Archive for August, 2008
Sunday, August 3rd, 2008
Nama Unit : Unit Bulu Tangkis ITB (UBT ITB)
Logo : profil-ubt-untuk-ohu
Berdiri : 13 Januari 1973
Kegiatan
· Latihan rutin setiap kamis malam dan minggu pagi
· Latih tanding dengan universitas lain
· Kompetisi Bulutangkis Antar Civitas Akademika
· Kaderisasi
· Buka puasa dan malam keakraban
· Nonton bareng
· Mengikuti kejuaraan Bulutangkis
Lokasi sekre : Komplek SARAGA ITB E-24 Institut Teknologi Bandung,
Jalan Tamansari 24 Bandung
Contact person : Nanda Reza Pahlawan (085294846342)/ Ketua UBT 2008
Aris Rinaldi (085221745398)/ Kadep Ekternal UBT 2008
Forum : -ubt.unit.itb.ac.id
-friendster: group : UBT ITB
-rileks : other sports: UBT ITB
Posted in ITB | No Comments »
Saturday, August 2nd, 2008
Sungguh…
Bangsa ini menanti generasi hebat seperti kalian
Bangsa ini rindu uluran karya-karya hebat kalian
Mohon..buat saya bangga
Dan tidak rugi mempersembahkan kegiatan ini untuk kalian
Kembalilah suatu saat dan berkata
“Alhamdulillah perjuangan kami, mimpi kami telah tercapai”
Kiki Barkiah
Ketua Panitia LED 2004
Ketika aku membuka buku pemberian LED yang berisikan tanda-tanda tangan dan kesan pesan dari LO dan peserta LED, terbesit di dalam sudut pemikiran aku akan tulisan di atas.
Ketika mimpi menjadi nyata dalam realitas kehidupanpun mungkin belum tentu dapat menimbulkan rasa bangga. Mungkin aku belum bisa membuktikan bahwa aku adalah generasi yang hebat dan memiliki karya-karya yang dapat membuat bangsa ini bangga. Aku kembali kesini untuk mimpi dan terus bermimpi. Mimpiku telah tercapai akan tetapi perjuanganku masih berlanjut….
Posted in Umum | No Comments »
Saturday, August 2nd, 2008
sedikit berburuk sangka aja…
kayaknya mungkin saja , boomingnya kasus pembunuhan ryan terkait akan
pengalihan isu pemerintah sebut saja kenaikan BBM dan sejenisnya
mudah-mudahan saja, anggapan saya salah….
Posted in Umum | No Comments »
Saturday, August 2nd, 2008
L’arc en ciel dan Les Herities merupakan suatu bentuk penyampaian aspirasi dari HMS terhadap kondisi kemahasiswaan di ITB. Adapun bentuk konsepsi yang dibuat tidak serta merta menjadi sebuah bentuk keinginan dari HMS untuk mengintervensi keadaan itu sendiri akan tetapi menjadikan sebuah masukan untuk memperbaiki sistem yang selama ini dianggap belum benar. Kondisi ideal merupakan pemikiran dari setiap lembaga-lembaga kemahasiswaan yang ada di ITB dan itu menjadikan kondisi kemahasiswaan itu mutlak akan kesempurnaan. Setiap mahasiswa memiliki pandangan yang bervariasi akan konsepsi itu sendiri dan dalam keidealan itu mengandung pemaknaan yang berbeda bagi yang lainnya. Kaitan kondisi keidealan itulah yang membuat setiap pihak menggunakan argumen-argumennya untuk penyamaan visi dan misi yang ada. Menurut pemikiran saya , persamaan akan visi dan misi tersebut akan tercapai jika memiliki persamaan tujuan dan presepsi akan kondisi keidealan itu. Dalam hal ini persamaan itu bukanlah sesuatu yang disamakan.
