sudah menjadi sahabat. Bila melihat kinerja dan konsistensinya dalam berorganisasi adalah orang yang berpotensi menjadi sosok yang disegani. Setelah kenal lebih dekat selama 2 tahun, Aris orangnya ramah dan mampu berpikir kritis. Dia memiliki cukup pengetahuan di berbagai bidang dan mau berkorban untuk menekuni bidang yang diamanahkan padanya. Dengan segala potensi yang ada, Aris adalah figur yang kompeten. Semoga dia mampu berbuat yang terbaik dengan kontrol emosi yang baik serta dukungan dari semua pihak. Ayo Aris, Never Give Up Man….!!!
Buktikan Kamu Bisa
(Nanda Reza Pahlawan/ Ketua Unit Bulutangkis 2008/2009)
Posted in Islam, ITB | 1 Comment »