Konsep kesinergisan anatara kongres,KM, kabinet dan elemen-elemen yang terkait akan menjadi masif jika kita hanya mempermasalahkan kondisi yang ada tanpa ikut terlibat dalam penyelesaian permasalahan itu. Tidak ada satupun sistem di dunia ini yang mutlak ideal. Sistem itu pada hakikatnya akan menuju Keidealan. Kita boleh berbeda pendapat dalam penyelesaian suatu masalah akan tetapi kita tidak boleh menggangap permasalahan itu hanya menjadi permasalahn yang hnya dapat diselesaikan oleh kita. Perbedaaan kultur yang ada pada himpunan dan unit jangan dijadikan permasalahan akan tetapi menjadi suatu keindahan yang menjadi masukan yang berharga dalm penerapan kebijakan itu sendiri. Penyamaan presepsi terjadi jika kita mampu membuktikan bahwa kita bisa melaksanakanya di dalam kehidupan nyata karena terkadang tulisan akan menjadi tak berarti jika pembuktiannya tidak terlaksana. Demi Indonesia yang lebih baik.
NB : Penulis menulis tulisan ini sewaktu menjadi magangers di Departemen Eksternal HMS BP 07/08, ketika itu kita sedang membahas tentang perlu tidaknya HMS mengirimkan senator ke kongres, dan kita diwajibkan membaca tulisan yang berjudul L’arc en Ciel dan Les Herities sebagai bahan referensi pembahasan senatorial. Sewaktu saya mengumpul tulisan ini saya sempat kena spet( red: teguran) dari saudara Berliandi HMS’05,kordiv kemahasiswaan kala itu, begini bunyinya “ kok tulisan sepanjang itu kau jadikan sependek ini,serius kau dulu”
Posted in Mahasisme | No Comments »
Saturday, August 2nd, 2008
The Rules of The Worlds merupakan sebuah film yang mengisahkan tentang globalisasi. Film itu mengisahkan tentang dampak dari globalisasi terhadap negara dunia ketiga dengan setting di Indonesia. Setelah menyaksikan film tersebut saya mendapat gambaran tentang kondisi dari Indonesia pada era globalisasi. Globalisasi di Indonesia sendiri tak lepas dari pergantian orde lama ke orde baru dan itu terus berlanjut sampai sekarang. Investasi asing yang terjadi pada zaman Soeharto merupakan salah satu penyebab terjadinya globalisasi di sektor ekonomi. Hal ini juga disebabkan dengan adanya kebijakan Indonesia meminjam dana untuk pembangunan dari IMF dan Worlds Bank yang sedikit banyak mempengaruhi arah kebijakan ekonomi Indonesia nantinya.
Dengan masuknya Investasi asing, pemerintah berharap akan adanya pertumbuhan ekonomi dan mengurangi pengangguran akan tetapi ketidakjelasan regulasi yang berlaku di Indonesia menyebabkan kerugian yang tidak sedikit bagi bangsa ini. Buruh yang bekerja di sektor industri tidak mendapatkan penghasilan yang layak dibandingkan harga barang yang akan diproduksi. Kehidupan buruh juga mendapat perhatian dari film ini. Gaji yang kecil serta kondisi kesejahteraan mereka berbanding terbalik dengan apa yang mereka hasilkan selama ini. Selain itu terdapat pergeseran nilai-nilai yang belaku di masyarakat yang dulunya bersifat tradisional menjadi struktur masyarakat yang modern mungkin dari sisi pola hidup dan cara berpakaian atau dalam menyikapi permasalahn itu sendiri. Apa ini yang disebut GLOBALISASI?
Dalam melihat suatu permasalahan yang ada perlu adanya cara pandang terhadap aspek-aspek yang ada pada masalah itu sendirinya. Permasalahannya bukan karena nilai-nilai tradisional atau religiositas yang terkikis, tetapi justru ada pada kebergantungan ekonomi. Hal ini yang menyebabkan standar itu menjadi berubah.
NB: Tulisan ini merupakan tanggapan penulis dari film The Rules Of The World dan topic globalisasi yang disampaikan oleh saudara Hokki Situngkir( EL’96) pada saat Diklat Aktivis Terpusat di Ciburial tahun 2008.
Posted in Mahasisme | No Comments »